Untitled-1

Amfiteater Ciletuh

Air Terjun Sipisopiso. Sketsa: Budi Brahmantyo

Bertemu Fiamme di Jalur Silalahi-Sumbul

25/01/2016 Comments (0) Langlang Bumi, Langlang Bumi, Uncategorized

Kemegahan Danau Raksasa Toba

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja
Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Berdiri di pinggir Danau Toba, hanya tepian danau terdekatlah yang terlihat. Burung berwarna putih berjajar di tiang penyangga jaringapung di tepian danau, sesekali terbang bila mendengar suara-suara yang mencurigakan. Inilah danau kaldera terbesar di dunia, dengan luas perairan danaunya 1.130 km2, dengan kedalaman maksimal danau 500 m., yang dapat menampung air tawar sebanyak 240 km3. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, danau yang berukuran 87 x 294 km ini jaraknya 176 km ke arah selatan. Karena ukurannya yang sangat luas, sehingga untuk mendapatkan gambaran bentuk danau yang utuh, haruslah difoto dari pesawat terbang atau dari satelit.

Secara geografis, kawasan Danau Toba terletak di sisi timur rangkaian Bukit Barisan pada titik koordinat 20 21‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘ Lintang Utara dan 980 26‘35‘‘ – 990 15‘40‘‘ Bujur Timur. Permukaan danaunya berada pada ketinggian 903 m.dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) sampai di ketinggian 1.981 m.dpl, dan total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) danau ini mencapai 4.312 km2.

Perahu-perahu penuh muatan dengan musik dangdut yang dibunyikan keras sekali, tak hentinya hilirmudik mempertalikan warga di tepian Danau Toba
dan Pulau Samosir. Perairan danau menjadi sarana transportasi yang tidak perlu dibeton atau diaspal. Jalur perahu penyeberangan di perairan Danau Toba itu menghubungkan Ajibata ke Tomok, Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita, Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang, Ajibata ke Nainggolan, dan dari Nainggolan ke Muara. Perahu di Danau Toba perannya sangat penting untuk kelancaran pergerakan penduduk dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba itu tersebar di 443 desa/kelurahan, pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten, yaitu: Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Jalan berliku, dengan jurang yang menganga. Punggung bukit meruncing ditutupi rerumputan dengan jajaran pohon yang renggang. Akhirnya sampai di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di sini sudah ada pelataran untuk melihat airterjun Sipisopiso dari kejauhan. Airterjun yang menghujam setinggi 175 m. itu berada di celah sempit ujung barat laut Danau Toba, layaknya bilah pisau yang tajam mengiris alam. Namun, bagi pengunjung yang menyukai tantangan petualangan, disediakan jalan sedepa yang melipir meniti tebing yang curam. Dinding tegak ini merupakan dinding Kaldera Toba berupa bongkah-bongkah raksasa dari batuan dasar berumur Mesozoikum – Paleozoikum. Kesegaran uap air terjun yang tertiup angin akan didapat pengunjung yang sampai di dasar sungai.

Di ujung barat laut danau, sobekan bumi terlihat nyata, jejak dinamika kulit bumi Sumatera yang tiada henti ditekan dari Samudra Hindia dengan kecepatan 6-7 cm per tahun, telah mendorong sebelah barat pulau ini ke arah barat laut, dan sisi sebelahnya lagi bergerak ke arah tenggara. Ujung robekan di barat laut danau itu merupakan jejak sesar normal, situs bumi yang menyimpan pengetahuan.

Di ujung utara Danau Toba inilah tempat dimulainya tahap awal pembentukan gunung api, yang menurut Craig A. Chesner, Gunung Toba purba ini mulai membangun dirinya sejak 1.200.000 tahun yang lalu. Letusan Toba purba menghembuskan material letusan yang kemudian dinamai Haranggaol Dacite Tuff (HDT).

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Tidak jauh dari gunung api purba ke arah barat laut danau, tak jauh dari titik letusan Gunung Toba Purba, terjadi letusan dahsyat generasi kedua dalam pembentukan Kaldera Toba. Menurut Craig A. Chesner, kaldera ini terbentuk pada 500.000 tahun yang lalu. Letusannya menghembuskan 60 km3 material yang dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (MTT, Midle Toba Tuff), yang menghasilkan Kaldera Haranggaol, yang lingkaran kalderanya berbatasan dengan Kota Silalahi di barat dan Kota Haranggaol di timur.

