Intan Martapura-87

Intan Martapura Selamanya dari Meratus

Kars-Sawarna-72

Kars Sawarna yang Rentan di Kubah Bayah

05/02/2015 Comments (0) Esai Foto

Jatigede Sesambang Kenang Sebelum Digenang

Jatigede-1
Jatigede-1

Tubuh utama bendungan difoto dari arah dalam. Foto: Ronald Agusta

Jatigede. Nama yang selalu menggetarkan. Sejarahnya panjang sejak zaman Belanda hingga kini ketika poros bendungan telah dibangun, namun lahannya belum direndam. Masih ada masyarakat yang tinggal di calon daerah genangan. Masih tampak keruh air sungainya. Di hulu, banyak bukit gundul, namun terhampar pula pesawahan nan hijau di penghujung musim kemarau. Angin berdesir lembut, udaranya sejuk.

Poros waduk Jatigede terletak di Desa Cijeungjing, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Selayang pandang kami menyambangi poros dan daerah yang akan tergenang. Perjalanan untuk mengambil kenangan geologi, sebelum bendungan digenangi, kami sebut, “sesambang kenang, sebelum digenang”.

Poros bendungan merentang di celah sempit, di antara dua bukit, pada koordinat 108o5’45”BT dan 6o51’30”LS, panjang 1,715 km dan lebar mercu 12 m. Sekitar 500 meter di depan-kiri poros, berdiri mendinding, tegak hampir 90o, Pasir Paregreg. Inilah  bukit bukti sesar normal berarah utara-selatan, dan disusun oleh batuan breksi vulkanik. Demikian menurut Dr. Ir. Iyan Haryanto, MT dari Unpad, narasumber perjalanan kami.

Ke kantor manajemen, pertama kami datang. Di sana, terpampang penjelasan. Waduk Jatigede dibangun untuk pembangkit listrik sebesar 110 MW (produksi rata-rata: 690 GWH/tahun), penyedia airirigasi untuk 90.000 Ha sawah dan air baku untuk 100.000 KK, pengendali banjir (14.000 Ha), dan pariwisata. Ini semua umumnya untuk daerah hilir, beberapa di antaranya untuk hulu juga, sesuai tabiat sebuah bendungan.

Jatigede-2

Saluran pelimpah (spillway) utama bendungan dilihat dari atas poros bendungan, tampak gawir sesar di sebelah kiri arah aliran sungai. Foto: Oman Abdurahman.

Tujuan besar itu diandalkan pada DAS Ci Manuk yang memiliki luas 1.462 km2 dan volume air tahunan 2,5 x 109 m3. Untuk itu, aliran Ci Manuk dibendung di Jatigede. Tinggi bendungan maksimum 110 m, luas permukaan air waduk pada elevasi 262 m di atas muka laut (EL.+262,0 m) ditargetkan sebesar 41,22 km2, volume efektif sebesar 877 x 106 m3, dan debit rata-rata 73 m3/detik.

Ci Manuk mengular sejak dari hulunya, gununggunung di Garut, dengan sumber air utama berasal dari Puncakgede, kompleks Gunung Papandayan. Sungai ini mengalir hingga ke muaranya di pantai Indramayu, menjelajahi wilayah Priangan bagian tengah-timur. Panjang sungai utama sekitar 180 km, sedangkan total panjang sungai dan anak sungainya mencapai 4.544,44 km. Sungai yang masih banyak dihuni oleh ikan alami yang khas ini, fluktuasi airnya sangat tinggi. Erosinya juga tinggi. Koefisien Rezim Sungai (KRS) ini tercatat 251 (idealnya <50). Artinya, di musim hujan terjadi limpasan air yang besar atau banjir (Qmax mencapai 1.004 m3/detik); sedang di musim kemarau aliran air sangat kecil atau kekeringan (Qmin mencapai 4 m3/detik). Menurut beberapa sumber, luas lahan kritis di Cimanuk Hulu mencapai 8.057 hektare; sedangkan erosi di DAS Cimanuk mencapai 2.939.889 ton/ha/tahun, sangat tinggi. Semoga teknologi dapat menanganinya.

Jatigede-3

Petani masih bisa panen di musim kemarau di daerah yang akan tergenang, Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja. Foto: Oman Abdurahman.

