gomora-7 3

Sodom & Gomora

dekade-1

Dekade Teror Gempa Sumatra

29/09/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Gunung Anak Krakatau,Sang Anak yang Tumbuh Pesat

GBR-1

GBR-1Selama dua tahun sampai 15 Januari 1929 terjadi rentetan semburan air laut ke udara di pusat Kompleks Gunung Krakatau. Pada 20 Januari 1929, asap meniang keluar dari tumpukan material gunung api yang baru muncul di permukaan, yang mulai tumbuh dari kedalaman laut 180 m. Itulah gunung yang baru lahir yang diberi nama Gunung Anak Krakatau. Anak gunung api ini tumbuh 4 m per tahun dan mempesona banyak orang.

GBR-13

Peta lokasi pulau-pulau sekitar Selat Sunda

Sejak munculnya di permukaan laut pada 1929 hingga saat ini, pertumbuhan Gunung Anak Krakatau terbilang cepat. Selama 80 tahun, sampai dengan 2010, tingginya sudah mencapai 320 m dpl, estimasi percepatan pertumbuhannya rata-rata 4 m per tahun.

Berdasarkan perhitungan, volume tubuh Gunung Anak Krakatau dari dasar laut sejak tahun 1927 sampai dengan 1981 mencapai 2,35 km3. Tahun 1983 membesar menjadi 2,87 km3 dan tahun 1990 mencapai 3,25 km3. Pengukuran terakhir yang dilakukan pada tahun 2000, tubuhnya sudah membengkak mencapai 5,52 km3 (Gambar 2).

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Setelah melewati masa istirahat kedua, pada periode 1884 sampai Desember 1927, 29 Desember 1927 terjadi letusan bawah laut (Gambar 3) yang menyemburkan air laut di pusat Kompleks Gunung Krakatau menyerupai air mancur terjadi terus menerus sampai 15 Januari 1929 (Stehn, 1929). Pada 20 Januari 1929, Stehn melihat tumpukan material muncul di permukaan air tepat pada posisi Krakatau sebelum meletus di samping tiang asap dan membentuk satu pulau kecil. Itu hari pertama anak gunung lahir, kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Gunung Anak Krakatau dari kedalaman laut 180 m (Gambar 4).

Aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau sejak 1992 sampai dengan 2001 terjadi hampir setiap hari. Selama sembilan tahun, Anak Krakatau bertambah tinggi lebih dari 100 m dan penambahan areanya seluas 378.527 m2. Apabila pertambahan tinggi dan volume konsisten, maka diperkirakan pada tahun 2020 volume Gunung Anak Krakatau akan melebihi volume Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan (11,01 km3) menjelang letusan katastrofis Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

GBR-2 2

Gambar 2. Grafik pertambahan volume tubuh Gunung Anak Krakatau dalam km3 dari tahun 1980-2005.

Masa istirahat kegiatan letusannya berkisar antara 1 sampai 8 tahun dan rata-rata terjadi letusan 4 tahun sekali. Pada tahun 2000 dilakukan pengukuran dimensi Gunung Anak Krakatau, tingginya 320 m
dpl dengan volume sebesar 5,52 km3 (Gambar 5). Secara umum pertumbuhannya rata-rata 4 meter per tahun (Sutawidjaja, 1997). Bronto (1990) melakukan perhitungan kecepatan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau, yaitu 0,051 km3 per tahun, sehingga analisis volume secara kuantitatif, diperkirakan pada tahun 2020 volume Gunung Anak Krakatau akan melebihi volume Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuwatan (11,01 km3) (Self and Rampino, 1981) menjelang letusan katastrofis Gunung Krakatau 1883. Tercatat dalam sejarah sekurang-kurangnya telah tiga kali Gunung Krakatau mengalami penghancuran dan pembangunan tubuhnya kembali, yaitu tahun 416, 1200, dan 1883. Sebelum letusan yang menghancurkan tubuhnya pada 1883, di sekitar Krakatau tumbuh Gunung Rakata (822 m dpl),Gunung Danan (450 m dpl) dan, Gunung Perbuwatan (120 m dpl). Segala aspek yang menjadi faktor pendorong meningkatnya ancaman bahaya bagi masyarakat jika terjadi letusan patut diperhitungkan. Melihat pertumbuha

GBR-3 2

Gambar 3. Letusan bawah laut menjelang kelahiran Gunung Anak Krakatau (Foto: Stehn 1928).

n kerucut Gunung Anak Krakatau yang sangat cepat; semakin tinggi dan besar, maka bencana seperti yang pernah terjadi pada 1883 letusan dapat terulang kembali. Meskipun demikian, besarnya tubuh suatu gunung api bukan penentu besarnya ancaman bahaya yang akan terjadi. Ancaman itu meskipun masih jauh di depan mata, tetapi apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka bencana itu akan melanda kawasan Selat Sunda yang sangat padat penduduk dan menjadi kawasan industri.

