Untitled-39

Memburu Letusan Sinabung

Tambora-1

Salam dari Tambora

07/05/2014 Comments (0) Langlang Bumi

Kemilau Pagi di Tengger

Kemilau Pagi-43
Kemilau Pagi-43

Sinar mentari pagi menerobos di antara pohon-pohon cemara di Cemoro Lawang, difoto dari Penanjakan.

Aura Tengger membuat terpana Begitu banyak menyimpan pesona Masyarakatnya yang arif bijaksana Juga Bromo, Batok, dan Semeru yang merona Dari Pananjakan, Pasik Berbisik, hingga Padang Sabana Di bawah mentari semua menyala

SEPERTINYA belum lama kami terlelap saat Mas Gono, pengemudi dan pemilik kendaraan roda empat yang kami sewa, menyambangi penginapan. Tak lama, kami berenam, sudah berada di dalam mobil Mas Gono. Udara dingin Pegunungan Tengger, Desember lalu, merasuk ke dalam tubuh. “Selamat pagi, sekarang kita akan berangkat. Pertama-tama kita akan ke Penanjakan dulu. Lalu ke kaki Bromo, setelah itu ke Padang Savana. Terakhir kita akan ke Pasir Berbisik”, ujar Mas Gono, yang juga menjadi Ketua Bromo Tengger Land Cruizer Club.

Kemilau Pagi-44

Kawasan ini adalah primadona bagi banyak pelancong, baik dari dalam dan luar negeri, yang ingin menikmati keindahan alam nusantara yang menakjubkan. Kabut mengelilingi Gunung Batok, asap kawah yang terus mengepul dari Gunung Bromo, serta Gunung Semeru di latar belakang yang gagah, yang meletus setiap lima belas menit sekali.

Dari pekarangan penginapan, jalanan tiba-tiba menukik. Bintang-bintang bertaburan di langit, semua berkelip. Kami bersyukur, rupanya pagi yang dingin ini, langit tanpa awan, pertanda hari akan cerah. Setelah menukik tajam, tibalah pada dasar kaldera, lautan pasir yang terhampar luas. Di sana, sudah banyak kendaraan 4 WD yang bergerak ke arah yang sama. Ada juga sepeda motor yang ‘ngojek’ membawa pelancong ke Pananjakan.

Mas Gono lincah mengendalikan kendaraan di dasar kaldera. Memilih jalan di atas pasir yang keras, agar mobil tak terperosok. Susul menyusul dengan mobil lainnya yang semuanya sama, berjenis jip.
“Semua anggota klub yang menyewakan mobil, harus pakai merk yang sama, kalau tidak, tidak boleh. Ini memudahkan perawatan, agar kami dapat saling meminjam onderdil bila terjadi kerusakan, selain supaya tidak ada persaingan di antara kami, dengan berlomba-lomba membeli mobil jenis baru,” kata Mas Gono.

Di ujung lautan pasir, tampak tebing yang pada punggungnya terdapat jalan yang berliuk-liuk menanjak. Setibanya di ujung tebing, Mas Gono memindahkan tuas pengerak roda empat. “Sekarang kita naik ke atas”, ujarnya. Deru kendaraan semakin terdengar. Tampak tebing-tebing tinggi di kiri jalan. Di kanan, jurang menganga, dalam.

Kemilau Pagi-45

Kawasan ini adalah primadona bagi banyak pelancong, baik dari dalam dan luar negeri, yang ingin menikmati keindahan alam nusantara yang menakjubkan. Pelataran di Pananjakan tempat paling ideal untuk mengabadikan pesona Kaldera Tengger, Gunung Batok, dan Semeru. Foto: Ronald Agusta.

Setelah kira-kira dua belas kilometer menempuh jalan menanjak, tibalah kami di Pananjakan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter, berbelok kanan dan meniti tangga. Kami beruntung, pagi itu hanya berjalan 300 meter, karena bila sedang musim liburan sekolah, parkir kendaraan bisa mencapai 3 kilometer. Otomatis kami pun harus berjalan sejauh itu. Bisa dibayangkan, di kawasan Tengger ada sekitar 800 kendaraan jenis jip yang disewakan. Ini menandakan, kawasan ini adalah primadona bagi pelancong, baik dalam dan luar negeri, yang ingin menikmati keindahan alam nusantara yang menakjubkan.

