Untitled-5

Geopark Bukan Sekadar Secarik Kertas

Pantai Watukarung, Gunungsewu. Foto: Baskoro Setianto.

Makna Ilmiah Warisan Bumi Gunung Sewu

04/01/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Kupang Kota di atas Kars

Sunset di Inaboi, dengan siluet
sasando, alat musik tradisional NTT.
Foto: Oki Oktariadi.
Sunset di Inaboi, dengan siluet sasando, alat musik tradisional NTT. Foto: Oki Oktariadi.

Sunset di Inaboi, dengan siluet
sasando, alat musik tradisional NTT.
Foto: Oki Oktariadi.

Kupang, Ibukota Nusa Tenggara Timur, adalah kota yang sangat menarik. Lautnya indah. Selain itu, bentang alam kars yang menjadi pondasi salah satu kota besar di Indonesia ini, adalah fenomena langka. Kars umumnya dikategorikan sebagai kawasan lindung yang memiliki fungsi konservasi. Karena itu, pengembangan kota di atasnya harus dilakukan dengan bijak agar berkelanjutan.

Keindahan Teluk Kupang, seperti yang terlihat di Pantai Bolok Kupang Barat, tak diragukan lagi. Hamparan air laut dengan gradasi warna biru, pulau-pulau kecil yang menyembul diatasnya serta sesekali perahu nelayan dan kapal laut berlalu lalang. Di Lasiana, Kupang Tengah yang menyerupai sebuah teluk berpadu bukit dan pantai, pantainya berpasir putih halus. Di beberapa sudut, warnawarni batu kerikil diterpa ombak berair jernih yang bergulung-gulung. Inilah tempat warga kota bersama keluarga mencari kedamaian di sore hari atau di hari-hari libur. Itulah pantai-pantai indah kekayaan alam Kota Kupang yang masih menanti penataan lebih lanjut.

Kondisi pondasi kota berupa kawasan kars dan regulasi yang ada berkaitan dengan kars berhadapan dengan pertumbuhan penduduknya yang pesat, menjadikan Kota Kupang seakan menghadapi sebuah dilema. Namun, sesungguhnya masih dapat dicari jalan keluar yang winwin solution, yakni kota tetap dapat dibangun, namun, alam dan lingkungan sekitar sebagai modal pemberian Tuhan dapat tetap terkonservasi.

Air terjun berundak Oenesu. Foto: Oki Oktariadi.

Air terjun berundak Oenesu. Foto: Oki Oktariadi.

Kars, Cendana dan Lontar
Bila kita memasuki dan menelusuri Kota Kupang, kita akan terheran-heran melihat sebuah daratan yang tidak rata dengan tonjolan batuan kasar muncul dipermukaan. Memang, hampir 80% Kota Kupang berada di atas kars yang puncaknya hampir datar. Punggungan kars tersebut mirip morfologi plato, yang memanjang arah utaraselatan. Punggungan tersebut dibatasi oleh lembah sungai yang landai sampai agak terjal, seperti daerah antara Tenau dan Bolok. Daerah ini memiliki ketinggian yang cukup menonjol dibatasi oleh dataran pantai di sebelah utaranya, dan di sampingnya dibatasi oleh tebing yang agak terjal-terjal.

Kars yang tersebar umumnya berupa batugamping koral berwarna putih hingga kekuning-kuningan, keras, sebagian besar padat dan masif. Setempat-setempat berkembang pula batugamping terumbu dengan permukaan kasar dan berongga. Ketebalannya diperkirakan mencapai sekitar 300 meter. Sementara itu, hasil lapukan batuan ini berupa lempung berwarna merah dengan sedikit fragmen batu gamping, dengan ketebalan 0,5 – 2 m yang sering disebut tanah terrarosa (tanah merah), tersebar di dataran. Pemandangan yang biasa bagi warga Kupang bila di halaman rumah terdapat tonjolan batuan kars maupun gua-gua kecil. Fenomena ini sebagian di antaranta oleh pemda setempat telah dijadikan taman kota.

