5 Mei 2015-50

Gerakan Tanah di Pangalengan 5 Mei 2015

Mengenal-57

Mengenal Sesar Aktif

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Gunung Api dan Kepunahan Manusia Purba di Sangiran

Kepunahan Manusia-54
Kepunahan Manusia-54

Aktivitas manusia purba. Ilustrasi: Ayi Sacadipura.

Daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, dikenal sebagai “tambang” berbagai fosil mamalia, terutama manusia purba. Tempat ditemukan fosil-fosil manusia purba ini dikelilingi oleh pegunungan dan gunung api aktif. Penyebab kepunahan manusia purba ini di Sangiran diduga akibat letusan gunung api.

Daerah Sangiran merupakan perbukitan bergelombang yang dikelilingi oleh Pegunungan Kendeng di sebelah utara, Gunung Merapi – Gunung Merbabu di sebelah barat, Pegunungan Selatan di sebelah selatan dan Gunung Lawu di bagian timur. Pegunungan Kendeng adalah pegunungan lipatan membentuk tinggian berarah barat-timur, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu adalah gunung api aktif. Sedangkan pegunungan Selatan merupakan kompleks gunung api purba berumur Oligosen.

Di Sangiran dijumpai banyak fosil manusia purba. Di daerah ini juga ditemukan endapan produk gunung api. Berdasarkan fosil dan kondisi geologi yang ada, maka dapat dipahami suatu hubungan antara gunung api purba dan kepunahan manusia purba.

Lingkungan Purba Sangiran

Lingkungan tempat manusia purba dan mamalia hidup di daerah Sangiran, ditentukan berdasarkan ciri fisik batuan penyusunnya dan fosil. Menurut Itihara, dkk (1985), batuan tersebut adalah Kelompok Kendeng, yang tersusun, dari tua ke muda, oleh Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro.

Formasi Kalibeng berumur Miosen Akhir sampai Pliosen. Bagian bawahnya disusun oleh batulempung abu-abu kebiruan dan batulempung lanauan, sedikit batulempung pasiran, batulanau pasiran, batupasir lanauan, dan batupasir. Pada formasi ini, Itihara, dkk (1985) menemukan adanya enam lapisan tipis tuf, tebal 10 – 40 cm, tersusun oleh gelas, kristal berukuran pasir menengah hingga kasar. Batuan tersebut diendapkan pada lingkungan laut dangkal terbuka yang berkembang menjadi lingkungan pantai dan rawa atau air payau. Hal ini ditunjukkan oleh adanya fosil moluska, balanus dan formainifera. Hadirnya lapisan-lapisan tuf ini menunjukkan bahwa pada zaman tersebut di daerah Sangiran telah tumbuh gunung api kemudian meletus eksplosif mengendapkan jatuhan piroklastika.

Formasi Pucangan yang berumur Pleistosen Awal terdiri atas lahar bawah dan batulempung hitam. Lahar bawah (breksi vulkanik bawah), tebal 0,7 – 46 m, berukuran kerakal hingga berangkal. Litologinya tersusun oleh tuf kristal andesit tidak berlapis, batulumpur, batupasir, tuf, batu apung, nodul gampingan, moluska dan koral. Terdapat juga sisipan tuf tipis berjumlah 10 lapisan, tebal 5 – 20 cm, berbutir halus hingga menengah. Batulempung hitam tersusun oleh batulempung abu-abu kebiruan dan batulempung lanauan, sisipan batulanau, batupasir, cangkang moluska, pasir besi, foraminifera, diatome, gambut dan tuf. Endapan ini menunjukkan bahwa di daerah Sangiran telah terjadi perubahan dari lingkungan laut, payau ke air tawar atau darat. Formasi Pucangan mengandung fosil manusia purba dan mamalia

Kepunahan Manusia-55

Tugu Pb dan Fm Pucangan Sangiran. Foto: Deni Sugandi.

Hadirnya endapan lahar yang bersifat masif, berfragmen andesit berukuran kerakal – berangkal menunjukkan bahwa pada zaman Miosen Akhir sampai Pliosen di daerah Sangiran telah terjadi letusan gunung api yang mengendapkan tefra, dan tererosi menghasilkan lahar dalam kondisi arus pekat. Hadirnya lapisan-lapisan tuf berukuran butir pasir menengah – kasar menunjukkan bahwa pada zaman tersebut di daerah ini telah terjadi letusan eksplosif gunung api yang mengendapkan jatuhan piroklastika atau hujan abu.

