Aliran lava produk letusan 2015 G. Baru Jari. Foto: Ujang Kurdiawan

Rinjani Dari Evolusi Kaldera hingga Geopark

Letusan Gunung Raung 25 Juli 2015. Foto: Hendra Gunawan

Ketika Raung Kembali Meraung

04/04/2016 Comments (1) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Jangan Lupakan Samalas

Citra satelit kaldera Rinjani, kaldera yang
terbentuk setelah Gunung Samalas (Rinjani
Tua) meletus. Sumber: CRISP NUS.
Citra satelit kaldera Rinjani, kaldera yang terbentuk setelah Gunung Samalas (Rinjani Tua) meletus. Sumber: CRISP NUS.

Citra satelit kaldera Rinjani, kaldera yang
terbentuk setelah Gunung Samalas (Rinjani
Tua) meletus. Sumber: CRISP NUS.

Pada abad pertengahan, Eropa dan sebagian Asia dilanda perubahan iklim yang sangat drastis. Pada tahun 1258, tercatat secara umum Eropa dilanda musim dingin yang sangat hebat. Kabut kering menerpa Prancis, gerhana bulan terjadi di Inggris, musim semi yang keras di utara Islandia, terjadi kelaparan di Inggris, Jerman Barat, Prancis, utara Italia. Akibatnya wabah atau sampar pun menyebar ke London, sebagian Prancis, Austria, Irak, Suriah, dan tenggara Turki.

Orang-orang yang melek tulisan pun memberi kesaksiannya. Mengenai kejadian di Prancis, Jerman Barat, dan utara Italia kita mendapatkan keterangannya dari Notae Constantienses (Tahun 1260), Chronican Saviginiacensis (1300), Annales Spirenses (1259) dan dari Girard de Fracheto (1271). Sementara dari Inggris ada keterangan dari Matthew Paris (1259) dan John de Taxter (1265).

Khusus mengenai Matthew Paris (c. 1200-1259), ia dikenal sebagai rahib Benediktin, penulis kronik, ilustrator naskah dan pembuat peta, dan tinggal di St Albans Abbey, Hertfordshire, Inggris. Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Chronica Majora (1259), naskah berbahasa Latin berisi kronik dari awal mula dunia hingga catatan 1259, saat Matthew meninggal.

Khusus mengenai Matthew Paris (c. 1200-1259), ia dikenal sebagai rahib Benediktin, penulis kronik, ilustrator naskah dan pembuat peta, dan tinggal di St Albans Abbey, Hertfordshire, Inggris. Salah satu karya tulisnya yang terkenal adalah Chronica Majora (1259), naskah berbahasa Latin berisi kronik dari awal mula dunia hingga catatan 1259, saat Matthew meninggal.

Apalagi kemudian ternyata, pada penggalian arkeologi Inggris yang dilakukan antara 1991–2007 di situs tempat rahib Augustinian dan rumah sakit St Mary Spital, Spitalfields Market, London E1, para arkeologi menemukan lebih dari 10.500 kerangka manusia. Laporan Museum of London Archaeology (MOLA) menyatakan, kuburan massal tersebut merupakan korban kelaparan yang terjadi pada tahun 1258.

Membaca keterangan tersebut di atas, diperoleh bahwa itu semua sama-sama menyatakan peran aktivitas gunung api yang mempengaruhi iklim dunia. Mekanismenya, letusan gunung api menyebarkan kandungan belerang yang berubah menjadi partikel sulfat mikroskopis di atmosfir yang tinggi sehingga membiaskan cahaya matahari mempengaruhi pendinginan suhu udara di bumi dapat bertahan selama beberapa bulan ataupun tahun.

Naskah Babad Lombok yang ditulis di atas daun lontar. Foto: Heryadi Rachmat

Naskah Babad Lombok yang ditulis di atas daun lontar. Foto: Heryadi Rachmat

Misteri Letusan 1258
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan alam, jejak rekam kimia glasial (glaciochemical) memberikan perkiraan aerosol sulfat gunung api yang terkandung dalam stratosfer serta berasosiasi dengan letusan gunung api dan telah digunakan untuk menaksir respons sistem Bumi terhadap kegunungapian. Jejak rekam inti es yang beresolusi tinggi telah pula mengungkap letusan-letusan gunung api yang signifikan tetapi tidak diketahui asal gunung apinya.

