energi

Panas Bumi,Primadona Energi Indonesia Masa Depan

3D

Menyelamatkan Diri dari Tsunami

25/09/2011 Comments (0) Resensi Buku

Krakatau: Ketika Dunia Meledak dan Lampung Karam

krakatau

Untitled-1Pada bab-bab awal buku ini dengan menarik Winchester bercerita tentang latar belakang Indonesia, diantaranya mengenai Pujangga Surakarta
Ranggawarsita yang menulis tentang adanya letusan Gunung Kapi yang diduga Krakatau sebelum letusan dahsyat 1883. Pada bab yang lebih ilmiah tentang Krakatau, ada kemungkinan Gunung Kapi yang dimaksud Ranggawarsita adalah letusan yang tercatat pada tahun 416 atau 535. Pada bab awal ini pula, Winchester memberi gambaran secara ringkas sejarah Indonesia sebagai jajahan Belanda, dan  mengapa bangsa Eropa datang ke Indonesia untuk saling memperebutkan hasil bumi cengkeh, lada, dan pala.

Pada bab-bab berikutnya, Winchester membahas bagaimana Teori Tektonik Lempeng dibangun. Bab ini penting bagi pembaca yang belum mengenal geologi dan proses-prosesnya yang menyebabkan bagaimana gunung api terbentuk dan meledak. Diselipkan pula bagaimana kisah tragis usaha Alfred Wegenner yang tadinya dicemooh karena teori pengapungan benuanya, tetapi kemudian disanjung 70 tahun kemudian sebagai peletak dasar Tektonik Lempeng. Winchester juga membahas tentang Garis Wallace dan bagaimana hasil penelitian luas Alfred Russel Wallace di Nusantara mempengaruhi Charles Darwin menyusun teori evolusinya yang sangat terkenal dan kontroversial.

Bab-bab berikutnya kemudian berkembang pada saat-saat Krakatau meletus dan akibat-akibat setelahnya. Pada bab-bab ini, Winchester banyak membahas tulisan RDM Verbeek “Krakatau” (1886) yang merupakan buku paling awal yang melaporkan letusan Krakatau 1883. Karena berbahasa Belanda, ia menyarankan pembaca untuk membaca buku karya Tom Simkin dan Richard S. Fiske “Krakatau 1883: The Vulcanic Eruption and Its Effect (SmithsoniaKrakataun Institution Press, 1983) yang banyak menerjemahkan karya Verbeek. Akan tetapi ilustrasi efek letusan itu ditulis dengan gaya bahasa bercerita sehingga menimbulkan efek yang mengasyikan kepada pembaca. Misalnya bagaimana terlemparkannya kapal uap Belanda sejauh 2,5 km dari garis pantai Teluk Betung yang bernama Berouw yang artinya ‘penyesalan’ dalam bahasa Belanda. Begitu pula kisah kapal Loudon yang berjuang hidup mati di tengahtengah Selat Sunda yang bergelora dalam hujan batu dan debu sampai akhirnya selamat berlabuh di Batavia dalam kondisi kapal yang compang-camping dalam arti sebenarnya.

Krakatau

Buku: Syair Lampung Karam Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883

Simon Winchester begitu piawai menulis bukubuku berbau geologi. Di antara buku-buku pertama yang ditulisnya adalah The Map that Change the World, tentang biografi juru ukur jalan di Inggris, William Smith. Karena ketekunannya membuat korelasi profil-profil lereng yang diukurnya, Smith mendapat pengakuan sebagai Bapak Stratigrafi dan membuat revolusi penting dalam Geologi. Petanya dianggap sebagai pencetus kelahiran Geologi modern saat itu.Selain buku tentang Krakatau dan William Smith, buku lainnnya yang berbau geologi adalah tentang gempa bumi besar yang melanda San Fransisico 1906 A Crack in the Edge of the World: America and the Great California Earthquake of 1906.

Tentu saja Simon Winchester pandai menulis tentang geologi karena ia sendiri seorang ahli geologi lulusan St Catherine’s College, Oxford, Inggris, dan sempat bekerja di Afrika dan rig minyak lepas pantai. Dari info yang tertulis di wikipedia, ia lahir di Skotlandia, 28 September 1944, dan sekarang tinggal di Massachusets, AS. Kepandaiannya menulis digembleng selama berkarir 20 tahun sebagai koresponden asing untuk The Guardian. Ia juga banyak menyumbang tulisan untuk Condé Nast Traveler, Smithsonian Magazine, dan National Geographic, serta kritikus buku untuk The New York Times.