Formasi Kabuh yang berumur Pleistosen Awal sampai Pleistosen Tengah diendapkan pada lingkungan pantai, danau hingga fluvial (darat). Hal ini ditunjukkan oleh lempung, lanau, pasir, pasir besi dan gravel, berasal dari air tawar, serta sisipan batupasir konglomeratan dan tuf. Lapisan tuf ini terdiri dari tuf bawah, tuf tengah dan tuf atas. Bagian paling bawah dari formasi ini, tebal 4,2 – 20 m, tersusun oleh lempung, lanau, pasir, pasir besi dan gravel. Bagian bawah lapisan ini berupa sisipan tuf (disebut tuf paling bawah), berwarna merah muda, tebal 10 – 60 cm; dan grenzbank, yaitu lapisan yang tersusun oleh mikrit-interklas, biomikrit, ganggang biotit, mirkit arenitan, biomikrit foraminfera plankton, fragmen cangkang foram besar, fragmen andesit, butir-butir pasir dan foraminera plankton, dalam spary kalsit.

Lapisan tuf bawah berwarna putih, tebal hingga 100 cm, tersusun oleh abu vulkanik berbutir halus. Di antara lapisan tuf bawah dan tuf tengah, tebal 3,5 – 17 m, terdapat lapisan lempung, lanau, pasir besi dan gravel, yang mengandung fosil mamalia. Lapisan tuf tengah berwarna putih kekuningan, tebal hingga 110 cm, tersusun oleh lanau pasiran tufan. Lapisan di antara tuf tengah sampai tuf atas, tebal 5,8 – 20 m, tersusun oleh lempung, lanau, pasir besi dan gravel, dan sisipan tuf. Lapisan ini mengandung fosil manusia purba dan mamalia. Bagian atas lapisan tuf tengah, tebal sampai 60 cm, tersusun oleh abu vulkanik warna putih. Lapisan tuf atas tebal mencapai 90 cm, berwarna merah muda. Di atas tuf atas hingga Formasi Notopuro, tebal 3,4 – 16 m, tersusun oleh lempung, lanau, pasir besi dan gravel berasal dari air tawar, mengandung fosil mamalia dan tanpa fosil manusia purba.

Pada Formasi Kabuh, terdapat juga lahar (endapan darat/fluvial), berukuran lempung hingga garvel, berlapis, struktur umumnya silang siur, fragmen andesit, batuapung. Endapan ini menunjukkan bahwa pada zaman Pleistosen Awal – Tengah, di daerah Sangiran telah terjadi letusan gunung api yang cukup kuat yang mengendapkan tefra yang kemudian tererosi menghasilkan lahar dalam kondisi arus tidak pekat. Hadirnya lapisan-lapisan tuf berukuran halus–kasar menyisip pada endapan lahar menunjukkan bahwa selama pengendapan lahar ini, terjadi pula letusan eksplosif gunung api yang mengendapkan jatuhan piroklastika (abu).

Formasi Notopuro berumur Pleistosen Awal-Pleistosen Tengah. Bagian bawahnya tersusun oleh pasir tufan dengan gravel yang berasal dari fluvial, lanau, lempung dan tuf. Lebih dari 3 lapisan tuf dijumpai sebagai sisipan tersusun oleh abu vulkanik. Pada formasi ini, di Pohjajar, ditemukan fosil mamalia.Terdapat juga lahar, disebut lahar atas, yang tersusun oleh endapan debris avalanche berupa fragmen andesit menyudut hingga membundar, berukuran kerikil hingga bongkah, mengandung tuf kristal andesit yang tak tepilah dengan beberapa bola batuapung. Bagian paling atas dari lapisan lahar ini disusun oleh fragmen andesit berkuran kerikil hingga bongkah. Di sini tidak dijumpai fosil mamalia. Bagian tengah formasi ini tersusun oleh pasir dan gravel, lanau fluvial, dengan sisipan lebih dari dua lapisan tuf dan lapisan tuf pumis. Pada lapisan ini tidak ditemukan fosil mamalia. Sementara bagian atas formasi ini dimulai dengan lapisan pumis, yang menumpang tidak selaras diatas lapisan sebelumnya.

Hadirnya endapan longsoran gunung api dan lahar, menunjukkan bahwa pada zaman Pleistosen Awal– Tengah, di Sangiran telah terjadi longsoran gunung api yang cukup kuat yang melanda sebagian besar daerah tersebut yang kemudian tererosi menghasilkan endapan lahar dalam kondisi arus tidak pekat. Hadirnya lapisanlapisan tuf berukuran butir pasir halus – kasar yang menyisip pada endapan lahar menunjukkan bahwa selama pengendapan lahar, telah terjadi pula letusan eksplosif gunung api yang mengendapkan piroklastika

Kepunahan Manusia-56

Pithecantropus II Museum Geologi. Foto: Deni Sugandi.

Kepunahan Manusia Purba

Keberadaan gunung api purba di daerah Sangiran sejak zaman Miosen Akhir hingga Pleistosen Tengah menghasilkan aliran piroklastik, jatuhan pioroklastika, longsoran material endapan gunung api dan menyebabkan terjadinya endapan lahar. Hingga saat ini sumber letusan dari endapan tersebut belum teridentifikasi dengan jelas. Pada masa tenang, aktivitas gunung api memberi dukungan bagi lingkungan untuk berkembang biak dengan baik. Sebaliknya, pada masa letusan, gunung api menjadi ancaman yang dapat menghancurkan bahkan memusnahkan kehidupan yang ada.

