sesar fix1

Sesar Lembang, Heartquake di Jantung Cekungan Bandung

sunda-1

Danau Bandung Purba Kedahsyatan Cinta Sangkuriang dan Letusan Gunung...

13/03/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Letusan Gunung Awu 2004 Letusan Yang di Nanti

letusan 1

gunung awuSepanjang sejarahnya, setiap letusan Gunung Awu selalu mengakibatkan korban jiwa padahal letusannya tidak berlangsung lama. Letusan 1711 misalnya, mengakibatkan korban tewas sebanyak lebih dari 5.000 jiwa. Bahkan letusan 1966 yang hanya berlangsung selama 8 jam telah mengakibatkan korban jiwa sebanyak 32 orang. Sifat letusan dan keberadaan danau kawahnya dituding sebagai biang bencana. Betapa tidak, gunung api yang berdanau kawah ini setiap letusannya selalu disertai awan panas, lahar primer (lahar letusan) dan lontaran rempah vulkanik lainnya. Baru pada letusan terakhir yang terjadi pada Juni 2004, tidak seorangpun jatuh korban jiwa. Selain sifat letusannya yang berubah karena kondisi kawahnya berubah, juga data menjelang gunung api meletus diikuti dengan baik sehingga peringatan dini bagi penduduk dapat dilakukan dengan baik.

Dalam keadaan normal, kawah Awu berisi air dengan volume antara 3 hingga 3,5 juta meter kubik. Namun sejak tahun 1989, air danau kawah mulai menyusut secara bertahap hingga akhirnya tinggal kubangan lumpur. Dalam keadaan hampir kering itulah terjadi letusan yang berlangsung pada Juni 2004.

gunung awuHILANGNYA AIR DANAU KAWAH

Jauh sebelum terjadi letusan 2004, terdapat beberapa perubahan yang sangat menarik perhatian. Selain airnya berkurang juga terjadi beberapa kali perubahan warna air kawah. Secara garis besar perkembangan air danau kawah Gunung Awu dimulai pada tahun 1922, mempunyai kedalaman 150 m dengan volume air sebesar 43 juta meter kubik. Tahun 1930 volume air surut hingga menjadi sebesar 30 juta meter kubik. Hasil pengukuran yang dilakukan pada tahun 1981 diketahui volume air danau hanya tinggal sebesar 3,5 juta meter kubik, yang bertahan hingga tahun 1989.

Tahun 1988 jumlah gempa bumi tektonik meningkat tajam dan berlanjut hingga tahun 1989. Kejadian tersebut memicu naiknya jumlah gempa vulkanik dari rata-rata 7 kejadian perbulan menjadi 15 kejadian pada Mei 1989. Aktivitas kegempaan tersebut diperkirakan berakibat pada surutnya air danau kawah.

Pemeriksaan kawah yang dilakukan pada 10 Mei 1989 menunjukkan bahwa permukaan air danau mulai menyusut 50 cm dari garis pantai danau, terjadi perubahan warna air dari hijau tua menjadi kehitaman, keasaman (pH) dari 6 menjadi 3. Ditemukan pula tiga titik baru tembusan solfatara di sudut timur kawah.

gunung awuPada September 1991 volume air menyusut lebih drastis menjadi hampir setengahnya, diperkirakan sisa air danau tinggal 1,7 juta meter kubik. Sejak itu air danau secara berangsur-angsur terus menyusut. Akhir tahun 1992 volume air hilang 95% dan tersisa 175.000 meter kubik. Kondisi ini memicu terbentuknya uap air (steam) di bawah permukaan dan kemudian menghasilkan letusan freatik berskala kecil pada April 1992.

