1 Puncak Gunung Baluran-32

Lembar-lembar Baluran

Menimbang Ijen-39

Menimbang Ijen

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Ijen Menyesap Pesona Mewaspadai Bahaya

Ijen Menyesap Pesona-33
Ijen Menyesap Pesona-33

Kawah Ijen dengan air berwarna biru toska yang menawan. Foto: SR. Wittiri

Waktu baru menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tetapi ratusan pelancong yang bergerombol di lapangan perkemahan (camping ground) Lembah Paltuding sudah tak sabar menanti palang gerbang menuju Kawah Ijen dibuka. Dengan harapan setiba di bibir kawah setelah berjalan selama sekitar dua jam, suasana gelap mulai terkuak, dan dapat menikmati sinar biru (blue light) yang memancar dari celah onggokan belerang di dasar kawah.

Ijen adalah gunung api yang tidak lumrah, dikenal berbahaya bukan karena ancaman letusannya, tetapi tersebab keberadaan air yang mengisi kawahnya yang sangat asam (pH 0,5 – 0,8 dan bisa < 0, di area kawah). Karena itu, para pendaki, penambang belerang yang bolak-balik ke Kawah Ijen, pelancong, atau siapa punyang mengunjungi Kawah Ijen, mesti menyadari hal ini setiap kali mereka berkunjung ke sana. Bahwa selain dapat “menghirup” atau “menyesap” sepuas hati pesona Ijen yang memang sangat indah, kita pun harus sadar akan ancamannya.

Perjalanan terakhir kami ke Ijen mengingatkan kembali pesona dan ancaman itu. Perjalanan ke Ijen menghadapi bahaya dan risiko yang harus diwaspadai. Kesadaran akan ancaman bahaya gas beracun dan air kawah yang sangat asam harus selalu hadir. Jangan sampai gas belerang dan gas beracun lainnya itu terhirup berlebihan, pun air yang sangat asam itu jangan sampai tersentuh.

Ijen Menyesap Pesona-34

Kelompok gunung sebelah selatan dari puncak kawah Ijen. Foto: Deni Sugandi.

Sejarah Geologi Singkat Ijen

Tentu saja, kehadiran Kawah Ijen tidak terlepas dari sejarah kegunungapainnya yang panjang. Dahulu kala gunung api ini sangat besar bentuk fisiknya. Berdasarkan rekonstruksi hasil peta geologi, pada awalnya Ijen mencapai lebih dari 3.000 meter tingginya (Sujanto, dkk, 1988). Boleh jadi karena tingginya menjulang sedemikina rupa sehingga dinamakan “ijen”, dalam bahasa Jawa yang berarti “sendiri” karena berdiri tegak tak tertandingi seolah sendiri di kawasan tersebut.

Gunung besar itu kemudian tercabik-cabik oleh letusan dahsyat (violent eruption) yang dilaluinya dalam tiga periode yang diperkirakan terjadi pada 3.500 tahun yang lampau. Letusan tersebut menghancurkan hampir seluruh tubuhnya hingga tingginya terpangkas hampir setengahnya, yang tersisa menjadi 2.386 meter. Selain itu letusan tersebut menghasilkan lubang yang sangat besar, berukuran 19.000 x 21.000 m di bagian alasnya dan 22.000 x 25.000 m pada bagian atasnya (rim crater) kemudian dikenal dengan Kaldera Ijen. (H. Sundoro, 1990).

Dalam perkembangan berikutnya, di tengah kaldera terbentuk sebuah danau kawah yang menjadi pusat kegiatan vulkanik saat ini. Kawah tersebut berukuran 1.160 x 1.160 m bagian atas dan bagian yang terisi air di dasar kawah seluas 960 x 600 m. Ditengarai danau ini sebagai salah satu danau kawah yang paling asam di dunia. Pasalnya, kadar keasaman (pH) airnya dapat mencapai nilai nol (tidak terukur) hingga 0,8. Nilai tersebut bervariasi tergantung kondisi musim. Bila musim hujan pH-nya mencapai antara 0,5 – 0,8, tetapi dalam musim kemarau tidak jarang nilanya dibawah nol. Hal inilah yang menempatkan Ijen sebagai gunung api yang tidak lumrah. Air kawahnya yang sangat asam (acid water) dapat menimbulkan pencemaran lingkungan yang berbahaya bagi kehidupan sekitarnya. Oleh karena itu gunung api yang memaku Tanjung Blambangan di ujung timur Pulau Jawa ini lebih dikenal dengan nama Kawah Ijen. (SR. Wittiri, dkk, 2001).