Lereng-lereng terjal memagari danau yang jauh berada di bawahnya. Jalan menyusuri lereng luar kaldera, memotong zona sesar Sumatera menuju Sidikalang, tempat rehat untuk minum kopi, sebelum melaju di jalan yang berada di lembah yang diapit dua dinding yang memanjang barat laut – tenggara dengan ketinggian lebih dari 150 m. Setelah perjalanan sejauh 15 km, jalan berbelok ke arah timur, memotong lagi zona sesar Sumatera menuju Tele.

Dari menara pandang di Tele, Danau Toba terlihat pesonanya, namun tetap belum dapat melihat sebagian besar kaldera ini. Hanya satu sudut yang dapat dinikmati. Agar mendapat gambaran lebih nyata, Kaldera Toba seluas 2.270 km2 itu dapat dibandingkan dengan luas beberapa kota di Indonesia. Luas Kaldera Toba itu hampir sebanding dengan Kota Palangkaraya yang luasnya 2.400 km2, atau 13 kali luas Kota Bandung, 18 kali luas Kota Denpasar, 35 kali luas Kota Gorontalo, 47 kali luas Kota Sukabumi, atau 126 kali luas Kota Magelang.

Jalanan menikung tajam, di sana terdapat kedai kopi, tempat berisitrahat melepas lelah sambil dibuai pesona alam. Dari Tele pada ketinggian 1.800 m.dpl., perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pulau Samosir. Jalannya menurun berkelok-kelok sampai ketinggian 910 m.dpl di tapi danau. Hanya dari sisi barat inilah menuju Pulau Samosir dapat dicapai dengan berjalan kaki. Tinggal menyebrangi jembatan selebar 20 m., akan sampai di Pulau Samosir, pulau dengan bagian terpanjang 60 km. dengan lebar 20 km. Selama di sini pengunjung dapat diantar beca motor (betor), atau menyewa sepeda motor roda dua atau kendaraan roda empat ke berbagai tujuan wisata, seperti ke batu kursi parsidangan di Huta Siallagan dan ke Kompleks Makam Raja Batak di Tomok.

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

Saat beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan megakolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang. Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km, abu halus dan aerosolnya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim. Abu letusannya tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan. Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar
Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan. Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m., namun, enadapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.

Kekuatan letusannya berada diurutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu. Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir. Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km., yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba.

Untitled-5

Danau Toba dilihat dari sebuah hotel Foto: Igan S. Sutawijaya.

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak  240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai. Sungaisungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang. Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman. Sehingga Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt.

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai. Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau, maka semua apa yang dibawa sungaisungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, itu semua menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau. Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan encenggondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.

Di setap sudutnya, danau ini menyimpan pesonanya, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur, yang belum dapat dijawab secara sempurna. Dengan bentang alam yang menakjubkan, Danau Toba mempunyai harapan yang tinggi sebagai tujuan wisata, apalagi bila dihubungkan dengan sejarah buminya yang mahadahsyat, dengan letusan supervolkano-nya 74.000 tahun yang lalu. Masalahnya selalu berakhir pada manajemen, bagaimana mengelola sumberdaya alam yang mahaindah itu dengan segala informasinya, agar menjadi objek geowisata andalan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Penataan kawasan adalah kuncinya, sehingga tidak banyak bangunan atau kegiatan yang justru menurunkan kualitas fisik danau dan kenyamanan wisatawan.

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Bentang alam seputar Kaldera Toba yang membentengi danau ini, secara umum didominasi oleh perbukitan dan rangkaian gunung-gunung, dengan kelerengan mulai dari datar sampai curam, bahkan sangat curam dan terjal. Keadaan rona bumi itu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai pesawahan, pemukiman, hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran, dan yang paling menghawatirkan, sisa hutan alam hanya tinggal 13,47%. Sesungguhnya keadaan inilah yang akan sangat berpengruh pada jumlah air danau yang banyak menjadi tumpuan harapan.

