bawah-jakarta-18

Ancaman dari Bawah Jakarta

angkasa-19

Mengamati Letusan Kelud dari Angkasa

07/05/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Jalur Metalogeni Indonesia

Untitled-40

Untitled-40Indonesia merupakan bagian dari jalur Metalogeni Asia (Jalur Timah Asia) dan Jalur Metalogeni New Guinea (Tembagapura Porfiri). Jalur-jalur yang termasuk wilayah Sundaland itu terbentuk pada puluhan juta tahun yang lalu (tyl), yaitu Mesozoikum (250 – 65 juta tyl) dan pascamesozoikum pada pinggiran Benua Eurasia. Sementara Jalur Timah Bangka terbentuk pada Triass- Kapur (Mesozoikum) dan Jalur Au-Cu Papua pada Pliosen-Pleistosen (kl. 5,5 juta – 55.000 tyl).

Keberadaan jalur metalogeni ini memang berkaitan dengan evolusi tektonik regional Indonesia. Evolusi ini terpaut erat dengan sejarah tumbukan tiga lempeng (Eurasia, Pasific, Hindia-Australia), yang bercirikan pemekaran, perkembangan busur kepulauan dan lempeng mikro, penyatuan lempeng mikro dengan Eurasia, subduksi kerak samudera, dan juga benturan (collision atau kolisi) antara lempeng benua, kolisi benuabusur kepulauan dan underthrusting kerak benua.

Jalur Metalogeni
Jalur metalogeni adalah jalur-jalur wilayah tempat terbentuknya mineral logam. Adapun yang pertama kali memperkenalkan jalur metalogeni Indonesia adalah Jan Westerveld. Orang Belanda ini menulis “Phases of mountain building and mineral provinces in the East Indies” (1952) yang dimuat dalam International Geological Congress “Report of the Eighteenth Session Great Britain 1948”, part 13.

Dalam tulisannya, Westerveld menunjukkan bahwa jalur metalogeni berkaitan dengan setiap orogen (pembentukan pegunungan) yang terjadi. Di Indonesia sendiri dikenal empat orogen, yaitu Malaya, Sumatra, Sunda, dan Maluku. Westerveld-lah yang menerbitkan peta jalur magmatisme Indonesia dalam kaitannya dengan keterdapatan mineral logam.

Setelah Westerveld, beberapa pakar mengembangkan jalur dengan versi lain seperti Katili (1973, 1979), Hutchinson (1978), Hamilton (1979), Djumhani (1986), Yaya Sunarya (1990), Sukirno (1995), Carlile & Mitchell (1994), van Leeuwen dkk (1994), Sukamto dkk (2003), Harahap dkk (2011), dan Harahap dkk (2013).

Untuk menyediakan data mineral logam atau metal, mutlak diperlukan adanya Peta Metalogeni. Peta ini menggambarkan sebaran dan genesis mineral logam terkait dengan kondisi geologi (litologi, struktur, tektonik, umur, serta jalur magmatik) berskala regional. Di dalam peta tersebut, ada istilah provinsi metalogeni, yaitu daerah yang dicirikan oleh himpunan cebakan mineral tertentu atau oleh lebih dari satu jenis cebakan. Provinsi metalogeni mungkin mengandung lebih dari satu episode cebakan metalogeni.

Peta Metalogeni Indonesia
Di Indonesia, peta metalogeni skala 1:5.000.000 disusun pada tahun 2012-2013 oleh tim kelompok kerja metalogeni Pusat Survei Geologi (PSG) bekerja sama dengan Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG), serta didukung perusahaan BUMN dan swasta yang bergerak di bidang mineral. Selain itu tim yang ikut serta dalam pembuatan peta metalogeni ini adalah IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) melalui MGEI (Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia) dan para akademisi dari ITB (Institut Teknologi Bandung) dan UNPAD (Universitas Padjadjaran).

Tim pembuatan peta metalogeni Indonesia diketuai oleh Bhakti Hamonangan Harahap didukung oleh anggota, yaitu Hamdan Zainal Abidin, Duddy Djumhana, Harry Utoyo, Armin Tampubolon, Prima M. Hilman, Ernowo, Mesker H. J. Dirk, Wahyono, Kaspar Lumban Batu, Rum Yuniarni, dan Purnama Sendjaja.

Di balik penyusunan peta metalogeni Indonesia, ada konsep yang mendasarinya, yaitu melakukan pengeplotan mineral logam baik yang telah ditambang, pascatambang, indikasi mineral ataupun informasi mineral yang pernah dilaporkan baik oleh lembaga pemerintah terkait, perusahan swasta, ataupun lembaga-lembaga kerjasama pemerintah, laporan penelitian maupun tulisan yang diterbitkan. Sementara parameternya meliputi sebaran dan tipe mineral logam, sebaran variasi litologi, arah struktur geologi, jalur tektonik, sebaran umur batuan, jalur mineralisasi.

Dalam proses penyusunan peta metalogeni tim melakukan uji petik di beberapa tempat antara lain Tambang Timah di area PT Timah Bangka, Tambang emas PT Freeport Grasberg Timika Papua. Dan hasilnya peta metalogeni Indonesia ini bersifat dinamis dan akan terus mengalami penyempurnaan terutama dalam skala ukuran, kedetailan informasi, dan parameter yang lebih rinci.

Akhirnya, Peta Metalogeni Indonesia skala 1:5.000.000 serta buku dapat diluncurkan pada tanggal 4 Juni 2013, di Jakarta, bersamaan dengan peluncuran buku Magmatism in Kalimantan. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Badan Geologi R. Sukhyar dan menampilkan dua narasumber, yaitu Sekjen MGEI Arif Zardi Dahlius (“Peta Metalogeni Indonesia Dari Sudut Pandang Geologi Ekonomi”) dan akademisi Teknik Geologi UGM Lucas Donny Setiadji (“Metallogenic Map as Tool for National Mineral Resources Assessment and Sustainable Mining Industry”).

Penulis: Rum Yuniarni, Penyelidik bumi di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>