Siapa Nenek Moyang Kita di Kepulauan Indonesia?

Gejolak Dieng

Geliat Bumi Dieng

06/06/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Keunikan Kars Kolaka Utara

Gua Tapparang, gua dengan stalagmit dan stalaktit yang berbentuk
seperti ribuan parang. Foto: Visky AP.
Gua Tapparang, gua dengan stalagmit dan stalaktit yang berbentuk seperti ribuan parang. Foto: Visky AP.

Gua Tapparang, gua dengan stalagmit dan stalaktit yang berbentuk
seperti ribuan parang. Foto: Visky AP.

Panas menyengat, begitulah kesan pertama yang dijumpai ketika kami menginjakkan kaki di bandara Sangia Nibandera di Pomala, Kolaka. Bandara baru di bagian barat Sulawesi Tenggara ini dapat ditempuh selama 40 menit perjalanan udara dari Makassar. Perjalanan ke Kolaka Utara dari Pomala, Kolaka, memerlukan waktu sekitar 5 jam lagi. Terbayang sekitar 10 jam lamanya perjalanan darat jika harus mendarat di Kendari untuk menuju Kolaka Utara. Untunglah kini sudah ada bandara di Pomala, Kolaka.

Kolaka Utara, nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara, merupakan pemekaran dari Kolaka sejak 2003, dengan ibukota Lasusua, tepatnya di bagian ujung utara provinsi Sulawesi Utara. Kolaka Utara mempunyai bentang alam dengan morfologi pantai di pesisir barat dan perbukitan kars berlereng sedang hingga terjal di bagian timur.

Secara geologi, sebaran batugamping atau kars mendominasi daerah pegunungan di Kolaka Utara. Ini ditandai dengan hadirnya bentukan eksokars berupa kerucut kars, telaga, mata air, dengan material yang beraneka ragam, mulai dari rombakan batu gamping, berlapis, hingga kristalin. Bentangan karsini merupakan bagian dari Formasi Tokala dan juga batugamping Formasi Matano.

Lokasi kota Lasusua, Kolaka Utara (www.google.com/maps).

Lokasi kota Lasusua, Kolaka Utara (www.google.com/maps).

Danau Biru dan Sungai Terpendek
Salah satu keunikan kars yang terdapat di Kolaka Utara adalah Danau Biru. Lokasinya tidak jauh dari pintu atau gerbang masuk ke wilayah Kabupaten Kolaka Utara. Secara administratif, danau ini terletak di desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara. Akses menuju danau ini ditandai dengan adanya gerbang wisata di sebelah kiri jalan apabila berkendara dari arah Kolaka menuju Kolaka Utara. Danau Biru, begitu masyarakat setempat mengenalnya, karena warna airnya yang kebiru-biruan, terletak sekitar 100 meter dari pantai setempat dengan akses tanjakan tangga menaiki bukit kars.

Danau ini berbentuk cerukan yang dikelilingi oleh morfologi kars dengan tinggi 10 – 40 meter. Panjang danau terjauh 85 meter, berdiameter sekitar 60 meter, dan kedalaman 0,5 – 5 meter. Letaknya berada pada ketinggian 19 meter dari muka air laut. Terdapat mata air cukup besar di sisi timur laut dan gua menuju pantai di sisi selatan yang tertutup permukaan air ketika pagi dan terlihat kembali di siang hari. Vegetasi di sini cukup lebat.

Danau Biru terbilang unik karena adanya percampuran antara air tawar dari mata air dan juga air asin akibat pasangnya air laut yang masuk melalui celah gua. Pengukuran pH dan juga daya hantar listrik (DHL) dilakukan pada siang hari di saat air laut surut dan mata air tersingkap. Dari pengukuran yang memperoleh nilai DHL 0,668 mikromhos (mS) dan pH 7,5, menunjukkan adanya pengaruh pasang surut air laut terhadap danau tersebut.

