energi 1

Saatnya Beralih Ke Energi Panas Bumi

karangsambung1

Karangsambung Laboratorium Alam Geologi

20/03/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Kokomes Mencegah Longsor, Meningkatkan Ekonomi Perdesaan

kokomes1
kokomes1

Oleh: Oman Abdurahman dan Oki Oktariadi Foto: http://foto.detik.com

“Tak disangka, sabut kelapa telah terbukti mampu berperan sebagai media reklamasi, pencegah erosi dan penahan longsor pada kawasan reklamasi lahan bekas tambang. Dengan kokomes atau jaring sabut kelapa, lahan bekas tambang dapat ditingkatkan kestabilannya dan dipercepat proses penghijauannya sehingga tahan longsor. Kemampuan kokomes ini dapat diperluas ke lahan-lahan kawasan rawan gerakan tanah, sehingga bencana longsor pada kawasan tersebut dapat dicegah. Kokomes potensial untuk perbaikan lahan, sehingga mengurangi potensi longsor.”

Longsor, atau sering disebut gerakan tanah merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran tanah dan batuan, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Massa tanah atau massa batuan, karena berhubungan dengan pengaruh gravitasi, dapat disebut sebagai berat tanah atau berat batuan. Menurut Varnes (1978), material atau bahan yang menyebabkan longsor dapat berupa batu, tanah, campuran keduanya yang membentuk lereng, dan longsor adalah ke arah bawah menjauhi lereng asalnya.

Kejadian gerakan tanah dikontrol oleh faktor penyebab dari dalam (internal) dan faktor penyebab dari luar (eksternal). Faktor internal berupa genesis morfologi lereng, geologi, jenis tanah atau batuan, dan keadaan tektonik serta kegempaan. Faktor luar yang mengendalikan kondisi longsor tergantung bentuk dan geometri lereng, pengikisan tanah/ batuan, patahan, hujan, peningkatan air tanah pada massa tanah/batuan, dan perilaku manusia terhadap lahan yang berada di suatu lereng.

kokomes2

Peta ancaman atau potensi bahaya gerakan tanah (longsor) di Indonesia. Keterangan untuk Legenda: batas negara (garis coklat), batas provinsi (garis hitam), dan batas kabupaten (garis kelabu); Keterangan untuk Tingkat Ancaman: Rendah (hijau), Sedang (kuning), Tinggi (merah). Sumber: Badan Nasional Penanggulangan Bencana, 2007.

Di Indonesia terdapat wilayah-wilayah yang sering mengalami bencana longsor. Bencana longsor dalam arti yang khusus adalah mewujudnya ancaman atau potensi bencana longsor dan berpadu dengan kerentanan terhadap longsor tersebut yang menimpa suatu masyarakat, sehingga masyarakat tidak dapat pulih dari dampak yang ditimbulkannya, kecuali dengan bantuan dari masyarakat luar. Dengan kata lain, suatu bahaya longsor baru disebut bencana apabila sudah muncul korban dan kerusakan. Untuk memulihkannya diperlukan bantuan dari luar masyarakat tersebut. Namun demikian, suatu longsor yang terjadi dan menimbulkan korban meskipun tidak banyak, dan masyarakat di daerah kejadian tersebut dapat pulih kembali tanpa bantuan dari luar, dalam skala kecil, tetap termasuk kategori bencana.

Ancaman atau bahaya longsor atau potensi bencana longsor, tersebar di berbagai daerah sebagai akibat dari posisi Indonesia secara geologi yang terletak di daerah dinamis akibat gerakan lempeng-lempeng tektonik dan di daerah tropis yang banyak mendapat hujan (Gambar Hal. 58). Ancaman tersebut akan bertambah kuat dengan banyaknya lahan bekas penambangan yang tidak direklamasi atau akibat penggundulan hutan dan aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kestabilan lereng dan lahan. Teknologi yang dapat  mencegah kejadian longsor dalam hal ini termasuk teknologi yang menurunkan bahaya atau ancaman longsor.

Kerentanan terhadap longsor, misalnya tata guna lahan tertentu seperti pemukiman, sarana atau fasilitas umum, sumber-sumber mata penkokomes3caharian penduduk seperti sawah, kebun, kolam, dan lainnya. Dalam hal ini, kesiapsiagaan masyarakat untuk dapat mengevakuasi diri dari ancaman longsor, jika hal itu mungkin dilakukan, termasuk aspek yang mengurangi kerentanan terhadap longsor tersebut. Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa bahaya (kejadian) longsor tidak akan menimbulkan bencana atau sedikit menyebabkan kerugian apabila longsor tersebut terjadi di daerah yang tidak memiliki seperti daerah tak berpenduduk, tata guna lahan berupa tanah kosong atau tegalan, dan lainnya.

kokomes4Di Indonesia terdapat wilayah-wilayah yang sering mengalami bencana longsor. Bencana longsor dalam arti yang khusus adalah mewujudnya ancaman atau potensi bencana longsor dan berpadu dengan kerentanan terhadap longsor tersebut yang menimpa suatu masyarakat, sehingga masyarakat tidak dapat
pulih dari dampak yang ditimbulkannya, kecuali dengan bantuan dari masyarakat luar.