Sudah sekitar 18 buku yang ditulisnya, dan tidak tentang geologi saja. Gaya penulisannnya adalah feature, mungkin karena pengalamannya bertahuntahun sebagai penulis untuk berbagai publikasi. Bukunya selalu menyangkut satu tokoh (dan peristiwa yang mengikutinya) atau satu peristiwa yang merembet pada penceritaan tokoh-tokohnya yang terlibat di dalamnya.

Ketika Lampung Karam

Berbeda dengan buku Winchester yang dilengkapi data ilmiah geologi, buku karya Suryadi dengan judul lengkap “Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883” merupakan kumpulan transliterasi dari suatu syair yang ditulis oleh Muhammad Saleh tentang kesaksiannya atas bencana letusan Krakatau 1883. Pada awalnya Suryadi yang merupakan dosen di Universitas Leiden sejak 1998 mempresentasikannya pada Konferensi ke-24 Association of South East Asian Studies in the United Kingdom (ASEASUK) di Liverpool John Moores University pada 20 – 22 Juni2008.

Suryadi, peneliti dan ahli naskah kuno (filologi) dan sastra klasik, kemudian mendapatkan informasi lain tentang naskah tersebut yang “tercecer” di enam negara yang berbeda.Akhirnya, pada 2009 ia berhasil menerbitkan secara lengkap naskah kesaksian bencana Krakatau itu dalam terjemahan Bahasa Indonesia melalui penerbit Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP). Bukunya dengan editor jurnalis Kompas, Yurnaldi, kemudian diselipkan latar belakang letusan Krakatau. Pada Bagian 3 berbagai foto dan sketsa tentang Krakatau yang kebanyakan mengambil dari buku Simkin dan Fiske (1983), juga melengkapi buku ini.

Syair transliterasi lengkap terdapat pada Bagian 2 buku ini. Walaupun dengan gaya bahasa yang masih terasa asing bagi lidah kita sekarang, kita dapat mengikuti bagaimana Muhammad Saleh yang menuliskan tentang kengeriannya menyaksikan akibat Letusan Krakatau 1883 di suatu tempat di Kampung Bangkahulu, Singapura, yang sekarang kemudian bernama Bencoolen Street. Muhammad Saleh menulisnya hanya 3 bulan di tempat pengungsiannya di Singapura setelah letusan yang membuat dunia terguncang. Ribuan makalah dan buku terbit setelah peristiwa itu, dan naskah Muhammad Saleh baru mencuat 125 tahun kemudian setelah usaha keras
Suryadi.

Sebagaimana umumnya syair, bagian awal naskah Syair Lampung Karam itu merujuk kepada latar belakang adanya kebobrokan moral masyarakat dan kesewenang-wenangan penjajah sehingga turunlah azab melalui letusan Krakatau. Setelah itu, naskah itu menggambarkan bagaimana letusan Krakatau yang
diikuti adanya tsunami, membawa bencana yang mengerikan di pantai Lampung, mungkin tempatsi penulis naskah menyaksikannya. Inilah beberapa kutipan syair kesaksian dahsyatnya letusan Krakatau yang diikuti tsunami yang membawa ribuan korban jiwa itu:

KrakatauPulau Sebuku dikata orang,
Ada seribu lebih dan kurang,
Orangnya habis nyatalah terang,
Tiadalah hidup barang seorang
….
Ada yang lari nyatalah terang,
Anak didukung ada di belakang,
Dipukul air tunggang-langgang,
Anak dilihat nyawanya hilang,


Air di situ sahaya khabarkan,
Naik ke darat bukan buatan,
Dua belas pal nyatalah, Tuan,
Dari tepi laut sampai daratan.
….

Beruntunglah ada Suryadi yang tekun mempelajari naskah-naskah lama sehingga menemukan syair Muhammad Saleh yang membuktikan bahwa bangsa kita pun ternyata cukup cendekia dalam melaporkan suatu peristiwa alam sekalipun dalam bentuk syair. Jika Simon Winchester hanya merangkai informasiinformasi tercecer yang ia tuliskan kembali menjadi bacaan yang memikat tentang ledakan Krakatau, Muhammad Saleh melihat sendiri dan mencatat akibat langsung ledakan Krakatau yang kemudian mempengaruhi dan menginspirasi para seniman dan penulis dunia itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>