Pohon Lontar, tumbuh di antara sela-sela batuan kars yang kering dan hitam. Foto: Oki Oktariadi.

Pohon Lontar, tumbuh di antara sela-sela batuan kars yang kering
dan hitam. Foto: Oki Oktariadi.

Sifat batuan karbonat yang menjadi penyusun utama bentang lahan kars adalah banyak mengandung rekahan, celah, dan rongga pada bagian permukaan. Inilah yang disebut zona epikars yang menjadi zona penangkap air hujan yang jatuh ditempat tersebut. Celah, rekah, dan rongga tersebut akan terhubung dengan lorong-lorong konduit (saluran) yang berada di zona vadose, dibawah zona epikars. Air yang ada di permukaan pada zona epikars akan terresap ke lorong sungai bawah tanah melalui rekahan-rekahan tersebut menuju loronglorong sungai bawah tanah di zona vadose. Zona vadose merupakan bagian batuan karbonat yang tebal dan tidak banyak memiliki rekah. Pada zona ini lorong-lorong konduit terbentuk. Lorong konduit ini dapat dilihat dalam bentuk gua ataupun lorong sungai bawah tanah seperti banyak terlihat di Kota Kupang.

Di atas batuan kars itu tumbuh vegetasi yang khas seperti cendana (Indian sandlewood), dan lontar (Borassus flabellifer). Saat ini pohon cendana menjadi barang langka bahkan hampir mustahil bisa ditemui dalam kawasan hutan. Salah satu sentra cendana yang masih ada di Kupang, bahkan di NTT, adalah Kampung Nunka, merupakan satu dari empat anak kampung di Desa Ponain, berjarak sekitar 60 km arah selatan Kota Kupang. Kegunaan cendana cukup banyak seperti untuk berbagai jenis parfum, bahan kosmetik, tasbih, rosario, salib, kipas tangan, serbuk cendana pengharum ruangan, minyak atsiri, hiasan miniatur patung manusia, penjepit rambut dan berbagai ukiran kayu lainnya. Namun karena kelangkaannya, harganya pun semakin mahal.

Taman bermain di Gua Monyet

Taman bermain di Gua Monyet

Sementara itu, pohon lontar nampaknya tidak menghadapi ancaman kelangkaan. Pohon ini banyak dijumpai dan tampak berjajar indah di sepanjang pesisir pantai Kupang. Pohon lontar atau siwalan adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan pada lahan kering seperti di Kota Kupang. Pada masa silam lontar memiliki nilai penting, yaitu sebagai media penulisan berbagai naskah kuno dan bahan penting untuk atap rumah khas Kupang. Kini, dari pelepahnya dibuat serat untuk kerajinan anyaman juga songkok, semacam peci setempat. Dari lontar juga dibuat bahan kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, dan tenunan untuk pakaian, dan bahan dasar alat musik Sasando alat musik tradisional Timor. Tak hanya itu, lontar juga disadap niranya untuk dijadikan gula. Semua hasil produk lontar ibi di jual di berbagai tempat di Kota Kupang. Proses pembuatannya dapat diamati di sentrasentra kerajinan yang tersebar di pinggiran kota. Begitu pentingnya flora ini untuk masyarakat NTT, Kupang khususnya, maka pohon lontar sangat pantas menjadi ikon Kota Kupang.

