Ci Tarum

Ci Tarum, Urat nadi Jabar yang tercemar

28/11/2008 Comments (0) Esai Foto

Ketika Tanah Merayap di Malausma

esaifoto1a 3
esaifoto1a 3

 

Prang!”,suara kaca jendela yang pecah datang dari berbagai arah. Itu pertanda rayapan tanah masih terjadi di perkampungan yang sudah ditinggalkan penghuninya lebih dari tiga minggu sebelumnya.

Ketika tim Geomagz berkunjung ke lokasi bencana di Kampung Cigintung, Desa Cimuncang, dan di Desa Lebakwangi, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Minggu (9/5/2013), terlihatkehancuran lahan persawahan dan perkampungan seluas lebih dari 100 kali lapangan sepak bola.

Gerakan tanah yang mulai terjadi pada Senin, 15 April 2013, diawali dengan longsor di sekitar Pasir Nyenang.

Longsoran besar itu menimbulkan getaran yang sangat kuat, menyebabkan lahan di Kampung Cigintung merayap, nendat, dan retak-retak, sehingga retakan itu menjadi jalan masuk bagi air hujan yang akan mendorong gerakan tanah selanjutnya. Gerakan tanah ini masih terus akan berlangsung selama musim penghujan. Sebanyak 677 KK atau 1.959 jiwa warga kampung terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya di berbagai tempat. Paling tidak ada tiga penyebab utama yang menyebabkan gerakan tanah di Kecamatan Malausma. Pertama, keadaan tutupan lahan di perbukitan yang berupa semak belukar  dan hutan pinus, tidak memungkinkan akar pohonnya dapat menahan dan mengikat air, sehingga kandungan airdalam tanah jadi meningkat. Longsoran terjadi pada lereng bagian atas dengan panjang 200 m dan lebar 100 m.

Kedua, karena keadaan geologi dan kemiringan lereng yang terjal. Lapisan atas kawasan yang bergerak ini berupa breksi tufan dan lava hasil endapan dari Gunung Sawal Tua yang bersifat meluluskan air. Batuan ini menindih batulempung Formasi Kaliwangu yang kedap air, menyebabkan bidang kontaknya menjadi bidang lemah. Geomorfologi kawasan ini berupa lereng dan kaki perbukitan dengan kemiringan lereng antara 5 – 450.

Ketika Tanah Merayap di MalausmaKetiga, dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama. Hujan yang terus mengguyur, menyebabkan tanah menjadi jenuh air, bobot massa tanah bertambah, ikatan antarbutir tanah mengecil, mengakibatkan lereng perbukitan itu menjadi tidak stabil. Ketika air bersentuhan dengan batulempung yang kedap air, beban berat yang ada di atasnya itu akan bergerak dengan mudah mengikuti kemiringan lereng ke arah barat. Ditambah banyaknya balong, kolam ikan di sekitar rumah, menyempurnakan gerakan tanah yang menyebabkan 7 Ha sawah siap panen tertimbun, dan 120 Ha sawah di Kampung Cigintung dan Desa Lebakwangi rusak akibat tanahnya retak dan nendat. Ketika ada satu blok di kawasan ini yang nendat, retak, atau merayap, maka akan menarik blok-blok yang berada di sekitarnya, dan akan menekan blok yang ada di bawahnya.

Longsoran dan rayapan di Kecamatan Malausma lebarnya sekitar 2 km dengan panjang 4 km, dari Pasir Nyenang hingga Cicurug. Bencana ini telah merusak 602 rumah, 16 tempat ibadah, 5 sekolah, dan 1 kantor dusun. Jalur jalan sepanjang 650 m retak-retak dan ambles sedalam 3-10 m dan ada ruas jalan yang amblas dan bergerak sejauh 30 m, serta dua jembatan rusak berat.

Kawasan yang sudah retak, nendat, dan amblas patut terus diwaspadai, karena gerakan tanah dapat berulang di masa yang akan datang. Oleh karena itu warga kampung di kawasan ini harus rela dimukimkan ke tempat yang mempunyai kestabilan lereng yang baik, agar peristiwa rayapan tanah yang luas ini tidak terulang di tempat yang baru.

Oleh: T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia, Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan dewan redaksi Geomagz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>