Pananjakan
Pananjakan adalah pelataran di atas bukit berketinggian 2.770 meter, untuk melihat dan menikmati matahari terbit di Pegunungan Tengger. Inilah tempat paling ideal untuk melihat the famous sunrise.

Dari sana, selain bisa menyaksikan lautan pasir kaldera Tengger, kita dapat melihat Gunung Batok, Bromo dan Semeru yang nyaris sejajar, yang dapat dinikmati dalam satu kali pandang, berbalut sinar mentari pagi. Dapat pula menyaksikan aliran kabut yang rapi mengitari gunung, seolah ada yang menata dengan teratur. Kepulan asap Semeru yang meletus setiap 15 menit ikut menghiasi pemandangan. Semuanya kemilau diterpa sinar mentari.

Pagi itu, selain wisatawan dalam negeri, banyak pula pelancong asing. Hampir semua memegang kamera, berdesakan di pinggir pagar pembatas jurang. Semua membidik dan mengabadikan ke ha

Kemilau Pagi-46

Pemukiman Suku Tengger di Cemorolawang di tepi Kaldera Tengger.

mparan bentang alam nan megah, yang bisa bikin merinding, dan terus-menerus berdecak kagum. “Amazing”, kata salah seorang pelancong asing yang berdiri di samping. “Incredible”, ujar kawannya di sebelah. Bidikan-bidikan para pelancong inilah yang membuat Pananjakan terkenal ke seantero dunia.

Pagi itu memang benar-benar dahsyat. Bila kita melirik ke arah timur, ternyata dinding kaldera diselimuti kabut yang bergerak perlahan. Merayap mengaliri bentukan alam, seakan ingin mempertontonkan fenomena alam yang mengagumkan, yang bisa memberikan energi positif ke dalam tubuh. Sungguh menyegarkan. Juga, kontur dinding kaldera yang meliuk-liuk seperti berpinggul.

Pemandangan spektakuler dari Pananjakan ini, seperti tak mau berakhir. Kami melihat berkas cahaya menerobos di sela-sela cemara, di Cemorolawang, terus menerobos ke sela-sela pemukiman masyarakat Suku Tengger.

Ketika melihat pemukiman Tengger dari atas sana, kami teringat pada kisah antropologi, yang bercerita be

Kemilau Pagi-47

Tangga menuju puncak Bromo yang berketinggian 2.392 m di atas permukaan laut.

tapa hebatnya orang-orang Suku Tengger. Betapa, mereka sangat menjaga kearifan lokal secara turuntemurun. Masyarakat di sana tidak diperbolehkan menjual tanah adat kepada orang di luar Tengger. Kalau ingin menjual, harus kepada sesama Suku Tengger.

Begitupun dengan pemilik dan penyewa kendaraan 4WD, ‘ojek’ kuda dan sepeda motor, semuanya orang Tengger. Di sana ada koperasi yang berasas gotong-royong. Jadi, bila ada anggota klub yang mobilnya rusak dan memerlukan onderdil baru, anggota klub itu bisa meminjam dana dari koperasi  untuk membelinya. Dana itu pun bisa diangsur dari pendapatan ‘ngojek’.

Semua anggota klub diwajibkan meyimpan sedikit penghasilannya sebagai sumber dana koperasi. Mereka semua guyub dalam sebuah paguyuban. Sebuah kisah yang mengagumkan, karena mereka, benar-benar memuliakan fenomena alam untuk sebesar-besarnya kesejahteraaan masyarakat lokal.

Puncak Bromo

Kemilau Pagi-48

Masyarakat Suku Tengger berdagang di depan Gunung Batok.

Dari Pananjakan, sekitar pukul 7 pagi, kami melanjutkan perjalanan. Meluncur kembali naik jip, menuju dasar kaldera. Di tengah-tengah lautan pasir, semua jip berhenti. “Kita berhenti di sini, mobil tidak diperkenankan merapat ke Bromo”, kata Mas Gono. “Untuk mencapai puncak Bromo, kami bisa menyewa kuda, atau berjalan kaki ke puncak”, tambahnya. Kuda-kuda pun mendekati jip, menjemput pelancong.

