Kompleks Situs Lyangan dengan latar belakang gunung api
Sundoro. Foto: Igan S. Sutawidjaja.

Tragedi Awan Panas Gunung Sundoro

Fumarola Bawah Laut.

Unsur Tanah Jarang di Laut Kita

26/01/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Kegempaan di Sulawesi Utara

Lima suture (garis hitam diarsir) yang terdapat di Indonesia akibat dinamika tektonik yang terjadi (Hall dan Wilson, 2000). Daerah warna abuabu
merupakan daerah pertemuan antara Lempeng Eurasia, India-Australia, Pasifik, dan Filipina.
Lima suture (garis hitam diarsir) yang terdapat di Indonesia akibat dinamika tektonik yang terjadi (Hall dan Wilson, 2000). Daerah warna abuabu merupakan daerah pertemuan antara Lempeng Eurasia, India-Australia, Pasifik, dan Filipina.

Lima suture (garis hitam diarsir) yang terdapat di Indonesia akibat dinamika tektonik yang terjadi (Hall dan Wilson, 2000). Daerah warna abuabu
merupakan daerah pertemuan antara Lempeng Eurasia, India-Australia, Pasifik, dan Filipina.

Sulawesi Utara terkenal dengan keindahan alamnya, taman laut Bunaken dan makanan khas, yaitu bubur Manado. Namun, Sulawesi Utara juga merupakan salah satu daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami di Indonesia. Penyebabnya, karena posisi Sulawesi Utara yang terletak dekat dengan sumber gempa bumi dan pembangkit tsunami, baik di darat maupun di laut yang terbentuk akibat proses tektonik. Sumbersumber gempa di darat berasal dari beberapa sesar aktif yang terletak di daratan Sulawesi Utara. Adapun sumber gempa di laut berasal dari penunjaman sublempeng Sulawesi Utara yang terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi, lempeng Punggungan Mayu, dan lempeng Sangihe yang terletak di sebelah timur Sulawesi Utara. Sumber gempa di laut ini juga merupakan sumber pembangkit tsunami.

Setahun yang lalu bumi Sulawesi Utara dilanda gempa yang merusak, tepatnya pada hari Sabtu, 15 November 2014 pukul 10.31.44 WITA dengan kekuatan 7,3 SR (Skala Richter). Saat itu, sebagian warga Kota Manado dan Minahasa sedang melakukan aktivitas sehari-hari, kemudian secara tiba-tiba mereka dikejutkan oleh goncangan gempa yang kuat. Tidak ada korban jiwa akibat kejadian gempa ini, namun masyarakat Kota Manado, Bitung dan wilayah pesisir timur Sulawesi Utara panik dan resah karena BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami.

Kenampakan tiga dimensi Suture Laut Maluku dan Sorong. Suture Laut Maluku terbentuk akibat tumbukan ganda antara lempeng Laut Maluku dengan busur Halmahera dan Sangihe (Hall dan Wilson, 2000).

Kenampakan tiga dimensi Suture Laut Maluku dan Sorong. Suture Laut Maluku terbentuk akibat tumbukan ganda antara lempeng Laut
Maluku dengan busur Halmahera dan Sangihe (Hall dan Wilson, 2000).

Tujuh tahun sebelumnya, tepatnya pada hari Minggu tanggal 21 Januari 2007 pukul 19.27.48 WITA bumi Sulawesi Utara juga diguncang gempa bumi kuat. Masyarakat Kota Manado, Bitung, dan wilayah pesisir timur Sulawesi Utara juga dibuat panik dan resah karena terjadi gempa bumi dengan kekuatan 7,1 SR. Saat itu BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami, sehingga di pantai timur Bitung dan Minahasa suasana sangat mencekam. Mereka berbondong-bondong menjauhi pantai untuk menghindar terjadinya tsunami.