Sejak munculnya Gunung Anak Krakatau 1929, para ahli gunung api mencurahkan perhatiannya dan bahkan khawatir kemungkinan akan terjadi kembali letusan besar seperti 1883, tetapi kemungkinan tersebut dibantah dengan berbagai alasan, di antaranya berdasarkan komposisi kimia batuan hasil letusan Gunung Anak Krakatau saat ini. Bemmelen (1949) berpendapat bahwa kemungkinan letusan katastropis dapat terulang kembali apabila komposisi kimia batuan hasil letusan, berubah dari magma basa (SiO2 rendah) ke magma asam (SiO2 tinggi). Ia juga menegaskan bahwa letusan berbahaya bagi Krakatau umumnya diawali masa istirahat ratusan tahun untuk pengumpulan energi baru. Seperti telah diterangkan sebelumnya bahwa pertumbuhan  Gunung Anak Krakatau sangat cepat membangun tubuhnya dengan endapan piroklastik dan lava. Dari beberapa aktivitas letusan tersebut, terutama dari setiap letusan magmatik, diambil sampelnya untuk dianalisis kimia batuan. De Neve (1981) membuat diagram perubahan komposisi kimia batuan Gunung Anak Krakatau sejak 1930. Perubahan komposisi silika dari setiap letusan digambarkan dalam suatu grafik, kemudian grafik perubahan silika ini dilanjutkan sejak 1981.

GBR-4 1

Gambar 4. Kelahiran Gunung Anak Krakatau pada 20 Januari 1929, tinggi pulau 1,5 m dan diameter 4 m (Foto: Stehn, 1929).

Pada November 1992 hingga Juni 2001, Gunung Anak Krakatau meletus terus-menerus hampir setiap hari, bahkan hampir setiap 15 menit sekali, melontarkan piroklastik lepas jenis skoria berukuran abu, pasir, lapilli sampai bom vulkanik, dan beberapa letusan diakhiri dengan leleran lava. Setiap leleran lava tersebut dipetakan dalam Peta Geologi. Analisis batuan dari lava-lava tersebut menghasilkan komposisi silika yang berbeda dan cenderung meningkat persentase silikanya dari setiap letusannya. Nilai silika dalam komposisi Lava November 1992 sebesar 53,95%, Lava Februari 1993 sebesar 53,53%, Lava Juni 1993 sebesar 53,97%, dan leleran lava terakhir dari rentetan letusan tersebut adalah Juli 1996 dengan persentase silikanya 54,77% (Sutawidjaja, 2006). Terlihat bahwa garis dari nilai persentase silika tampak meningkat secara perlahan. Apabila peningkatan persentase silika ini terjadi secara konsisten dan diasumsikan meningkat satu persen dalam sepuluh tahun, maka untuk mencapai 68 % (komposisi asam) dibutuhkan waktu 140 tahun.

GBR-5 2

Gambar 5. Anak gunung itu sekarang sudah tumbuh besar berumur 80 tahun.

Kegiatan letusan Gunung Anak Krakatau saat ini bukan ancaman dan tidak menimbulkan bencana bagi penduduk dan pelayaran di sekitar Selat Sunda, karena jangkauan lontaran batu (pijar) terbatas sekitar Pulau Anak Krakatau. Tinggi tiang asap berkisar antara 100 m sampai 1000 m di atas puncak dengan radius 3 km dari pusat erupsi. Sementara ini yang perlu mendapat perhatian adalah material berukuran abu yang diterbangkan angin sehinggamencapai jalur penerbangan pesawat terbang, sangat berbahaya apabila terhisap mesin jet, karena akan merusak mesin tersebut.

GBR-6 2

Gambar 6. Letusan abu Gunung Anak Krakatau yang didorong oleh angin hingga membahayakan jalur penerbangan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, sesungguhnya bencana yang mengintai adalah banyaknya wisatawan yang datang berkunjung ke Anak Krakatau. Mereka pada umumnya ingin melihat letusan lebih dekat, bahkan memaksa mendarat dan naik ke lereng gunung api yang sedang aktif. Hal tersebut sering terjadi karena lemahnya pengawasan. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan koordinasi antara Perhotelan, Perusahaan Travel, BKSDA Lampung, Pemerintah Daerah (Lampung dan Banten), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, dan Syahbandar, dalam rangka mengawasi dan melindungi para pengunjung, terutama bila anak gunung ini sedang meletus atau dinyatakan meningkat aktivitasnya.