Rekaman aktif tidaknya gunung api dapat dilihat dari sifat fisik endapan batuan setiap formasi, yang meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi, ketebalan dan penyebarannya. Berdasarkan hal tersebut hubungan antara aktivitas gunung api dengan semua kehidupan flora dan fauna, termasuk manusia purba dan mamalia di daerah Sangiran dapat dijelaskan berdasarkan kala atau masa saat gunung api tersebut meletus sebagaimana di bawah ini.

Pertama, aktivitas gunung api berlangsung pada zaman Miosen Ahir – Pliosen. Pada zaman ini daerah Sangiran masih berupa lingkungan laut dangkal terbuka, pantai hingga rawa. Pada saat itu, gunung api di daerah Sangiran beberapa kali meletus, bersifat eksplosif, mengasilkan abu gunung api yang terbawa angin ke daerah Sangiran dan mengendapkan lapisan-lapisan tuf sebagai sisipan

pada batulempung abu-abu kebiruan penyusun Formasi Kalibeng. Kehidupan yang ada masih berupa biota laut dari foraminifera kecil dan besar. Manusia purba ataupun mamalia belum menempati daerah tersebut

Kedua, aktivitas gunung api pada zaman Pleistosen Awal. Pada zaman ini daerah Sangiran sebagian besar berupa lingkungan rawa atau danau yang berada di antara gunung api dan sebagian kecil lingkungan laut. Manusia purba, mamalia, reptil dan primata primata sudah menempati daerah Sangiran karena keadaan lingkungan sangat mendukung untuk kehidupan tersebut disebabkan tersedia makanan, air dan keperluan hidup lainnya sangat melimpah. Pada saat itu beberapa kali gunung api di sekitar Sangiran meletus, tetapi letusannya relatif kecil, menghasilkan abu dan tidak mempengaruhi kehidupan manusia purba dan mamalia. Hal ini ditunjukkan oleh sisipan lapisan-lapisan tuf pada endapan-endapan pantai dan rawa.

Ketiga, aktivitas gunung api pada zaman Pleistosen Awal. Pada zaman ini aktivitas gunung api di daerah Sangiran sangat hebat. Aktivitasnya diawali dengan letusan besar yang menghasilkan tuf berlapis yang menindih langsung batu lempung hitam penyusun Formasi Pucangan. Kemudian, terjadi letusan besar yang menghasilkan aliran piroklastika (awan panas) dan jatuhan piroklastika yang diendapkan di bagian tubuh gunung api sebagai bahan pembentuk lahar. Pada musim penghujan yang sering kali terjadi hujan lebat, air hujan mengerosi endapan gunung api itu dan endapan hasil letusan yang kemudian membentuk lahar yang mengalir ke daerah yang rendah berupa lembah dan dataran di antara gunung api.

Sebelum dan selama pengendapan lahar, gunung api di daerah Sangiran sering meletus menghasilkan hujan abu dan mengendapkan lapisan-lapisan tuf, yang mendasari Formasi Kabuh dan sebagai sisipan. Karena aktivitas gunung api ini, pada zaman itu kemungkinan manusia purba tidak dapat beraktivitas sama sekali selama berhari-hari atau malahan bermingguminggu, sehingga terjadi kelaparan dan akhirnya mati. Jadi, zaman Pleistosen Awal adalah masa katastrofi bagi seluruh kehidupan di daerah Sangiran, yakni terjadi letusan besar yang menghasilkan awan panas, abu gunung api dan lahar yang telah menghancurkan semuanya.

Keempat, aktivitas gunung api pada zaman Pleistosen Awal-Tengah. Pada zaman ini, daerah Sangiran berupa lingkungan darat dan gunung api masih sangat aktif. Kemudian, malapetaka terjadi, yaitu longsoran raksasa tubuh gunung api yang melanda apa saja yang dilaluinya dan kemungkinan disertai oleh aliran piroklastika serta hujan abu. Selanjutnya endapan longsoran tersebut pada musim hujan bercampur dengan air menghasilkan lahar dalam kondisi arus pekat. Selama dan sesudah pengendapan lahar terjadi pula hujan abu.

Endapan bahan longsoran mengubur tata lingkungan kehidupan secara permanen karena cukup tebal. Lebih dari itu, jarak longsoran juga sangat jauh dan sebarannya sangat luas mencapai 20 km (Tegalgiri – Jatikuwung). Luasnya mencapai ratusan kilometer persegi meliputi Tegalgiri – Gondangrejo – Jatikuwung -Ngemplak. Sedangkan penyebaran lahar hasil rombakan longsoran gunung api tersebut meliputi daerah Ngemplak, Gemolong, Plupuh dan Gondangrejo yang luasnya mencapai 180 km persegi. Inilah yang diperkirakan penyebab manusia purba Sangiran punah sama sekali. (Pudjo Asmoro)

Penulis, bekerja di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Bandung 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>