Berdiri tidak utuh, gunung api ini mengambil tempat pada posisi geografi 8o 03,5’ Lintang Selatan dan 114o 14,5’ Bujut Timur. Secara administratif, Ijen masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Provinsi Jawa Timur.

Ijen Menyesap Pesona-35

Lokasi lapangan solfatara yang menghasilkan belerang melimpah berada di dasar kawah sebelah tenggara.

Pesona Kawah Ijen

Pesona Ijen tidak hanya di sekitar kawah. Sejak pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan Lembah Paltuding para pelancong sudah dimanjakan dengan panorama yang menawan. Pepohonan yang terawat di sepanjang jalur pendakian yang tidak terlalu terjal dikelilingi oleh gawir dinding kaldera purba yang ditumbuhi semak belukar hijau, seolah menjadi penawar lelah.

Panorama berubah drastis dari hijau menjadi gersang, aroma wangi hutan menjadi aroma telur busuk, manakala pendakian mulai mendekati puncak. Aroma itulah uap belerang yang diterbangkan angin. Kondisi demikian memang lumrah ditemui di daerah gunung api. Khusus di Ijen, sengatan uap belerang sudah tercium sejak satu kilometer sebelum tiba di kawah karena sublimasi dari lapangan solfatara di lantai kawah memang tergolong besar.

Kedalaman danau kawah yang berair sangat asam ini berubah-ubah sepanjang waktu. Pada 1938 mencapai 250 m. Sri Sumarti dan Takano yang melakukan penelitian pada 1996 menyebutkan bahwa kedalaman danau menyusut hingga 182 m dengan volume air sebanyak 30 juta meter kubik.

Salah satu hasil gunung api yang banyak manfaatnya adalah belerang. Kawah Ijen mampu menghasilkan mineral kuning ini lebih dari 60 ton per hari. Sayang, jumlah sebanyak itu tidak dapat dipetik seluruhnya karena kendala teknis. Para penambang yang jumlahnya kian menyusut, semula sekitar 700 orang kini tinggal 170 orang, hanya mamp

Ijen Menyesap Pesona-36

Lapangan solfatara yang bersuhu tinggi menghasilkan cahaya kebiruan pertanda suhunya sangat tinggi. Foto: Ronald Agusta

u mengangkut belerang antara 14 – 19 ton per hari. Mereka menambang dengan cara yang sangat sederhana, hanya berbekal linggis dan sekop tanpa alat pelindung. Mereka berjuang di tengah sengatan gas belerang yang sangat tajam.

Tiba di bibir kawah, pendaki dimanjakan dengan pemandangan mempesona. Air kawah yang berwarna biru toska diselingi oleh rona kekuningan dari uap belerang terbang tinggi di atas danau sangatlah memukau. Pelancong yang memilih melakukan pendakian pada malam hari, sangat mengharapkan untu dapat menyaksikan cahaya biru (blue light), sebagian orang menyebutnya api biru (blue fire), meskipun cahaya biru tersebut bukan cahaya api. Keuntungan lain memilih berada di kawah pada dini hari adalah dapat menyaksikan munculnya mentari pagi dari balik bukit.

Cahaya biru yang menjadi buruan para wisatawan itu memancar dari rekahan pada dinding solfatara tempat gas terbentuk, pertanda temperatur di lokasi tersebut tinggi. Sinar tersebut terlihat sangat jelas apabila cuaca gelap. Gas belerang (H2SO4) terbentuk karena temperatur yang tinggi, antara 150o – 250o C. Oleh para penambang, gas pekat tersebut dialirkan melalui pipa (pawon) sejauh sekitar 150 meter untuk mendinginkannya sehingga terbentuk sublimasi belerang di ujung pawon. Sublimasi inilah yang ditambang dalam bentuk bongkah belerang.