Kedua kejadian bencana gempa bumi tersebut telah memberikan hikmah kepada masyarakat Sulawesi Utara, khususnya yang bermukim dan beraktivitas di kawasan rawan bencana gempa bumi dan tsunami, bahwa mereka perlu melakukan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami, baik mitigasi fisik maupun non fisik. Upaya mitigasi tersebut harus dilakukan secara terusmenerus yang bertujuan untuk meminimalkan risiko bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Utara yang mungkin akan terulang di kemudian hari.

Kekar pada batuan tuff Tondano yang diperkirakan terbentuk akibat aktivitas sesar (Foto Supartoyo).

Kekar pada batuan tuff Tondano yang diperkirakan terbentuk
akibat aktivitas sesar (Foto Supartoyo).

Tektonik, Batuan, dan Struktur Geologi
Pulau Sulawesi memiliki bentuk menyerupai huruf K dan memiliki tataan tektonik sangat rumit akibat proses tektonik yang terjadi sebelumnya. Untuk menggambarkan betapa rumitnya proses tektonik yang terjadi, maka Hall dan Wilson (2000) menamakan suture (pemisah atau pemersatu yang belum jelas posisi tektoniknya) Sulawesi dan suture lainnya di wilayah Indonesia, yaitu suture Maluku, Sorong, Banda dan Borneo atau Kalimantan. Berdasarkan model animasi tektonik dari Hall (2002), Pulau Sulawesi mengalami gabungan dari beberapa mikro kontinen dan busur yang kemudian menyatu. Pada bagian utara terjadi tumbukan antara busur vulkanik Sulawesi Utara dengan busur kepulauan yang menghasilkan zona penunjaman Sulawesi Utara. Hamilton (1979) membagi Pulau Sulawesi menjadi empat mandala tektonik, yaitu lengan utara yang merupakan busur vulkanik, lengan selatan yang juga merupakan busur vulkanik, lengantimur merupakan mikro kontinen, kompleks ofiolit dan  batuan metamorf, serta lengan tenggara merupakan kompleks ofiolit dan batuan metamorf. Daerah Sulawesi Utara merupakan busur gunung api berumur Tersier dan Kuarter. Gunung api Kuarter dicirikan oleh hadirnya beberapa gunung api aktif tipe A, yaitu Gunung api Lokon, Tangkoko, Ambang, Soputan, Mahawu, Awu, Karangetang, dan Ruang. Tiga diantara gunung api tersebut terletak di laut, yaitu Gunung api Awu, Karangetang, dan Ruang.

Disamping itu pada bagian timur Sulawesi Utara terbentuk suture Maluku yang terjadi akibat tumbukan ganda antara lempeng Laut Maluku dengan busur
Halmahera dan Sangihe. Tumbukan tersebut diperkirakan terjadi pada Kala Pliosen Hall dan Wilson (2000). Hal ini mengakibatkan terbentuknya penunjaman punggungan Mayu yang masih aktif hingga kini, yakni dicirikan oleh tingkat kegempaan sangat tinggi.

Peta sebaran sesar di daratan Sulawesi Utara (Setiawan dkk., 2007).

Peta sebaran sesar di daratan Sulawesi Utara (Setiawan dkk., 2007).

Sebagian besar daerah Sulawesi Utara tersusun oleh endapan rombakan gunung api berumur Tersier dan Kuarter. Sebagian batuan rombakan gunung api tersebut telah mengalami pelapukan. Hanya sebagian kecil yang tersusun oleh batuan sedimen Tersier. Daerah pantai Sulawesi Utara secara umum tersusun oleh endapan aluvial pantai, adapun daerah di sekitar Danau Tondano tersusun oleh endapan danau. Berdasarkan kondisi batuan tersebut terlihat bahwa wilayah Sulawesi Utara rawan terhadap goncangan gempabumi karena endapan Kuarter tersebut pada umumnya bersifat urai, lepas, belum kompak, dan memperkuat efek goncangan gempa.

