Tambora-1

Salam dari Tambora

Kaldera Tondano-1

Kaldera Tondano Hidup untuk Menghidupkan

01/09/2014 Comments (0) Langlang Bumi

Harmoni Merapi

Harmoni Merapi-61
Harmoni Merapi-61

Gunung Merapi dan Candi Borobudur menjelang pagi dilihat dari Punthuk Setumbu. Foto: T. Bachtiar.

Angin dingin bertiup kencang di lembah yang memanjang, menimbulkan suara menyerupai riuhnya orang-orang sepulang belanja di pasar, dengan bebatuan besar kecil yang berserakan, seperti kios dan dagangan yang ditinggalkan. Itulah yang menjadikan tempat ini dinamai Pasarbubrah, seperti pasar yang baru bubaran.

Menjelang pagi, kami berdiri di bibir kawah Gunung Merapi yang dibongkar pada letusan tahun 2010, sehingga bentuk kawahnya menjadi berubah, dengan diameter tak kurang dari 400 meter yang terbuka ke selatan. Di dasar kawah terlihat bentukan hitam melingkar besar, dari sisinya asap putih terus mengepul.

Harmoni Merapi-62

Gunung Merbabu dan Merapi dilihat dari Gunung Prau, Kompleks Dataran Tinggi Dieng. Foto: Rudi Hartono

Menjelang subuh di Pasarbubrah. Cahaya lampu sudah redup di tenda-tenda yang terpencar. Para pendaki beristirahat beberapa waktu di sini sebelum pendakian ke puncak Gunung Merapi dilanjutkan. Angin dingin bertiup kencang di lembah yang memanjang, menimbulkan suara menyerupai riuhnya orang-orang sepulang belanja di pasar, dengan bebatuan besar kecil yang berserakan, seperti kios dan dagangan yang ditinggalkan. Itulah yang menjadikan tempat ini dinamai Pasarbubrah, seperti pasar yang baru bubaran.

Lembah itu sesungguhnya semula berupa kawah, Kawah Pasarbubrah yang terbentuk karena letusan Gunung Merapi yang terjadi antara 60.000 – 8.000 tahun yang lalu. Lengkungan bibir kawahnya terkenal dengan sebutan Pusunglondon. Dari bibir kawah Merapi Pertengahan ini banyak pendaki yang mengabadikan detik-detik perubahan antara malam berganti siang. Dari Kawah Pasarbubrah ini kemudian lahir gunung api baru, Gunung Anyar, namanya, yang meletus sejak 2.000 tahun yang lalu. Secara umum,
kerucut ini disebut Gunung Merapi, tingginya 2.978 m dpl. dengan volume sebesar 150 km3.

Tak menanti hitungan menit, kami sudah terlelap dalam dingin yang mengerutkan kulit telapak tangan. Untung ada seorang yang terjaga, ya

Harmoni Merapi-63

Pasargubrah, tempat istirahat sebelum mendaki ke puncak. Foto: Deni Sugandi.

ng membangunkan kami, mengingatkan untuk segera bejalan kembali, agar sampai di puncak saat langit di ufuk timur dipulas warna mambang kuning keemasan. Kami berjalan melewati tenda-tenda para pendaki yang didirikan di balik batu-batu besar, sehingga sedikit terhindar dari tiupan angin. Selang beberapa menit, perjalanan meniti pasir berbutir kasar, yang sedikit ambles kalau diinjak, pasir hasil letusan tahun 2010 yang lalu. Inilah perjalanan terakhir yang sangat berat, ketika energi sudah terkuras dan rasa kantuk bergelayut di bibir mata. Pada pendakian tahap akhir di medan yang berpasir dan berbatu lepas ini disarankan memakai masker, karena abu gunung api mengandung serbuk kaca yang sangat halus, sehingga bila masuk ke saluran pernafasan, akan terjadi iritasi yang akan mengganggu kesehatan. Di dalam tubuh manusia, abu itu tidak seketika terasa akibatnya. Kalaupun terasa, pasti akan menduga karena sebab lain.

