Citra satelit kaldera Rinjani, kaldera yang
terbentuk setelah Gunung Samalas (Rinjani
Tua) meletus. Sumber: CRISP NUS.

Jangan Lupakan Samalas

Kawah Gunung Papandayan yang terbuka ke arah timur laut. Foto: Deni Sugandi

Papandayan Harmoni antara Sains dan Mitos

05/04/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Ketika Raung Kembali Meraung

Letusan Gunung Raung 25 Juli 2015. Foto: Hendra Gunawan
Letusan Gunung Raung 25 Juli 2015. Foto: Hendra Gunawan

Letusan Gunung Raung 25 Juli 2015. Foto: Hendra Gunawan

Aktivitas kegempaan Gunung Raung mulai menunjukkan sedikit peningkatan, ditandai oleh tremor vulkanik, padaOktober 2012 setelah kurang aktif
setidaknya lebih dari 10 tahun. Kuat energi tremor vulkanik ditunjukkan oleh Realtime Seismic Amplitude Measurement (RSAM) yang mencapai maksimum pada periode 26-31 Oktober 2012.

Setelah istirahat selama lk. 2 tahun, aktivitas kegempaan Gunung Raung meningkat lagi, ditandai dengan tremor vulkanik kuasi harmonik. Oleh
karena itu, tingkat aktivitas Raung dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 13 November 2014. Periode krisis ini berlangsung selama sedikitnya 6 bulan dengan aktivitas yang berfluktuasi.

Selama periode Juni-Agustus 2015, aktivitas Raung terekam jelas dan lebih kuat dibanding sebelumnya, baik secara visual, gempa letusan, deformasi gunung, maupun peningkatan energi tremor. Pengamatan awal pada data gempa letusan, tremor, visual foto kawah/ letusan dan data citra satelit menggambarkan Raung mengalami erupsi dari sumber magma yang kurang kaya akan gas. Pada periode ini, Raung telah kembali meraung dan berdampak pada ditundanya beberapa penerbangan ke dan dari Denpasar, Bali.

Sejarah Letusan dan Pemantauan
Gunung Raung yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso-Provinsi Jawa Timur, adalah gunung api tipe strato dengan tinggi puncak lk. 3.400 m di atas muka laut. Gunung ini merupakan salah satu gunung api aktif tipe yang selalu berasap, berbentuk strato dengan kaldera berkedalaman lk 500 m.

Untitled-30

Citra satelit kenampakan kawah Gunung Raung 2 juli 2015. Sumber: SPOT Lapan

Menurut catatan sejarah erupsi Raung, kejadian erupsivpertama kali tercatat pada 1586 berupa letusan dahsyat dan memakan korban jiwa manusia. Letusan besar selanjutnya terjadi pada 1597 dan tercatat ada korban manusia. Pada 1638 tercatat ribuan korban jiwa akibat letusannya. Pada 1953 letusan abu Raung mencapai radius 200 km dan awan panas mengalir menyelimuti sebagian tubuhnya, tapi tidak tercatat adanya korban jiwa. Letusan besar terakhir terjadi pada 1956. Setelah 1956, kejadian erupsi hampir setiap 10-20 tahun sekali dan sejak 2008 kejadian erupsi terjadi beberapa kali dalam periode waktu kurang dari 10 tahun.

Untuk memantau aktivitas Gunung Raung dilakukan pemantauan seismik oleh PVMBG, Badan Geologi. Sebelum tahun 2011, pemantauan dilakukan dengan menggunakan hanya satu stasiun seismik (RAUN/ MLLR) yang berlokasi di Daerah Melalu, di tenggara Gunung Raung yang berjarak ± 7.5 km dari kawah. Dengan menggunakan seismometer L-4C, data gempa direkam dan ditelemetrikan ke Pos PGA Raung dan Pos PGA Ijen.

Pada Mei 2011, PVMBG bekerja sama dengan pihak USGS melakukan penambahan stasiun seismik tiga komponen (broadband) yang lokasinya berdekatan dengan stasiun RAUN. Pada tahun berikutnya kembali dilakukan penambahan 2 stasiun seismik di Kali Baru (Stasiun KBUR) dan di Pos PGA Raung (POSR).

Aktivitas Raung di 2015
Bersamaan dengan meningkatnya energi tremor di awal November 2014 terlihat beberapa kali cahaya atau sinar api dan letusan abu dari arah kaldera Raung. Misalnya, kejadian pada 27 Desember 2014. Cahaya api kaldera Gunung Raung bila dilihat dari bibir kaldera berasal dari letusan tipe strombolian.

Aktivitas Raung yang telah berstatus Waspada, sejak 13 November 2014 ditandai oleh tremor yang berlanjut sampai 29 November 2014 dan berubah menjadi Tremor vulkanik menerus. Peningkatan aktivitas ini merupakan perulangan kejadian yang sama sekitar 2 tahun yang lalu, walaupun sesekali terjadi lonjakan energi tremor diantara selang waktu tersebut.

