Untitled-9

Merintis Geowisata di Gunung Sewu

Air Terjun Sipisopiso. Sketsa: Budi Brahmantyo

Bertemu Fiamme di Jalur Silalahi-Sumbul

25/01/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Gunung Api Purba Nglanggeran

Gunung Nglanggeran. Foto: Deni Sugandi.
Gunung Nglanggeran. Foto: Deni Sugandi.

Gunung Nglanggeran. Foto: Deni Sugandi.

Prinsip the present is the key to the past yang ditindaklanjuti dengan analisis peta geologi dan studi terpadu geologi, dapat menghasilkan penemuan dan pemikiran yang baru dan asli di dalam pengembangan ilmu kebumian. Salah satunya, fosil gunung api atau gunung api purba, yaitu gunung api yang pernah aktif pada masa lampau, tetapi sekarang sudah mati dan tererosi lanjut, sehingga penampakan bentang alamnya sudah tidak sejelas gunung api aktif masa kini, bahkan sebagian besar batuan hasil kegiatanya sudah tertimbun oleh batuan yang lebih muda. Nglanggeran adalah salah satu gunung api purba yang ditemukan di daerah Gunung Kidul.

Pada umumnya, aktivitas gunung api purba itu terjadi pada umur Tersier atau lebih tua, dan pada masa kini jejak peninggalannya hanyalah berupa
batuan gunung api. Dan sesuai fokus penelitian selama ini, fosil gunung api sudah banyak ditemukan di kawasan Pegunungan Selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Sangiran dan Jawa Tengah bagian utara, yang selama ini lebih banyak digeluti oleh ahli geologi paleontologi, stratigrafi dan sedimentologi, ternyata juga terdapat gunung api purba. Demikian pula di daerah Banten dan Jawa Barat adanya gunung api purba juga sudah dilaporkan. Di luar Jawa, gunung api purba mulai ditemukan di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, Lampungdan Sulawesi.

Di wilayah Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat bentang alam tinggian. Kawasan ini sekarang lebih dikenal sebagai salah satu objek pariwisata bernama gunung api purba Nglanggeran.

Nama ‘Nglanggran Beds’ pertama kali diperkenalkan oleh Bothe (1929) dalam sebuah buku panduan ekskursi. Bothe mendapat tugas menyusun buku panduan itu untuk digunakan para peserta Kongres Ilmiah Pasifik IV di Bandung dalam acara kunjungan lapangan ke Pegunungan Selatan, Yogyakarta – Jawa Tengah.

Kata ‘Nglanggran Beds’ terus diacu penyelidik berikutnya, misalnya oleh van Bemmelen (1949). Selanjutnya, pada “Peta Geologi Lembar Surakarta dan Giritontro”, nama itu diubah menjadi “Formasi Nglanggran” (Surono dkk., 1992). Agar selaras dengan nama pemerintah desa setempat, penulis lebih memilih untuk menggunakan kata ‘Nglanggeran’ ketimbang ‘Nglanggran’.

Gunung Nglanggeran. Foto: Deni Sugandi.

Gunung Nglanggeran. Foto: Deni Sugandi.

Penamaan ‘Nglanggran Beds’ atau ‘Formasi Nglanggran’ oleh para penyelidik terdahulu itu dikarenakan Gunung Nglanggeran dijadikan lokasi tipe satuan batuan yang sangat khas, yaitu berupa breksi gunung api berkomposisi andesit. Satuan batuan itu merupakan hasil kegiatan gunung api pada masa lampau di daerah Pegunungan Selatan Yogyakarta-Jawa Tengah.

Dalam penelitian yang lebih baru Bronto (2009, 2010 & 2013) melaporkan bahwa sebagian besar Gunung Nglanggeran tersusun oleh aglomerat, bukan breksi gunung api. Aglomerat adalah batuan piroklastika yang banyak mengandung bom gunung api. Pada saat terjadi letusan bom gunung api itu dilontarkan dari dalam kawah dan kemudian jatuh bebas di dekat/sekeliling kawah.

Adanya bom gunung api berbentuk seperti buah salak menjadi bukti bahwa bom itu dilontarkan lurus ke atas kemudian jatuh bebas sesuai hukum gaya berat. Karena itu, bahan yang besar dan berat berada di bagian bawah, sedangkan bahan yang kecil (runcing) dan ringan menempati bagian atas bom itu. Data ini menunjukkan bahwa aglomerat Gunung Nglanggeran diendapkan sangat dekat dengan kawah gunung api purba setempat.

Sekalipun letak kawah purba ini masih menjadi bahan penelitian para ahli, untuk memudahkan pemahaman masyarakat umum, Gunung Nglanggeran dipandang sebagai bagian dari Gunung api purba Nglanggeran.

Selain Nglanggeran di Pegunungan Selatan yang masuk wilayah Kabupaten Gunungkidul banyak dijumpai sisa-sisa gunung api purba setempat, mulai dari Gunung api purba Parangtritis di sebelah barat sampai dengan Gunung api purba Wediombo di sebelah timur. Pada saat ini kedua kawasan gunung api purba tersebut sudah menjadi kawasan wisata yang sangat ramai. Bahkan di sebelah barat laut Gunung api purba Nglanggeran, yakni di Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, terdapat Gunung api purba Watuadeg, yang mulai diperkenalkan sebagai objek wisata minat khusus. ( Sutikno Bronto)

Penulis, profesor riset di Pusat Survei Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>