Berdasarkan informasi dari peta seismotektonik daerah Manado dari Setiawan dkk. (2007) terlihat beberapa struktur geologi di daerah Sulawesi Utara. Sesar utama berarah utara-selatan, barat laut-tenggara, dan timur lautbarat daya. Di sekitar Kota Manado terdapat sesar berarah barat laut-tenggara, ada kecenderungan aktif karena memotong atau ada retakan struktur penyerta yang memotong batuan Kuarter. Di sekitar danau Tondana terdapat sesar berarah barat laut-tenggara dan pada bagian baratnya berarah timur laut-barat daya.

Kegempaan di Sulawesi Utara
Wilayah Sulawesi Utara memiliki tingkat kegempaan tinggi yang tersebar di laut dan di darat. Sumber gempabumi wilayah Sulawesi Utara terletak di laut akibat tumbukan antar busur kepulauan di sebelah timur Sulawesi Utara dan barat Halmahera yang menghasilkan penunjaman Punggungan Mayu, penunjaman Sulawesi Utara akibat tumbukan antara busur vulkanik Sulawesi Utara dengan busur kepulauan, dan sekumpulan sesar aktif di darat. Wilayah ini terletak pada batas lempeng aktif (active plate margin) dicirikan tingkat kegempaan yang tinggi terutama yang bersumber dari penunjaman Punggungan Mayu. Sumber gempa bumi penunjaman Sulawesi Utara juga tergolong aktif. Kejadian gempabumi tahun 1980 dan 1988 yang mengakibatkan kerusakan sejumlah bangunan di Kota Manado berkaitan dengan aktivitas penunjaman Sulawesi Utara. Kedua sumber gempabumi yang terletak di laut ini juga merupakan sumber pembangkit tsunami (tsunamigenic), hal ini dibuktikan dengan mekanisme sumber gempabumi pada penunjaman Sulawesi Utara umumnya berupa sesar naik berarah barat-timur. Sementara itu mekanisme sumber gempabumi penunjaman Punggungan Mayu tersebut pada umumnya juga sesar naik dengan arah bidang sesar relatif utara-selatan.

Runtuhan tembok lantai atas Hotel Lion di Kota Manado akibat gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto: Supartoyo.

Runtuhan tembok lantai atas Hotel Lion di Kota Manado akibat
gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto: Supartoyo.

Sumber gempabumi yang terletak di darat berasal dari berapa sesar aktif. Kota Manado diperkirakan terletak dekat dengan sesar aktif yang berarah barat laut – tenggara (Setiawan dkk., 2007). Pada peta geologi lembar Manado juga terlihat adanya kelurusan berarah barat laut – tenggara dekat dengan Kota Manado (Effendi dan Bawono, 1997). Pengamatan lapangan di daerah Tikala memperlihatkan adanya kekar pada endapan tuff Tondano yang diduga berkaitan dengan keberadaan sesar. Umur dari tuff Tondano ini adalah Pleistosen, sehingga sesar yang memotongnya diperkirakan merupakan sesar berpotensi aktif atau sesar aktif.

Berdasarkan data sejarah kejadian gempabumi merusak, wilayah Sulawesi Utara paling tidak pernah mengalami 13 kejadian gempabumi merusak, dan empat kejadian diantaranya menimbulkan tsunami yang bersumber dari penunjaman Sulawesi Utara pada bagian utara dan penunjaman Punggungan Mayu pada bagian timur Sulawesi Utara. Kejadian gempabumi merusak selengkapnya daerah Sulawesi Utara tercantum pada tabel di halaman 94.