Jumlah kejadian longsor yang menimbulkan korban di Indonesia dari tahun 2005 hingga 2010 di Indonesia tercatat sebanyak 723 kejadian sebagaimana ditunjukkan pada Tabel halaman 58.

Dari Tabel halaman 60 dan Gambar halaman 59 diketahui bahwa wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada tahun 2010 merupakan kawasan yang paling sering mengalami kejadian longsor. Risiko berupa korban jiwa, kerusakan rumah dan lainnya yang dialami di ketiga daerah tersebut, khususnya Jawa Barat, tetap tertinggi. Jelaslah bahwa penanganan terhadap daerah rawan bencana atau daerah bahaya longsor dan daerah rentan terhadap bahaya longsor harus memadai dan perlu terus ditingkatkan sehingga dapat meminimalkan korban jiwa, harta benda masyarakat, dan mengamankan investasi pemerintah dan pemda. Peran semua pihak, terutama peran masyarakat yang berada atau terancam oleh bahaya longsor sangat diperlukan, sebab kemampuan pemerintah terbatas. Pemerintah tidak mungkin dapat menjangkau semua kawasan potensi longsor. Untuk itu, masyarakat perlu memiliki bekal pengetahuan atau informasi praktis tentang bahaya longsor dan kerentanan terhadapnya. kerentanan atau kerentanannya sangat rendah,

KOKOMES UNTUK MENCEGAH LONGSOR
Longsor bisa terjadi apabila kegiatan-kegiatan mengolah alam tidak dirancang dan dikelola dengan baik, terutama pada kegiatan penambangan yang sering menimbulkan kesankokomes5 selalu merusak lingkungan, terutama kegiatan penambangan yang tidak melakukan reklamasi bekas tambang. Kerusakan lahan akibat bekas tambang dibiarkan tanpa reklamasi sehingga erosi dan longsor dapat menelan korban, seperti yang pernah terjadi di lokasi penambangan Mangan di Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya.

Dampak negatif lainnya yang terjadi sebagai akibat kegiatan penambangan adalah degradasi lahan yang berawal dari hilangnya vegetasi akibat land clearing dan kegiatan penggalian yang menyebabkan peningkatan erosi dan longsor yang berlanjut terjadinya sedimentasi, penurunan kualitas air, penurunan kuantitas air bawah tanah, biota akuatik, dan kesuburan tanah. Oleh karena itu, pelaksanaan reklamasi tidak harus menunggu sampai seluruh kegiatan penambangan berakhir, terutama pada kawasan pertambangan besar yang terbagai ke dalam blok-blok penambangan. Salah satu kegiatan reklamasi dan pencegahan lahan rawan longsor adalah dengan pemanfaatan jaring sabut kelapa atau kokomes. Istilah kokomes berasal dari istilah aslinya dalam bahasa Inggris, yaitu cocomesh (dalam tulisan ini selanjutnya, akan digunakan istilah kokomes).

Saat ini kita mengenal sabut kelapa hanya dibuat kesed, kerajinan dan produk sederhana lainnya yang pangsa pasarnya masih sangat kecil. Namun, karena perkembangan kreativitas dan teknologi, kini telah muncul berbagai produk turunan dari sabut kelapa, seperti kasur, bantal, matras (sebutret) dan produk unggulan saat ini, yaitu kokomes atau jaring sabut kelapa. Menurut Arif Nugroho (2010), kokomes telah menjadi primadona dalam membantu proses reklamasi tambang, pantai, atau hutan. Sifatnya yang secara biologi dapat didaur-ulang

kokomes6

Seorang Ibu sedang menggali tanah untuk mendapatkan butir-butir mangan yang menyebabkan kerusakan lahan. Sumber: Oki Oktariadi

(biodegradable) dan kuat, membantu mempermudah tumbuhnya tanaman baru pada bidang lahan yang dialasi oleh kokomes yang diletakkan di tanah bekas tambang.

