Aproksimasi wajah tengkorak Pacung. Foto: Koleksi Museum Geologi Bandung dan Susan Hayes.

Mereka Wajah Manusia Pacung di Museum Geologi Bandung

11/04/2016 Comments (0) Museologi, Museologi

Koleksi Museum Geologi Bandung, Selayang Pandang

Homo erectus – Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII).
Foto: Koleksi MG, BG
Homo erectus – Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII). Foto: Koleksi MG, BG

Homo erectus – Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII).
Foto: Koleksi MG, BG

Dalam upaya memenuhi kebutuhan akan mineral, pada 1850 Belanda mendirikan Dienst van het Mijnwezen yang berfungsi untuk melaksanakan eksplorasi mineral di Hindia Belanda. Semula kantor ini terletak di Weltevreden (Menteng, Jakarta). Pada 1852 kantor itu pindah ke Buitenzorg (Bogor) dan kembali pindah ke Jakarta pada 1866. Pada 1922 lembaga ini berubah nama menjadi Dienst van Mijnbouw. Pada 1924 institusi ini pindah ke Gouvernements Bedrijven atau Gedung Sate sekarang di Bandung. Lembaga inilah cikal bakal Direktorat Geologi (Badan Geologi sekarang) sebagai induk dari Museum Geologi Bandung.

Pada 1928, Opsporingsdienst, de Geologische Dienst van Nederlandsch-Indie yang merupakan bagian dari Dienst van den Mijnbouw, membangun perkantoran untuk Geologisch Laboratorium di Rembrandt Straat/Wilhemina Boulevard atau sekarang Jalan Diponegoro No. 57, Bandung. Gedung yang disebut Geologisch Laboratorium itu diresmikan bertepatan saat pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV (Fourth Pacific Sciene Congress), pada 16 Mei 1929, di Rechts-hogeschool (Jakarta), dan Technische Hogeschool (Bandung – ITB sekarang). Inilah cikal bakal Museum Geologi Bandung (MGB) dan tanggal tersebut sekarang diperingati sebagai hari-jadi MGB.

Sebuah acara pameran dalam rangka rangkaian acara Fourth Pacific Sciene Congress 1929 tersebut dilaksanakan oleh Geologisch Laboratorium dengan memperagakan sejumlah koleksi yang telah dimiliki. Sejak acara pameran ini, jumlah koleksi MGB terus bertambah hingga sekarang sudah mencapai total 353.732 buah. Terdapat jalinan yang erat dan merupakan suatu siklus antara keberadaan koleksi fosil Indonesia di MGB, penemuan koleksi dan pemanfaat koleksi tersebut untuk penelitian, dan penelitian yang mendorong penemuan koleksi baru. Beberapa koleksi dan risetnya bahkan telah melambungkan nama Indonesia ke pecaturan dunia di bidang ilmu pengetahuan, khususnya geologi-paleontologi.

Tengkorak Mojokerto 1. Foto: Koleksi MG, BG

Tengkorak Mojokerto 1. Foto: Koleksi MG, BG

Jumlah dan Profil Koleksi
Koleksi yang sejak awal dikumpulkan Opsporingsdienst dibagi menjadi koleksi yang disimpan di tempat penyimpanan (storage collection) dan koleksi yang diperagakan atau dipamerkan untuk umum (exhibited collection). Dari sisi waktu pengumpulannya, koleksi ini terdiri dari koleksi lama (1850-1945), koleksi pengembalian dari Utrecht University, Belanda (2000), dan hasil penelitian oleh MGB, Badan Geologi hingga sekarang.

Koleksi yang disimpan seluruhnya ada sekitar 353.732 buah, terdiri atas total 219.538 koleksi fosil (159.882 fosil invertebrata dan 59.656 fosil vertebrata), 21.311 artefak, dan 112.883 koleksi batuan. Adapun koleksi yang diperagakan dan diperlihatkan ke masyarakat umum total sebanyak 1.999 koleksi. Dari sejumlah itu, sebanyak 233 spesimen yang terdiri atas 197 koleksi batuan dan mineral, 30 meteorit dan tektite, dan 6 buah fosil dipamerkan di ruang peragaan Geologi Indonesia.

