angkasa-19

Mengamati Letusan Kelud dari Angkasa

Nirgunungapi-59

Panas Bumi Nirgunungapi di Kalimantan

07/05/2014 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

In Memoriam Soetaryo Sigit (1929-2014)

Soetaryo Sigit-41
Soetaryo Sigit-41

Soetaryo Sigit

Awal tahun 2014, geologi Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Dialah Soetaryo Sigit, salah seorang generasi pertama sarjana geologi Indonesia,meninggal dunia di RS Pertamina, Kamis dini hari pukul 00.42, 23 Januari 2014. Ia meninggalkan seorang istri, Moertiningsih, beserta tiga anak perempuan, yaitu Anna Sigit, Indria Sigit, dan Liliek Sigit.

Soetaryo adalah lulusan awal Jurusan Geologi- FIPIA, Universitas Indonesia, Bandung, tahun 1956.

Pendiri dan ketua pertama Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Ia pun saksi sekaligus pelaku sejarah pertambangan Indonesia. Ia berkontribusi dalam membangun sektor mineral Indonesia dan memegang  peranan yang besar dalam pengembangan sistem Kontrak Karya untuk eksplorasi mineral Indonesia.

Ia dilahirkan di Blitar, Jawa Timur, pada 18 Juli 1929 dari pasangan Sigit Wongsoatmodjo dan Soewarni. Seluruh masa sekolah, dari dasar hingga pendidikan menengahnya dilalui di Jawa Timur. Pada tahun 1956, ia lulus ujian sarjana geologi.

Pada tahun 1957 setelah mendapat pengangkatan sebagai Ahli Geologi pada Direktorat Pertambangan, Soetaryo pindah kerja ke Jawatan Geologi (kini, Badan Geologi).

Sebagai Kepala Jawatan Geologi, tugas Soetaryo saat itu terpusat pada pembangunan institusi, mengembangkan organisasi jabatan dengan semua prasarananya. Untuk mengorganisir ahli geologi di Indonesia, Soetaryo ikut mendirikan organisasi profesi Ikatan Ahli Geologi (IAGI) pada 13 April 1960. Bahkan ia menjadi ketua pertama organisasi tersebut, yaitu antara 1960-1961, dan Jawatan Geologi, kantor Soetaryo, yang mula-mula menjadi sekretariat IAGI .

Selama berkiprah di Jawatan Geologi yang kadang harus merambah pelosok Nusantara, ada dua pengalaman yang sangat berkesan baginya. Pada tahun 1958 ia ikut melakukan eksplorasi batubara di Pulau Laut dan Pulau Sebuku. Kemudian pada tahun 1963, ia memimpin tim ilmiah Ekspedisi Cenderawasih ke Puncak Sukarno (Puncak Carstenz) di Papua.

 Hasil ekspedisi ke Papua kemudian dibukukan dengan judul Madju Terus Pantang Mundur!: Kisah Pendakian Puntjak Sukarno disertai Album Kenangkenangan Ekspedisi Tjendrawasih: Kisah Pendakian Puntjak Sukarno (1964). Setelah menunaikan tugas ke Pulau Papua itu, Soetaryo dianugerahi kenaikan pangkat istimewa dari Chairul Saleh dan Bintang Jasa RI kelas II dari Presiden RI.

Pada 1965, Soetaryo diangkat menjadi Pembantu Menteri Pertambangan. Dan pada masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, ia mendapat tugas mengganti Undang-undang Pertambangan yaitu UU No.37 Prp.1960. Panitia Penyusunan Undangundang Pertambangan berhasil menyusun RUU Pertambangan yang kemudian disahkan menjadi UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan. Sementara Panitia Teknis Perundingan Kerjasama Luar Negeri berhasil menyusun konsep Kontrak Karya Pertambangan (KKP) yang terbukti dapat menarik PMA di bidang pertambangan.

Soetaryo Sigit-42

Moertiningsih

Pada tahun 1973, Soetaryo diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan. Tugas ini dijalaninya hingga tahun 1984. Selanjutnya, hingga pensiun tahun 1989, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pertambangan Umum. Selama berdinas di pertambangan, Soetaryo juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Bank Dagang Negara (1970-1980), Ketua Dewan Komisaris PT Tambang Batubara Bukit Asam (1982- 1989), dan Ketua Dewan Pengawas PERUM Tambang Batubara (1982-1989). Dan setelah memasuki masa purnabakti, antara lain, dia berkarya sebagai komisaris independen PT INCO Indonesia; Ketua Komite Audit PT INCO Indonesia; dan penasihat bagi PT ADARO Indonesia, Indonesian Mining Association (IMA), serta Indonesian Coal Mining Association (APBI).

Atas kinerja dan dedikasinya, Soetaryo meraih beberapa penghargaan, antara lain: Satyalencana Wira Karya Pembangunan, R.I. (1964), Bintang Jaya Klas II, R.I (1966), U.S. Medal of Peace and Commerce (1979), Satyalencana Karyasatya Tk.I, R.I. (1982), Bintang Jasa Utama, R.I. (1995), dan Piagam Dharma Karya Utama, Dept. Pertambangan & Energi (1995). Pada tanggal 9 Maret 1996, Soetaryo mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Institut Teknologi Bandung. Saat itu, ia menyampaikan orasi imiah berjudul Potensi Sumber Daya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia.

Soetaryo pun terbilang rajin menulis, baik untuk keperluan presentasi maupun publikasi. Tulisan-tulisan yang pernah ditulisnya, antara lain, dibukukan dalam Sepenggal Sejarah Perkembangan Pertambangan Indonesia: Kumpulan Tulisan S. Sigit 1967-2004. Di samping aktivitasnya di dalam kebumian, pertambangan, dan penulisan, ahli geologi ini dianugerahi bakat melukis. Karya-karya bergambarnya banyak menghiasi rumahnya yang ada di bilangan Kompleks Jakarta Housing No.1, Jl. Madrasah, Gandaria Selatan, Jakarta.

Penulis: Atep Kurnia & Oman Abdurahman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>