Prasejarah-Gunung-Sewu-1

Prasejarah Gunung Sewu Hunian “Pacitanian”

Radiolaria-1

Radiolaria Perunut Batuan Bancuh

16/08/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Koleksi Museum Geologi

koleksi museum geologi
koleksi museum geologi

Fosil Pithecanthropus erectus (P2), yang merupakan salah satu unggulan koleksi MG. Foto: Deni Sugandi

Sejarah Museum Geologi (MG) terentang panjang. Diawali ketika Opsporingsdienst, de Geologische Dienst van Nederlandsch-Indie yang merupakan bagian dari Dienst van den Mijnbouw membangun perkantoran untuk Geologisch Laboratorium di Wilhemina Boulevard (Jalan Diponegoro 57, Bandung). Peresmian gedung Opsporingsdienst ini bersamaan dengan pembukaan Fourth Pacific Science Congress pada 16 Mei 1929.

Pada saat pembukaan Geologisch Laboratorium diperagakan berapa contoh batuan dan fosil hasil penelitian ahli geologi di seluruh Indonesia di ruang utama lantai 1 (bawah) sayap barat dan timur. Selanjutnya koleksi batuan dan fosil hasil penelitian Opsporingsdienst baik yang diperagakan dalam lemari kaca maupun yang tersimpan dalam laci penyimpan dikelola oleh Geologisch Laboratorium.

Kondisi ini berlangsung hingga ada proyek renovasi MG tahun 2000, itu pun baru terbatas pada koleksi batuan, sebagian fosil invertebrata (moluska berumur Tersier). Sementara moluska Pra Tersier (khususnya Mesozoik) dan foraminifera kecil (khususnya holotype), foraminifera besar, fosil vertebrata, dan “manusia purba” dikelola oleh Laboratorium Paleontologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G atau Pusat Survei Geologi, Badan Geologi sekarang). Barulah pada 2002 setelah terjadi reorganisasi di P3G, koleksi fosil vertebrata dan “manusia purba” resmi berada dalam pengelolaan seksi Dokumentasi dan Konservasi, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Geologi (MG).

Hingga kini MG memiliki dan mengelola ratusan ribu koleksi yang terdiri batuan, fosil, dan berbagai koleksi lainnya. Sebagian besar koleksi MG merupakan hasil survey atau penelitian Opsporingsdienst, de Geologische Dienst van Nederlandsch-Indie, Dienst van den Mijnbouw hingga Badan Geologi sekarang. Selain itu, didapat pula koleksi dari sumbangan berbagai pihak, tukar-menukar ilmiah dan pembelian untuk koleksi tertentu.

Koleksi batuan di MG mencapai ratusan ribu. Koleksi ini terdiri dari koleksi lama (1850-1945), koleksi pengembalian dari Utrecht University, Belanda (2000), hasil pengumpulan dan hasil penelitian MG, hingga sekarang. Beberapa koleksi batuan ini diperagakan di halaman depan MG. Ada pula koleksi yang diperagakan di ruang peragaan. Koleksi lainnya disimpan di ruang penyimpan (storage room) yang dikelompokkan berdasarkan lokasi dan dilengkapi dengan peta geologi asal koleksi batuan tersebut serta keterangan lainnya.

Di antara koleksi batuan yang menarik ada yang diperagakan diruang peragaan lantai 2 (atas) sayap timur seperti meteorit Jati-Pangilon yang merupakan meteorit terbesar di Indonesia, meteorit Namibia dari Afrika yang merupakan jenis meteorit besi, dan berbagai tektit. Ikut diperagakan juga di ruang sayap timur lantai 2 ini beberapa mineral langka dan batu mulia seperti batu kecubung (amethyst), agat, giok, dan pirus.

Selanjutnya koleksi fosil fauna yang terdiri dari puluhan ribu koleksi fosil invertebrata, dari jenis moluska Tersier yang disusun berdasarkan lokasi dan jenisnya. Beberapa di antaranya merupakan fosil penting (spesimen holotype dan spesimen indeks) yang dipakai sebagai rujukan dalam penyusunan biostratigafi, jenjang moluska Tersier Jawa.