Ijen Menyesap Pesona-37

Tampak cahaya biru muncul dari rekahan di dinding lapangan solfatara. Foto: SR. Wittiri

Risiko yang Mengintai

Boleh jadi, harapan bagi sebagian besar pengunjung ke Kawah Ijen adalah turun ke dasar kawah untuk menyaksikan cahaya biru dari dekat. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya, dan tidak boleh dilakukan. Sayangnya, tidak ada brosur atau apapun yang menerangkan tentang bahaya dasar Kawah Ijen. Demikian pula, sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Ijen tidak didampingi oleh pemandu wisata. Sebagian lainnya hanya ditemani oleh penambang belerang yang menawarkan diri menjadi penujuk jalan sebagai selingan dari kesehariannya menambang.

Menuruni Kawah Ijen yang dalamnya sekitar 350 meter dengan kemiringan antara 45o – 60o pada dini hari sangatlah berisiko. Betapa tidak, dalam suasana temaram, tidak tahu medan dengan berbekal senter dan hanya mengikuti langkah orang yang ada di depannya adalah tindakan yang sangat ceroboh yang sangat berbahaya.

Risiko mengintai setiap saat. Misalnya, terpeleset jatuh akibat salah melangkah. Jatuh dilereng terjal pada suasana gelap tak terbayangkan akibatnya. Sesungguhnya, pengelola Taman Wisata Kawah Ijen, di awal pendakian, sudah memberikan peringatan agar para pengunjung tidak turun ke dasar kawah. Tetapi pada saat pengunjung sudah berada di puncak, tidak ada petugas yang mengawasi dan menertibkan pengunjung agar tidak turun ke kawah. Padahal untuk sekedar menyaksikan cahaya biru yang ada di dasar kawah, cukup dari bibir kawah (rim crater) saja dan tidak perlu turun ke dasar kawah.

Ijen Menyesap Pesona-38

Lereng terjal dari bibir kawah (rim crater) ke dasar kawah. Salah melangkah risiko mengintai. Foto: Ronald Agusta

Menurut petugas setempat, waktu yang direkomendasikan untuk memulai aktivitas penambangan belerang di dasar kawah adalah mulai pukul 06.00. Rekomendasi ini diberikan dengan mempertimbangkan bahwa pada pagi hari (sekitar pk 06.00), matahari sudah mulai bersinar, sehingga gas belerang dan gas lainnya yang berpotensi beracun sudah cair oleh sinar ultraviolet. Dengan demikian risiko terpapar gas beracun bisa dihindari, paling tidak diminimalkan.

Pada kenyataannya aktivitas penambangan sudah mulai sejak pukul 03.00 dini hari dalam suasana temaram di tengah pusaran gas beracun. Para penambang  Lereng beralasan bahwa mereka beraktivitas lebih awal itu untuk menghindari sengatan matahari. Tanpa disadari, keberadaan penambang pada dini hari di dasar kawah menjadi inspirasi bagi pengelola wisata dan pengunjung lainnya untuk mengikuti jejak mereka, mengunjungi Ijen pada dini hari, sekitar pk 03.00. Hal ini perlu ditertibkan atau dilakukan pengaturan kembali. Aturan itu misalnya, agar para pendaki atau pengunjung Kawah Ijen dilengkapi dengan peralatan yang memadai, dibarengi oleh pemandu yang sudah mengenal benar jalan menuju Kawah Ijen, tidak turun ke dasar kawah, dan menggunakan masker yang dapat mengurangi paparan gas belerang dan gas beracun lainnya. Lamanya waktu berada di kompleks kawah juga juga perlu dibatasi. ( SR. Wittiri dan Ronald Agusta)

SR. Wittiri, ahli gunung api. Ronald Agusta, fotografer dan editor foto Geomagz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>