Harmoni Merapi-61

Harmoni Merapi

Danau-Tempe-31

Danau Tempe Tappareng Karaja yang Kian Mendangkal

31/12/2014 Comments (0) Langlang Bumi

Kaldera Tondano Hidup untuk Menghidupkan

Kaldera Tondano-1
Kaldera Tondano-1

Dari kejauhan, kendaraan yang lalu-lalang terlihat seperti melaju di atas hamparan rumput yang tinggi atau di atas sawah. Jalanan itu dibangun mengiris persawahan dan rawa di atas Danau Tondano. Truk pengangkut kerakal dan tanah terlihat mengurug rawa di pinggir jalan. Geliat ekonomi mulai nampak di atas rawa, di sana banyak didirikan rumah makan yang ramai menjelang malam. Foto: Ronald Agusta.

Dari menara pandang yang dibangun di tengah danau, terlihat jalan-jalan penghubung itu berada di dasar mangkuk raksasa Kaldera Tondano, yang pinggirannya berupa rangkaian gunung-gunung, seperti Gunung Lembean, Gunung Kaweng, Bukit Tampusu, dan Gunung Masarang. Jalan sepanjang ± 40 km melingkari danau, menghubungkan Kota Tondano, Kecamatan Tondano Timur, Kecamatan Eris, Kecamatan Kakas, Kecamatan Remboken, dan Kecamatan Tondano Selatan.

Dari Kota Manado, Danau Tondano di ketinggian 600 m dpl., dapat dicapai setelah menempuh jarak 36 km, dengan kondisi jalan yang mulus penuh kelokan. Dari Kota Tomohon yang sejuk, danau ini hanya tiga kilometer jauhnya. Tomohon menjadi terkenal ke berbagai daerah karena sering diliput televisi, di bagian dalam pasar ada jongko-jongko yang secara khusus menjual daging dari berbagai binatang.

Kaldera Tondano-2

Pendirian bangunan terlalu menjorok ke tengah. Foto: T. Bachtiar.

Angin bertiup kencang di menara pandang. Dari ketinggian itu bentangan Danau Tondano yang sangat luas, terlihat dengan jelas beberapa sudut keindahan sekaligus kerusakannya.

Inilah tipikal pemanfaatan danau-danau di Indonesia, sempadan pantai danaunya dipenuhi pemukiman tanpa perencanaan yang baik, sehingga keindahan danau menjadi tidak terlihat. Begitu pun yang terjadi dengan danau terbesar di Provinsi Sulawesi Utara ini. Jejak air di permukaan tanah terlihat jelas, menunjukkan bahwa paras air Danau Tondano mengalami turun-naik sesuai keadaan  musim. Terjadi periode surplus selama sekitar 9 bulan pada bulan Oktober sampai Juni, dan periode defisit air mulai bulan Juni sampai September. Selain musim, danau juga dipengaruhi penurunan kualitas lingkungan di sepanjang daerah tangkapan hujannya. Pada musim penghujan, luas Danau Tondano sekitar 48 km2. Namun, pada musim kemarau turun menjadi 44 km2.

Danau ini termasuk bagian hulu dari Sungai Tondano yang terletak di Kabupaten Minahasa. Mata air banyak dijumpai di kaki gunung api, seperti Gunung Lokon, Gunung Soputan, dan Gunung Mahawu. Ke danau ini bermuara 35 sungai, yang sebagian besar berupa sungai musiman. Ada tujuh sungai yang masih mengalir pada musim kemarau, yaitu Sungai Panasen, Ranowangko, Saluwangko, Kolsimega, Sendow, Mawalelong, dan Ranowelang. Tiga sungai penyumbang utama bahan organik dan residu pestisida yang masuk ke Danau Tondano adalah Sungai Mawalelang, Sungai Panasen, dan Sungai Leleko. Selain dari sungai, air danau berasal dari saluran irigasi dan saluran dari pemukiman. Air danau keluar menjadi aliran Sungai Tondano yang melintas Kota Manado menuju Laut Sulawesi.