Sebanyak total 1.370 spesimen terdiri atas 1.084 koleksi fosil invertebrata, 18 hominid, 35 tumbuhan dan kayu, 15 batuan, dan 56 artefak yang ditampilkan di ruang Sejarah Kehidupan. Selanjutnya, 158 contoh batuan dan mineral diperagakan di ruang Sumber Daya Geologi; dan sebanyak 238 spesimen yang terdiri atas 55 batuan dan mineral dan 173 artefak disajikan di ruang Pemanfaatan Geologi dan Bahaya Geologi.

Sambungmacan 1. Foto: Koleksi MG, BG

Sambungmacan 1. Foto: Koleksi MG, BG

Koleksi vertebrata meliputi kerangka lengkap Stegodon trigonocephalus, Bubalus palaeokerabau, Rhinoceros sondaicus, Hippopotamus simplex, kepala Sinomastodon (Mastodon) bumiajuensis dan Megalochelys cf sivalensis. Ada juga fosil Python recticulatus dari Cililin, Jawa Barat, yang merupakan fosil ular pertama dan satusatunya yang ditemukan di Indonesia.

Pada 2014, MGB memiliki koleksi kerangka lengkap Elephas atau Gajah Blora yang merupakan individu gajah besar. Ukurannya: tinggi 4 meter, panjang 5 meter, dan berat sekitar 6 ton. Fosil hasil penelitian Tim Peneliti Fosil Vertebrata MGB yang terbaru (2009) ini spektakuler karena sepanjang sejarah penelitian Paleontologi di Indonesia (1850-sekarang) baru kali ini ditemukan fosil individu gajah yang hampir utuh.

Koleksi batuan ada yang diperagakan di halaman depan MGB selain koleksi yang diperagakan di ruang peragaan. Koleksi batuan yang lainnya disimpan di ruang penyimpan (storage room) yang dikelompokkan berdasarkan lokasi dan dilengkapi dengan peta geologi asal koleksi batuan tersebut serta keterangan lainnya.

Koleksi Unggulan
Beberapa koleksi fosil vertebrata di MGB bernilai sangat tinggi dari sisi ilmu pengetahuan khususnya paleontologi, misalnya fosil dari Ngandong. Koleksi fosil yang dijadikan acuan sebagai unit Fauna Ngandong dalam biostratigrafi oleh Von Koenigswald (1934) ini tetap utuh dan tersimpan baik. Koleksi fosil penting lainnya berupa spesimen holotype dan langka seperti Merycopotamus namus dari Cijulang, Elephas celebensis dan Celochoerus hekeereni dari Walanae (Sulawesi), serta berbagai fosil jenis ikan Pra Tersier dari Formasi Sangkarewang, Sawahlunto (Sumatra Barat).

Sambungmacan 4. Koleksi MG, BG

Sambungmacan 4. Koleksi MG, BG

Sejumlah koleksi di MGB menjadi unggulan, sehingga MGB banyak dikunjungi peneliti dan melahirkan berbagai kerja sama penelitian serta publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, yaitu fosil hominid atau “manusia purba”. Di antaranya, fosil specimen Sangiran 17 (Pithecanthropus VIII) dari Desa Pucung, Sangiran, Jawa Tengah (1969). Fosil Homo erectus terlengkap di Asia ini meliputi dasar dan bagian atas tengkorak, bagian muka (tulang hidung), rahang atas dengan sebagian gigi utuh.

Spesimen lainnya, yaitu Sambungmacan 4 yang ditemukan di Desa Cemeng, Sambungmacan, Jawa Tengah (2001) merupakan tengkorak Homo erectus dengan fosilisasi sangat baik sehingga bagian lunak dari struktur anatominya dapat diteliti dengan sempurna. Koleksi Homo erectus lainnya adalah spesimen rahang bawah, Sangiran 22 (Pithecanthropus f), yang hampir lengkap berikut deretan giginya.

Selain fosil hominid, MGB juga dikenal dengan fosil vertebrata gajah purba. Keseluruhan fosil bangsa gajah ini meliputi tulang belulang yang komplet dari
Stegodon trigonocephalus, kepala dari Sinomastodon bumiajuensis yang lebih dikenal dengan nama Mastodon; dan fosil yang sangat lengkap dari gajah Blora (Elephas hysudrindicus). Stegodon banyak ditemukan di Indonesia. Salah satunya, yaitu Stegodon trigonocephalus dari Jawa merupakan yang pertama yang digambarkan secara sainstifik sebagai spesies baru di luar kelompok Stegodon lainnya yang ditemukan di daratan utama Asia.