Antara November 1988 sampai dengan Mei 1989, hujan turun setiap bulan, tetapi permukaan air tetap turun 0,5 m. Ketika volume air berkurang hingga 60% pada awal 1991, curah hujan sangat minim, sehingga faktor penguapan dan tidak adanya suplai air ke dalam kawah boleh jadi merupakan alternatif penyebab turunnya volume air. Tetapi antara September 1991 sampai dengan Februari 1992 perbandingan antara kejadian hujan dengan keberadaan air di dasar kawah hampir seimbang, sehingga faktor penguapan relatif kecil. Dengan demikian faktor penguapan dan berkurangnya curah hujan sebagai penyebab turunnya volume air danau kawah Gunung Awu, sangat diragukan. Satu-satunya alasan penyebab hilangnya air kawah adalah perembesan ke bawah permukaan akibat terbentuknya rekahan di dasar kawah.

gunung awuAir dapat merembes/mengalir cepat melalui batuan yang mempunyai permeabilitas tinggi. Permeabilitas dipengaruhi oleh sifat fisik batuan seperti porositas, bidang antar perlapisan (termasuk batas lapisan lunak dan keras), batuan berronggarongga, batuan terkonsolidasi, atau tidak terkonsolidasi (consolidated/unconsolidated rocks), dan struktur geologi seperti meningkatnya jumlah rekahan pada batuan. Penurunan volume air oleh permeabilitas tinggi yang berhubungan dengan sifat fisik batuan bukanlah alternatif pilihan.

Satu-satunya alternatif penyebab utama penurunan volume air secara mencolok di danau kawah Gunung Awu adalah struktur rekahan/ sesar. Gejala itu teramati sebagai jalur perembesan air di kaki lereng timur Gunung Awu pada survei yang dilakukan oleh Kusdinar dan timnya pada Mei 1990. Pada tahun 1992, Setiadarma bersama Subdit Pemetaan Gunung Api melakukan interpretasi foto udara. Hasilnya semakin memastikan keberadaan celah sempit yang memanjang melalui kaki sebelah timur antara Kampung Bahu dengan Puncak, dan celah lainnya yang melalui Kampung Tryang di lereng barat daya puncak. Kedua celah ini mungkin sekali merupakan alternatif jalur keluarnya air danau kawah. Pembentukan retakan didukung pula oleh adanya sejumlah gempa tektonik yang sangat dominan selama itu. Meningkatnya gempa tektonik terasa seolah-olah memicu penurunan volume air danau kawah. Gempa tektonik dapat dikatakan sebagai manifestasi pembentukan rekahan/sesar baru atau memperbesar ruang antar rekahan/sesar yang sudah ada sebelumnya.

gunung awuSelain itu terjadi pula beberapa kali gempa vulkanik yang merupakan manifestasi aktivitas pergerakan magma di bawah permukaan. Pada kejadian gempa vulkanik Awu antara Juni hingga Desember 1992, harga selisih waktu tiba antara gelombang primer dan sekunder (P-S) berkisar antara 0,5 – 4,5 detik. Nilai tersebut diduga menunjukkan adanya magma menerobos kulit bumi hingga sekitar 2 km di bawah dasar kawah. Zona kedalaman ini diasumsikan sebagai “heat front”. Tetapi di atas zona heat front, sangat diragukan bila seluruh volume air danau kawah sebesar 3,5 juta meter kubikakan hilang begitu saja tanpa disertai kegiatan vulkanik permukaan yang nyata. Karena itu, hanya sebagian kecil atau bahkan tidak ada rembesan air yang menempati bagian atas zona tersebut.

LETUSAN JUNI 2004

Selama pemantauan gunung api ini, letusan Juni 2004 adalah letusan yang sebenarnya sudah dinanti-nanti. Sejak letusan 1931 berakhir dengan terbentuknya sumbat lava, dikenal dengan Sumbat Lava ’31, kawah terisi air kembali. Pada bulan Agustus 1966, terjadi letusan besar yang selain menghancurkan Sumbat Lava ’31 juga melontarkan air kawah sebanyak 30 juta meter kubik. Diketahui kemudian bahwa tidak seluruh tubuh sumbat terlontar pada proses letusan tersebut. Kenyataan tersebut baru disadari ketika proses letusan Juni 2004 sedang berlangsung, sekalipun keberadaan sisa Sumbat Lava ’31 ternyata menjadi penghambat proses letusan 2004.

