PLTU Kamojang Foto Deni Sugandi-23

Kebijakan Energi Indonesia

Ijen Menyesap Pesona-33

Ijen Menyesap Pesona Mewaspadai Bahaya

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Lembar-lembar Baluran

1 Puncak Gunung Baluran-32
1 Puncak Gunung Baluran-32

Puncak Gunung Baluran. Foto: Deni Sugandi.

Tidak diketahui kapan tepatnya Taman Nasional Baluran mulai disemati perumpamaan sebagai Afrika-nya Pulau Jawa. Namun, yang terang, kawasan konservasi yang secara administratif berada di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur itu terus saja menarik minat para pendatang, entah sebentar bertandang di dua titik tuju utama, yaitu Sabana Bekol dan Pantai Bama, atau tinggal di dalamnya selama beberapa waktu untuk pelbagai alasan.

Pemburu berkebangsaan Belanda A.H. Loedeboer adalah orang yang mulai mengenali potensi area di sekitar kaki gunung api purba Baluran ini dan melakukan proteksi pada tahun 1928, khususnya untuk keberadaan satwa-satwa liar di sana. Ia menggunakan kekuasaannya sebagai pemilik daerah konsesi perkebunan di Labuhan Merak dan Gunung Mesigit untuk kepentingan tersebut.

Dua tahun kemudian, Direktur Kebun Raya Bogor kala itu, K.W. Dammerman, mengajukan usulan pada Pemerintah Hindia Belanda agar Baluran ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Lindung. Melalui Ketetapan GB. No. 9 tanggal 25 September 1937 Stbl. 1937 No. 544 yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Kawasan Baluran resmi menjadi Suaka Margasatwa. Statusnya kemudian diperkuat dengan penetapan kembali oleh Menteri Pertanian dan Agraria RI melalui Surat Keputusan Nomor. SK/ II/1962 tanggal 11 Mei 1962. Pada 6 Maret 1980, barulah Baluran diresmikan sebagai Taman Nasional (TN) oleh Soedarsono Hadisapoetro selaku Menteri Pertanian saat itu.

Zonasi diberlakukan pula di kawasan seluas 25.000 Ha yang ditetapkan dalam SK. Menteri Kehutanan No. 279/Kpts.-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997 itu. Batas-batas kawasannya adalah Selat Madura (Utara), Selat Bali (Timur), Sungai Bajulmati di Desa Wonorejo (Selatan), dan Sungai Klokoran di Desa Sumberanyar (Barat) sebagaimana dipaparkan dalam SK. Dirjen PKA No. 187/Kpts./DJ-V/1999 tanggal 13 Desember 1999. Adapun pembagian zonanya adalah: 12.000 Ha sebagai Zona Inti, 5.537 Ha (daratan 4.574 Ha + perairan 1.063 Ha) sebagai Zona Rimba, 800 Ha sebagai Zona Pemanfaatan Intensif, 5.780 Ha sebagai Zona Pemanfaatkan Khusus, dan 783 Ha sebagai Zona Rehabilitasi.

Selanjutnya, untuk memudahkan pengelolaan, Kawasan TN Baluran dibagi menjadi dua Seksi Pengelolaan. Pertama, Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Bekol yang meliputi Resort Bama, Balanan dan Perengan. Kedua, Seksi Pengelolaan TN Wilayah II Karangtekok, yaitu Resort Watu Numpuk, Labuhan Merak dan Bitakol.

Seiring berjalannya waktu, yang banyak orang ketahui dari TN Baluran selain nuansa Afrika yang hadir sepanjang musim kemarau, juga sabana luas dengan keberadaan satwa liar yang tak sungkan memperlihatkan diri, utamanya menjelang dan seusai gelap. Padahal secara kasat mata, dari sepanjang jalan dari gerbang utama sampai di dalam area utama (Bekol dan Bama), dapat dilihat tiga puncak Baluran, yaitu: Aleng (1.256 m), Gede (1.060 m), dan Klosot (945 m).

Batuan lava sudah dapat ditemukan tak jauh dari Pos Karangtekok dan di sepanjang perjalanan menuju Watunumpuk di kaki ketiga puncak tersebut. Diduga lava itu merupakan hasil letusan yang pernah terjadi. Dalam perjalanannya, ketiga puncak itu kemudian beralih menjadi gunung api strato mati sebab tidak lagi mendapat pasokan magma di kantongnya. Kondisi geologi di kawasan ini, termasuk asal-usul terbentuknya ketiga puncak yang menaungi Baluran itu, bagaimana pun, masih menarik untuk diteliti lebih jauh. Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian itu akan memberikan latar belakang yang lebih lengkap atas berkembangnya TN Baluran sebagai habitat flora dan fauna yang khas di kawasan ujung Timur Pulau Jawa ini. ( Ayu Wulandari )

Penulis adalah peminat perjalanan dan fotografi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>