Cekungan So’a dengan latar belakang Gunung Welas.

Lima Hari Menjelajah Pulau Bunga

Cangkang Kiri Tridacna (Tridacna) gigas Linnaeus 1758

Kima Raksasa dari Padalarang

13/10/2016 Comments (0) Museologi, Museologi, Uncategorized

Ladang Fosil Moluska Cijurey-Tonjong

Pembagian Jenjang Neogen Pulau Jawa (Oostingh,1938)
Pembagian Jenjang Neogen Pulau Jawa (Oostingh,1938)

Pembagian Jenjang Neogen Pulau Jawa (Oostingh,1938)

Moluska merupakan kelompok hewan bertubuh lunak, tidak bersegmen, dan biasanya dilapisi oleh bagian tubuh yang keras (cangkang). Bagian keras itulah yang terawetkan menjadi fosil. Kadang-kadang hanya ditemukan berupa cetakan, tetapi masih dapat diidentifikasi. Saat ini diperkirakan ada 35 ribu jenis moluska dalam bentuk fosil. Hewan yang termasuk dalam kelompok invertebrata ini, dapat hidup di berbagai lingkungan, baik lingkungan terestrial (darat) maupun lingkungan akuatik (tawar, payau, maupun laut).

Filum terbesar kedua setelah Artropoda ini merupakan kelompok hewan yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi dengan ukuran dan bentuk tubuh bervariasi. Kemunculannya dimulai sejak Zaman Kambrium hingga sekarang. Penemuan fosilnya sangat penting khususnya untuk merekonstruksi lingkungan purba dan umur suatu lapisan batuan, karena beberapa kelompok moluska hanya hidup pada lingkungan dan rentang umur tertentu. Dan sebagian besar fosil moluska dapat dikenali langsung di lapangan. Fosil moluska makro berguna untuk mengetahui posisi stratigrafi, sedangkan moluska mikro dimanfaatkan untuk penelitian biostratigrafi bawah permukaan.

Museum Geologi sebagai tempat yang menyimpan berbagai jenis koleksi fosil memiliki puluhan ribu spesimen fosil moluska. Koleksinya meliputi koleksi sejak Zaman Penjajahan Belanda hingga koleksi dari kegiatan lapangan saat ini. Koleksi fosilnya sebagian besar disimpan di storage dan didominasi oleh fosil dari Kelas Gastropoda dan Pelecypoda. Lokasi penemuannya tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Di Jawa Barat ditemukan 70.272 sampel,

  Jawa Tengah 6830, Jawa Timur 2431, Sumatra 31593 sampel, Kalimantan 4814, Sulawesi 780, Maluku 412, Flores 190, Papua 370, dan Timor 931 sampel. Koleksi didominasi oleh koleksi yang berasal dari Pulau Jawa, karena Tim Moluska Museum Geologi ingin fokus melengkapi koleksi berdasarkan pembagian jenjang Neogen Pulau Jawa.

Jenjang Cirebonian
Pembagian jenjang Neogen Pulau Jawa ini disusun oleh Oostingh (1938) berdasarkan fosil indeks Gastropoda dari Famili Turritellidae. Fosil ini dipilih sebagai fosil indeks karena Gastropoda berkembang cukup baik di daerah tropis. Pada setiap jenjang yang disusun oleh Oostingh terdapat fosil penunjuk/penciri yang berasal dari Famili Turritellidae.

Untitled-75

Coquina Bedding pada batupasir tufan. Foto : Irman Abdurohman

Pembagian jenjang Neogen Pulau Jawa yang dimulai dari Miosen Awal hingga Plistosen Awal terdiri dari enam jenjang yaitu Jenjang Rembangian (Miosen Awal) dengan fosil indeks Turritella subulata, Jenjang Preangerian (Miosen Tengah) dengan fosil indeks Turritella angulata, Jenjang Odengian (Miosen Akhir) dengan fosil indeks Turritella cramatensis, Jenjang Cirebonian (Pliosen Awal) dengan fosil indeks Turritella acuticarinata, Jenjang Sondian (Pliosen Akhir) dengan fosil indeks Turritella tjikumpalensis, dan Jenjang Bantamian (Pleistosen Awal) dengan fosil indeks Turritella bantamensis.

Kegiatan penelitian fosil Moluska yang baru-baru ini dilakukan Museum Geologi dilakukan di daerah Cirebon. Penelitian terdahulu pernah dilakukan di daerah ini, di antaranya oleh Oostingh (1933) tentang fosil moluska holotipe jenjang Cirebonian, van Bemmelen (1949) penelitian geologi, Silitonga, dkk. (1996) melakukan pemetaan geologi dan berhasil membuat Peta Geologi Lembar Cirebon, serta penelitian yang dilakukan oleh Hidayat dan Lumbanbatu (2010) tentang analisis bentang alam kuarter daerah Cirebon berdasarkan genesanya.

Penelitian kali ini difokuskan untuk mengetahui persebaran dan keanekaragaman fosil Moluska Jenjang Cirebonian. Penelitian ini juga berguna untuk melengkapi koleksi fosil Moluska dari daerah Cirebon, karena sebelumnya, Museum Geologi telah mempunyai koleksinya dan saat ini tersimpan di storage. Beberapa di antara koleksi fosilnya merupakan spesies holotipe (tipe orisinal) yang tersimpan di tempat penyimpanan khusus yang tahan api, tahan gempa, dan terpisah dari koleksi lainnya. Spesies holotipe merupakan spesimen tunggal yang ditentukan sebagai dasar penamaan suatu spesies/subspesies atau sebagai dasar waktu pertama kali mengusulkan nama jenis baru. Koleksi holotipe dari Cirebon ini ditemukan di daerah Cijurey dan termasuk dalam Formasi Kalibiuk Jenjang Cirebonian.

