sangperintis1

Sang Perintis : Arie Frederick Lasut & Soenoe Soemosoesastro

museumkarsindonesia1

Museum Kars Indonesia

27/06/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Museum Geologi Jelajahi Bumi, Pahami Dinamikanya, dan Temukan Jejak Kehidupan di Dalamnya

museum1

museum1Memahami bumi dengan segala proses yang berlangsung dan berbagai dinamika serta fenomena yang terjadi, tidaklah cukup hanya dengan teori. Ilmu yang berkembang untuk mempelajari dan memahami bumi beserta perilakunya yang disebut “geologi”, belum begitu banyak dikenal masyarakat, sementara belakangan ini berbagai peristiwa dan fenomena geologi seperti gempabumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, semburan lumpur, dan lain sebagainya adalah sebuah keniscayaan yang sering terjadi di sekitar kita. Masyarakat yang awam terhadap geologi, sering bertanya-tanya dan haus akan informasi tentang bagaimana beragam fenomena geologi tersebut dapat terjadi.

 Sejarah Museum Geologi sangat erat kaitannya dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia yang telah dimulai sejak tahun 1850. Lembaga yang mengkoordinasikan penyelidikan geologi pada waktu itu adalah “Dienst van het Mijnwezen”. Pada 1922 penyelidikan geologi semakin meningkat sehingga terjadi re-organisasi, “Dienst van het Mijnwezen” menjadi “Dienst van den Mijnbouw”. Museum Geologi yang dibangun selama 11 bulan dengan biaya sebesar 400.000 Gulden dan melibatkan pekerja sebanyak 300 orang, telah diresmikan penggunaannya sejak 16 Mei 1929 pada saat pembukaan gedung “Dienst van den Mijnbouw” yang bertepatan dengan pembukaan kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik ke-IV yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung. Museum Geologi hingga kini terus berbenah dan berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi geologi. Bangunan yang awalnya didesain untuk laboratorium dan ruang kerja, kini telah beralih fungsi secara bertahap sebagai museum yang memamerkan hasil-hasil kegiatan penyelidikan dan penelitian geologi di Indonesia. Gaya arsitektur “art deco” yang didesain oleh Ir. Menalda van Schouwenburg dan dibangun oleh Lim A Goh, merupakan campuran unsur dekoratif kuno dan fitur arsitektur modern yang sangat terkenal pada abad 19. Keberadaan bangunan Museum Geologi sejak didirikannya hingga sekarang, tetap tidak berubah, karena merupakan salah satu dari 100 Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung yang harus dilindungi kelestariannya.

 Penataan peragaan di Museum Geologi mengalami perubahan skenario sejak direnovasi pada tahun 1998-2000 dengan bantuan hibah dari pemerintah Jepang melalui JICA sebesar 754,5 juta Yen. Begitu memasuki pintu utama, pengunjung akan berada pada ruang orientasi yang merupakan sarana pengenalan awal. Ruangan di lantai 1 ini mengupas tentang geologi dasar yang dibedakan antara geologi fisik di ruang sayap barat yang dinamakan “Geologi Indonesia” dimana sebagian besar koleksinya berupa batuan dan mineral, sedangkan kupasan geologi sejarah di ruang sayap timur yang dinamakan “Sejarah Kehidupan” menampilkan sebagian besar koleksi fosil. Selanjutnya untuk meningkatkan pemahaman di lantai 2 disajikan pemahaman aplikasi geologi dalam kehidupan manusia dengan tema “Geologi dan Kehidupan Manusia”.

RUANG GEOLOGI INDONESIA
Peragaan diawali dengan proses terjadinya bumi dan planet-planet lain dalam tata surya keluarga matahari menurut teori kabut (nebular hypothesis). Di sini dipamerkan beberapa koleksi meteorit yang merupakan batuan luar angkasa yang jatuh ke bumi, beserta tektit yang terbentuk sesaat setelah terjadinya tubrukan antara meteorit dengan lapisan kerak bumi.

 Selanjutnya digambarkan tentang perkembangan kepulauan Indonesia sejak 50 juta tahun lalu hingga sekarang dalam bentuk animasi menurut teori tektonik lempeng. Teori ini merupakan kunci untuk memahami berbagai proses dan fenomena geologi yang terjadi di bumi kita termasuk di Indonesia, mengingat keberadaan kepulauan Indonesia yang terletak di antara 3 lempeng tektonik yaitu Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia.

 Fenomena dan gejala geologi utama dari masingmasing pulau besar di Indonesia dijelaskan di sini. Sumatera dengan sesar besarnya yang memanjang
dari Aceh hingga Lampung. Kalimantan yang memiliki sungai-sungai besar dengan delta Mahakamnya. Jawa dan Nusa Tenggara dengan goa kars dan gunungapinya. Sulawesi dengan bentuknya yang khas menyerupai huruf “k”. Papua dengan gunung Jayawijayanya yang selalu diselimuti salju meskipun
berada di daerah tropis.