Aktivitas Gunung Raung senja kala. Foto: Hendra Gunawan

Aktivitas Gunung Raung senja kala. Foto: Hendra Gunawan

Kenaikan RSAM terjadi pada periode November 2012 – Februari 2013 dan November – April 2015 serta periode Juni-Agustus 2015 menunjukkan setidaknya terjadi tiga kali terjadi krisis tremor. Pada awal Februari 2015, masyarakat melaporkan telah terjadi abu tipis di Paltuding perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso) atau arah timur Raung, serta terdengarnya suara gemuruh hingga sejauh kurang lebih 20 km. Selain aktivitas kegempaan
yang meningkat pada periode krisis di atas, aktivitas pergerakan magma dimanifestasikan juga oleh komponen radial data tiltmeter.

Setelah Februari 2015 aktivitas vulkanik Gunung Raung cenderung menurun dan secara visual tidak teramati aktivitas dari kaldera. Berdasarkan citra satelit Himawari, aktivitas vulkanik di kaldera mulai muncul lagi pada Mei-Juli 2015 dengan kecenderungan meningkat. Pada 25 Juni dan 11 Juli nampak terjadi aliran lava dan letusan abu di dalam kaldera, sedangkan pada 27 Juli aktivitas vulkanik di kaldera didominasi oleh letusan abu. Kenampakan erupsi Raung bila dilihat dari sisi lain (darat) pada 10 Juli menunjukkan kejadian letusan letusan tipe strombolian dan aliran lava.

Model Erupsi Raung
Salah satu hasil penelitian kami adalah dugaan bahwa tremor vulkanik saat erupsi Raung berkaitan dengan dinamika dan dapat mencerminkan kekuatan erupsi. Fenomena seperti ini pernah terjadi pada tremor vulkanik yang berhubungan dengan proses erupsi eksplosif lemah dari semburan lava di Hawaii, Gunung Etna, Itali; dan Gunung Arenal di Costa Rika.

Hasil penelitian tremor Raung menunjukkan frekuensi tremor gunung tersebut memiliki puncak dominan pada 2,2 dan 3,2 Hz . Estimasi kedalaman sumber tremor ini adalah sekitar 200-300 m di dalam kaldera atau di bawah pusat aktivitas di dalam kaldera.

Tremor tahun 2014-2015 secara umum memiliki frekuensi dominan lebih kecil. Contoh tremor tanggal 20 Februari 2015, pukul. 06.12 WIB, agak sedikit lebih kecil. Hasil pengamatan gunung saat terjadi tremor tersebut tampak asap kecokelatan keluar dari Gunung Raung dengan tinggi asap kurang dari 100 m dari puncak, dan beberapa detik sebelumnya terdengar suara gemuruh lemah.

Beberapa pengunjung meyaksikan letusan Gunung Raung dari Bromo. Foto: Deni Sugandi

Beberapa pengunjung meyaksikan letusan Gunung Raung dari Bromo. Foto: Deni Sugandi

Tremor vulkanik Raung, pada masa krisis November 2014 – Maret 2015, memiliki karakteristik bentuk tremor quasi-harmonik dan frekuensi dominan sekitar 1,9 Hz. Dibandingkan dengan tremor vulkanik beberapa tahun sebelumnya, frekuensi dominan tremor ini cenderung lebih kecil. Hasil analisis bentuk tremor pada 25 Februari 2015, selama lk 6 jam, terekam rentetan kejadian tremor jenis tremor kuasi harmonik. Setelah dibandingkan dengan hasil pengamatan secara visual, hasil rekaman rangkaian tremor ini mencerminkan proses letusan tipe
strombolian.

Hasil identifikasi tremor seperti di atas pernah dilaporkan juga dalam penelitian Benoit dkk (1997) di Gunung Arenal. Pada satu urutan tremor, selalu terdiri dari 2 envelope berbentuk layang-layang atau mirip cerutu pendek yang diikuti cerutu panjang yang berurutan. Hasil identifikasi tremor kuasi harmonik seperti ini menggambarkan suatu letusan abu dengan tinggi beberapa ratus meter.

Bersamaan dengan itu, seiring tremor layangan pertama, terdengar suara gemuruh bunyi seperti pesawat jet. Tremor ini kemudian disusul oleh tremor layangan kedua yang mencerminkan proses degassing (hembusan gas) bersamaan dengan terdengarnya suara gemuruh seperti suara lokomotif kereta api. Dengan adanya rekaman letusan pada malam hari 25 Februari 2016 ini, maka dapat dipastikan bahwa Gunung Raung mengalami erupsi yang terjadi bersamaan dengan semburan lava (strombolian).

Dari hasil identifikasi frekuensi tremor dan energinya, maka dapat diintepretasikan adanya kecenderungan peningkatan kekuatan energi tremor kuasi harmonik Raung pada 2015, dibandingkan dengan 2012. Hasil analisis perbandingan ini didukung pula oleh kecenderungan RSAM periode 2014-2015 relatif lebih besar dibandingkan periode 2012.

Model erupsi Raung seperti diuraikan di atas, setidaknya berguna untuk antisipasi letusan ke depan, termasuk saran untuk mitigasi bencana letusannya. Namun demikian, pengamatan aktivitas Raung perlu terus dilakukan demikian pula kajian dan penelitiannya guna mengetahui lebih tepat lagi perilaku gunung api aktif di bagian timur Jawa Timur ini. ( Hendra Gunawan dan Gede Suantika)

Penulis: Hendra Gunawan adalah Kepala Sub Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat; dan Gede Suantika adalah Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api, PVMBG, Badan Geologi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>