Angin bertiup kencang di menara pandang. Dari ketinggian itu bentangan Danau Tondano yang sangat luas, terlihat dengan jelas beberapa sudut keindahan sekaligus kerusakannya. Ari Mandolang (72 tahun) yang tinggal di Ranowangko, bercerita di kaki menara pandang, di dekat kolam ikannya, tentang asal-usul terbentuknya Danau Tondano, seperti banyak dituturkan masyarakat.

Kaldera Tondano-11

Pendangkalan Danau Tondano. Foto: Deni Sugandi.

Itulah geomitologi, jawaban atas kejadian alam masa lalu di sekelilingnnya. Pada zaman dulu, di kawasan yang kini menjadi Danau Tondano, terdapat gunung yang menjulang sangat tinggi. Di kaki gunung itu terdapat dua wilayah, yaitu Wilayah Utara dikuasai seorang tonaas (penguasa) yang memiliki putri tunggal yang bernama Marimbow. Wilayah Selatan dikuasai seorang tonaas yang memiliki putra tunggal yang bernama Maharimbow. Sementara itu penguasa Wilayah Utara diselimuti kerisauan saat memikirkan pewaris tahtahnya nanti, karena anaknya seorang perempuan. Untuk mengatasi hal itu, ia meminta kepada putrinya untuk berpakaian dan berperilaku seperti laki-laki, dan meminta ia untuk tidak menikah seumur hidupnya. Permintaan Tonaas Utara disetujui, dan diikrarkan dalam upacara adat di hadapan Opo Empung (tetua). Apabila sumpah itu dilanggar, akan terjadi bencana dasyat. Sementara itu, tonaas Wilayah Selatan pun memiliki masalah yang hampir sama. Maharimbow diminta bersumpah untuk tidak menikah selama ayahnya masih hidup.

Suatu hari, secara tidak sengaja, kedua pewaris tahta itu bertemu di perbatasan. Maharimbow merasakan bahwa orang yang dilihatnya itu, meskipun berpakaian layaknya seorang kesatria, tetapi memancarkan kelembutan seorang wanita. Timbul rasa penasaran dan ingin mengetahui misteri itu. Pada pertemuan berikutnya terjadi perkelahian, Maharimbow berhasil membuka tabir Marimbow, yang berpakaian seperti kesatria itu ternyata seorang wanita. Mereka selanjutnya sering bertemu hingga saling jatuh cinta, lalu berikrar untuk menjadi suamiistri, dan mempersatukan kedua wilayah itu.

Kedua insan yang sedang dipenuhi suka cita itu mengingkari kesepakatan dengan orang tuanya, lalu mereka berlari (tumingkas) ke dalam hutan, dan melangsungkan kawin (kaweng). Tak perlu menanti berhari-hari, keesokan harinya, bumi berguncang hebat, dan Gunung Kaweng meletus dahsyat, melenyapkan suatu kawasan menjadi cekungan besar yang kemudian menjadi danau. Sekarang danau itu dinamai Danau Tondano.

Matahari terasa menyengat siang itu. Dari rawarawa di dekat warung makan, terlihat air panas alami membual di beberapa tempat. Inilah bukti nyata, bahwa kawasan ini dulunya berupa gunung api. Danau Tondano terbentuk karena adanya letusan gunung api yang dahsyat, pada Kala Miosen – Kala Pliosen Awal. Tekanan gasnya yang sangat tinggi telah menghamburkan material yang ada dalam tubuh gunung itu ke angkasa, batuannya terdiri dari rhyo-dasit, batuapung, dan ignimbrit. Karena terjadi kekosongan dalam tubuh gunung serta tubuh bagian atasnya tak mampu lagi disangga, maka sebagian tubuh gunung itu ambruk, membentuk kaldera, kawah yang garis tengahnya lebih dari 2 km, kemudian diisi air meteorik menjadi danau kaldera.

Kaldera Tondano-5

Jaring terapung dan ecenggondok. Foto: T. Bachtiar.