Kokomes memberikan perlindungan, dan dengan sifatnya yang sangat elastis, pemanfaatannya pada kegiatan reklamasi lahan bekas tambang telah terbukti mampu menghijaukan areal bekas tambang, atau hutan gundul. Kokomes juga digunakan sebagai media pencegah erosi dan longsor. Selain itu, kokomes juga dapat digunakan sebagai lapisan alas yang pertama untuk dudukan jalan sebelum di aspal, agar aspal atau jalan tidak pecah dan tidak mengalami retak-retak. Ke depan, penggunaan kokomes dapat ditingkatkan untuk upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana longsor. Kawasankawasan yang sudah diketahui sebagai langganan longsor dapat ditingkatkan kestabilan lerengnya melalui penggunaan kokomes.

kokomes7

Gulungan kokomes (kiri), tebing yang sudah dipasangi kokomes (tengah), dan tanaman yang sudah mulai tumbuh pada jaringjaring kokomes yang dipasang pada sebuah dinding tebing reklamasi (kanan). Sumber: http://rumahsabut.blogspot.com/2009/07/cocomesh-jaring-sabut-kelapa.html

Pengolahan sabut kelapa menjadi kokomes banyak dilakukan secara swadaya maupun pabrikan. Secara swadaya umumnya melibatkan puluhan ibuibu dan pengangguran di desa- desa yang memiliki kebun kelapa. Kemampuan secara swadaya mampu berproduksi dan bersaing dengan industri pabrikan dengan kualitas yang hampir sama. Ukuran standar 1 rol kokomes dapat berukuran: 2 x 20 m2, 2 x 25 m2, dan lainnya. Kemampuan produksi tersebut dapat terus meningkat apabila sabut kelapa secara masal dimanfaatkan untuk kegiatan reklamasi baik di sektor pertambangan maupun pada daerah pembangunan infrastruktur seperti pada bekas pemotongan lereng pembangunan jalan, permukiman, dan bendungan air.

Beberapa perusahaan pertambangan telah berhasil dalam melakukan reklamasi dan pencegahan longsor dengan aplikasi kokokokomes8mes, antara lain; Chevron Geothermal (Garut), Freeport (Papua), Martabe AccessRoad (Sumut), dan Berau Coal (Kaltim).

PENCEGAHAN LONGSOR BERBASIS MASYARAKAT DAN PENINGKATAN EKONOMI PERDESAAN

kokomes9

Pembuatan kokomes yang dilakukan secara swadaya masyarakat di kawasan perkebunan kelapa. Sumber: http://keuangan.kontan.co.id/v2/read/peluang%20usaha/46769/Cocomesh-tingkatkan-nilai-jual-sabut-kelapa

Penanganan daerah rawan bencana longsor dilakukan dengan dua langkah. Pertama, dengan mengurangi faktor bahaya longsor, dan kedua, dengan mengurangi kerentanan terhadap longsor. Mengurangi bahaya dilakukan dengan memperhatikan (monitoring) secara rutin atas faktorfaktor penyebab longsor, seperti kondisi kestabilan lereng, kondisi tutupan lahan apakah di atas lereng tersebut hijau oleh tumbuhan atau gundul; hujan, terutama hujan besar atau hujan yang terus menerus, kegiatan-kegiatan manusia yang dapat menyebabkan longsor. Setelah monitoring kemudian dilakukan usaha-usaha mengurangi atau mencegah faktor-faktor bahaya longsor tersebut, salah satunya melalui penggunaan kokomes.

kokomes10

Coconet yang ada di kawasan bekas tambang Freeport, mampu mengurangi tingkat erosi dan longsor. Sumber: http:// produkkelapa.wordpress.com/2009/07/28/aplikasi-cocomeshuntuk- reklamasi-tambang/

Upaya mengurangi kerentanan terhadap longsor, misalnya dengan tidak melakukan kegiatan yang dapat menurunkan kestabilan lereng, meningkatkan penghijauan pada kawasan lereng yang gundul dan lainnya. Langkah-langkah mengurangi bahaya dan kerentanan terhadap longsor tersebut sebenarnya dapat dilakukan oleh masyarakat setempat dengan inisiatif sendiri. Pemerintah atau pemerintah daerah (pemda) dalam hal ini berkewajiban untuk memfasilitasi upaya pencegahan longsor atas inisiatif dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Sejauh ini, kasus longsor lebih banyak dilihat dari sudut pandang pemerintah. Dalam mensosialisasikan pencegahan dan penanganan bencana longsor, pemerintah atau pemda jarang melihat bencana longsor dari perspektif masyarakat, dari nilai-nilai tradisi dan adaptasi masyarakat terhadap nilai-nilai dari luar. Masyarakat hanya diharapkan menerima apa saja yang dianggap baik oleh pemerintah/ pemda. Masyarakat pun tidak pernah belajar untuk berpartisipasi aktif karena kemandiriannya tidak dijaga. Akhirnya, masyarakat selalu menjadi sosok yang pasif dan tidak kreatif karena tidak pernah dilibatkan untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapinya.