Potensi Wisata Kawasan Krakatau

GBR-7 1

Gambar 7. Letusan stromboli Anak Krakatau yang menarik perhatian para wisatawan.

Kawasan Krakatau merupakan kompleks gunung api dan Anak Krakatau adalah salah satu gunung api aktif di Indonesia yang sering meletus, hampir terjadi setiap tahun. Sebagai gunung api yang sedang tumbuh, letusan strombolian (letusan yang melontarkan lava pijar bagaikan air mancur) menjadi ciri khasnya (Gambar 7). Selain bencana, Kawasan Krakatau menjanjikan banyak keindahan. Kawasan ini mempunyai sumber daya wisata yang melimpah dan merupakan aset bagi Pemerintah Daerah, antara lain sumber daya ilmiah dan sumber daya alam. Sumber daya ilmiah meliputi; obyek penelitian ilmu kebumian (vulkanologi, geologi marin, geofisika, meteorologi), biologi, dan lainnya. Sedangkan sumber daya alam antara lain potensi wisata kawasan gunung api, wisata hutan, wisata pantai, wisata laut dan menyelam. Apabila dikembangkan dengan pengaturan yang baik, potensi tersebut merupakan sumber penghasilan daerah yang cukup besar dan membuka lapangan kerja.

GBR-8 1

Gambar 8. Pantai Lagun Cabe di Pulau Rakata, merupakan pantai favorit untuk mandi di laut, snorkling, diving.

Obyek wisata pantai merupakan hamparan pasir putih yang tersusun atas butiran pasir batuapung, yang mempesona, ditemukan di beberapa bagian pesisir pantai Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau
Panjang. Di Pulau Anak Krakatau pasir pantainya hitam karena tersusun dari batuan hasil letusan gunung api berkomposisi andesitis dengan mineral gelap. Di beberapa tempat, pantai ini ditumbuhi beberapa jenis pepohonan yang didominasi oleh jenis Ipomoea pes-caprae dan jenis jenis lain yang tumbuh merambat pada tumbuhan pokok.

Sejak kemunculannya sampai dengan tahun 1932 telah mulai muncul tumbuhan pioneer dan anakan pohon (seedling) beberapa spesies tipe pantai tetapi semuanya kembali musnah pada letusan yang cukup besar pada tahun 1933. Sampai sekarang ini Gunung Anak Krakatau masih merupakan gunung api yang aktif dan masih sering menyemburkan lava dan pasir panas secara periodik. Oleh karena itu kondisi vegetasi di Gunung Anak Krakatau merupakan kondisi yang selalu mengalami suksesi tumbuhan yang tidak pernah mencapai klimaks.

GBR-10

Gambar 10. Pantai di Pulau Anak Krakatau, merupakan tempat pendaratan untuk mendaki ke puncaknya.

Meskipun Anak Krakatau merupakan gunung api aktif, tetapi pada bagian tertentu, terutama pada sisi timur telah banyak ditumbuhi vegetasi, didominasi oleh hutan Neonauclea, hutan Timonius, dan hutan Dysoxylum yang bercampur dengan jenis pohon lain dalam jumlah relatif sedikit. Daerah punggung gunung umumnya masih gundul karena suhu tinggi dan kekurangan air. Pada daerah ini dijumpai jenis tumbuhan pioner seperti gelagah, sengguguk (Melastoma affine).

GBR-9

Gambar 9. Tanaman jenis Ipomoea pes-caprae yang tumbuh di pulau Rakata, Panjang dan, Pulau Sertung.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang mengelola kawasan ini berupaya melestarikan dan mengembangkannya untuk ekowisata dengan memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan para wisatawan agar dapat menikmati lingkungan yang asri alami dengan aman. Termasuk pada umumnya para pengunjung Kawasan Krakatau wisatawan mancanagara yang berduit, karena kunjungan ke daerah ini memerlukan biaya tinggi, untuk sewa kapal dalam kondisi baik karena arus gelombang laut cukup kuat. Kehadiran para wisatawan ke kawasan ini, baik secara langsung maupun tidak langsung
dapat meningkatkan perekonomi masyarakat sekitarnya. Diperkirakan waktu tinggal wisatawan mancanegara di Indonesia kelak akan menjadi lebih lama, yakni rata-rata 12 hari. Daerah tujuan wisata akan dibuka lebih banyak lagi, demikian juga dengan pesona wisata yang akan lebih bervariasi sehingga akan menjadi lebih memikat dengan demikian diharapkan devisa yang akan diperoleh juga akan menjadi lebih meningkat.