Gua Kristal, di bagian barat Kupang, yang banyak dikunjungi wisatawan. Gua ini memiliki air jernih berwarna biru, sehingga terlihat bagaikan kristal. Saat ini muka airnya mengalami penurunan.,

Gua Kristal, di bagian barat Kupang, yang banyak dikunjungi wisatawan. Gua ini
memiliki air jernih berwarna biru, sehingga terlihat bagaikan kristal. Saat ini muka airnya mengalami penurunan.,

Dilema Pengembangan dan Jalan Keluar
Keberadaan Kota Kupang sendiri telah ada sejak dahulu, dimulai dari sebuah desa bernama Desa Baun yang merupakan kerajaan kecil bernama Amarasi yang merupakan salah satu kerajaan kecil di Pulau Timor, selain kerajaan Rote, SoE, Belu, Amanuban, Bonoboro, dan Lautem yang pernah tergabung dalam Kerajaan Wehali. Saat ini Desa Baun dikenal sebagai sentra kerajinan tenun ikat tradisional yang selalu dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Kupang. Penduduk desanya masih mempertahankan pembuatan tenun ikat secara tradisional, mulai dari benang berbahan dasar kapas hingga pewarnanya yang masih alami, yaitu dengan menggunakan buah mengkudu, kemiri, kosambi dan lainnya. Namun, ada juga yang menggunakan teknik pewarnaan secara modern. Di Kota Kupang sendiri terdapat 200 sentra tenun ikat.

Pembangunan Kota Kupang selama ini tampak berjalan sesuai perannya sebagai ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur. Tentunya impian tentang kota indah, megah, dan berbudaya menjadi harapan masyarakat kupang pada umumnya. Namun, impian tersebut boleh jadi pudar ketika berbenturan dengan fakta yang ada, yaitu adanya Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang memasukkan kars sebagai kawasan lindung, sehingga secara hukum pembangunan di kawasan kars harus dihentikan. Fakta ini menimbulkan kebimbangan pemerintah daerah dalam pengambilan keputusan pengembangan Kota Kupang, termasuk pengembangan pabrik semen yang tentunya dibayang-bayangi ketakutan terjadinya pelanggaran perundang-undangan yang akan berujung pada proses pengadilan seperti yang terjadi di Kabupaten Gresik.

Di lain pihak peraturan ini telah memberi secercah harapan bagi para penggiat penyelamatan kawasan kars di tanah air. Karena peraturan itu sejatinya telah menempatkan kars pada tempat yang semestinya, yaitu sebagai kawasan lindung karena memiliki potensi daya dukung terhadap kehidupan manusia dan berperan penting bagi keseimbangan ekologi.

Pantai Bolok, Kupang dengan latar kawasan industri

Pantai Bolok,
Kupang dengan latar kawasan industri

Sebenarnya, tidaklah beralasan bila Kota Kupang harus dibongkar dengan alasan adanya peraturan perundangan yang baru tersebut. Sebab, pemanfaatan kawasan kars bukan satu hal yang tabu, asalkan sesuai dengan kaidah peruntukkannya dan tidak hanya mengedepankan kepentingan ekonomi semata. Untuk itu, telah ada langkah awal solusi yaitu Peraturan Menteri (PerMen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 17 Tahun 2012 Tentang Penetapan Kawasan Kars Lindung dan Kars Budidaya. Penerapan peraturan tersebut baru dapat dilakukan setelah pasal tentang kars pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang RTRWN direvisi pada 2013, yaitu disesuaikan dengan PerMen ESDM tersebut.

Bagi Kota Kupang, solusi tersebut cukup melegakan. Artinya pembangunan kota ini dapat terus berlanjut, namun mesti dengan penuh kehati-hatian karena permasalahan lingkungan pun terus bermunculan yang ditandai dengan laju pertambahan penduduk kota sebesar 3,5% per tahun. Selain itu, arah pembangunan kota pun semakin masif berada di kawasan kars yang berperan sebagai imbuhan air tanah, sehingga air tanah ini berpotensi tercemar oleh limbah perkotaan yang berdampak lebih lanjur ke warga kota itu sendiri. Untuk itu, perlu segera di ambil solusi, yaitu dengan menetapkan kawasan kars lindung dan kawasan kars budidaya. Penetapan ini harus segera ditindaklanjuti dengan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Menuju Kota Kars yang Khas
Kota Kupang yang berada di atas kars, dapat kita sebut sebagai kota kars yang memiliki kekhasan. Selain pohon cendana dan pohon lontar, yang khas lainnya di NTT khusunya di kota Kupang, adalag gua-gua alami dan bentang alam kars itu sendiri. Namun, kota ini juga bercirikan temperatur udaranya yang panas sehingga di permukaan tanahnya umumnya kering kerontang. Karena itu, sangat pantas kiranya bila pengembangan kota ini didasarkan pada kekhasan yang dimiliki dengan mengurangi tingkat panas udaranya, sehingga penataan kota memberikan kenyamanan bagi penduduk dan para wisatawan. Mungkin konsep “Taman Hutan Kota“ (THK, city geoforest park) cocok untuk dikembangkan. Untuk Kota Kupang, THK adalah kota yang mampu menampilkan kombinasi keunikan bentukan kars dengan kekhasan pohon cendana dan pohon lontar.