Namun, yang paling merasakan dampak dari letusan gunung api adalah jasa penerbangan. Jalur penerbangan yang melintasi gunung yang sedang meletus akan langsung ditutup, dan semua jadwal keberangkatan akan ditangguhkan. Pesawat jet modern menghisap udara dalam jumlah yang sangat banyak. Saat letusan gunung api, udara dipenuhi abu gunung api yang mengandung banyak serbuk halus kaca. Abu itu akan masuk ke dalam mesin pesawat yang panas, menyebabkan serbuk kaca yang sangat halus itu akan meleleh, lalu menyumbat saluran bahan bakar, yang menyebabkan mesin pesawat mati.

Harmoni Merapi-64

Merayapi batu-batu lepas sebelum puncak. Foto: Deni Sugandi.

Menjelang puncak, perjalanan meniti batuan lepas, sehingga perlu sangat berhati-hati, karena bila terpeleset, bukan hanya bermasalah bagi si pendaki, tapi batu yang terlepas dan menggelinding itu sangat membahayakan bagi pendaki yang berada di bawahnya. Teriakan-teriakan yang mengabarkan ada batu yang jatuh menggelundung sering terdengar, agar yang di bawah waspada dan menghindar. “Stop! Stop!”, “Rock! “Rock!”, “Awas batu!”, atau “Brenti!” Ternyata, teriakan itu bukan hanya mengabarkan ada batu yang jatuh, tetapi juga menyuruh agar batu itu berhenti. Di medan berbatu lepas ini disarankan memakai helm karena batu tak pernah permisi bila membentur kepala.

Wedhus Gembel
Menjelang pagi, kami berdiri di bibir kawah Gunung Merapi yang dibongkar pada letusan tahun 2010, sehingga bentuk kawahnya menjadi berubah, dengan diameter tak kurang dari 400 meter yang terbuka ke selatan. Di dasar kawah terlihat bentukan hitam melingkar besar, dari sisinya asap putih terus mengepul.

Setiap kali ingat Merapi, selalu terbayang bahaya awan panas. Inilah ancaman yang paling mengerikan. Sekarang kami berada di bibir kawah, di depan terlihat kawah yang terbuka sebagai sumber dari ancaman itu. Di Masyarakat setempat awan panas disebut wedhus gembel, karena awan panas itu terlihat seperti asap tebal berwarna abu, hitam, coklat, dan merah yang bergumpal bergulung‑gulung, terlihat seperti rombongan domba yang menuruni lereng Merapi. Suhu wedhus Gembel mencapai 1.000o C. Pada jarak 8 km dari puncak, suhunya masih 450o C, dengan kecepatan luncurnya + 100 km per jam.

Harmoni Merapi-65

Jalur terakhir pendakian: pasir dan batu-batu lepas. Foto: Deni Sugandi.

Awan panas Merapi diawali dari kubah lava yang sudah terbentuk itu terganggu stabilitasnya karena adanya desakan dari magma yang baru naik. Kubah lava yang lama itu akan dihancurkan seluruhnya atau sebagian saat letusan, lalu digantikan dengan kubah lava yang baru. Guguran kubah lava saat letusan itulah yang menyebabkan terjadinya wedhus gembel runtuhan. Selain wedhus gembel runtuhan, ada satu lagi jenis awan panas Merapi yang terjadi ketika letusan, yaitu material letusan yang terhempas kemudian jatuh kembali di sekitar puncak, lalu meluncur di lereng sebagai wedhus gembel jatuhan. Semakin banyak volume awan panas, maka akan semakin cepat daya luncurnya, dengan jangkauan yang semakin jauh pula.