Ruang khusus yang melengkapi Geologi Indonesia adalah Ruang Dunia Batuan dan Mineral yang menampilkan berbagai jenis batuan dan mineral,
termasuk batumulia (gemstone). Ruang Survei Geologi yang menunjukkan berbagai kegiatan geologi di lapangan maupun di studio/laboratorium berikut peralatan dan hasilnya. Ruang Gunung Api Indonesia yang memajang hasil aktivitas gunung api serta informasi 129 gunung api aktif yang ada di Indonesia yang dilengkapi dengan maket G.Bromo- Semeru, G.Batur, G.Anak Krakatau, G.Merapi dan G.Tangkubanparahu.

museum2RUANG SEJARAH KEHIDUPAN
Ruang peragaan ini menggambarkan perkembangan kehidupan di muka bumi sejak kelahiran bumi 4,6 milyar tahun lalu, terbentuknya litosfer, atmosfer dan hidrosfer sekitar 3,8 milyar tahun lalu, munculnya kehidupan awal berupa mikroorganisme sejenis ganggang & bakteri sekitar 3,5 milyar tahun lalu yang berlangsung selama masa Pra- Kambrium. Selanjutnya perkembangan kehidupan dari zaman ke zaman selama masa kehidupan purba (Paleozoikum) meliputi zaman Kambrium, Ordovisium, Silur, Devon, Karbon, hingga Perem menggambarkan kehidupan yang semula berawal dari dalam lautan kemudian bermigrasi ke daratan, yang semula didominasi oleh kehidupan invertebrata, kemudian berkembanglah vertebrata mulai dari ikan, amfibi, hingga reptil. Pada masa pertengahan (Mesozoikum) yang meliputi zaman Trias, Jura dan Kapur, berkembang di muka bumi ini hewan- hewan reptil yang umumnya berukuran raksasa sehingga dikenal sebagai masanya Dinosaurus. Sejak dinosaurus dan hewan-hewan yang lain punah pada 65 juta tahun lalu, mulailah berlangsung masa sekarang (Kenozoikum) yang dibagi menjadi zaman Tersier dan Kuarter. Pada masa ini hewan-hewan yang muncul sebagian besar terus berkembang hingga sekarang, seperti gajah, badak, sapi, kerbau, kuda, rusa, kudanil, harimau, kera, kura-kura dan lain-lain. Bagian ini diakhiri dengan sejarah Danau Bandung purba yang bernama Situ Hiang dan berbagai fosil yang ditemukan di wilayah Bandung.

Ruang khusus yang melengkapi Sejarah Kehidupan adalah ruang Manusia Purba (Hominid) yang memajang berbagai replika fosil manusia purba di Indonesia dan di dunia.

RUANG GEOLOGI DAN KEHIDUPAN MANUSIA
Ruangan di lantai 2 menyuguhkan kaitannya geologi dengan kehidupan manusia baik dari sisi positif maupun negatifnya. Banyak sekali manfaat geologi
bagi kehidupan manusia sejak zaman purba hingga sekarang. Manusia purba sudah memanfaatkan batuan dan mineral dalam kehidupannya dengan teknologi sesuai zamannya. Sekarang manusia modern lebih banyak memanfaatkan berbagai benda dan peralatan yang berasal dari batuan dan mineral dalam kehidupan sehari-harinya yang merupakan hasil pertambangan yang diperoleh melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Selain manfaat, dijelaskan juga dampak atau bencana yang dapat ditimbulkan oleh proses geologi seperti gempabumi, tsunami, gunung meletus dan gerakan tanah (tanah longsor) yang perlu diwaspadai bersama.

Ke depan Museum Geologi berencana mengembangkan ruang peragaan baru di lantai 2 sayap barat dengan tema Sumber Daya Geologi yang akan mengupas berbagai jenis potensi sumber daya mineral dan energi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Sumber daya mineral meliputi berbagai mineral logam dan non-logam, termasuk batumulia. Sumber daya energi meliputi energi konvensional seperti minyakbumi, gas bumi dan batubara serta energi terbarukan seperti panasbumi. Termasuk juga potensi sumber daya air tanah yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia.

 OUTDOOR EXHIBITION
Di beberapa sudut strategis di halaman depan terpajang koleksi fosil kayu dan batuan sebagai ornamen dan penciri wajah Museum Geologi. Salah satu ikon adalah Taman Siklus Batuan, taman yang dibangun di halaman depan Museum Geologi yang dikemas sebagai tempat istirahat sekaligus sarana belajar mengenal batuan. Disini dipajang berbagai jenis batuan baik beku, sedimen maupun metamorf dalam susunan menurut siklus batuan yang proses perubahannya digambarkan dengan arah anak panah. Di sekitarnya dihiasi dengan tanaman fosil hidup jenis paku-pakuan dan kolam air mancur. Taman ini dilengkapi dengan kolam pasir penggalian fosil interaktif sebagai sarana belajar sambil bermain bagi anak-anak untuk mengenal cara kerja ahli
paleontologi dalam melakukan penggalian (ekskavasi) fosil vertebrata, mulai dari pencarian, pengumpulan, penamaan bagian-bagian tulang hingga rekonstruksi fosil.