Memang kebijakan ini diatur oleh masyarakat Tengger, untuk berbagi penghasilan, dan semuanya sama. Tidak boleh lebih atau kurang. Oleh karena itu, para pemilik jip di sini, berbagi rejeki dengan pemilik kuda, untuk mengantar pelancong hingga lereng Bromo. Sebuah kearifan lokal yang rukun.

Kami memilih menikmati berkuda di lautan pasir, merasakan semilir angin pagi menerpa wajah yang berbinar menikmati pemandangan. Di sebelah kanan terlihat Gunung Batok yang unik, karena betulbetul menyerupai batok. Di depan, di kaki Bromo, terdapat Pura Luhur Poten Bromo, tempat beribadah masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Di pura ini, setahun sekali, setiap tanggal 14 atau 15 bulan kasodo atau kesepuluh menurut penanggalan Jawa, masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kesada.

Kemilau Pagi-49

Kawanan kuda milik masyarakat Tengger siap mengantar hingga ke lereng Bromo.

Kami terus berkuda melewati pura. Jalanan mulai menanjak, menaiki lereng pasir yang berbukit. Di tengah lereng, kuda berhenti. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan meniti tangga berpagar tembok, kuning warnanya. Tangga itu terjal, membuat napas terengah-engah. Ukurannya pas dua baris, satu baris di kiri untuk yang naik, dan baris kanan untuk yang turun. Di sepanjang tangga itu, ada tiga tempat istirahat. Kita dapat menepi, untuk mengaso sejenak.

Dari puncak Bromo, pemandangan langsung terhampar. Di depan, kawah berlubang yang ujungnya tak terlihat, sangat dalam. Kawahnya bergaris tengah sekitar 600 hingga 800 meter. Dari dalamnya asap terus-menerus mengepul, sebagai tanda gunung ini masih aktif. Asapnya memberi nuansa warna yang berbeda di tengah birunya langit. Dari puncak gunung yang berketinggian 2.392 meter
ini, kita menyaksikan lautan pasir seluas sekitar sepuluh kilometer persegi.

Dari puncak Bromo, Batok terasa sangat dekat, seolah kami dapat meloncat pindah gunung. Lalu kami berbelok ke kiri, mengitari bibir kawah pada jalan setapak yang kecil. Kiri dan kanan sama-sama terjal. Di kiri lereng pasir yang curam, di kanan lubang kawah yang menganga. Kedua lutut pun bergetar di jalan setapak itu.

Kami terus menapaki pinggiran kawah, sambil mengabadikan keindahan pegunungan dan kaldera Tengger. Agak menenggara, tampak jalan setapak menurun curam tanpa pagar, mengarah kembali ke

Kemilau Pagi-50

Pemandangan spektakuler dari Pananjakan ini seperti tak mau berakhir. Kami melihat ray of light menerobos di celah-celah cemara, di Cemorolawang, terus menerobos ke sela-sela pemukiman masyarakat Suku Tengger. Pemandangan spektakuler dari Pananjakan ini seperti tak mau berakhir. Kami melihat ray of light menerobos di celah-celah cemara, di Cemorolawang, terus menerobos ke sela-sela pemukiman masyarakat Suku Tengger.

kaki gunung. Kami memutuskan untuk mencoba menuruni gunung melalui jalur itu. Rasanya mengasyikkan.

Landasan turunan di sana berpasir lembut, sehingga bila diinjak, kaki bisa amblas ke dalam pasir yang halus. Lokasi turunan terjal ini dipakai pula untuk pembuatan film 5 Cm, yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan dirilis 12 Desember 2012. Film yang berkisah tentang proses pendakian ke Gunung Semeru itu dianggap menginspirasi banyak orang. Di tengah lereng, kami berkuda kembali, menuju ke tempat parkir kendaraan di tengah lautan pasir.

