Jatigede-1

Jatigede Sesambang Kenang Sebelum Digenang

Danau Gunungtujuh-68

Luka – Liku Merangin

13/04/2015 Comments (0) Esai Foto

Kars Sawarna yang Rentan di Kubah Bayah

Kars-Sawarna-72
Kars-Sawarna-72

Pantai bertebing (Cliff) yang merupakan mountaneous coast bentukan dari proses geologi yang sedang dan telah terjadi. Jenis pantai ini tersusun oleh jenis batuan masif (batugamping padu) yang membentuk lereng terjal yang memanjang hingga ke ujung tanjung. Karangbokor yang unik dan menjadi ikon wisata di Pantai Sawarna merupakan bagian kars yang terpisah dari induknya akibat proses abrasi yang terus berlangsung. Foto: Oki Oktariadi.

Bentang alam kawasan Bayah berupa perbukitan dan lembah, sangat menarik dan unik. Keseluruhannya membentuk kawasan yang dikenal sebagai kubah (dome) dan dinamakan Kubah Bayah (Bayah Dome). Tiga buah sungai besar mengalir di kawasan kubah ini, yaitu Ci Bareno di bagian sayap timur. Ci Madur di bagian tengah, dan Ci Peucangceuri di bagian barat kubah. Dari bagian tengah hingga pantai selatan, di kubah ini membentang kawasan kars.

Inilah lingkungan yang rentan yang menghiasi primadona kubah Bayah, Sawarna. Rentan, karena sebaran kars ini terbatas, dan sebagian daripadanya kini sedang dieksploitasi untuk industri. Peka, sebab zona yang dieksploitasi itu berbatasan dengan zona konservasi. Diperlukan pengendalian atas penambangan pada zona kars budidaya agar tidak sampai merambah ke zona kars lindung. Diperlakukan kepekaan atas lingkungan yang peka ini agar tidak rusak semuanya. Karena, sekali rusak,
tak mungkin dapat dikembalikan lagi.

Van Bemmelen (1949) menafsirkan Kubah Bayah sebagai suatu antiklinorium yang rumit dan cembung kearah utara akibat mengalami perlipatan yang kuat. Batuan penyusunya berupa batuan sedimen yang berumur Neogen disertai intrusi yang berbentuk volkanic neck, stock, dan bos. Berdasarkan Sujatmiko dan S. Santosa (1992), batu gamping penyusun kars di kawasan ini termasuk anggota dari Formasi Citarate yang terbentuk pada lingkungan terumbu di belakang paparan terbuka, yang kadang tenggelam oleh naiknya muka laut setempat.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, kawasan Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak yang merupakan bagian dari Kubah Bayah, menjadi buruan para wisatawan. Popularitasnya demikian meroket sejak diperkenalkan melalui dunia maya. Pantainya menarik untuk berselancar, khususnya di Ciantir. Demikian pula, keberadaan gua-gua dan kars di sekitarnya, antara lain Gua Lalay dan Gua Langir, menjadi daya tarik tambahan kawasan ini. Selain itu, kawasan kars ini sangat penting untuk keseimbangan lingkungan di sekitarnya, juga untuk pertanian.

Kars-Sawarna-73

Bentang alam Kubah Bayah, ditandai oleh perbukitan curam dan lembah yang dalam dengan sungai yang sempit. Morfologi kawasan ini meliputi perbukitan Gunung (G.). Hanjawar, G. Jaya Sempurna, G. Sanggabuana, dan G. Malang-Liman pada bagian utara, serta G. Peti pada bagian selatannya. Salah satu bukit tertinggi adalah G. Hanjawar (lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut). Foto: Ronald Agusta.

Lahan pesawahan yang sangat subur di atas endapan aluvial di daerah ini sangat berkaitan dengan keberadaan gua-gua itu. Gua-gua yang umumnya dihuni oleh kelelawar ini memberikan nilai tambah bagi air sungai yang dimanfaatkan untuk mengairi pesawahan di hilirnya. Air itu membawa pupuk bagi padi yang berasal dari kotoran kelelawar yang jatuh dari langit-langit gua dan larut di dalam aliran sungai tersebut. Selain itu, kelelawar juga sangat berperan mengendalikan hama padi atau tanaman lainnya.