Selain Cijurey, lokasi penelitian pada bulan April 2016 itu juga difokuskan di daerah Maneungteung. Sayang, kondisi singkapan di beberapa titik lokasi pengamatan tertutup oleh longsoran tanah. Memang bulan itu  curah hujan cukup tinggi sehingga banyak tebing yang mengalami longsoran, bahkan singkapan di pinggiran sungai juga tertutup akibat air sungai yang meluap. Oleh karena itu, data yang didapatkan dirasa kurang maksimal. Meski demikian, masih banyak titik lokasi pengamatan dengan kondisi singkapan yang bagus sehingga proses penelitian dan pengambilan data lapangan dapat terus berjalan.

Lingkungan Pengendapan
Lokasi penelitian terdiri dari dua satuan batuan yaitu satuan batupasir karbonatan (Formasi Kalibiuk) yang berumur Pliosen Awal dan satuan perselingan konglomerat dan batupasir kasar non karbonatan (Formasi Cijolang) yang berumur Pliosen Tengah. Satuan batupasir karbonatan termasuk dalam Formasi Kalibiuk yang menurut Silitonga, dkk. (1996) berumur Pliosen Awal sampai awal Pliosen Tengah.

Untitled-76

Kenampakan Makromoluska Batissa sp. yang tersingkap di daerah Tonjong. Foto: Irman Abdurohman

Berdasarkan kandungan moluskanya, formasi ini termasuk dalam Jenjang Cirebonian yang berumur Pliosen Awal (Oostingh, 1938). Satuan batupasir karbonatan pada singkapan batupasir karbonatan dengan sisipan batulempung, merupakan sedimen halus dengan kandungan fosil moluska berupa Turritella sp., Natica lineata, dan Placuna sp. Inilah kelompok moluska yang hidup di laut (marine mollusk) dengan kedalaman yang bervariasi hingga 220 m, sehingga dapat diketahui bahwa lingkungan pengendapan pada daerah ini termasuk dalam zona inner neritic (neritik dalam).

Lapisan batupasir cukup tebal, khususnya yang ditemukan di lokasi Maneungteung ditunjang dengan ditemukannya coquina bedding, dapat mengindikasikan bahwa daerah ini terendapkan di daerah transisi (beach) dengan energi laut yang cukup besar. Dengan demikian, dapat mengendapkan cangkang Ostrea dan membentuk coquina bedding.

Selain itu, pada endapan batupasir di daerah Tonjong ditemukan fosil moluska berupa Batissa sp. yang hidup di daerah transisi (bakau). Pada endapan sedimen yang lebih kasar yaitu batupasir karbonatan dengan sisipan konglomerat terdapat kandungan fosil moluska berupa Melanoides sp. yang merupakan freshwater mollusk (moluska air tawar). Hal ini menandakan bahwa lingkungan pengendapan pada lokasi ini berubah lebih ke arah daratan (terestrial).

Satuan perselingan konglomerat dan batupasir kasar nonkarbonatan termasuk dalam Formasi Cijolang yang menurut Silitonga, dkk. (1996) berumur Pliosen Tengah. Satuan batuan ini terendapkan di atas satuan batupasir karbonatan Formasi Kalibiuk dengan hubungan yang selaras. Satuan perselingan konglomerat dan batupasir kasar nonkarbonatan ini ditemukan di dua titik lokasi penelitian yaitu daerah Cijurey dan daerah Tonjong.

Untitled-77

Kenampakan Makromoluska Batissa sp. setelah melalui proses preparasi dan pengeditan foto. Foto: Irman Abdurohman

Pada satuan batuan ini tidak ditemukan adanya fosil moluska dan sedimennya tidak bersifat karbonatan. Di tempat lain di sekitar Cijurey ditemukan fosil vertebrata berupa dental vertebrate. Lapisan sedimen yang kasar berupa konglomerat dan adanya fosil vertebrata pada daerah ini dapat mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan daerah ini merupakan lingkungan darat (terestrial).

Pada lokasi penelitian Cijurey, Maneungteung hingga Tonjong, ditemukan fosil moluska makro sebanyak 80 variasi spesies dengan total jumlah spesimennya sebanyak 182 spesimen yang terdiri dari 161 spesimen utuh dan 21 spesimen yang berupa fragmen. Ditemukan juga fosil moluska mikro sebanyak 47 variasi spesies dengan total jumlah spesimennya sebanyak 137 spesimen yang terdiri dari 129 spesimen utuh dan 8 spesimen yang berupa fragmen. Selain fosil moluska, ditemukan juga fosil invertebrata lainnya (crustaceae, balanus, koral, echinodermata, dentalium, dan foram besar), fosil vertebrata (dental vertebrate), dan fosil kayu.

Dari penelitian tersebut, hasilnya ternyata mempertegas bahwa antara Cijurey, Maneungteung, dan Tonjong sangat kaya dengan fosil-fosil moluska yang tertimbun dan terendapkan dalam waktu yang sangat lama, sehingga membentuk semacam ladang bagi fosil moluska. Tentu saja, penelitian lanjutannya sangat perlu dilakukan guna memperdalam pemahaman atas fungsi fosil moluska sebagai fosil indeks. (Anita Galih Ringga Jayanti dan Rahajeng Ayu Permana Sari)

Penulis adalah staf peneliti pada Seksi Dokumentasi dan Konservasi Museum Geologi, Bada Geologi, KESDM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>