Dalam kaitannya dengan jejak rekam itu, sejak tiga dasawarsa lalu telah terungkap adanya sulfat vulkanik yang terkunci dalam sampel inti es yang diambil dari Greenland dan Antartika. Pada 1980, Hammer dan kawan-kawan menyatakan dalam tulisannya (“Greenland Ice Sheet Evidence of Post- Glacial Volcanism and its Climatic Impact”), salah satu yang terkunci itu adalah jatuhan aerosol yang tiba di kutub sejak 1258. Kemudian pada 1988, dalam Annals of Glaciology, Langway J.R., Clausen dan Hammer, mengukur keasaman ion sulfat di beberapa stasiun di Greenland dan Antartika, pada kedalaman yang berkorespondensi dengan tahun 1259. Dalam kajian mengenai anomali di inti es inilah, Langway dkk mulai memunculkan misteri letusan 1258 (Unknown 1258). Sebagian peneliti lain memberikan rentang waktu antara 1257-1259, sehingga ada juga yang menyebutkannya sebagai “misteri 1257”.

Namun, selama tiga dasawarsa itu, identifikasi terhadap gunung api yang “bertanggung jawab” pada letusan abad pertengahan itu tetap tidak terjawab atau tidak menentu. Ada yang menyangka berasal dari Gunung Oktaina (Selandia Baru), Gunung El Chichon (Meksiko), Gunung Quilota (Ekuador), Gunung Harrat Rahat dan Hara es Sawad di Saudi Arabia (pada 1256 dan 1270-an). Bahkan gunung api di sekitar Samudra Pasifik, diajukan sebagai jawaban atas misteri 1258 atau misteri 1257 itu.

Selanjutnya, penelusuran dan penelitian mendalam yang telah dilakukan berbagai ahli akhirnya mengerucut pada sebuah gunung di Indonesia, yang bahkan mungkin tidak begitu dikenal oleh orang Indonesia pada umumnya. Pada tahun 2013, terbit tulisan bertajuk “Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia”.

Tulisan yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) vol. 110 no. 42 disusun oleh 15 ahli gunung api dunia. Dari Indonesia yang terlibat adalah Indyo Pratomo, geolog dari Badan Geologi Bandung, Danang Sri Hadmoko dari Geografi Universitas Gadjah Mada dan Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sedangkan dari luar negeri yang terlibat meliputi 12 ahli dari berbagai kampus ternama di Eropa, di antaranya Frank Lavigne dari Université Panthéon-Sorbonne, Jean-Philippe Degeai dari Université Montpellier, Clive Oppenheimer dari University of Cambridge, Inggris, dan sejumlah ahli lainnya.

Endapan berlapis produk awan panas akibat letusan sekunder Gunung Samalas di Pantai Luk. Foto: Heryadi Rachmat

Endapan berlapis produk awan panas akibat letusan sekunder Gunung Samalas di Pantai Luk. Foto: Heryadi Rachmat

Sebagaimana yang tersurat dalam judulnya, tulisan ini menyatakan bahwa sumber letusan misterius pada abad pertengahan itu berasal dari bagian Kompleks Gunung Api Rinjani, Indonesia.

Mengenai penelitian Rinjani yang mendekati sebagaimana yang dilakukan oleh Franck Lavigne, pernah dilakukan oleh Akira Takada & kawan-kawan dan disampaikan, antara lain, pada pertemuan IAVCEI tahun 2003 (“The volcanic activity of Rinjani, Lombok Island, Indonesia during the last ten thousand years, viewd from 14C age datings”). Di situ ada pernyataan bahwa “Penanggalan 14C mengindikasikan bahwa klimaks letusan yang membentuk kaldera itu terjadi pada periode abad ke-13”.

Sementara data yang berhasil dikumpulkan dan dianalisis oleh Franck Lavigne dkk. berupa data stratigrafi dan geomorfologi, vulkanologi fisik,
penanggalan radiokarbon, geokimia tefra, dan kronik. Menurut hasil penelitiannya, Franck dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa letusan gunung api di sekitar Kompleks Rinjani ini lebih besar dibandingkan letusan Gunung Tambora 1815.

Letusan tersebut melepaskan 40 kilometer kubik abu ke angkasa hingga setinggi 43 kilometer, yang terus mengelilingi bumi beberapa lama. Total magma yang dilepaskannya sebesar 40,2 ± 3 km3 DRE (Dense Rock Equivalent atau kesetaraan volume batuan yang dierupsikan). Dengan volume itu, diperkirakan letusannya bermagnitudo 7. Perbandingan geokimia pecahan gelas yang ditemukan di inti es dengan material hasil letusan tahun 1257 menunjukkan kemiripan, sehingga menjadi rujukan yang memperkuat hubungan letusan tahun 1257. Dengan demikian, letusan ini menjadi salah satu letusan terbesar selama holosen hingga menyebabkan anomali iklim pada 1258, utamanya di belahan utara bumi.