Padang Sabana
Perjalanan dilanjutkan ke padang sabana. Lokasi wisata ini ada di balik Gunung Bromo. Persisnya ada di Lembah Jemplang, yang dapat ditempuh kira-kira 30 menit melewati lautan pasir di dalam kaldera. Di kiri adalah tebing-tebing kaldera yang tinggi, sedang di kanan perbukitan hijau, yang semuanya ada di dalam sebuah kawah raksasa. Perbukitan hijau berupa sabana melengkapi rasa cinta pada alam ini. Benar-benar meneduhkan mata.

Kemilau Pagi-51

Sejauh mata memandang, hampir seluruhnya pasir yang terhampar berundakundak bergelombang, seluas sekitar sepuluh kilometer peregi.

Padang sabana dikenal oleh para pelancong sebagai ‘Bukit Teletubbies’, karena menyerupai lingkungan rumah para tokoh film anak-anak yang berjudul Teletubbies yang populer tahun 1990-an. Kawasan perbukitan ini ditumbuhi pakis, ilalang, lavender serta rerumputan lainnya, yang terhampar luas hingga meyerupai karpet hijau raksasa. Ada yang bilang kawasan ini mirip dengan pemandangan di dataran tinggi Selandia Baru atau Skotlandia.

Di tempat ini, juga, sering dijumpai fotografer dan pasangan laki-perempuan yang sedang melakukan pemotretan pra-pernikahan (pre-wedding) serta untuk dekorasi gedung pernikahan. Juga banyak pula
penghobi foto berburu di padang sabana ini. Bagi yang membawa panganan, di sini pun nyaman untuk ‘botram’. Membuka perbekalan dan menggelar tikar. Sarapan setelah melakukan perjalanan sejak pukul tiga dini hari tadi, tentunya bisa sangat lahap, karena udaranya begitu sejuk. Hamparan rumput liar berwarna kuning keemasan menari indah tertiup angin, seolah bisa membantu menghilangkan
dahaga.

Pasir Berbisik
Titik terakhir perjalanan kami adalah Pasir Berbisik. Mendengar istilah ini, ingatan kita tentu dibawa pada film besutan Garin Nugroho. Di dalam film itu, dapat kita lihat, pasir terhampar sangat luas. Pasirnya berterbangan mengikuti arah angin, sangat memutih ritmis, mengikuti landasan berbukit-bukit. Bila dicampur embun di atasnya, tentu membuat kita seolah-olah berada di planet lain.

Kemilau Pagi-52

Padang sabana, beberapa pelancong menyebutnya bukit Teletubbies.

Benar saja, setelah sekitar 20 menit perjalanan dari padang sabana, kendaraan berhenti tepat di tengah padang pasir. Sejauh mata memandang, hampir seluruhnya pasir yang terhampar, berundakundak, dan bergelombang. Angin menghembus, membentuk dorongan di permukaan pasir, sehingga menjadikan butiran pasir beruntai berterbangan di atas permukaan bumi. Warnanya bergradasi lembut memutih.

Suara angin sayup, tapi terdengar sangat jelas. Jernih. Jauh dari kebisingan deru kendaraan, kegaduhan pabrik, dan hiruk-pikuk orang di pasar. Ia nyata, seolah berbisik tepat di daun telinga. Kami berusaha mendekati alam: merasakan angin, melepaskan pandangan jauh ke depan, serta mendapatkan kedamaian dan kesejukan.

Dari perjalanan langlang bumi Tengger, kami bisa belajar peduli pada sesama dari masyarakat Tengger yang arif. Bentang alam Bromo, Batok, dan Semeru yang mempesona dilihat dari Pananjakan, Lautan Pasir yang terhampar luas dengan pasir berbisiknya, dan petualangan menjelajahi semua itu, membuat kami mendapat energi positif. Hal itu seperti sinar mentari yang menerpa permukaan bumi dan meresapi semua makhluk hidup di atasnya.

Penulis adalah fotografer dan trainer jurnalistik. Teks & Foto: Ronald Agusta

Kemilau Pagi 037

Peta diolah oleh Hadianto berdasarkan peta citra Google Earth (Google, 2014) dan Peta Rupabumi Indonesia Lembar Tosari skala: 1:25.000 (Bakosurtanal, 2000)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>