Gas Biogenik-15

Gas Biogenik Sebagai Energi Migas Nonkonvensional

1 Puncak Gunung Baluran-32

Lembar-lembar Baluran

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Kebijakan Energi Indonesia

PLTU Kamojang Foto Deni Sugandi-23
PLTU Kamojang Foto Deni Sugandi-23

PLTU Kamojang. Foto Deni Sugandi

Indonesia sekarang bukan negara net eksportir minyak lagi, tetapi sudah menjadi negara net importir minyak. Artinya, impor minyak kita sudah lebih banyak dari ekspor. Namun, bagaimana sebetulnya masalahnya? Sebenarnya, soal menjadi net importir ini tidak perlu serta merta membuat masyarakat panik, tetapi terlebih dahulu perlu dikaji lebih dalam masalahannya. Yang pertama-tama perlu kita lihat adalah produksi minyak mentahnya.

Kenyataannya sejak 1990 produksi minyak kita memang terus-menerus menurun. Kalau pada waktu itu produksinya masih 1,4 juta barel/hari, sekarang produksinya terus menurun. Sebab utamanya, karena kurangnya investasi baru untuk eksploitasi dan eksplorasi, sehingga tidak ditemukan cadangan-cadangan baru untuk menggantikan minyak yang kita ekspor dan yang dipergunakan untuk keperluan dalam negeri berupa penyediaan BBM.

Tidak adanya atau kurangnya investasi ini tidak hanya dialami sektor minyak, tetapi merupakan masalah seluruh sektor ekonomi, karena dirasakan tidak adanya kepastian hukum, undang-undang perburuhan yang tidak akrab pada penanam modal, soal keamanan, pungutan-pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Demikian juga, dirasakan kurang menarik untuk mengerjakan daerah-daerah yang memang lebih sulit untuk mencari dan menemukan minyak, terutama di tengah-tengah hutan yang lebat seperti di Papua dan laut dalam seperti di Laut Sawu, yang kebanyakan berada di bagian Timur Indonesia.

Di dalam dunia perminyakan dikenal dua macam cadangan, yaitu cadangan terbukti dan cadangan terduga. Cadangan terbukti adalah cadangan minyak yang sudah diketahui dengan pasti jumlahnya dan jenisnya, sedangkan cadangan terduga adalah cadangan minyak yang diperkirakan ada di suatu tempat, tetapi masih harus diadakan pengeboran untuk menentukan dengan pasti jumlah dan jenis minyaknya.

Cadangan minyak terbukti Indonesia per akhir tahun 2013 berada pada posisi 3,46 miliar barel, dan cadangan terduga diperkirakan berjumlah 5 miliar barel yang diduga kebanyakan berada di Indonesia bagian Timur. Kalau saja kita bisa menemukan 50% dari cadangan terduga, kita bisa memperpanjang kemampuan Indonesia mengekspor minyak sekitar 7 tahun lagi.

Dengan memperhatikan hal di atas, maka kebijakan energi di Indonesia terutama harus diarahkan untuk mengintensifkan investasi guna mengkonversikan cadangan terduga menjadi cadangan terbukti. Di samping itu, Indonesia juga harus melakukan diversifikasi penggunakan energi, karena di samping minyak bumi, Indonesia mempunyai cadangan gas yang masih bisa dipergunakan. Di sini kita belum lagi bicara mengenai batubara, yang masih banyak. Jadi, sedapat mungkin kita tidak hanya menggunakan minyak saja untuk memenuhi kebutuhan energi kita, tetapi juga menggunakan gas, batubara, panas bumi, dan tenaga air.

Energi yang berasal dari fosil (minyak, gas, dan batubara) itu tidak dapat diperbaharui, oleh karena itu harus dihemat pemakaiannya melalui konservasi. Di waktu yang akan datang, kebutuhan energi yang paling besar adalah untuk transportasi, pembangkitan tenaga listrik, industri, dan rumah tangga. Untuk transportasi secara berangsur-angsur dapat digantikan dengan gas. Untuk pembangkitan tenaga listrik, batubara dipergunakan di samping gas, sedangkan untuk industri dan rumah tangga, digunakan gas. Inilah yang dinamakan kebijakan indeksasi.

Dengan demikian, kita berangsur-angsur mengurangi penggunaan minyak yang tinggal sedikit jumlahnya. Untuk keperluan dalam negeri, kita pergunakan jenis energi yang masih besar cadangannya seperti gas, batubara, panas bumi, dan tenaga air. Untuk daerahdaerah yang terpencil yang sukar dijangkau jaringan, jika memungkinkan, dapat dipergunakan energi alternatif, seperti tenaga angin, biomas, mikrohidro, dan tenaga matahari.

Penggunaan tenaga nuklir, khususnya untuk pembangkitan tenaga listrik, sudah harus dipersiapkan, terutama dari segi penyediaan sumber daya manusianya. Tersedianya energi sekunder listrik, akan sangat menentukan pertumbuhan industri di waktu yang akan datang. Demikian juga, kita harus mengikuti seksama perkembangan teknologi mencairkan gas (Gas to Liquid, GTL) dan mencairkan batubara (Coal Liquefaction). Sebab, kenyataan bahwa penggunaan energi di dalam bentuk cair itu paling mudah disimpan, paling mudah diangkut dan mudah dipergunakan.

Kebijakan energi di bidang hulu, yaitu mencari minyak dan mengangkat minyak ke permukaan bumi, sudah cukup lama diketahui dan dipahami oleh Indonesia. Mengolah minyak menjadi BBM oleh kilang-kilang minyak (refining), menyimpan (storing), mengangkut (transporting) dan menjual (marketing), yang sebelum diregularisasi dilakukan oleh Pertamina secara monopolistis, sekarang terbuka untuk badan usaha lainnya untuk ikut melaksanakannya. Pertimbangan utama mengapa diadakan deregulasi di dalam kegiatan hilir, adalah untuk meletakkan dasar yang lebih kuat untuk industri energi hilir, yang harus melayani peningkatan konsumsi BBM yang lebih tinggi, sebagai akibat pertumbuhan ekonomi 6%-7% atau bahkan lebih tinggi, yang kita harapkan akan terjadi di waktu yang akan datang

Tujuan Kebijakan Energi Indonesia akhirnya adalah bagaimana menopang Kebijakan Ekonomi Indonesia, yang bertujuan memakmurkan rakyat Indonesia, dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, di dalam suasana yang aman, tertib, dan damai, di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45. (Subroto)

Penulis adalah Mantan Menteri Pertambangan dan Energi (1978- 1988). Tulisan ini diangkat dan diperbarui dari “Subroto tak Kenal Lelah” (2004, ed. Parni Hadi & Mustofa Kamil Ridwan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>