Fumarola Bawah Laut.

Unsur Tanah Jarang di Laut Kita

Untitled-1

Mempertalikan Barelang

27/01/2016 Comments (0) Resensi Buku, Resensi Buku, Uncategorized

Indonesia dalam Lingkaran Api

Untitled-1
Untitled-1

Ring of Fire: An Indonesian Odyssey

“Perjalanan bertualang, entah hanya menikmatinya di rumah ataupun betul-betul langsung berkunjung, lebih tentang apa yang bisa dilihat dalam diri kita, bukan yang bisa dilihat di luar sana. Kita bisa saja berkeliling dunia tetapi tidak melihat apa-apa, atau berkeliaran di taman kita sendiri dan dipenuhi kekaguman akan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya” (Lawrence Blair, 2010).

Bangsa Inggris mungkin mempunyai naluri penjelajahan melebihi pada umumnya bangsa-bangsa lainnya. Penjelajahan itu memang ada yang berakhir dengan penjajahan bangsa yang disinggahinya, tetapi tidak sedikit juga penjelajahan untuk kepentingan sains. Dua contoh menonjol dan terkait penjelajahan mereka di Indonesia yang menghasilkan ilmu pengetahuan adalah penjelajahan Alfred Russel Wallace dan Charles Darwin.

Darwin memang tidak pernah menjejakkan kakinya di Indonesia, mendekatinya pernah dari Samudra Hindia saat dia pulang dari pengembaraannya di Amerika Selatan dan pulau-pulau di Samudra Pasifik, tetapi Darwin ikut meneliti spesies fauna Indonesia yang sampel-sampelnya dikirimkan secara rutin oleh Wallace dari Indonesia, lalu mereka berdua sebenarnya menuju penemuan teori evolusi berdasarkan sampel-sampel itu.

Wallace, kita ketahui sebagai penjelajah Indonesia selama delapan tahun, menempuh jarak 14.000 Untitled-2mil. Namanya abadi di dunia zoogeografi Indonesia sebagai Garis Wallace dan Wilayah Wallacea. Saat berada di Halmahera, ia berkirim surat kepada Darwin, sebuah surat yang membuat Darwin segera menerbitkan teorinya – evolusi, yang sudah sekitar 20 tahun Darwin gumuli sepulang pengembaraannya dari Amerika Selatan dan Pasifik dengan kapal Beagle.

Tulisan ini bukan tentang Darwin dan Wallace, tetapi tentang dua orang Inggris lainnya, kakak beradik Lawrence dan Lorne Blair. Mereka menjelajah Indonesia selama sepuluh tahun, sudah lama terjadi, tahun 1972- 1982. Mereka menulis buku tentang penjelajahan di Indonesia itu (1988, diterbitkan kembali tahun 2010), yang pada Oktober 2012 baru diterjemahkan bukunya oleh Penerbit Ufuk ke dalam bahasa Indonesia dengan judul seperti judul tulisan ini.

Lawrence Blair, sang kakak adalah seorang doktor psiko-antropologi, sedangkan Lorne Blair adiknya adalah seorang sutradara film dokumenter BBC spesialis untuk film-film tentang alam dan budaya wilayah terpencil. Sebagai seorang antropolog yang tertarik dengan penelitian kisah-kisah magis berbagai bangsa di dunia, keahlian dua saudara Blair ini bertemu untuk memilemkan alam dan budaya Indonesia. Jadilah mereka pada tahun 1972 pergi ke Indonesia, mengembara di antara pulau-pulau terpencil di Indonesia, bertemu dengan suku-suku bangsa terpencil dengan budaya dan tradisi magis tersendiri.

Ternyata, pengembaraan kakak beradik di Indonesia ini terjadi berulang kali sampai total memakan waktu sepuluh tahun lamanya. Mereka keluar masuk hutanhutan di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua; berlayar ribuan mil laut untuk mendatangi pulau-pulau terpencil dan suku-suku bangsa yang mendiaminya.

Berbeda dari Darwin dan Wallace yang tidak menghasilkan film sebab belum ada teknologi film saat mereka menjelajah, penjelajahan Lawrence dan Lorne terutama untuk didokumentasikan melalui film yang diproduksi guna menjadi tontonan dokumenter. Seri film mereka mendapatkan penghargaan internasional Emmy Award 1989 untuk National Educational Film. Beberapa tahun seusai menjelejah, tahun 1988 Lawrence dan Lorne Blair mengabadikan penjelajahan mereka ke dalam sebuah buku berjudul “Ring of Fire”. Buku ini pada masanya merupakan buku the best seller yang banyak
menarik para wisatawan dan ilmuwan mancanegara datang ke Indonesia.