Untitled-75Bencana Gempabumi Tanggal 21 Januari 2007 dan 15 November 2014
Setahun yang lalu tepatnya pada hari Sabtu tanggal 15-11-2014 pukul 09.31.44 WIB, daerah Sulawesi Utara dan juga Maluku Utara digoncang gempabumi kuat dengan kekuatan 7,3 SR. Menurut informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat gempabumi terletak di Laut Maluku pada koordinat 1,95° LU dan 126,46° BT, kedalaman 48 km dan berjarak 187 km timur laut Kota Manado dan 160 km barat laut Kota Ternate. Menurut data USGS pusat gempabumi terletak di Laut Maluku pada koordinat 1,928° LU dan 126,547° BT dengan magnitudo 7,1 Mw (Moment magnitude) pada kedalaman 35 km, berjarak 195 km timur laut Kota Manado dan 151 km barat laut Kota Ternate. Kejadian gempabumi tersebut berpotensi menimbulkan tsunami, karena menurut data mekanisme sumber (focal mechanism) dari USGS diakibatkan oleh sesar naik pada penunjaman Punggungan Mayu dengan kedudukan N199o E, dip 62o dan slip 79o. Tsunami tidak terjadi karena diperkirakan tidak terjadinya dislokasi morfologi bawah laut, atau kalaupun ada diperkirakan dimensinya kecil. Kejadian gempabumi tersebut mengakibatkan dinding lantai VII Hotel Lion ambruk dan retakan dinding Hotel Grand Puri, keduanya di Kota Manado. Di Kota Bitung sebuah rumah rusak, dan terjadi longsor di jalan menuju Kota Bitung. Sebanyak sembilan rumah mengalami kerusakan di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Skala intensitas gempabumi di Kota Manado dan Bitung mencapai V skala MMI (Modified Mercally Intensity) yang dicirikan: terasa oleh orang di luar rumah, cairan bergoyang dan tumpah sedikit, terjadi retakan pada dinding, pintu rumah bergerak menutup dan membuka. Kejadian gempabumi tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan keresahan masyarakat di Kota Manado, Bitung, Kabupaten Minahasa Utara dan pesisir pantai timur Sulawesi Utara karena berpotensi menimbulkan tsunami.

Retakan dinding Hotel Gran Puri di Kota Manado akibat gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto: Supartoyo.

Retakan dinding Hotel Gran Puri di Kota Manado akibat
gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto: Supartoyo.

Tujuh tahun sebelumnya, tepatnya pada hari Minggu tanggal 21 Januari 2007 pukul 19.27.48 WITA bumi Sulawesi Utara juga diguncang gempabumi kuat. Menurut data BMG pusat gempabumi terletak di Laut Maluku pada koordinat 1,18o LU dan 126,42o BT dengan kekuatan 6,7 Skala Richter (SR) pada kedalaman 63 km. Menurut USGS lokasi pusat gempabumi terletak di laut Maluku pada koordinat 1,207o LU dan 126,292o BT dengan kekuatan 7,3 Mw pada kedalaman 10 km. Seperti halnya gempabumi tanggal 15-11-2014, kejadian gempabumi ini juga diakibatkan oleh sesar naik pada penunjaman Punggungan Mayu dengan kedudukan N 3o E, dip 42o dan slip 94o (data USGS). Dengan demikian arah kompresi kedua kejadian gempabumi tersebut relatif barat barat utara (WWN) – timur timur selatan (EES), dan bersesuaian dengan arah gaya utama pembentuk terjadinya penunjaman Punggungan

Permukiman nelayan pantai Iyok, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) rawan tsunami dan gelombang laut pasang. Tidak ada rambu jalur dan tempat evakuasi tsunami. Foto: Supartoyo.

Permukiman nelayan pantai Iyok, Kabupaten Bolaang Mongondow
Timur (Boltim) rawan tsunami dan gelombang laut pasang. Tidak
ada rambu jalur dan tempat evakuasi tsunami. Foto: Supartoyo.