Selain itu, terdapat pula puluhan ribu koleksi fosil vertebrata yang terdiri dari koleksi sebelum kemerdekaan yang umumnya koleksi fosil vertebrata dari Jawa. Kemudian koleksi bertambah dari hasil penelitian Tim Peneliti Fosil Vertebrata Museum Geologi terutama hasil penelitian di daerah Cekungan Walanae, Sulawesi (1986-1993) dan Cekungan Soa, Flores (1993-sekarang) dan daerah lainnya. Fosil vertebrata tersebut disusun dalam ruang penyimpanan koleksi berdasarkan lokasi. Secara khusus koleksi fosil “manusia purba” disimpan tersendiri dalam “safety box” .

Beberapa koleksi fosil vertebrata ini diperagakan di ruang peragaan Sejarah Kehidupan yang menempati lantai 1 (bawah) sayap kiri MG. Peragaan kerangka lengkap Stegodon trigonocephalus, Bubalus palaeokerabau, Rhinoceros sondaicus, Hippopotamus simplex, kepala Sinomastodon (Mastodon) bumiajuensis dan kura-kura besar, Megalochelys cf sivalensis merupakan daya tarik tersendiri bagi pengunjung MG. Diperagakan pula fosil ular Sanca Python recticulatus dari Cililin, Jawa Barat, yang merupakan fosil ular pertama dan satu-satunya yang ditemukan di Indonesia. Replika fosil dinosaurus Tyranosaurus rex yang berukuran panjang 12,2 meter dan tinggi 3,7 meter turut pula menghiasi ruang peragaan itu.

Dalam peringatan ulang tahun MG ke-85, 16 Mei 2014, peragaan MG dilengkapi pula dengan replika kerangka lengkap Elephas hysudrindicus yang juga dikenal sebagai Gajah Blora yang merupakan individu gajah besar dengan ukuran tinggi 4 meter panjang 5 meter dan berat diperkirakan sekitar 6 ton. Fosil ini merupakan hasil penelitian Tim Peneliti Fosil Vertebrata Museum Geologi yang terbaru (2009) dan spektakuler karena sepanjang sejarah penelitian Paleontologi di Indonesia (1850-sekarang) baru inilah ditemukan fosil induvidu gajah yang hampir utuh.

Beberapa koleksi fosil vertebrata di MG bernilai sangat tinggi dari sisi ilmu pengetahuan khususnya Paleontologi, misalnya koleksi dari Ngandong yang sebagian besar hilang saat Perang Dunia II. Kita sangat beruntung bahwa koleksi fosil vertebrata yang dijadikan acuan sebagai unit Fauna Ngandong dalam biostratigrafi oleh Von Koenigswald (1934) tetap utuh dan tersimpan baik. Selain itu, berbagai koleksi fosil vertebrata penting lainnya yang meliputi spesimen holotype dan langka seperti Merycopotamus namus dari Cijulang, Elephas celebensis dan Celochoerus hekeereni dari Walanae (Sulawesi), serta berbagai fosil jenis ikan berumur Pra Tersier dari Formasi Sangkarewang, Sawahlunto (Sumatra Barat) masih tersimpan di MG.

Koleksi fosil MG yang menjadi perhatian ilmuan dunia, khususnya ahli paleoantropolgi, adalah “manusia purba” Homo erectus. Fosil tengkorak spesimen Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII) ini ditemukan di Desa Pucung, Sangiran, Jawa Tengah (1969). Fosil ini merupakan Homo erectus terlengkap di Asia yang meliputi tengkorak bagian atas, dasar tengkorak, bagian muka (tulang hidung), rahang atas dengan sebagian gigi utuh.

Spesimen manusia purba lainnya, yaitu fosil Sambungmacan 4 yang ditemukan di Desa Cemeng, Sambungmacan, Jawa Tengah (2001). Fosil ini merupakan tengkorak Homo erectus dengan fosilisasi sangat baik sehingga bagian lunak dari struktur anatominya dapat diteliti dengan sempurna. Koleksi Homo erectus lainnya adalah spesimen rahang bawah, Sangiran 22 (Pithecanthropus f), yang hampir lengkap berikut deretan giginya.

Selain batuan dan fosil fauna, terdapat pula koleksi fosil kayu, alat batu dari sekitar Danau Bandung Purba, Jawa Barat; Kali Basoko (Pacitan), Jawa Timur; Walanae, Sulawesi Selatan; dan Cekungan Soa (Flores), NTT. Terdapat pula peralatan survei atau penelitian geologi masa lalu dalam bentuk maket atau miniatur yang juga menjadi bagian dari koleksi MG.

Penulis: Iwan Kurniawan dan Sinung Baskoro.
Narasumber: Fachroel Aziz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>