GBR-11

Gambar 11. Sebelah timur Anak Krakatau, didominasi tumbuhan Neonauclea, Timonius, dan Dysoxylum yang bercampur dengan jenis jenis pohon lain dalam jumlah relatif sedikit.

Masyarakat di sekitar Selat Sunda dapat menikmati pendapatan alternatif serta berperan serta menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi sumber kehidupan mereka. Masyarakat, di samping sebagai petani atau nelayan, juga dapat memperoleh manfaat ekonomi atas kehadiran para wisatawan dengan jalan membuka pemondokan, menjadi pemandu, porter dan lain sebagainya.

Setiap pulau kecil yang masih memiliki lingkungan asli selalu menyajikan pesona luar biasa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ribuan pulaupulau berukuran kecil yang mempesona. Namun sayang tidak banyak pulau kecil yang dapat bertahan dari berbagai kerusakan baik dari alam maupun dari ulah manusia. Komplek Krakatau merupakan salah satu pulau yang memiliki keindahan dan aset ilmu pengetahuan yang perlu dijaga.

GBR-12--1

Gambar 12. Jenis terumbu karang yang tumbuh di kawasan Krakatau, terutama di sekitar Lagun Cabe pantai timur P. Rakata.

Selain pantai yang indah dan bersih, sekitar perairan Kawasan Krakatau terbentuk terumbu yang sangat indah. Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang terdapat di perairan tropika yang mempunyai produktivitas tinggi dengan keanekaragaman biota yang besar dan dilihat dari sudut estetika sangat indah pula (Johannes,1972). Menurutnya, terumbu karang hanya dapat hidup dengan baik pada perairan yang bersuhu antara 20º dan 28º walaupun masih dapat hidup pada suhu beberapa derajat di bawah atau di atasnya. Terumbu karang terdapat pada perairan dangkal dan mencapai pertumbuhan optimum pada kedalaman kurang dari 30 m. Air laut yang jemih dan salinitas yang tinggi (berkisar antara 27% sampai dengan 40%. Dalam ekosistem terumbu karang, karang batu (Scleractinia) merupakan komponen utama dan mempunyai peranan yang sangat menonjol. Keindahan panorama bawah air, seperti terumbu karang dengan beranekaragam fauna dan floranya merupakan daya tarik tersendiri untuk wisata penyelaman di perairan dangkal dengan scubing atau snorkeling. Dengan perencanaan yang seksama, yang merupakan salah satu elemen penting untuk mengembangkan pariwisata, para wisatawan akan merasa nyaman dan aman berwisata ke Pulau Anak Krakatau.

Penulis adalah Penyelidik Bumi Badan Geologi

DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia. Vol.1, The Hague, 194-213.
Bronto, S., 1990, G. Krakatau. Berita Berkala Vulkanologi, Edisi Khusus No. 133. Direktorat Vulkanologi.
De Neve, G.A., 1981, Historical notes on Krakatau’s eruption of 1883, and activities in previous times. Natl. Inst. Oceanology (LON-LIPI), Jakarta, 45 pp.
Johannes, R.E.,1972.- Coral reef and pollution. In: “Marine Pollution and Sea Life” (RUIVO ed.): 365-374. Fishing News Book Limited, London.
Self, S., and Rampino, M., 1981, The 1883 eruption of Krakatau. Nature, V. 294, pp. 699-704.
Stehn, CH. E., 1929, The geology and volcanism of the Krakatau Group. Part I. 1-55.
Sudradjat, A., 1983, The morphological development of Krakatau volcano, Sunda Strait, Indonesia. Proceeding of 100th year Development of Krakatau and Its Surrounding, LIPI, Indonesia.
Sutawidjaja, I.S., 1997, The activities of Anak Krakatau volcano during the years of 1992-1996. The Disaster Prepention Research Institute Annuals, No. 40 IDNDR S. I., Kyoto University, Kyoto, Japan.
Sutawidjaja, I.S., 2006, Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau setelah letusan katastrofis 1883. Jurnal Geologi Indonesia, Vol.1 No.3,143-153.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>