Kami berjalan di poros bendungan yang sedang dipercantik. Terasa badan bergetar, mungkin tak biasa di ketinggian. Dari atasnya, memandang ke arah hulu, tampak Ci Manuk mengalir pelan, airnya kecil, karena kemarau. Di kiri kanan hutan campuran menghijau. Sebuah bukit atau gunung kecil, Gunung Surian, namanya, terlihat tegar, hutan lebat menutupinya. Konon, jika nanti daerah genangan Jatigede direndam, separuh bukit ini akan berada dalam air, separuhnya lagi menjadi pulau

Kami tentu saja tak melewatkan Ci Nambo. Anak sungai Ci Manuk ini sangat dikenal di kalangan ahli geologi atau geologiwan. Inilah alasan utama kami berkunjung ke Jatigede. Ka

Jatigede-13

Pesawahan yang subur, bahkan di musim kemarau, di Cisurat, Wado perbatasam dengan Darmaraja, Sumedang, daerah yang akan tenggelam bila Jatigede sudah direndam. Sungai Ci Manuk berada di sebelah kiri jalan raya. Foto: Oman Abdurahman.

wasan ini adalah laboratorium alam untuk bidang geologi. Sepanjang sungai, dari muaranya hingga beberapa ratus meter ke hulu, selepas jembatan tua, terhampar Formasi Cinambo yang khas. Di sini hadir singkapan geologi yang merekam jejak sedimen laut dalam, turbidit, berumur jutaan tahun yang lalu, lengkap dengan struktur geologinya. Kehadirannya telah memuaskan dahaga para murid kebumian, mengantar para mahasiswa, lulus tingkat sarja, pascasarjana, bahkan doktor.

Di Nusa Sari, sebelum belokan ke Wado yang akan terendam, kami merenungkan perjalanan sebelumnya di lembah Cisurat, Darmaraja. Pesawahan yang hijau di kiri kanan jalan raya yang kami lewati juga akan tenggelam. Bendungan ini akan menghidupkan sawah di hilirnya, di kawasan pantura bagian timur. Semoga pesawahan yang akan datang itu sehijau di Cisurat.

“Tata Titi, Duduga Peryoga” tertera di pintu masuk ke Situs Prabu Guru Aji Putih yang berusia sekitar 1.100 tahun. Letaknya di daerah yang akan tergenang, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Sumedang. Sang Guru, seakan sudah tahu. Ia menasihati masyarakat Sumedang, khususnya Cipaku dan sekitarnya, agar tetap tegar dalam menghadapi ujian besar, saling tolong-menolong, saling menguatkan, dan bertindak dengan penuh kehati-hatian.

Pepatah itu juga mengingatkan, bahwa dalam mengelola alam, semestinya kita tarapti atau tidak tergesa-gesa dalam memutuskan sesuatu, dan santun dalam melaksanakan suatu keputusan. Segala sesuatunya dipikirkan matang-matang baikburuknya, sehingga memberikan manfaat yang besar, dengan tidak menimbulkan banyak masalah, apalagi penyesalan di kemudian hari. Jatigede akan membuktikan semua itu. ( Oman Abdurahman)

Penulis adalah pemimpin redaksi Majalah Geomagz.

Jatigede-5

Aliran Ci Manuk dan gununggunung tempat sumber-sumber airnya di Garut. Foto: Ronald Agusta.

Jatigede-6

Panorama dari menara kontrol ke daerah genangan, tampak Gunung Surian yang nantinya, sebagian tubuhnya, akan menjadi pulau. Foto: Oman Abdurahman.

Jatigede-7

Sesar naik Cinambo berarah barattimur dengan kemiringan ke arah selatan, hanging wall di sebelah selatan ditandai dengan lipatan seret (dragfold) yang tak simetri menunjukkan struktur lipatan terbentuk lebih dahulu kemudian diikuti oleh sesar naik. Foto: Oman Abdurahman.

Jatigede-8

Struktur dragfold pada dasar sungai Ci Nambo. Foto: Oman Abdurahman.

Jatigede-10

Struktur lapisan batuan sedimen yang tegak akibat terlipatkan dan mengalami sesar naik di tepi Ci Nambo. Foto: Oman Abdurahman.

Jatigede-9

Struktur lapisan batuan sedimen yang tegak karena terlipatkan dan mengalami sesar naik serta tererosi pada dasar sungai Ci Nambo. Foto: Oman Abdurahman

 Jatigede-14

Jatigede-11

Struktur lapisan batuan sedimen yang tegak karena terlipatkan dan mengalami sesar naik serta terosi aliran sungai di dasar sungai Cinambo. Foto: Oman Abdurahman.

 Jatigede-12
 Jatigede 046

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>