kokomes11

Coconet yang dimanfaatkan untuk tebing jalan sebagai pengendali longsor dan erosi di Kawasan Panas Bumi Chevron Kabupaten Garut. Sumber: http://produkkelapa. wordpress.com/2009/07/28/aplikasi-cocomesh-untukreklamasi- tambang/

Kesadaran masyarakat akan timbul, jika mereka merasakan manfaatnya dan mempunyai rasa memiliki. Artinya, setiap pemberdayaan masyarakat harus didasarkan pada nilai-nilai dasar yang tumbuh di dalam masyarakat tersebut. Oleh sebab itu, setiap bentuk sosialisasi pencegahan dan penanganan bencana longsor harus melibatkan sistem pengetahuan lokal. Di sini berbagai bentuk pengetahuan lokal perlu dipahami, dihargai, dan dijadikan pedoman utama dalam kehidupan masyarakat. Tanpa memahami sistem pengetahuan masyarakat lokal terhadap bencana longsor, sosialisasi pencegahan dan penanganan bencana tersebut tidak akan efektif.

Salah satu potensi kokomes12sumber daya lokal dan pengetahuan lokal yang dapat digunakan untuk mencegah bencana longsor dengan pemberdayaan masyarakat adalah penggunaan kokomes untuk usaha wanatani (agroforestry). Usaha wanatani telah terbukti di beberapa daerah mampu memberikan keuntungan, baik ekonomi maupun keuntungan lingkungan (gambar di bawah). Hal itu, karena melalui wanatani, konservasi lahan dapat dijalankan dengan baik sekaligus mempertahankan daya dukung dan fungsi lingkungan. Sistem wanatani merupakan strategi yang sangat tepat untuk meningkatkan stabilitas lereng. Karena dalam wanatani terdapat pepohonan yang beragam, sehingga meningkatkan jaringan akar-akar yang kuat baik pada lapisan tanah atas maupun bawah. Penghijauan untuk konservasi lahan rawan longsor sebaiknya menggunakan pohon yang memiliki sistem perakaran dalam, diselingi dengan tanaman-tanaman (perdu) yang lebih pendek dan ringan, serta bagian dasar ditanami rumput. Sementara perbaikan dan pemeliharaan saluran air (drainasenya) perlu dilakukan untuk menjauhkan air dari lereng untuk menghindarkan air meresap ke dalam lereng, atau menguras air dalam lereng keluar lereng sehingga air tidak menyebabkan terganggunya kestabilan lereng.

kokomes13

Keberhasilan wanatani salah satu perusahaan pada lahan rawan longsor di Desa Suka Makmur, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor

kokomes14

Hasil tumpang sari berupa padi Gogo melalui pemberdayaan masyarakat desa di Desa Suka Makmur, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor.

Karena sifat-sifatnya yang baik untuk konservasi lingkungan, kokomes diyakini dapat menjadi media yang baik digunakan dalam sistem wanatani. Kokomes berpotensi menjadi media untuk mandiri oleh masyarakat. Daerah penghasil kelapa dapat bekerja sama dengan daerah-daerah potensi longsor sehingga terjadi pasokan sumber bahan baku kokomes atau produk kokomes itu sendiri ke daerah rawan longsor untuk diterapkan dalam perbaikan kualitas lahan sehingga mengurangi potensi longsor dan dipadukan dengan usaha wanatani. Produk sejenis kokomes mungkin pula dikembangkan dari pohon jenis kelapa, seperti aren, dan lainnya. Sedangkan dari usaha wanatani di daerah rawan bencana longsor diharapkan berlangsung pasokan produk-produk pertanian yang diperlukan oleh kawasan penghasil kokomes. Semacam subsidi silang yang difasilitasi oleh pemerintah/pemda dapat berlangsung sebagaimana dalam siklus di bawah ini.

kokomes15

Bagan alur pengembangan pencegahan longsor berbasis masyarakat dengan penggunaan kokomes sebagai salah satu teknologi terjangkau dan peningkatan ekonomi perdesaan

Dengan penggunaan kokomes dan wanatani, lahan-lahan kritis rawan longsor dapat dikelola menjadi lahan usaha tani sekaligus konservasi lahan yang menguntungkan masyarakat penggarap dan masyarakat di sekitarnya. Dengan sistem wanatani pada kawasan rawan longsor, longsor akan tercegah, sumber-sumber air alami akan terjaga, dan ekonomi masyarakat perdesaan pun meningkat. Pemerintah harus memfasilitasi upaya mitigasi bencana longsor
yang dilakukan atas inisiatif masyarakat seperti usaha wanatani ini, atau kita sebut “mitigasi bencana longsor berbasis masyarakat”.

Kedua penulis bekerja di Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>