Dari segi konservasi, kars diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (PP No. 26/2008), yaitu sebagai kawasan cagar alam geologi yang memiliki Keunikan Bentang Alam Kars (pasal 60 ayat 2 huruf f). Kemudian kriteria Keunikan Bentang Alam Karst (KBAK) tersebut dijelaskan pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 Tahun 2012.

Sementera itu, Kars Sawarna yang berada di wilayah Kubah Bayah ini pernah diklasifikasikan oleh pemerintah Provinsi Banten berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 1456 K/20/MEM/2000 Tahun 2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan (Kepmen ESDM 1456/2000) sebagai Kars Kelas I. Artinya, kawasan kars itu memiliki salah satu atau lebih kriteria yang diamanatkan Pasal 11 Kepmen ESDM tersebut. Menurut Pasal 12 Kepmen tersebut, Kawasan Kars Kelas I merupakan kawasan lindung sumberdaya alam yang penetapannya mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 14 Kepmen tersebut menyatakan bahwa di dalam Kawasan Kars Kelas I tidak boleh ada kegiatan pertambangan dan dapat dilakukan kegiatan lain, asal tidak berpotensi mengganggu proses karstifikasi, merusak bentuk kars di bawah dan di atas permukaan, serta merusak fungsi kawasan kars.

Kars-Sawarna-74

Sebagian kawasan kars berada pada kawasan hutan tanaman mahoni, jati, hutan campuran, dan hutan lindung yang terletak di Resort Polisi Hutan (RPH) Bayah Selatan, Perum Perhutani. Menurut wilayah administrasi kehutanan, termasuk dalam wilayah BKPH Bayah, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banten, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Foto: Oki Oktariadi.

Sebenarnya penetapan Kars Sawarna berdasarkan Kepmen tersebut di atas dirasa sudah cukup aman. Apalagi di permukaannya telah ditetapkan pula sebagai kawasan hutan lindung. Namun, untuk menegaskan Kars Sawarna sebagai kawasan konservasi, maka perlu adanya penetapan kawasan tersebut sesuai Peraturan Menteri ESDM No. 17 Tahun 2012 tentang KBAK (Permen ESDM No. 17/2012), yang dapat diartikan kars sebagai kawasan lindung geologi dan batugamping lainnya bisa dikatagorikan sebagai kawasan bukan kars.

Sementara pemanfaatan KBAK dapat mengacu pada peraturan perundangan lainnya. Sebagai contoh, Pasal 104 Ayat (2) PP No 26/2008 tentang zonasi KBAK, mengamanatkan bahwa kawasan keunikan bentang alam disusun dengan memperhatikan pemanfaatannya bagi pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu pengetahuan, budaya, dan/atau pariwisata.

Kars-Sawarna-75

Bentang Alam khas Eksokarst Sawarna, berupa bukit-bikit kerucut dengan lapukan tanah yang sangat tipis dan kering, sehingga diatasnya hanya tumbuh vegetasi berupa semak belukar dan rerumputan, yang seolah dalam keadaan kritis. Namun sebenarnya dibagian bawah permukaan terdapat potensi sumber air yang berlimpah. Foto: Oki Oktariadi

Sesungguhnya kegiatan budidaya atau perubahan sekecil apapun pada kawasan kars akan berdampak pada fungsi ekosistemnya. Pemanfaatan lahan seperti penambangan yang biasanya mencapai zona vadose pada bukit-bukit kars akan menghilangkan zona epikars yang sangat penting sebagai lapisan penangkap air. Hilangnya zona epikars akan menghentikan imbuhan atau resapan air ke dalam lorong atau sungai bawah tanah yang sangat mungkin keadaannya bersambung dari zona kars budi daya sampai zona kars lindung. Alih-alih meresap, air hujan pada permukaan kars yang kehilangan epikars akan melimpas di permukaan dan membentuk air larian (runoff) yang besar hingga banjir. Akibatnya, sungai bawah tanah akan mati, demikian pula mata air karst. Banjir pun melanda di saat hujan. Selain itu, penambangan juga akan menyebabkan hilangnya biota gua seperti kelelawar yang mampu menyuburkan lahan dan meredam serangga hama pertanian. Kerugian pertanian karena hama yang tak terkendali akan terjadi sejalan dengan perubahan mikroklimat di dalam gua.