Lawrence dan Lorne Blair bercerita tentang wilayahwilayah di Indonesia yang terpencil dengan suku-suku bangsanya yang memiliki tradisi-tradisi yang aneh, mendebarkan, dan memukau. Tahun 2010, Lawrence Blair menerbitkan kembali buku ini, menambahi subjudul menjadi “Ring of Fire: An Indonesian Odyssey”. Kala itu sang adik Lorne Blair telah tiada. Lorne yang menetap di Bali setelah pengembaraannya itu meninggal pada tahun 1995 karena sebuah kecelakaan kecil yang tak terduga bisa mengambil nyawa.

Sang kakak menulis tentang kematian adiknya ini dengan getir di kata pengantar buku yang diterbitkannya kembali itu.

“….adik saya dan saya awalnya adalah romantik yang sangat naif, yang luar biasa beruntungnya sehingga bisa pulang hidup-hidup, tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Namun kehidupan, dan semesta, seperti kata orang-orang, tidak hanya lebih aneh daripada yang kita duga, namun lebih aneh daripada yang bisa kita duga, dan sungguh ironi tajam bahwa setelah selamat menempuh total 1.200 km, sebagian besar dengan berjalan kaki, melalui rimba raya Borneo – di mana kaki patah bukan hal aneh – adik tersayang saya, Lorne, jatuh ke parit terbuka di jalanan Legian, Bali, mengalami patah kaki, dan meninggal beberapa hari kemudian di rumah sakit setempat akibat stroke gara-gara ada sumsum memasuki aliran darahnya. Saya ditinggalkan dengan perasaan bahwa menunda waktu kematian seseorang sama sulitnya dengan mempercepatnya.”

Pada Oktober 2012, Penerbit Ufuk Press menerjemahkan buku yang diterbitkan kembali oleh Lawrence Blair pada 2010 itu dan memberinya judul “Ring of Fire: Indonesia Dalam Lingkaran Api”.

Seperti disebutkan di atas, buku ini bercerita tentang persinggahan kakak-beradik Blair selama sepuluh tahun di kepulauan paling besar di dunia namun kala itu kurang dikenal: Kepulauan Indonesia. Di tengah-tengah hutan hujan tropis yang tidak dapat ditembus, gununggunung api yang meletus, dan keindahan alam yang sangat mengagumkan, mereka telah menuangkan kisah tentang salah satu penjelajahan yang paling menawan dan menarik dalam bentuk film dan buku.

Pengembaraan mereka dimulai pada 1972 dengan melakukan perlayaran sejauh 2.500 mil menuju Pulau Rempah-Rempah dalam cerita dongeng untuk mencari burung Cenderawasih Kuning-Besar. Lalu dilanjutkan dengan penjelajahan selama sepuluh tahun ke berbagai pulau di Indonesia. Mereka pernah hidup di antara Suku Asmat yang kala itu masih kanibal, hidup dengan para dukun dan tabib di Bali, bertemu dengan “naga” pemakan manusia komodo, dan mengembara bersama para “pengembara mimpi” di Kalimantan. Dengan keberanian, humor, dan hasrat yang luar biasa untuk mengetahui hal-hal yang tidak diketahui, kakak-beradik Blair menceritakan kita kisah-kisah yang ajaib seperti dongeng-dongeng kuno yang masih tumbuh dengan suburnya di pelosok-pelosok Indonesia.

Sepuluh bab ditulisnya untuk menceritakan kisah penjelajahan ini, dimulai dengan Negeri Mimpi Kala Terjaga, kemudian berturut-turut: Menuju Cincin Api, Anak-Anak Bintang Terakhir, Saga Kepulauan Rempah- Rempah, Menuju Wilayah Burung Cenderawasih, Hidup di antara Suku Kayu, Pulau Naga, Tarian Para Prajurut, Pengelana Mimpi dari Kalimantan, dan diakhiri oleh Wayang Kehidupan.

Sayang buku terjemahan ini tidak memasukkan semua foto eksklusif dari edisi aslinya yang hanya bisa terlihat eksklusivismenya bila dicetak di atas kertas yang mengkilap. Meskipun itu foto-foto lama, namun susah ditandingi momennya oleh foto-foto moderen sekalipun.

Namun secara umum penerjemahan buku terkenal Ring of Fire ini patut dipuji sebab dapat mengenalkan kita kepada kisah-kisah unik dari berbagai pelosok Negeri ini yang belum tentu kita ketahui meskipun kita sendiri bangsa Indonesia dan sehari-harinya tinggal di Indonesia. (Awang H. Satyana)

Peresensi adalah Tenaga Ahli Geologi & Geofisika SKK Migas. Oleh: Awang H. Satyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>