Salah satu perbukitan kars di kolaka utara. Foto: Visky AP.

Salah satu perbukitan kars di kolaka utara. Foto: Visky AP.

Masih di sekitar ruas jalan utama, tidak jauh dari mata air Kalijodo, tedapat genangan danau yang dikenal sebagai Danau Uluwau. Pada danau seluas lebih dari 10.000 m2 ini ditemui vegetasi eceng gondok yang memenuhi pinggiran danau. Suasana yang sejuk dan suhu air yang tidak terlalu panas, danau tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar maupun yang berasal dari kota Kolaka Utara sebagai tempat rekreasi, berenang, maupun memancing. Sumber air danau berasal dari bagian timur danau yang merupakan kontak antara batugamping dengan batuan sekis di bawahnya.

Dikenal dengan nama Sungai Tamborasi, dengan panjang 20 meter dan lebar 15 meter, inilah sungai terpendek di dunia. Sungai ini bermuara langsung ke Pantai Tamborasi. Hulu sungai keluar dari rekahan batugamping dengan mengalirkan air berwarna biru kehijauan. Suhu air berubah dari dingin di rekahan batugamping menjadi hangat ketika mendekati laut.

Danau Uluwau, terbentuk dari kontak antara batu gamping dengan alas batu sekis. Foto: Dita Arif Y.

Danau Uluwau, terbentuk dari kontak antara batu gamping dengan alas batu sekis. Foto: Dita Arif Y.

Gua Tengkorak dan Gua Lainnya
Di pinggir ruas jalan utama di sekitar Desa Tojabi, Kecamatan Lasusua, sekitar 200 meter menanjak, dijumpai tebing kars dengan runtuhan gua yang masih menyisahkan mulut gua. Di depan mulut gua ini terdapat tulang dan gigi manusia, sehingga gua ini kami namakan “Gua Tengkorak Kecil”. Nama ini diberikan, tiada lain karena sebelumnya, dalam ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi pada 2013, di Desa Purahu telah ditemukan juga gua dengan ukuran lebih besar dan sama mengandung fragmen tengkorak Diyakini bahwa gua yang lebih besar ukurannya dengan fragmen tengkorak ini merupakan kuburan
suku asli Mekongga pada abad ke-14 silam. Namun, tim kami belum dapat menjangkau gua tersebut. Berkenaan dengan gua tengkorak kecil, muncul pertanyaan, darimana dan bagaimana tulang–belulang ini bisa berada di tempat tersebut?

Hulu sungai Tamborasi keluar dari rekahan batugamping. Foto: Dita Arif Y.

Hulu sungai Tamborasi keluar
dari rekahan batugamping. Foto:
Dita Arif Y.

Tidak jauh dari ruas jalan utama juga terdapat sebuah gua besar yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai Gua Taparang. Nama gua ini mengindikasikan adanya penampakan tampilan banyak parang. Lokasinya berada di Desa Rantebaru, Kecamatan Ranteangin, di bukit sebelah timur, lebih kurang menanjak sekitar 250 meter dari jalan raya.

Gua Taparang mempunyai mulut yang lebar, sekitar 65 meter dan tinggi 40 meter dengan kenampakan peleothem berupa stalaktit, stalagmit, dan tiang-tiang gua. Stalaktit di permukaan atas seperti parang-parang yang bergelantungan dari yang ukuran pendek sampai yang panjang dan menyatu antara stalagmit dan stalaktit. Dari fenomena inilah kiranya nama gua ini berasal. Di dalam gua terdapat mata air dan sungai bawah tanah. Gua ini mempunyai kedalaman sekitar 55 meter dengan ujungnya berupa sungai bawah tanah. Diperkirakan aliran sungai bawah tanah ini bermuara di mata air Kali Jodo di samping ruas timur jalan raya.