Selama mengelilingi pinggiran danau, kerusakan lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) sudah terlihat nyata. Luas hutan di DTA Danau Toba pada tahun 1985 mencapai ± 78.558 ha, luasannya terus menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403 ha. Kerusakan lingkungan itu salah satunya adalah perambahan hutan. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan kamampuan lahan meresapkan air hujan. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian akan memperluas lahan terbuka, menyebabkan erosi menjadi tinggi, dan meningkatkan aliran permukaan, sehingga akan mengganggu neraca air danau. Padahal, di perairan itu menyimpan keragaman hayati berupa ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus, Labeobarbus soro, dan remis Toba (Corbicula tobae), serta air tawarnya sangat dibutuhkan masyarakat.

Dari pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian
906 m.dpl. terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian 1.600 m.dpl., yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m., di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian 1.400 m.dpl.. Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat, bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat setidaknya 1.100 m ke posisi sekarang.

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan “Tumor Batak”, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya “Gunung Toba Purba”. Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan
terjadinya kekosongan di dalam tubuh “gunung”, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu runtuh. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya. Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter. Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga sisi timur dari blok barat terangkat lebih tinggi, sehingga Pulau Samosir sisi timur itu rona buminya lebih tinggi yang menurun halus ke bagian
baratnya.

Perjalanan kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan/sesar di sisi baratnya. 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah
Bakkara terlihat keindahannya. Dari lembah ini pula telah lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Dari Bakkara, perjalanan dilanjutkan melewati Balige menuju Porsea di bagian tenggara danau. Perjalanan sejauh 66 km itu dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kawasan ini merupakan lingkar luar sisi tenggara dari Kaldera Porsea. Letusan kaldera generasi pertama Toba ini terjadi 840.000 tahun yang lalu, menghembuskan material letusan sebanyak 500 km3, menghasilkan endapan ignimbrit Tuf Toba Tua (OTT, Old Toba Tuff).

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Dari Porsea perjalanan dilanjutkan ke Parapat. Kota Porsea ini berada di Blok timur yang terangkat kembali setelah 33.000 tahun lebih berada di dalam dasar danau. Kawasan ini disebut juga Blok Uluan, namun tidak terangkat setinggi Blok Samosir. Ujung selatannya berada pada ketinggian 1.200 m.dpl. dan di bagian utara, di Kota Parapat, ketinggiannya 1.100 m.dpl., dengan rata-rata permukaan Blok Uluan 1.400 m.dpl.. Tebing sisi barat Blok Uluan ini setinggi 300-360 m. bila diukur dari permukaan air danau samai permukaan daratannya.

Menjelang pagi di bibir pantai Danau Toba, di Kota Parapat, kota terakhir yang kami singgahi setelah mengelilingi seluruh pinggiran danau dan mengeliling Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Dalam remang cahaya, terlihat bayangan perahu terus melaju dalam riak yang berkilau, pantulan cahaya dari hotel yang berjajar. Nelayan itu menepikan perahu kecil selebar tubuhnya, lalu menawarkan ikan dan udang hasil tangkapannya. Ikan nila seukuran telapak tangan orang dewasa dan udang sebesar ibujari kaki. Pak Saragih, namanya. Ia terus bercerita tentang keluarganya, tentang anak-anaknya yang dikaruniai kepintaran, selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya, yang menurutnya itu karena anak-anaknya selalu sarapan dengan ikan dan udang dari Danau Toba.

Di pinggiran Danau Toba, saya membayangkan letusan mahadahsyat Gunung Toba 74.000 tahu yang lalu, letusan yang menyemburkan abu vulkanik sebanyak 2.800 km3 yang menyebar dalam skala global, sehingga mendinginkan suhu di Bumi (volcanic winter), yang memicu terjadinya kemacetan genetis dalam evolusi manusia. Saat itu tak terbayangkan atmosfer bumi yang diselimuti lapisan kuning beracun, dan sebanyak 2-4 megaton mengendap di Greenland. Menurunnya suhu di bumi itu telah berdampak pada kehancuran hutan, sehingga menyebabkan terjadi badai debu yang dahsyat.

Para peneliti dari berbagai belahan Dunia akhirnya dapat mengisi sebagian besar puzzle dari teka-teki Kaldera Toba. Penelitian yang satu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. Namun, penelitian selalu belum berakhir dengan sempurna. Selalu ada hal masih perlu penyempurnaan, dan ini memberikan kesempatan kepada para ilmuwan lain untuk berperan mengisi bilah-bilah puzzle yang belum terisi dengan sempurna. ( T. Bachtiar )

T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>