gunung awuProses penghambatan letusan itu ditunjukkan pula oleh data tremor. Ketika secara tiba-tiba tremor berhenti, artinya bahwa vibrasi juga berhenti. Hal itu juga menunjukkan bahwa penyebabnya, yaitu aliran fluida (baik magma ataupun gas) juga berhenti bergerak. Sebagaimana diketahui, tremor adalah reaksi tubuh gunung api ketika mengalami vibrasi akibat bergeraknya fluida magma menuju ke permukaan. Terhentinya laju fluida ke permukaan diinterpretasikan karena adanya penghalang, yaitu sisa sumbat 1931 yang tidak tuntas terlontar dalam letusan 1966.

Sebenarnya beberapa kali terdapat aktivitas yang berusaha mendobrak lantai kawah Gunung Awu. Namun selalu gagal. Selama 2002 jumlah gempa vulkanik tiba-tiba meningkat tajam meskipun tidak menghasilkan letusan. Pada tahun 2003, fenomena seperti tahun 2002 berulang kembali. Jumlah gempabumi vulkanik meningkat secara mendadak, tetapi, sekali lagi, tidak menghasilkan letusan.Hal tersebut menyiratkan bahwa upaya mendorong batuan penutup memang sudah terjadi sejak lama.

gunung awuNilai normal jumlah gempa vulkanik-dalam (tipe A) yang terekam di Gunung Awu rata-rata 2 kejadian setiap minggu, tetapi asap kawah tidak pernah teramati mencapai bibir kawah. Menurut Minakami (1966), kegiatan vulkanik (aktivitas magma) bawah permukaan dimanifestasikan berupa gempa vulkanik. Gempa vulkanik-dalam (tipe A) terdapat hingga kedalaman 10 km, sedangkan gempa vulkanikdangkal (tipe B) sampai kurang dari 1 km di bawah dasar kawah. Pada minggu kedua Mei 2004 mulai terekam gempa vulkanik yang kian hari kian naik jumlahnya dengan rata-rata 10 kejadian perminggu. Kejadian itu mencerminkan terbentuknya perekahan yang intensif di bawah kawah. Dugaan tersebut ternyata benar, karena pada 17 Mei mulai terekam tremor vulkanik dengan amplituda (peak to peak) 8 mm yang menandakan bahwa sedang berlangsung gerakan fluida (magma dan atau gas) naik ke permukaan. Akhirnya asap muncul mencapai bibir kawah pada keesokan harinya. Ini adalah realisasi terbentuknya uap air (steam) dan awal dari letusan freatik (letusan gas) di dasar kawah.

Kemunculan asap mencapai bibir kawah di puncak Gunung Awu setingga 350 m dari dasar kawah sangat langka. Betapa tidak, sejak berakhirnya letusan 1966, fenomena tersebut tidak pernah teramati. Jadi, ketika ada asap kawah yang mencapai puncak, asap tersebut dihasilkan oleh tekanan gas yang relatif kuat.

Pada 22 Mei 2004, amplituda tremor mulai mengecil menjadi 3 mm. Penurunan kegiatan tersebut dimanfaatkan para peneliti untuk mendaki ke puncak untuk memastikan apa yang sesungguhnya terjadi di dasar kawah. Mereka menemukan bualan lumpur pada genangan air di tengah kawah disertai suara gemuruh dan asap yang sangat tebal, sehingga tidak diketahui berapa besar lobang asal bualan tersebut.

gunung awuDiantara bualan yang terjadi terus-menerus, secara sporadis terjadi letusan-letusan gas. Dari hasil rekaman handy camera, ditengarai muncul suatu tonjolan di tengah kawah. Namun tidak dapat dipastikan seberapa besar dan unsur yang membentuk tonjolan tersebut karena para peneliti tidak dapat mendekati dasar kawah. Volume sumbat lava 1931 sebesar 30 juta meter kubik, sedangkan letusan 1966 hanya berlangsung selama 8 jam. Masuk akal bila tidak semua sumbat dihancurkan. Sisa sumbat tersebut terdorong naik ketika pertama kali terjadi tremor pada Mei 2004 dan berhenti di mulut kawah kemudian menyumbat lubang. Itulah yang tergambar pada rekaman handy camera.