Kubah lava di Merapi sudah menjadi perhatian sejak lama, ketika para ahli gunung api zaman kolonial mulai mengamati gunung api aktif di Nusantara. Pada awal abad ke-19, kedalaman dasar kawah Merapi mencapai 100 m. Pada April 1883 mulai teramati adanya kubah lava yang keadaannya terus membesar. Awal abad ke-20, tinggi kubah lava sudah melebihi bibir kawah. Pasokan magma dari dapur magma ke kantung magma sebanyak 100.000 meter kubik setiap bulannya menjadi penggerak utama letusan Gunung Merapi. Tekanan yang kuat dari dapur magma akan menggerakan magma untuk naik mengisi kantung magma yang berada di bawah tubuh Gunung Merapi. Bila tekanan di kantung magma melebihi kekuatan “katup” kantung magma untuk menahannya, maka akan terjadi letusan, yang melelerkan lava, mengugurkan kubah lava,dan menghamburkan material dari dalam kantung magma sebanyak 4-10 juta meter kubik.

Gunung Merapi menjadi gunung api yang san

Harmoni Merapi-66

Disarankan memakai helm dan masker. Foto: T. Bachtiar.

gat aktif, meletus paling cepat setiap 4 tahun, dengan waktu istirahat paling lama 15 tahun. Letusan besar pada umumnya terjadi per seratus tahun. Dapur magma sebagai pemasok magma itu volumenya jauh lebih besar dari kantung magma Merapi, sehingga bila pasokannya berlebih, seperti yang terjadi pada letusan besar tahun 2010, menghempaskan material vulkanik lebih dari 100 juta meter kubik.

Letusan Gunung Merapi ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan, membentuk kubah lava baru yang terus membesar. Munculnya lava baru itu diawali dengan penghancuran kubah lava yang lama yang menutup pipa kawah, sehingga terjadi ketidakstabilan, maka terjadilah guguran lava yang disebut wedhus gembel.

Ketika berdiri di puncak Merapi, terlihat lembah yang menoreh kawasan perkampungan. Terbayang bagaimana dampak yang diderita masyarakat saat gunung ini meletus pada 2006 yang menyebabkan 400.000 meter kubik dari sebagian Gegerboyo runtuh, sehingga alur Gendol menjadi lebih terbuka. Akibatnya, di minggu kedua bulan Juni 2006 itu, awan panas meluncur sejauh 7 km di Kali Gendol, mengubur objek wisata Kaliadem, dan merenggut korban jiwa.

Sukarelawan Merapi

Harmoni Merapi-67

Kawah Merapi pasca letusan 2010. Foto: Deni Sugandi

Kehangatan matahari pagi menyibakkan kabut yang membalut tubuh gunung, sehingga bentang alam di kaki gunung semakin jelas. Kawasan yang terdampak letusan Merapi 2010 terlihat dengan jelas. Letusan kali ini berbeda dengan letusan Merapi yang selama ini terjadi. Pada tanggal 4-5 November 2010 terjadi letusan yang menghembuskan material vulkanik setinggi lebih dari 17 km, dengan luncuran awan panas sejauh 15 km ke arah selatan, mencapai Desa Kinahrejo, dan telah merenggut 40 orang, termasuk juru kunci Gunung Merapi Mbah Marijan. Pada tanggal 30 Oktober, gunung ini meletus kembali, abu letusannya tersebar sejauh 30 km dari kawah.

Kematian jurukunci Merapi itu sangat mempengaruhi persepsi warga Merapi tentang risiko letusan gunung api. Selama ini banyak masyarakat yang percaya kepada sang jurukunci. Namun, setelah kematiannya, warga desa semakin mempercayai pemerintah dan ahli vulkanologi sebagai penjaga Merapi yang baru. Kesadaran masyarakat itu harus terus ditumbuhkan, karena risiko dari letusan Merapi termasuk yang tertinggi di dunia, dan mengancam lebih dari 450.000 warga Merapi yang berada di kawasan yang berisiko tinggi terkena sapuan wedhus gembel dan terjangan lahar. Korban meninggal karena letusan Merapi 2010 sebanyak 347 orang, yang tersebar di Kabupaten Sleman: 246 orang, di Kabupaten Magelang: 52 orang, di Kabupaten Klaten: 29 orang, dan di Kabupaten Boyolali: 10 orang. Warga Merapi yang mengungsi sebanyak 410.388 orang.

