Bumi yang Hidup-86

Bumi yang Hidup

Tiga-Menguak-71

Tiga Menguak Tambora

31/12/2014 Comments (0) Resensi Buku

Kuasa Alam atas Sistem Iklim Global

Tiga-Menguak-69
Tiga-Menguak-69

Tambora: The Eruption that Changed the World

Bab satu, “The Pompeii of the East”, dengan meneliti dokumen-dokumen selama kekuasaan Inggris di Indonesia (1811-1816), Gillen menitikberatkan perhatiannya pada laporan gubernur jenderal Inggris di Indonesia, Thomas Stamford Raffles, yang memerintahkan bawahannya untuk melaporkan kejadian di Jazirah Sanggar. Termasuk di dalamnya, kesaksian Raja Sanggar”.

Namun, bab satu ini sangat kurang, bahkan tidak membicarakan ihwal Kerajaan Tambora itu sendiri. Kalaulah Gillen mau bersusah payah, maka ia akan mendapatkan data-data ihwal kerajaan yang terkubur itu dari keterangan-keterangan yang dikeluarkan kompeni (VOC), kronik Kerajaan Gowa- Tallo, dan kronik Kerajaan Bima yang kini sudah diteliti dan dibukukan. Bahkan buku Regents of Nations: Asia & Pacific Oceania (2003) karya Peter Truhart menyertakan nama-nama raja Tambora secara lengkap.

Kemudian, bab dua “The Little (Volcanic) Ice Age”. Di sini Gillen menjejaki kegunungapian yang terjadi pada abad ke-19 dan periode sebelumnya. Akibat letusan Tambora 1815 pada pola iklim global memperparah keadaan iklim sebelumnya yang tidak pernah benar-benar stabil. Keadaan ini, sebagaimana tuturan Gillen, disebabkan adanya gunung api tropis yang meletus besar enam tahun sebelumnya. Para sejarawan merujuk gunung api yang meletus pada tahun 1809 itu sebagai “the 1809 Unknown”.

Pada awal bab tigTambora 045a, “This End of the World Weather”, Gillen menyatakan letusan Tambora mempengaruhi para sastrawan Eropa. Misalnya Mary Shelley yang menulis novel gotik Frankenstein, Lord Byron yang menulis puisi Childe Harold’s Pilgrimage. Selanjutnya ia menjelaskan penyebab memburuknya iklim di Inggris dan Eropa Barat sepanjang tahun 1816-1818. Selain itu, cuaca ekstrem tahun 1816 sangat mempengaruhi para ahli meteorologi. Di sini, secara tidak langsung, letusan Tambora memunculkan semacam gairah untuk memajukan meteorologi, bahkan dianggap menyebabkan lahirnya ilmu meteorologi modern.

Dalam bab empat, “Blue Death in Bengal”, Gillen menjelaskan bahwa letusan Tambora mempengaruhi sistem cuaca di India dan memicu wabah kolera dunia. Wabah yang memang endemik di dataran Rendah Bengal itu diperparah moonson yang datang tiga minggu lebih awal, pada bulan Mei 1817. Keadaan ini memperkuat daya hidup bakteri pembawa kolera. Akibatnya, perdagangan dunia menyebarkan kolera dari India ke Hindia Belanda, Asia Timur, ke baratlaut ke Arabia, Rusia, Eropa, dan akhirnya sampai ke Amerika.

Kegagalan panen dan kelaparan yang melanda Yunnan, Cina, disajikan Gillen dalam bab lima, “The Seven Sorrows of Yunnan”. Keadaan tersebut diabadikan dalam puisi-puisi karya penyair Yunnan, Li Yuyang, antara 1815-1818. Akibat lainnya adalah meruyaknya persebaran opium di dunia, karena penduduk Yunnan mengubah pola pertaniannya dari menanam padi menjadi menanam opium karena lebih cepat menjadi uang. Dan secara tidak langsung, menyebabkan pecahnya Perang Candu (1839- 1842) antara Inggris dan Cina, sekligus keruntuhan Kekaisaran Cina.

Pada bab enam, “The Polar Garden”, penulis menyajikan sisi lain akibat letusan Tambora. Ia menyatakan Arktika yang sejak tahun 1960-an menjadi kunci untuk memahami letusan Tambora, antara tahun 1815 dan seterusnya menjadi kekuasaan politik pemerintah Inggris dan angkatan lautnya, yaitu untuk memperoleh kesejahteraan dan kejayaan. Pendinginan cuaca di Swiss dibahas dalam bab tujuh, “Ice Tsunami in the Alps.” Anggota Swiss Society for Natural Science menyadari bahwa pertumbuhan gletser yang terjadi pada dekade 1810-an, menyebabkan mereka untuk pertama kalinya menitikberatkan perhatiannya pada glasiologi pada pertemuan tahunan di Bern tahun 1816. Pada Juni 1818, terjadi banjir es di Val de Bagnes yang menghancurkan perkampungan dan lahan pertanian di kaki pegunungan Alpine.

Akibat letusan Tambora juga menyebabkan terjadinya kelaparan besar di Irlandia antara tahun 1816-1818. Gillen membahasnya dalam bab delapan, “The Other Irish Famine”. Tragedi ini berawal dari cuaca basah dan berbadai tahun 1816 terus berlanjut pada tahun-tahun sesudahnya. Antara 1816-1818 di seluruh Irlandia untuk pertama kalinya mengalami kegagalan panen kentang. Yang lebih parah adalah mewabahnya penyakit tipus menyebabkan sedikitnya 65-80 ribu orang Irlandia meninggal antara tahun 1817-1818.

Tetapi akibat paling lama dari letusan Tambora terasa di Amerika Utara. Ini dibahas oleh Gillen pada bab sembilan, “Hard Times at Monticello”. Temperatur dingin mencekam yang mulai terjadi pada musim panas tahun 1816 terus berlanjut, sehingga menyebabkan kegagalan panen antara 1816-1820. Cuaca dingin serta kegagalan panen itu berperan pada depresi ekonomi Amerika Serikat pada 1819-1822. Awal 1819, permintaan Eropa pada kapas dan gandum Amerika menurun drastis, diperparah dengan kontraksi kredit bank nasional, sehingga menyebabkan kepanikan di Amerika Serikat (“The Panic of 1819”).

Pada penutup buku ini, Gillen mengungkap penemuan prototipe sepeda oleh bangsawan Jerman, Karl von Drais. Krisis iklim antara 1816-1818 dan berkurangnya stok pangan serta matinya kuda dalam jumlah yang tak terhingga mendorong bangsawan tersebut menemukan alternatif mode kendaraan. Tak lama kemudian, dari tangan von Drais ini tercipta velocipede alias protipe sepeda.

Selain itu, Gillen mencatat tiga poin penting dari narasi Tambora yang ditulisnya itu. Pertama, bahwa buku ini tidak membahas mengenai akibat letusan Tambora pada dunia binatang dan populasi biotik. Kedua, efek turunan berupa krisis ekologi akibat Tambora terus berlangsung berpuluh-puluh tahun, hingga tahun 1890-an. Hal ini juga tidak banyak dibahas. Ketiga, yang masih kurang dibahas dalam buku tersebut adalah bahwa akibat Tambora yang berlarut-larut itu tidak hanya terasa di dunia fisik (manusia dan hewan), melainkan juga menjadi pemicu berkembangnya ide-ide dan teknologi baru.

Peresensi adalah penulis, peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>