Pukul 14.18 wita terekam beberapa kali gempa yang mengindikasikan terjadi suatu letusan atau rekahan pada kubah yang sedang terbentuk. Keyakinan tersebut didasari dua pengalaman sebelumnya. Pertama kali gempa sejenis ditemukan di Gunung Soputan, Sulawesi Utara, ketika pertama kali terbentuknya sumbat pada tahun 1991. Kedua, letusan yang terjadi di Gunung Ibu, Halmahera, juga menghasilkan sumbat lava pada tahun 2000. Saya menyebutnya sebagai “gempa vulkanik tipe B plus”. Saat itu terjadi, hampir dipastikan bahwa sumbat lava sudah muncul di dasar kawah Gunung Awu.

gunung awuMenjelang akhir Mei 2004, kegiatan freatik yang terjadi di dasar kawah cenderung melemah. Tetapi kondisi kawah yang tidak stabil sangat rentan mengalami kontraksi apabila menerima tekanan yang mendadak, dan kondisi itulah yang kemudian terjadi. Secara tiba-tiba kegiatan perekahan terjadi sangat cepat akibat adanya tekanan fluida dari dalam. Pada 4 Juni 2004 gempa vulkanik-dalam (tipe A) mulai terekam kembali dengan jumlah yang tinggi. Keesokan harinya, pada 5 Juni mulai terekam gempa vulkanik secara seri (swarm). Swarm gempa vulkanik tersebut terjadi secara sporadis dan berulang-ulang. Lalu, letusan yang dinanti-nanti akhirnya terjadi juga menjelang malam pada pukul 18.07 wita, tanggal 7 Juni 2004 itu.

Seluruh proses letusan selalu melontarkan material berukuran debu. Kerikil hanya terbatas di sekitar puncak. Debu kebanyakan jatuh di bagian timur – tenggara dari puncak. Mereka terbawa angin barat. Kecuali letusan pertama, debu mengguyur Kota Tahuna dan sekitarnya. Debunya mengendap setebal 0,5 hingga 1 mm. Kampung-kampung lain pun terkena hujan debu letusan. Di Kampung Lenganeng debunya mencapai setebal 2 mm, Naha 2 mm, Bahang 1,5 mm, Kalakube 1,5 mm, dan Mala 1,5 mm.

gunung awuPasca-letusan, pendakian pertama dilakukan pada 12 Juni 2004 dengan target mencapai puncak. Ketika tiba di puncak, hal pertama yang menarik perhatian adalah adanya sumbat lava yang menyembul di dasar kawah. Sumbat tersebut hampir seluruhnya memenuhi ruang lantai kawah yang sebelumnya terisi air. Dugaan adanya sisa sumbat lava 1931 yang ditinggalkan letusan 1966 memang terbukti. Pada bagian puncak sumbat lava ditemukan material lava yang sudah teroksidasi berwarna abu-abu kemerahan menempel pada bagian lava yang masih segar. Bagian atas itu adalah sisa sumbat 1931. Di bawahnya teramati sumbat yang baru yang kami sebut sebagai sumbat lava 2004. Secara keseluruhan, sumbat itu berukuran 250 x 300 m2 dengan tinggi mencapai 40 m. Volumenya ditaksir 3.000.000 meter kubik. Jumlah tersebut hampir sama dengan volume air danau ketika terisi normal.

gunung awuPenantian menunggu letusan Gunung Awu memang telah berakhir pada Juni 2004 itu. Namun bagi seorang ahli gunung api, letusan-letusan berikutnya adalah penantian-penantian berikutnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>