Bagaimana kaldera itu terbentuk? Pratomo dan Lecuyer menjelaskan tentang evolusi paleogeografi Kaldera Tondano yang terbentuk melalui empat tahapan. Tahap 1 dan 2 pembentukan depresi, Tahap
3 pembentukan kaldera fase pertama, yang ditandai dengan Tuf Domato (2,0 ± 0,4 Ma), dan Tahap 4 pembentukan kaldera fase kedua yang ditandai Tuf Teras (1,3 ± 0,2 Ma).

Danau Tondano seolah tak berbatas. Permukiman yang berada di sekeliling danau selalu terhubung dengan air. Sehingga wajar kalau di kawasan ini banyak sekali nama-nama geografi yang berciri air, atau menunjukkan berkegiatan di air, seperti: Minahasa, Tondano, Toutour, Ranopasso, Ranowulu, Ranowawa, dan Kali.

Tondano berarti manusia air. Sejak lama, nenek moyang kita sudah meletakkan dasar hidup harmonis dengan danau, dengan air. Namun, kenyataan saat ini menjadi lain. Manusia sangat membutuhkan keberadaan danau, tetapi sayangnya, manusialah yang menghancurkan sumber yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ekosistem danau memberikan fungsi yang sangat menguntungkan bagi kehidupan manusia, baik untuk rumah tangga, industri, dan pertanian. Danau berfungsi sebagai sumber plasma nutfah yang menyumbang bahan genetik, tempat berlangsungnya siklus hidup jenis flora dan fauna, sumber air bagi masyarakat untuk pertanian, industri, rumah tangga, sumber bahan baku air minum dan penghasil energi melalui PLTA, tempat penampungan air yang berlebih, baik dari air hujan, aliran permukaan maupun sumber-sumber air bawah tanah, sehingga danau berfungsi membantu mengatasi banjir, mengatur tata air, menjaga iklim mikro, karena ekosistem danau dapat mempengaruhi kelembaban dan curah hujan setempat, dan sarana pariwisata.

Danau ini semuanya berisi air tawar, sehingga menjadi reservoir air untuk Provinsi Sulawesi Utara dan mampu mengairi sawah sekitar 3.000 Ha. PDAM Minahasa dan Manado pun memanfaatkan air danau ini menjadi sumber air baku untuk melayani kebutuhan harian lebih dari 150.000 penduduk. Air danau dimanfaatkan juga menjadi sumber air untuk PLTA yang menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang sebesar 34 MW atau 30% energi yang dibutuhkan Sulawesi Utara. Danau Tondano juga menjadi tempat peternakan unggas dan tempat budi daya perikanan karamba dan jaring apung yang luasnya mencapai 67.293 m2 dengan produksi ikan mencapai 9.115 ton per tahun.

Kaldera Tondano-6

Rawa berubah menjadi sawah. Foto: T. Bachtiar.

Pagi yang sejuk di Kota Tomohon. Di sini tersedia sarapan bubur Manado, bubur aneka bahan, dimakan dengan goreng ikan batalion yang renyah. Penjual bubur menyebut ikan batalion karena terbuat dari ratusan nike yang dibentuk bulat sebesar tatakan gelas, lalu digoreng kering. Semua bahan dihasilkan di Tomohon, termasuk ikan nike yang banyak terdapat di danau.

Danau Tondano banyak menghasilkan ikan air tawar, seperti payangka, pior/kabos, gabus, mujair, nila, gurame, sepat, nilem, tawes, betok, lele, koan, kijing, dan ikan air tawar lainnya. Nelayan di danau ini dapat menangkap ikan payangka sampai 35% dari total penangkapan ikan per tahunnya. Ikan ini mampu memanfaatkan pakan yang ada di dalam danau menjadi sumber nutrisi, serta mempunyai daya reproduksi yang tinggi. Setiap individu mampu bertelur sampai 60.000 butir, dan memijah sepanjang tahun, dengan puncaknya terjadi pada bulan Juni, September, dan Desember.

Di beberapa tempat, di pinggir danau, berkembang beberapa rumah makan yang besar. Ini dapat menjadi daya tarik wisata yang mengundang wisatawan untuk datang dan makan di pinggir danau, sekaligus dapat menjadi sebab kemunduran pariwisata, bila bangunan rumah makan itu bertambah banyak sesuai perkembangan jumlah pengunjung, justru inilah yang akan menutupi tepian danau, dan akan menutupi daya tarik danau itu sendiri.