Babad Lombok Menguak Samalas
Soalnya kemudian, gunung apakah yang menyebabkan letusan dahsyat tersebut? Adakah sumber-sumber tertulis dari pribumi yang mengisahkan letusan tersebut? Menurut Franck Lavigne, untuk menjawab pertanyaan itu, ia memutuskan pergi ke Leiden, Belanda, tempat yang menyediakan dokumentasi
Indonesia di masa lalu, terutama di Perpustakaan KITLV dan Perpustakaan Universitas Leiden.

Pencariannya membuahkan hasil, terutama dengan “ditemukannya” naskah Babad Lombok. Menurut buku Sasak and Javanese Literature (1999) karya Geoffrey Morisson, Babad Lombok memiliki beberapa versi yaitu naskah yang berkode HKS 2502, KITLV 324, LOr. 6442, LOr. 6621, LOr. 10,667, LOr. 11,153, dan LOr. 10,296 dan LOr. 13,90. Sementara yang ada di Perpustakaan Nasional berkode Bd Codex 395.

Jejak letusan paroksisma Gunung Rinjani Tua (Samalas) abad ke13. Foto: Heryadi Rachmat

Jejak letusan paroksisma Gunung Rinjani Tua (Samalas) abad ke13. Foto: Heryadi Rachmat

Dari naskah yang berisi mengenai tambo sejarah Lombok sejak Nabi Adam hingga kondisi politik di Lombok pada sekitar periode lahirnya naskah babad, yaitu abad ke-18, terutama yang telah ditransliterasi dan ditranskripsi oleh Lalu Wacana (1979), Franck menemukan nama Samalas. Nama ini merujuk kepada gunung api yang berbarengan meletus dengan Rinjani, sesuai dengan kutipan naskahnya.

Antara lain, kutipan tersebut berbunyi: “Gunung Renjani kularat, miwah gunung samalas rakrat, balabur watu gumuruh, tibeng desa Pamatan, yata kanyut bale haling parubuh, kurambangning sagara, wong ngipun halong kang mati” (Gunung Rinjani Longsor, dan Gunung Samalas runtuh, banjir batu gemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, rumah-rumah rubuh dan hanyut terbawa lumpur, terapung-apung di lautan, penduduknya banyak yang mati).

Menurut perhitungan Franck dan kawan-kawan, Gunung Samalas yang menyebabkan terbentuknya Danau Segara Anak itu diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 4.200 m. Dan bila merujuk hasil rekonstruksi sebelum letusannya, Gunung Samalas berada di bagian barat Segara Anak.

Soalnya kemudian, bagaimana implikasi penelitian ini untuk di Indonesia? Menurut Indyo Pratomo (2013), yang menjadi salah satu penulis makalah dalam PNAS itu, temuan Gunung Samalas berimplikasi terhadap disiplin kegunungapian dan mitigasi bencana, serta memberikan peluang penelitian baru di bidang arkeologi hingga sejarah Nusantara pada masa lalu.

Temuan ini, lanjut Indyo, membuka kembali ideide penelitian tentang karakteristik letusan besar di kawasan itu, sehingga paling tidak dalam 1.000 tahun ke belakang harus diteliti karena kemungkinan akan berulang. Letusan Samalas ini menjadi tantangan untuk meneliti lebih lanjut pola migrasi kerajaan, kebudayaan, dan populasi penduduk di kawasan tersebut di masa lalu. Misalnya, ia menyebutkan mengenai dampak letusan Samalas pada melemahnya kerajaan di kawasan timur Indonesia dan mempengaruhi penyerbuan Kertanegara Raja Singosari, ke Bali pada 1284. Makanya, jangan lupa kepada Samalas.(Atep Kurnia)

*Penulis, peminat kebumian, tinggal di Bandung. Tulisan ini diilhami dari beberapa kali perbincangan dengan narasumber ahli gunung api Indyo Pratomo di Museum Geologi Bandung juga dengan Prof. Franck Lavigne pada saat kunjungan beliau ke Puslit Geoteknologi, LIPI Bandung.

One Response to Jangan Lupakan Samalas

  1. ACT says:

    Artikelnya sangat bagus mengenai pengetahuan tentang geologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>