Setiap kali meletus, seperti letusan Gunung Merapi tahun 2010, material letusan yang jatuh di lereng gunung itu bila bercampur dengan air hujan, akan menjadi adonan yang disebut lahar. Bebatuan yang berukuran kacangtanah hingga bongkah seukuran gajah, dapat meluncur dengan “ringan”, dan mengalir ke Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Krasak, dan Kali Boyong sampai jauh. Pasir dan batu inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ditambang tiada henti setiap hari.

Harmoni Merapi-68

Dalam perjalanan pulang, menuruni batu-batu lepas. Foto: Deni Sugandi.

Dari bibir kawah Merapi terlihat jelas dindingdinding kawah yang retak-retak, seperti akan roboh bila digoyang sedikit saja. Di sisi yang lain, rekahan besar merobek dinding kawah sedalam 200 m. Di bibir kawah kami mengobrol dengan dua orang sukarelawan Merapi. Mereka sangat bangga menjadi bagian dari upaya penanggulangan bahaya gunung api. Dengan alat berupa telepon genggam, handytalkie, siaran radio, dan kentongan, serta media sosial seperti twitter dan facebook, semuanya itu dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menyampaikan pesan kepada warga Merapi. Komunitas itu sangat berperan bukan hanya dalam mendistribusikan bantuan, tetapi juga berperan dalam hal komunikasi antar warga di lapangan selama 24 jam.

Letusan Gunung Merapi menjadi momentum mempersatukan tekad warga untuk secara bersamasama mengurangi risiko bencana gunung api. Masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari program penanggulangan bencana. Dengan bekerja secara kolektif, warga Merapi telah terbukti lebih siap dalam pengurangan risiko bencana. Warga diikutsertakan dalam program pengurangan risiko bencana secara menyeluruh dan partisipatif, seperti dalam simulasi evakuasi masyarakat, dan program pelatihan wajib untuk mitigasi bencana.

Harmoni Merapi-69

Wisata gunung api: menelusuri jejak letusan Merapi. Foto: T. Bachtiar

Dalam perjalanan pulang, terlihat rumput setinggi orang dewasa untuk pakan ternak subur menghijau. Para penyabit rumput menggunakan sepeda motor sebagai alat angkutnya. Namun masih banyak yang diangkut dengan cara digendong. Sapi dan domba banyak dipelihara di perkampungan, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga. Ketika Gunung Merapi meletus, para pemilik ternak sangat khawatir meninggalkan ternaknya, karena takut satwa peliharaannya kelaparan, sehingga perlu diberi makan. Bahkan, dalam situasi krisis itulah ada penjahat yang memanfaatkan situasi, mencuri ternak dan isi rumah yang mereka tinggalkan. Upaya pengungsian warga yang akan terdampak letusan Merapi akan dapat dengan mudah untuk mengungsi dan tidak kembali lagi ke kampungnya untuk melihat rumah dan memberi makan ternaknya, bila dibuatkan pula tempat pengungsian ternak komunal.

Keberkahan dan Ancaman

Harmoni Merapi-70

Pasarbubrah dibatasi dinding Pusunglondon. Foto: Deni Sugandi.