Kuliner malam hari dengan menu ikan nila dan udang bakar atau goreng, telah memicu denyut wisata di Danau Tondano. Namun, bila dibiarkan tumbuh tanpa perencanaan yang matang, warungwarung di sepanjang jalan itu akan terasa kurang nyaman bagi wisatawan. Bila ada desain besar yang terpadu untuk menata ulang kawasan Danau Tondano, walau suhu udaranya berkisar antara 19- 27°C, kawasan ini tetap mempunyai nilai jual yang tinggi bagi dunia pariwisata.

Kendaraan melaju di jalan yang melingkar di pinggir danau. Seharian mengelilingi danau, permasalahan yang ada di danau ini semakin terlihat nyata. Permasalahan itu dimulai dari jumlah penduduk yang terus melesat berbarengan dengan segala keinginannya, bukan kebutuhannya. Pada tahun 2002, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Tondano dihuni sekitar 345.594 jiwa, 70% berada di bagian hilir, 14% bermukim di DAS bagian tengah, dan 16% sisanya berada di bagian hulu, dengan mata pencaharian utama sebagai petani dan nelayan. Keadaan inilah yang telah mengubah lingkungan sekitar danau, terjadi alih fungsi lahan, yang semula hutan berubah menjadi lahan pertanian musiman, sehingga terjadi erosi dan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan dan penyempitan danau, serta alih fungsi lahan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya, seperti pemukiman, pertanian, saluran limbah rumah tangga, dan objek wisata.

Kaldera Tondano-3

Pendirian bangunan yang kurang memperhatikan lingkungan. Foto: Deni Sugandi.

DAS Tondano memanjang dari selatan ke utara, dengan topografi berupa daerah pegunungan dan perbukitan, yang ketinggiannya antara 1.000 – 2.000 m dpl. DAS seluas 561,65 km2 itu termasuk Kabupaten Minahasa, dan sekitar 30 km2 (5,3%) termasuk Kota Manado. DAS Tondano mencakup 17 kecamatan atau 92 desa. Ada 4 sub DAS, yaitu sub DAS Tondano, sub DAS Tikala, sub DAS Noongan, dan sub DAS Klabat. Wilayah DAS Tondano terletak di bagian hulu dengan kemiringan rata-rata 45%. Keadaan topografinya berbukit, miring, dan terjal, 76,77% wilayahnya ditutupi vegetasi seperti kelapa, cengkih, tegalan, ladang, alang-alang, dan belukar. Sisanya berupa Danau Tondano, persawahan, pemukiman, dan hutan.

Kegiatan pembangunan di DAS Tondano berperan sebagai pusat pembangunan ekonomi di Sulawesi Utara. Lebih dari 70% di DAS ini digunakan untuk produksi pertanian, di beberapa tempat merupakan sentra produksi hortikultura. DAS Tondano sudah memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi, karena kegiatan itu berjalan tanpa perencanaan yang matang dan tanpa arah yang jelas, dan tanpa kendali, menyebabkan kegiatan yang bernilai ekonomi itu menimbulkan dampak negatif bagi fungsi ekologi, ekonomi, dan estetika Danau Tondano, yang muaranya akan mempengaruhi manusianya.

Melintas di perbukitan di sekeliling danau, terlihat sangat menyolok, kebun-kebun sayur itu menempati kawasan yang luas, sampai di lerenglereng yang curam. Meningkatnya kegiatan manusia memanfaatkan lahan secara kurang tepat, DAS Tondano terus mengalami perubahan yang besar. Perubahan lahan yang dominan dalam selang waktu 10 tahun adalah naiknya fungsi perkebunan sayur, yaitu 3.814,65 ha (17.872%). Pada tahun 1982, luas hutan di sini mencapai 2.450 ha atau 8,35%. Pada 1999, luas hutan itu berkurang menjadi 2.182 ha atau 7,44%. Di tahun 2008, hutan tinggal sekitar 6,65%, tapi di daerah tangkapan air Danau Tondano, hutan yang tersisa hanya 905,4 Ha atau 3,84%. Padahal, luas hutan itu sedikitnya 30% dari luas DAS. Penurunan kualitas lahan di DAS itu terjadi karena penebangan liar dan pembukaan lahan di hutan bagian hulu, sehingga tingkat erosinya antara 28,86 ton/Ha/tahun sampai 62,33 ton/Ha/tahun. Air hujan yang melimpas di permukaan telah menggerus tanah pucuk yang subur, lalu hanyut, mengendap dan mendangkalkan lembah-lembah serta Danau Tondano.