Mayu. Kejadian gempa bumi tanggal 21 Januari 2007 mengakibatkan enam (6) orang meninggal, kerusakan 15 gedung sekolah dan sejumlah bangunan (pusat perbelanjaan Hypermart/ Manado Town Square, Mega Mall, Matahari, Hotel Grand Puri dan Hotel Ritzy) di Kota Manado, retakan dinding di Kantor Walikota Bitung, tiga buah alat penangkap ikan (bagan/rumpon) mengalami kerusakan di pantai Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara. Skala intensitas goncangan gempabumi di kawasan pesisir timur Provinsi Sulawesi Utara mencapai skala VI MMI (Modified Mercalli Intensity), dicirikan : terasa oleh semua orang, masyarakat panik, terasa oleh sebagian orang yang sedang mengendarai mobil, terjadi retakan pada dinding bangunan, sebagian gambar yang diletakkan di dinding dan barang-barang di atas rak dan meja berjatuhan serta sebagian lantai rumah penduduk mengalami keretakan. Sementara itu di Kota Manado mencapai skala V MMI, dicirikan: terasa oleh orang di luar rumah, cairan bergoyang dan tumpah sedikit, terjadi retakan pada dinding bangunan, pintu pada bangunan bergerak menutup dan membuka.

Berdasarkan analisis dari rupture zone kedua kejadian gempabumi tersebut yang dianalisis berdasarkan sebaran gempabumi susulan, maka diperoleh nilai magnitudo maksimum sebesar 8,46 dan dapat dibulatkan menjadi 8,5 Mw. Nilai magnitudo maksimum tersebut apabila terjadi dengan mekanisme sesar naik maka tentu akan berpotensi mengakibatkan terjadinya tsunami.

Gerakan tanah dipicu oleh curah hujan dan gempabumi di Jalan menuju Kota Bitung akibat gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto: Supartoyo.

Gerakan tanah dipicu oleh curah hujan dan gempabumi di Jalan
menuju Kota Bitung akibat gempabumi tanggal 15-11-2014. Foto:
Supartoyo.

Pentingnya Upaya Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami
Kedua kejadian gempa bumi tersebut memberikan pelajaran, bahwa di wilayah Sulawesi Utara harus dilakukan upaya mitigasi terutama mitigasi gempabumi dan tsunami. Berdasarkan pengamatan lapangan penulis pada pemeriksaan kedua kejadian gempabumi tersebut hampir belum ada kemajuan yang signifikan upaya mitigasi gempabumi dan tsunami di wilayah Sulawesi Utara. Padahal setelah terjadi gempabumi tanggal 21 Januari 2007 telah dibentuk kelembagaan yang khusus melakukan pengelolaan manajemen kebencanaan di daerah yaitu Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pengamatan penulis pada pemeriksaan kejadian gempabumi tanggal 15-11-2014, hampir belum terlihat adanya upaya mitigasi, terutama mitigasi tsunami di sepanjang wilayah pesisir timur Sulawesi Utara. Mereka belum pernah menerima sosialisasi, simulasi, pelatihan, bahkan tanda-tanda dan tempat evakuasi tsunami tidak tersedia di daerah ini.

Retakan dinding Pusat Perbelanjaan Matahari di Kota Manado akibat gempabumi tanggal 21 Januari 2007. Foto: Supartoyo.

Retakan dinding Pusat Perbelanjaan Matahari di Kota Manado
akibat gempabumi tanggal 21 Januari 2007. Foto: Supartoyo.

Hingga kini belum ada teknologi yang mampu untuk meramalkan kapan, dimana, berapa besar kekuatan yang terjadi pada kejadian gempabumi atau tsunami dengan tepat. Oleh karena itu, upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah mitigasi yang dilakukan melalui mitigasi struktural atau fisik dan mitigasi non struktural atau non fisik. Mumpung belum terlambat upaya mitigasi ini harus segera dilakukan di wilayah Sulawesi Utara, terutama mitigasi tsunami di wilayah kepulauan maupun di sepanjang wilayah pesisir timur Sulawesi Utara. Apalagi wilayah ini memiliki potensi tsunami dari penunjaman Punggungan Mayu yang diperkirakan akan mampu menghasilkan gempabumi dengan magnitudo mencapai 8,5 Mw. Semoga dengan upaya mitigasi ini diharapkan risiko dari kejadian gempabumi juga tsunami, di kemudian hari dapat diminimalkan.  (Supartoyo)

Penulis adalah Surveyor Pemetaan Madya di PVMBG, Badan Geologi, KESDM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>