Lewat tengah hari kami kembali sampai di pos Selo. Sop panas terasa nikmat sekali siang itu. Perjalanan menanjak saat pergi dan terus menurun saat pulang, cukup menguras tenaga dan membuat otot-otot kaki menjadi kaku. Latihan sebelum pendakian merupakan hal wajib agar mendaki gunung menjadi lebih menyenangkan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah rencanakan jadwal pendakian dengan matang, sehingga diketahui berapa lama akan di lapangan. Hal ini penting untuk persiapan membawa perbekalan dan perlengkapan. Mulailah mendaki dengan pelan, jangan langsung cepat, agar terjadi penyesuaian suhu tubuh dan suhu di luar, apalagi bila melakukan perjalanan malam. Bawalah makanan dan air minum yang cukup. Pakailah jasa porter bila tidak kuat membawa perbekalan dan perlengkapan berkemah. Pakailah sepatu yang nyaman untuk berjalan antara 12-16 jam. Bawa pakaian ganti, baju hangat tahan air dan tahan angin, sarung tangan, kaus kaki, serta jas hujan.

Saat turun dari puncak Merapi, janganlah berlari, terutama di medan berbatu lepas dan berpasir. Banyak kejadian, mereka yang berlari tak bisa mengerem laju larinya sampai Pasarbubrah, dan ada yang menemui azalnya karena kepalanya membentur batu besar. Jangan lupa membawa obat-obatan, tisu basah, dll. Jangan terlewat membawa catatan dan alat-alat dokumentasi. Matikan musik, nikmati irama alam dengan leluasa. Jangan sekali-kali membuang sampah di gunung. Bawa kembali bungkus makanan dan botol minuman ke bawah untuk dibuang ditempatnya.

Harmoni Merapi-71

Para pendaki merayapi lereng Merapi pada malam hari. Foto: Deni Sugandi

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas “Wisata Gunung api” di Desa Kinahrejo, merintis wisata menelusuri jejak letusan Merapi, seperti kawasan yang tersapu awan panas dan lahar dengan menggunakan jeep. Wisata ini sesungguhnya bentuk penyebarluasan informasi kegunungapian, khususnya Merapi. Para pemuda itu bila dibekali informasi tentang hal-ihwal Gunung Merapi, mereka akan menjadi penyampai informasi yang baik. Misalnya dari mana batu-batu sebesar gajah sampai di tempat yang jaraknya sekitar 15 km. Bagaimana batu itu datang dan terhanyutkan. Apa, bagaimana, dan bahaya wedhus gembel, tentang lahar, dan hal lainnya, sehingga menjadi pengetahuan bagi para pengunjung. Informasi disampaikan dalam situasi yang menyenangkan, sambil mengunjungi situs-situs letusan Merapi, melaju di jalan bekas tambang pasir dan batu.

Kesegaran udara, kesuburan tanah, dan kelimpahan air, merupakan keberkahan alam yang terus dinikmati oleh warga di sekeliling Merapi. Namun, ketika gunung ini meletus membangun dirinya, abu, pasir, batu, selalu datang, bahkan sering menimbun peradaban. Dengan jarak letusan yang dekat, warga di sekeliling Merapi selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Melindungi, agar keberkahan alam terus adanya, dan dilindungi dari bahaya letusan gunung api.

Harmoni Merapi 041

Digambar oleh: Hadianto.

Gunung Merapi, bukan hanya diperuntukan bagi para pendaki yang secara fisik masih kuat untuk berjalan selama tujuh jam, namun, gunung ini dipersembahkan juga bagi penikmat dan pengagum bentang alam. Melihat Gunung Merapi dari Punthuk Setumbu, misalnya. Dari puncak bukit, pengunjung dengan sabar menanti detik-detik matahari terbit, menyaksikan perubahan warna langit menjadi jingga yang membias di antara mega-mega. Menjelang matahari menghangatkan semesta, Candi Borobudur dan bukit-bukit di kaki Merapi, masih dalam belitan selimut kabut.

Dari kejauhan terlihat rumah-rumah sudah meniti lereng-lereng terjal Merapi, mereka ingin semakin dekat dengan kesuburan, namun sesungguhnya semakin dekat dengan sumber ancaman. Hidup selaras di gunung api adalah kunci, adil dalam menimbang, kapan mengolah keberkahan alam dan kapan harus menjauh dari ancaman. (T. Bachtiar )

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>