Kaldera Tondano-12

Danau Tondano dari sisi selatan. Foto: Deni Sugandi.

Dari ketinggian, terlihat hamparan sawah semakin meluas ke arah danau. Pendangkalan Danau Tondano terus berlangsung. Pengendapan lumpur sudah mencapai 135,75 ton per tahun. Secara keseluruhan, kecepatan pendangkalan danau adalah >1/4 m setiap tahunnya. Pada tahun 2005, luas danau tinggal 4.667,5 Ha. Dari luas tersebut, 1.591,25 Ha atau 24,09% kedalamannya kurang dari 10 m., umumnya berada di tepian danau yang dipenuhi ecenggondok. Kawasan danau seluas 51,88 Ha atau 1,11% kedalamannya lebih dari 20 m. Pada tahun 1923 sampai tahun 1934, kedalamannya lebih dari 40 m, tahun 1974: 28 m, 1983: 27 m, 1987: 20 m, 1992: 16 m, 1996: 15 m, dan pada tahun 2000: 14 m. Tingkat agradasi, proses peninggian tanah karena endapan di Danau Tondano rata-rata per tahunnya 30 Cm. terjadi antara tahun 1934 – 1974, 11 cm antara tahun 1974 – 1983, dan 40 cm antara tahun 1983 – 1993. Selain semakin mendangkal, Danau Tondano juga mengalami laju penyempitan yang cepat, sekitar 18 Ha per tahun. Pada tahun 1934 luas Danau Tondano 5.622 Ha, dan saat ini tinggal sekitar 4.667 Ha.

Pendangkalan Danau Tondano akan menurunkan daya tampungan danau, yang berpengaruh pada penurunan pemakaian air danau untuk PLTA, dari 90% menjadi 60%. Hal ini akan berdampak pada krisis listrik di enam kota dan kabupaten di Sulawesi Utara. Bila penurunan kualitas lingkungan terus berlangsung, warga Kota Manado pun akan mengalami krisis air baku, karena pasokan air bagi PDAM Manado berasal dari Danau Tondano. Masyarakat sekitar danau, seperti para petani yang mengelola ribuan hektare sawah yang mengandalkan air dari danau ini akan menderita. Petani pemilik atau pengolah sawah-sawah di Taler, Kulo, Tombakar, dan Tontimomor, Panasen, dan Tontolan, yang akan paling merasakan dampak langsung dari semakin berkurangnya pasokan air dari danau. Demikian juga para peternak ikan yang tersebar di Tondano, Eris, Kakas, dan Remboken.

Selain berpengaruh pada pertanian, perikanan, dan kapasitas listrik, pendangkalan lembah dan danau itu dapat mengakibatkan banjir di hilir. Kerusakan ekologis di DAS Tondano sangat nyata terlihat pada debit air Sungai Tondano pada musim kemarau yang turun menjadi hanya 6 – 7 m3/detik, sedangkan pada musim penghujan, debitnya mencapai 20 m3/detik.

Kaldera Tondano-8

Pendangkalan kemudian menjadi pemukiman. Foto: T. Bachtiar.

Danau Tondano layaknya tempat pembuangan akhir (TPA) sampah raksasa, tempat segala macam kotoran, baik limbah cair atau padat yang berasal dari pemukiman, hotel, rumah makan, pertanian, perikanan, serta solar dan oli dari perahu nelayan dan perahu angkutan. Kalau disebandingkan dengan isi sebuah truk, ke dalam danau ini setiap harinya masuk limbah domestik sebanyak 2 – 5 truk. Limbah organik dan residu pestisida ini menjadi penyumbang terbesar dalam peningkatan konsentrasi fosfat, salah satu unsur hara yang mempercepat terjadinya ledakan algae di perairan Danau Tondano.