Kontribusi pada Penelitian
Museum Geologi Bandung (MGB) sejak awal sudah melakukan pendokumentasian dan penelitian ilmiah terhadap koleksi yang dikandung oleh bumi Indonesia ini. Bahkan, kalau melihat dari sisi kesejarahannya, kehadiran MGB bermula dari dokumentasi dan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan kegeologian Indonesia. Di sini koleksi mendorong penelitian, melahirkan peneliti dengan kualifikasi keahliannya, dan pada akhirnya juga menemukan/menambah koleksi baru bagi MGB.

Sangiran 8 (Megantrophus b). Foto: Koleksi MG, BG

Sangiran 8 (Megantrophus b). Foto: Koleksi MG, BG

Salah satu penelitian yang menonjol adalah penelitian di seputar Homo erectus kaitannya dengan studi evolusi manusia purba di Indonesia. Sejak awal, institusi yang menjadi cikal bakal MGB dengan koleksinya yang sudah tersedia pada waktu itu berperan memfasilitasi Eugene Dubois untuk menemukan mata rantai yang hilang (the missing link) yang dicari-cari sejak digagasnya teori evolusi oleh Charles Darwin Temuan pertama mata rantai yang hilang
Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois pada 1891-1893 tidak terlepas dari peran lembaga Dienst van het Mijnwezen. Ia mendapatkan persetujuan kegiatan risetnya dari Jawatan Pertambangan Hindia Belanda itu pada 6 Maret 1889. Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan saat itu dan membuat Indonesia terkenal di kalangan peneliti internasional karena memicu penelitian lain fosil manusia purba di Indonesia.

Pada tahun 1920-1930-an, De Opsporingsdiendst de Geeologische Dienst van Nedelandsch-Indie atau Jawatan Geologi Hindia Belanda, yang melanjutkan kerja Jawatan Pertambangan Hindia Belanda, kian meningkatkan aktivitas penelitian lapangan, terutama di Bumiayu (Jawa Tengah). Kegiatan itu menambah data paleontologi dan berbagai data serta informasi geologi lainnya. Hal ini menarik perhatian L. J. C. van Es (1931) dan membahasnya dalam disertasi berjudul The Age of Pithecanthropus. Selain itu, fosil mamalia yang telah dikumpulkan oleh Jawatan Geologi dari daerah Bumiayu dijadikan disertasi Contribution to knowledge of the fossil mammalian of Java oleh F. H. van der Maarel (1932).

Pada 1931, geologiwan dari Jawatan Geologi C. ter Haar menemukan lokasi fosil vertebrata di Ngandong. Temuan ini kemudian diikuti dengan penggalian dan berhasil menemukan 11 tengkorak bersama 2 tulang kering (tibia) manusia purba serta ribuan fosil vertebrata dari berbagai jenis. Fosil manusia purba ini dideskripsi sebagai Homo (Javanthropus) soloensis oleh Oppenoorth (1932).

Antara tahun 1931-1941, von Koenigswald bergabung dengan Jawatan Geologi sebagai ahli paleontologi vertebrata dengan tugas utama melakukan klasifikasi endapan darat (terrestial deposits) di Jawa. Berdasarkan data yang tersedia ia berhasil menyusun biostratigrafi fauna vertebrata untuk Jawa pada 1934 dan 1935. Pada 1934, dia menemukan fosil pertama di Sangiran, yaitu Pithecanthropus mojokertensis (Sangiran 1). Antara 1936-1938, dia menemukan Pithecanthropus erectus (Sangiran 2 dan 3), Pithecanthropus robustus (Sangiran 4), Pithecanthropus dubius (Sangiran 5), dan Meganthropus javanicus (Sangiran 6 dan Sangiran 8).

Kemudian pada 1936, dalam kegiatan pemetaan geologi di daerah Mojokerto, Andoyo, asisten geologi Dujfyes, menemukan sebuah tengkorak anak hominid, Homo modjokertensis, dari Desa Sumber Tengah, Perning (Jawa Timur). Pada 1939, dengan pecahnya Perang Dunia Kedua, penelitian paleontologi di Indonesia mengalami stagnasi.

Kegiatan penelitian dimulai lagi setelah Indonesia merdeka, meskipun skalanya kecil. Dalam hal ini, P. Marks dan S. Sartono meneliti fosil rahang hominid yang ditemukan penduduk di Desa Glagahombo, Sangiran dan menamakannya Meganthropus mandible b (Mark, 1953). Setelah Mark kembali ke Belanda pada 1955, Sartono melanjutkan kegiatan riset ini sebagai tenaga ahli di Jawatan Geologi dan menghasilkan temuan fosil Pithecanthropus mandible C (1961), Pithecanthropus IV dari Desa Tanjung (1964), Pithecanthropus VII dari Desa Dayu (1965) dan Pithecanthropus VIII (1969).