Itulah berbagai akibat yang akan terjadi bila kars ditambang secara semena-mena hingga ke zona lindungnya. Primadona Kubah Bayah itu akan kehilangan salah satu lingkungannya yang unik, bila penambangan kars di sana merambah ke zona kars Sawarna. Pengingat ini bukan berarti kawasan kars tidak boleh dimanfaatkan. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan dengan benar-benar memperhatikan dampak ekologisnya. Pertimbangan jangka pendek sangat tidak berarti jika menimbulkan kesengsaraan di masa depan. Karena sumber daya ini tidak dapat terbaharui (unrenewable) disebabkan untuk membentuknya diperlukan waktu jutaan tahun. (Oki Oktariadi)

Penulis adalah Penyelidik Bumi Utama, Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan, Badan Geologi, KESDM

Kars-Sawarna-77

Lapukan tanah yang tipis di perbukitan karst Sawarna menyingkapkan tonjolan-tonjolan karst berwarna hitam yang unik dengan rekahan-rekahan tempat air hujan melarutkan batugamping yang kemudian membentuk gua karst dan airnya terus mengalir bersatu menjadi sungai bawah tanah. Foto: Oki Oktariadi.

Kars-Sawarna-78

Ikon lainnya di kawasan wisata Sawarna adalah Pulau Manuk. Pulau yang berada 1 km dari pantai Cipamadangan. Konon, dulu pulau ini berbentuk seperti manuk dan kini, pada waktu-waktu tertentu dihuni ratusan burung migran (dalam bahasa Sunda disebut Manuk) dari benua Australia menuju Daratan Asian atau sebaliknya dan satwa liar lainnya yaitu monyet. Foto: Oki Oktariadi.

Kars-Sawarna-79

Selain memiliki Eksokars dan Endokars, Kars Sawarna menghasilkan sumber daya air yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan pesawahan yang menjadi andalan Kecamatan Bayah dan sekitarnya. Foto: Ronald Agusta.

Kars-Sawarna-80

Semakin dalam memasuki Gua Lauk, semakin terasa sunyi, hanya suara langkah kaki dan gemercik tetesan air jatuh ke air yang terdengar membuat suasana terasa dingin dan hening. Foto: Ronald Agusta.

Kars-Sawarna-81

Keadaan sekeliling Gua Lauk terutama di bagian bawah terdapat ornamen-ornamen stalagtit dan stalagnit menyerupai kristal-kristal yang indah luar biasa, terbentuk dari tetesan air yang melarutkan batugamping. Karena keindahannya gua ini telah menjadi objek wisata yang sering dikunjungi. Foto: Ronald Agusta.

Kars-Sawarna-84

Semangat ibu-ibu untuk bekerja begitu tinggi karena harapan panen padi menjadi kenyataan. Hal ini ditopang oleh sumber daya air yang berlimpah dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tanah menjadi lebih subur. Foto: Oki Oktariadi.

Kars-Sawarna-85

Tanah yang subur dan sumber air yang berlimpah di sekitar Karst Sawarna membuat tanah menjadi subur dan padi tumbuh dengan baik dan menjadi andalan warga Bayah dan sekitarnya. Foto: Oki Oktariadi.

Kars-Sawarna-82

Kars Bayah sekarang. Foto: Ronald Agusta.

Kars-Sawarna-83

Masyarakat di sepanjang sungai Sawarna memanfaatkan sumber daya air yang berkualitas untuk memenuhi kebutuhan pertanian, pesawahan, rumah tangga, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainnya. Foto: Ronald Agusta.

Kars-Sawarna-76

Padi Huma di atas bukit batugamping ciri Kecamatan bayah yang khas, kini keberadaan di lokasi ini tinggal kenangan karena telah berubah menjadi kawasan pertambangan dan pengembangan industri semen. Foto: Ronald Agusta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>