Setiap tahun, ke danau ini masuk limbah rumah tangga berupa detergen sebanyak 50 ton, limbah padat dari hunian, dan dari kegiatan pertanian berupa pupuk dan pestisida sebanyak 750 ton urea dan 250 ton fosfat. Nitrogen dan fosfat merupakan unsur nutrisi dalam air yang mempengaruhi kehidupan plankton dan gulma air seperti eceng gondok, Eichhornia crassipes (Martius), famili Pontederiaceae.

Dari ketinggian, terlihat hamparan sawah semakin meluas ke arah danau. Pendangkalan Danau Tondano terus berlangsung. Pengendapan lumpur sudah mencapai 135,75 ton per tahun. Secara keseluruhan, kecepatan pendangkalan danau adalah >1/4 m setiap tahunnya.

Bambu-bambu ditancapkan di pinggiran danau, lalu jaring-jaring dibentangkan. Dalam kegiatan perikanan jaring itu, yang jumlahnya mencapai 7.780 unit jaring, setiap harinya berton-ton pakan ikan disebar di sana dan menjadi penyumbang unsur hara dari sisa pakan yang membusuk. Suburnya air danau menyebabkan laju pertumbuhan eceng gondok sangat pesat. Peningkatan eutrofikasi, proses perkembangbiakan tumbuhan air dengan cepat karena memperoleh zat makanan yang berlebihan itu akibat aktivitas penduduk di sekitar danau.

Kaldera Tondano-4

Gunung Soputan dari Tondano. Foto: T. Bachtiar.

Eceng gondok merupakan tumbuhan gulma air yang dapat berkembang dan menyebar dengan sangat cepat. Jika tidak dikendalikan, kondisi Danau Tondano akan segera kehilangan ekosistem danaunya. Selain menurunkan kualitas perairan danau Tondano, pertumbuhan eceng gondok telah menjadi masalah bagi kegiatan PLTA dan mengganggu lalu lintas di danau. Eceng gondok mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air dan akan membawa perkembangan fisik mati akan mengendap, makin lama makin stabil dan menjadi padat. Eceng gondok seluas 242,67 Ha., itu tumbuh subur di pinggiran danau, di tempat perikanan, dan di sekitar pemukiman penduduk.

Rumah-rumah penduduk dan rumah makan yang berada di pinggir danau menjadi pemasok bahan organik yang besar. Masyarakat dan kegiatan pariwisata di sekitar danau masih membuang limbahnya langsung ke sungai atau danau. Sehingga jumlah coliform di sungai adalah 46.000/100 ml dan di danau 46.000/ml. Jumlah ini sudah melebihi ambang batas untuk kriteria kualitas air golongan B, air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum. Padahal, sampai tahun 1997, sebanyak 43,7% masyarakat yang bermukim di Danau Tondano dan sepanjang sungai-sungai masih mengambil air di Danau Tondano dan di sungai untuk keperluan air minum. Akibatnya banyak penduduk terkena penyakit diare.

Senja di Eris. Permukaan danau sudah menghitam, tetapi di langit masih membiaskan warna-warni cahaya jingga. Menjelang malam, bentang alam menampakkan siluet patok-patok bambu darikaramba dan jaring apung. Di kejauhan, Gunung Soputan mengepulkan asap, seperti kereta api masa lalu.

Sambil makan ikan nila bakar di pinggir danau, teringat kata-kata bijak, “Sitou timou tumou tou.” Manusia hidup untuk menghidupkan orang lain. Bila kata manusianya diganti dengan kata danau, “danau hidup untuk menghidupkan orang lain”, kalimat bijak itu harus menjadi spirit dalam memperbaiki kondisi Danau Tondano dan DAS Tondano saat ini. Dengan demikian, diperlukan pengelolaan yang terpadu agar fungsi ekologis dan fungsi ekonomis Danau Tondano dapat berjalan harmonis untuk menopang kehidupan masyarakatnya. (T. Bachtiar)

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>