FUNGSI MUSEUM GEOLOGI
Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, fungsi Museum Geologi pun ikut berkembang. Sebagai sarana edukatif, Museum Geologi berfungsi memberikan edukasi tentang geologi secara populer kepada masyarakat, apalagi 85% pengunjung museum berasal dari kalangan pelajar. Sedangkan sebagai sarana informatif, Museum berperan sebagai jendela sekaligus portal yang memberikan informasi seputar museum dan geologi, baik di dunia nyata maupun maya. Lebih dari itu, Museum yang menyimpan dan merawat puluhan ribu koleksi batuan dan fosil ini,
juga berfungsi sebagai sarana penelitian bagi para ahli dan mahasiswa. Selain itu, museum juga memiliki fungsi kultural yang menyimpan data dan informasi sejarah perkembangan Iptek di bidang kegeologian. Tentunya sebagai salah satu objek wisata, Museum Geologi juga berfungsi sebagai sarana rekreatif dan objek wisata bagi masyarakat umum.

museum3KOLEKSI FAVORIT
Dari sekitar 2000 koleksi yang dipajang, beberapa diantaranya banyak diminati oleh pengunjung, yaitu fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus, gajah yang memiliki kepala berbentuk trigonal, merupakan spesies khas yang hidup di pulau Jawa sejak Kala Plistosen (1,8 juta tahun lalu). Begitu juga dengan fosil kerbau purba Bubalus palaeokerabau, badak purba Rhinoceros sondaicus, kudanil purba Hippopotamus sivalensis dan kura-kura raksasa Megalochelys cf. sivalensis.

Replika Fosil Dinosaurus, Tyrannosaurus rex, tulang belulang hewan raksasa ini merupakan favorit anak-anak, karena popularitasnya sudah mendunia dengan sebutan “T-rex”. Hewan ini pernah hidup dan menguasai daratan pada 100-65 juta tahun yang lalu, jauh sebelum adanya manusia.

 Replika Fosil Manusia purba, Homo erectus, S.17 (P.VIII), merupakan fosil manusia purba yang ditemukan di Sangiran, Jawa yang dikenal dengan sebutan “Java Man”. Ini adalah fosil tengkorak manusia purba terlengkap di Indonesia, karena selain bagian tempurung tengkorak juga masih ada tulang wajah dan sebagian gigi.

Koleksi Meteorit yang banyak diminati adalah meteorit Jati-Pengilon yang merupakan meteorit batu yang jatuh di antara desa Jati dan Pengilon, Madiun dengan berat awal 156 kg. Kemudian meteorit besi yang juga diminati adalah meteorit Namibia, Afrika yang meskipun ukurannya sedang tetapi sangat berat.

Koleksi Batumulia (Gemstone), beberapa diantaranya memiliki daya tarik tersendiri. Yang paling favorit diantaranya adalah batu kecubung (amethyst) yang berwarna ungu mengkilap dan kristal kuarsa yang berwarna putih berkilau.

Stalaktit dan Stalagmit, juga menarik perhatian pengunjung. Mineral kalsit yang biasa terbentuk di atap dan lantai gua kapur ini sengaja diposisikan satu menggantung (stalaktit) dan satu berdiri (stalagmit) untuk menggambarkan posisi sebenarnya sebagaimana di dalam gua.

Berbagai fosil kayu dari lokasi yang berbeda, dipajang di halaman depan Museum Geologi dalam bentuk monumen yang memberikan kesan tersendiri bagi pengunjung dan sebagai ciri khas Museum Geologi.

Taman Siklus Batuan, disusun sesuai dengan diagram siklus yang melingkar dan menunjukkan hubungan proses yang terjadi antara batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. Dimana masing-masing diwakili oleh 7-8 contoh batuan yang disusun sedemikian rupa yang dilengkapi dengan kolam pasir untuk praktek penggalian fosil interaktif bagi anak-anak.

museum4AKTIVITAS MUSEUM GEOLOGI
Selain kegiatan pameran tetap dan temporer yang terdapat di Museum Geologi, baik di dalam maupun di luar gedung, Museum juga aktif melakukan kegiatan pameran keliling dan pameran bersama institusi terkait dalam even tertentu.

Kegiatan penyuluhan dilakukan kepada guruguru geografi di sekolah-sekolah yang biasanya diikuti dengan kegiatan ekskursi berupa peninjauan ke lapangan untuk mengenal lebih dekat bagaimana kondisi geologi yang sesungguhnya.

Selain itu, Museum Geologi secara rutin melakukan kegiatan penyelidikan dan kajian di lapangan untuk mengumpulkan koleksi-koleksi baru melalui kegiatan survei dan ekskavasi (penggalian) serta inventarisasi warisan geologi (geoheritage).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>