Gunung-Sewu-1

Gunung Sewu Seribu Keelokan Kars Tropis Warisan Dunia

Jatigede-1

Jatigede Sesambang Kenang Sebelum Digenang

01/09/2014 Comments (0) Esai Foto

Intan Martapura Selamanya dari Meratus

Intan Martapura-87
Intan Martapura-87

Intan Martapura Foto: Ronald Agusta

Pegunungan Meratus dan intan dari Martapura seolah-olah bagaikan dua sejoli yang tidak terpisahkan. Sejak ratusan tahun lalu, dataran Martapura di sisi barat dan barat laut Pegunungan Meratus yang memanjang timur laut – barat daya di Kalimantan Selatan, diadukaduk untuk dicari kandungan intannya. Hingga saat ini intan Martapura memang didapatkan pada endapan aluvial sungai Martapura purba yang berhulu dari Pegunungan Meratus. Memang, selama ratusan tahun penggalian itu, intan Martapura dikenal sebagai intan letakan (placer) yang dibawa bersama-sama sedimen Sungai Martapura. Dahulu, di dataran kaki barat Pegunungan Meratus, penggali intan beratus-ratus, tetapi sekarang tinggal beberapa kelompok pendulang saja

Dari kaitan inilah, para geologiwan berpikir bahwa sudah semestinya sumber primer intan Martapura berasal dari satu tempat di Pegunungan Meratus. Namun, misteri itu belum terpecahkan bahkan hingga saat ini. Dugaan sumbernya dari batuan kimberlit seperti di Afrika Selatan, atau dari lamproit sangatlah kecil karena lingkungan tektoniknya yang tidak sesuai. Berbagai pendapat baru mengarah pada kemungkinan dari jenis basanit, nafelinit, melilitit, leusitit, dan basalt-alkali yang mengikuti model intan yang dihasilkan dari lingkungan subduksi sesuai dengan situasi tektonik Pegunungan Meratus.

Namun keberadaan jenis batuan itu pun belum terbuktikan. Jenis batuan di Pegunungan Meratus adalah dari kompleks ofiolit yang terdiri dari dunit, lerzolit, harzburgit, atau eklogit yang mungkin terdapat di sana.

Apakah jenis batuan ini sebagai batuan pembawa intan? Belum terbuktikan juga, sehingga misteri terus berlanjut. Namun, seperti pepatah ‘intan adalah selamanya’ (diamonds are forever), perburuan intan Martapura tidak pernah sepi. Sekali pun akhir-akhir ini gairah penggalian intan sedikit surut, namun di hati para penggali intan yang tetap bertahan, mimpi mendapatkan intan seperti Intan Trisakti di tahun 1960-an yang menghebohkan itu, masih tetap bersinar. Walaupun tugu peringatan temuan Intan Trisakti kumuh dan tidak terurus, sinaran mimpi para penggali tetap menyala bagaikan kilap intan yang menyilaukan semua orang. Intan adalah selamanya, segalanya.

Penulis Oleh: Budi Brahmantyo

Intan Martapura-88

Galian-galian batu mulia dan intan di Pumpung, Cempaka, Martapura yang mulai berkurang sejalan semakin berkurangnya cadangan batu mulia atau intan letakan (placer) di endapan aluvial Sungai Martapura, sisi barat Pegunungan Meratus yang tampak samar-samar. Foto: Budi Brahmantyo.

Intan Martapura-91

Sungai Martapura yang melewati Kota Martapura ini menjadi sungai yang menjadi agen pembawa batu mulia dan intan dari hulunya di Pegunungan Meratus. Foto: Budi Brahmantyo

Intan Martapura-92

Kesibukan pasar batu mulia di Pasar Martapura. Di antara batu asli, pembeli harus juga jeli dan cermat karena banyak juga batu olahan yang beredar. Namun kuncinya mudah, batu mulia asli biasanya ditawarkan dengan harga mahal. Foto: Budi Brahmantyo

Intan Martapura-93

Batu mulia selain dijual di jongko pasar tradisional, juga didagangkan di toko-toko, bahkan pada showroom yang mewah. Memang, gemstones and diamonds are forever… Foto: Budi Brahmantyo

Intan Martapura-94

Sungai Loksado, salah satu sungai di Pegunungan Meratus di Loksado: banjir bandang telah menghantam fondasi jembatan hingga rusak. Banjir bandang seperti ini pula yang membawa bebatuan terbawa hingga hilir. Di antara sedimen itu bukan tidak mungkin berupa sumber batu mulia, bahkan sekali-kali intan. Foto: Ronald Agusta.

Intan Martapura-95

Sungai Pagatbatu di Barabai dengan dasar batugamping Tersier berlapis, salah satu sungai di Pegunungan Meratus yang di luar jalur intan. Foto: Budi Brahmantyo.

Intan Martapura-89

Menyedot pasir dan batu, menyaring batu mulia sambil berharap keberuntungan menemukan intan. Foto: Ronald Agusta.

Intan Martapura-90

Tugu peringatan temuan intan Trisakti di Pumpung, Cempaka, Martapura yang terbengkalai. Keberadaan intan sebesar telur merpati itu kini entah berada di mana. Foto: Ronald Agusta.

Intan Martapura-96

Ciri Budaya Kini Sisa Letusan Gunung Api Benda-benda penanda budaya masa kini: motor, helm, penanak nasi elektrik, dan termos, tak kuasa melawan terjangan batu dan debu yang dilontarkan Merapi pada 2010. Ciri kemajuan teknologi dari abad ke-20 sisasisa dampak letusan Merapi 4 tahun yang lalu ini ditemukan di Kinahrejo Umbul Harjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Kini tinggalan budaya itu menjadi koleksi Museum Geologi, Bandung. Ciri Budaya Kini Sisa Letusan Gunung Api Foto: Deni Sugandi Teks: Oman Abdurahman

Intan Martapura-97

Pada Sebongkah Andesit Literasi Terbersit Tangan yang mengguratkan aksara pada sebongkah batu menyiratkan ikhtiar manusia untuk menyiasati berlalunya waktu. Hidup yang rapuh dan singkat dalam ruang yang terbatas hendak diteruskan dari satu ke lain generasi, dari abad ke abad. Benda-benda yang tak mudah lapuk dan tak gampang lekang dijadikan prasasti, sebentuk saksi yang memuat isyarat dan amanat. Di belahan timur Jawa Barat, di Ciamis, hingga kini masih dapat kita lihat “Prasasti Kawali V”. Itulah salah satu bukti bahwa bongkahan batu yang pada dasarnya bisu bisa jadi saksi bagi upaya manusiawi untuk menulis dan membaca. Di situ, pada bongkahan andesit, tertera tulisan “Sanghyang Lingga Bingba” dengan aksara Sunda kuna, saksi abadi bagi peradaban Kerajaan Galuh. Batu bertulis ini juga jadi saksi bagi keberaksaraan masyarakat di Nusantara. Selamat Hari Literasi Dunia, 18 September 2014! Foto: Deni Sugandi Teks: Atep Kurnia dan Hawe Setiawan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>