Selanjutnya, kami menjumpai gua mungil yang terletak di perbukitan yang dicapai setelah berjalan kaki sekitar dua jam dari Desa Tojabi, tepatnya di belakang RSUD Lasusua. Gua ini memiliki mulut gua yang kecil, sehingga perlu merunduk untuk memasukinya. Namun, di dalam gua ini terdapat ruangan memanjang yang dapat memuat 5 hingga 10 orang berdiri. Penampakan speleothem-nya pun cukup indah mempesona.

Kiri Atas: Temuan Gigi manusia di depan mulut Gua Tengkorak Kecil. Foto: Visky AP. Kanan Atas: Banyaknya tulang belulang manusia di Gua Tengkorak Kecil yang masih menyisakan tanda tanya besar. Foto: Visky AP. Kiri Bawah: Indahnya stalagtit dan stalagmit menghiasi gua Imut. Foto: Visky AP. Kanan Bawah: Beberapa mataair dengan debit yang sangat tinggi dan dimanfaatkan untuk keperluan PDAM, diantaranya mata Air Kalijodo di kiri atas. Foto: Visky AP.

Kiri Atas: Temuan Gigi manusia di depan mulut Gua Tengkorak Kecil. Foto: Visky AP. Kanan Atas: Banyaknya tulang belulang manusia di Gua
Tengkorak Kecil yang masih menyisakan tanda tanya besar. Foto: Visky AP. Kiri Bawah: Indahnya stalagtit dan stalagmit menghiasi gua Imut.
Foto: Visky AP. Kanan Bawah: Beberapa mataair dengan debit yang sangat tinggi dan dimanfaatkan untuk keperluan PDAM, diantaranya
mata Air Kalijodo di kiri atas. Foto: Visky AP.

Masyarakat Kolaka Utara di Desa Batuputih, Kecamatan Batuputih, mengusahakan gua yang memiliki nilai ekonomis melalui pengambilan “guam”, yaitu kotoran kelelawar sumber mineral fosfat. Salah satu gua yang dikenal untuk usaha ini adalah Gua Kelelawar Batuputih, yang berada pada perbukitan yang sangat terjal. Untuk mencapai lokasi gua ini kami harus menyeberangi sebuah sungai menggunakan rakit tradisional. Selama kami menyusuri bukit, dijumpai pipa-pipa air yang menyalurkan air untuk keperluan masyarakat desa. Gua Kelelawar memiliki lebar sekitar 11 meter dari mulut gua, dan kedalaman mencapai 40 meter dari titik berdiri. Riuhnya suara kelelawar dan menusuknya bau tajam dari guam membuat tim harus menggunakan masker ketika memasuki.

Untitled-72Sumber Air Kars
Dibalik suasana panas, Kars Kolaka menyimpan sumber daya air yang sangat melimpah. Ini terlihat dari beberapa mata air dengan debit rata-rata 10 liter/detik yang sudah didayagunakan oleh PDAM Lasusua atau PAM swadaya desa setempat. Mata air tersebut di antaranya adalah Mata air Kalijodoh, Mata air Caming, dan Mata air Walaise yang berada di Kecamatan Ranteangin dan Kecamatan Lasusua. Mata air ini menunjukkan air yang jernih dengan ph antara 7 hingga 9,2, dan DHL dari 0,3 mS sampai 0,7 mS.

Beberapa penelitian telah dilakukan di kawasan ini. Segi yang diteliti tidak hanya geodeversitynya, namun juga biodeversitynya. Dengan luasnya sebaran batugamping di Kolaka Utara, kawasan ini kemungkinan besar masih menyisakan banyak keunikan kars yang belum teridentifikasi, demikian juga potensi sumber daya airnya. (Dita Arif Yuwana, Arief Kurniawan, dan Visky Afrida Pungkisari)

Dita Arif Yuwana, adalah pemerhati Kars. Arief Kurniawan adalah peneliti pertama, dan Visky Pungkisari, adalah penyelidik bumi pertama di PAG, Badan Geologi. Ketiganya bekerja di Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan (PAG), Badan Geologi, KESDM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>