Pabrik Semen Kupang, kebanggaan kita. Foto: Oki Oktariadi.

Pabrik Semen Kupang, kebanggaan kita. Foto: Oki Oktariadi.

Keunikan dan kekhasan sumber daya alam ini perlu diinformasikan melalui panelpanel agar wisatawan mendapatkan pengetahuan dan menikmati suasananya, sehingga meninggalkan kesan yang baik setelah mengunjunginya. Memang, di beberapa THK sudah tersedia, seperti taman Gua Monyet, komplek air terjun Oenesu, dan lainnya. Gua Monyet terletak di bagian selatan Kota Kupang. Di gua yang terletak di pinggir jalan raya Kota Kupang-Pelabuhan Tenau ini, terdapat ratusan kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang di bertengger di atas pohon-pohon Kosambi (Schleichera oleosa) yang tumbuh hijau. Gua-gua dan batu kars membuat kawasan ini menjadi habitat yang nyaman bagi kera-kera ini. Namun, THK yang ada masih perlu terus dikembangkan dan disempurnakan.

Demikian pula sebuah runtuhan (collapse) dan gua kars berair yang ada di kampus Universitas Cendana belum dikelola secara holistik, baru dimanfaatkan sumber daya-airnya saja. Seyogyanya, pihak universitas dapat mengembangkan lokasi tersebut sebagai Taman Kars yang layak dikunjungi wisatawan, sekaligus sebagai laboratorium alam (geosite) bagi keilmuan terkait. Sayangnya, pengelolaan lokasi tersebut belum dilakukan secara professional dan berkelanjutan. Hasil ekonomi, estetika, maupun nilai lainnya pun belum dirasakan.

Imperial World, Kupang. Ilustasi 3D

Imperial World, Kupang. Ilustasi 3D

Samentara itu, perkembangan kota ini yang terbaru adalah dibangunnya kompleks Imperial World Kupang oleh sebuah perusahan real estate nasional. Lokasinya berada di pantai Kupang seluas 44 hektar dengan investasi mencapai Rp 1,7 triliun. Proyek ini diperkirakan akan rampung pada 2018 mendatang. Pembangunan mega proyek tersebut tentunya harus sudah memikirkan dampak positif maupun negatif. Sedangkan pemerintah daerah sejak dini sudah harus melakukan pemantauan agar keunikan kars Kupang dan lingkungan sekitarnya, seperti perairan laut yang biru dan bersih, senantiasa dapat terjaga dengan baik.

Keberhasilan pembangunan sebuah kota tidak ditentukan oleh sekedar kaya akan sumber daya alam, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki intelektual tinggi sangat diharapkan perannya dalam memberikan pemikiran dan inovasi bagi pengembangan sebuah kota yang indah, megah, dan berbudaya. Semoga harapan yang diidamkan masyarakat Kota Kupang sebagai Kota KASIH (Karya, Aman, Sehat, Indah, Harmonis) dapat diwujudkan dan memberikan kesejahteraan lahir dan batin denga memperhatikan kawasan kars sebagai modal dasar kekayaan alamnya. (Oki Oktariadi)

Penulis adalah Penyelidik Bumi Utama di Badan Geologi, KESDM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>