Stegodon trigonocephalus. Koleksi: MG, BG

Stegodon trigonocephalus. Koleksi: MG, BG

Dalam pengembangan riset Kuarter, Pusat Penelitan dan Pengembangan Geologi (P3G atau Pusat Survei Geologi, Badan Geologi sekarang) menjalin kerja sama penelitian dengan Universitas Tokyo. Kerja sama yang berlangsung antara 1976-1979 itu berlokasi di daerah Jawa Tengah-Jawa Timur, khususnya di Kubah Sangiran. Hasil riset bersama ini dituangkan dalam publikasi berjudul Quaternary Geology of Hominid Bearing Formations in Java (1985). Sebagai kelanjutan kerja sama ini, pada 1984 dibangun Laboratorium Geologi Kuarter di Bandung dan penelitian bertajuk
Geology of Quaternary Environment of the Solo-Madiun Area, East Java (1988-1991).

Selanjutnya, pada 1978, P3G mengembangkan riset Kuarter dengan membentuk Seksi Kuarter dan Seismotektonik yang berada di bawah bidang Geologi Khusus. Sejak tahun 1980 riset Kuarter dalam kaitannya dengan fosil vertebrata dan hominid dikembangkan oleh Fachroel Aziz. Risetnya tidak hanya dilakukan di Jawa, melainkan diperluas hingga ke Kawasan Wallacea (Sulawesi, Flores dan Timor).

Kerja sama riset juga dilakukan dengan berbagai lembaga riset di dalam maupun luar negeri, seperti dengan Laboratorium Bio-Paleonthropologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta; Geological Research and Development Centre-Utrecht University- National Museum of Natural History, Leiden (1982- 1994); Geological Research and Development Centre and National Science Museum, Jepang (1995-); dan Geological Research and Development Centre, University of New England (1998-2001 dan 2004-2008).

Kerja sama mengenai berbagai aspek paleontologi manusia purba di kawasan timur garis Wallace, khususnya di Flores telah dilakukan dengan University of Utrecht dan National Museum of Natural History (Naturalis), Leiden, dan dilanjutkan dengan University of New England dan University of Wollongong, Australia (1998-2001). Di dalam periode Kerja sama dengan Development Centre and National Science Museum, Jepang, telah diadakan pameran bertema Reviving Pithecanthropus di Tokyo pada tahun 1996.

Berbagai hasil dari kerja sama ini telah diterbitkan dalam beberapa jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang bergengsi. Di antaranya, Nature,
yaitu Nature nomor 392, Maret 1998 tentang alat batu dan fosil-fosil di Flores; nomor 441, 1 Juni 2006 tentang masa awal teknologi batu di Flores dan   pengaruhnya pada Homo florensis; dan nomor 464, 1 April 2010 tentang manusia purba di Flores. Artikel ilmiah lainnya terbit di jurnal ilmiah Palaeogeography, Palaeoclimatology, Palaeoecology, nomor 171 tentang evolusi mamalia di Indonesia pada zaman Kuarter Akhir; dan nomor 440, tentang sisa fosil burung dar zaman Plistosen Awal/Tengah di Cekungan Soa, Flores.

Selain itu, berbagai hasil kerja sama penelitian itu telah dipresentasikan dalam berbagai pertemuan ilmiah baik nasional maupun internasional. Berbagai penelitian itu juga telah menghasilkan lulusan sarjana dari berbagai strata. Dengan berbagai upaya dan kerja sama dengan berbagai pihak, Museum Geologi Bandung akan terus meningkatkan koleksinya, baik jumlah maupun kualitasnya, serta pemanfaatan koleksi-koleksi tersebut untuk penelitian dan pelayanan museum kepada masyarakat luas. (Oman Abdurahman, Iwan Kurniawan, Halmi Insani, dan Atep Kurnia)

Penulis: Oman Abdurahman adalah Kepala Museum Geologi; Iwan Kurniawan adalah Kepala Seksi Dokumentasi, Halmi Insani adalah staf pada Seksi Dokumentasi, Museum Geologi, Badan Geologi; dan Atep Kurnia adalah peminat kebumian, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>