REE-46

REE, Logam Kecil untuk Teknologi Canggih

Kepunahan Manusia-54

Gunung Api dan Kepunahan Manusia Purba di Sangiran

13/08/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Gerakan Tanah di Pangalengan 5 Mei 2015

5 Mei 2015-50
5 Mei 2015-50

Gerakan tanah di Pangalengan. Foto: Deni Sugandi.

Gerakan tanah menerjang wilayah Pangalengan pada 5 Mei 2015. Sebelumnya, pada 2 Mei 2015 Tim Pemeriksaan bencana gerakan tanah dari PVMBG, Badan Geologi didampingi oleh Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung telah melakukan pemeriksaan dalam rangka kajian bencana gerakan tanah yang terjadi di wilayah itu pada 2 Mei 2015. Dalam kesempatan ini, tim pemeriksaan juga melakukan diskusi dengan BPBD Kabupaten Bandung, dan PT. Star Energy tentang langkah-langkah penanganan gerakan tanah yang terjadi. 

Pada tanggal 5 Mei 2015, kembali terjadi gerakan tanah pada lokasi yang sama. Atas kejadian tersebut, tim tanggap darurat dan tanggapan bencana gerakan tanah dari PVMBG melakukan pemeriksaan serta mempertautkannya dengan kajian pada 2 Mei 2015. Gerakan tanah atau longsor kali ini cukup besar.

Selain menyebabkan korban jiwa, gerakan tanah 5 Mei 2015 di Pangalengan ini juga mengakibatkan pipa aliran uap panasbumi milil PT. Star Energy meletus dan terputus. Dengan demikian, penanganan pasca gerakan tanah dan penempatan kembali pipa uap panasbumi itu harus hati-hati dengan mempertimbangkan potensi gerakan tanah di kemudian hari. Hal ini, selain untuk mengurangi korban jiwa juga untuk mencegah hambatan pada pembangkit energi listrik akibat terputusnya uap panas bumi, apabila terjadi gerakan tanah lagi.

Geologi dan Zona Gerakan Tanah

Secara geografis lokasi gerakan tanah di Pangalengan itu berada pada koordinat 107°37’54,3” BT dan 07°11’24,0” LS. Adapun secara administratif, lokasi ini termasuk wilayah Kampung Cibitung, RW.15, RT.01, Desa Margarmukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Secara umum daerah bencana merupakan daerah kaki lereng Gunung Bedil yang berketinggian antara 1.710 – 1.760 m di atas muka laut. Kemiringan lereng di sini berkisar antara 12 – 15° dan lebih terjal, kemiringan sekitar 45 – 50° pada bagian atas.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan Peta Geologi Lembar Garut-Pameungpeuk (Alzwar M, dkk, 1992), batuan dasar penyusun daerah gerakan tanah

5 Mei 2015-51

Gerakan tanah di Pangalengan. Foto: Kristianto

berupa endapan rempah lepas gunung api tua tak teruraikan (Qopu). Batuan ini tersusun dari tuf hablur, halus-kasar, dasitan; breksi tufaan mengandung batuapung, dan endapan lahar tua bersifat andesitan-basalan (gunung api, aliran lahar dengan susunan komponen andesit dan basal lapuk sedang hingga sempurna), tebal 2- 3 m. Dari struktur geologinya, berdasarkan peta geologi tersebut, dijumpai sesar normal yang berarah utara – selatan, sehingga daerah tersebut merupakan zona lemah.

Kemudian berdasarkan atlas peta zona kerentanan gerakan tanah Kabupaten Bandung (PVMBG, 2014), lokasi kejadian gerakan tanah termasuk zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Artinya, daerah tersebut memang mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Peta Prakiraan Potensi gerakan Tanah Bulan Mei 2015 memperlihatkan bahwa Kecamatan Pengalengan Kabupaten Bandung termasuk dalam potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah dan potensi aliran banjir bandang.

Hasil Pemeriksaan

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan pada 2 Mei 2015, jenis gerakan tanah yang terjadi berupa nendatan. Arahnya, N 270° E dan retakan yang mengarah ke pipa PT. Star Energy (N 310° E), dengan ukuran panjang 150 m dan lebar 253 m. Lebar retakan 20 – 30 cm, yang disertai nendatan berarah barat. Pemukiman penduduk berada pada bagian bawah gerakan tanah, berjarak sekitar 200 m dari kaki gerakan tanah.

Retakan dan nendatan tersebut terjadi sejak pertengahan bulan Maret 2015 dan setiap musim penghujan retakan terus berkembang. Pengamatan gerakan tanah pada 2 Mei 2015 menunjukkan adanya mahkota gerakan tanah dengan panjang sekitar 150 m, lebar 253 m, dan lebar rongga retakan 20 – 30 cm. Retakan masih terus berkembang terutama setelah terjadi hujan lebat secara terus menerus pada 2 – 4 Mei 2015. Kejadian gerakan tanah pada 5 Mei 2015 pukul 15.00 WIB, diperkirakan karena retakan itu berkembang menjadi longsoran bahan rombakan dengan panjang 1.000 m dan lebar 500 m (informasi dari BPBD Kabupaten Bandung).

5 Mei 2015-52

Gerakan tanah di Pangalengan. Foto: Kristianto.

Dari pemeriksaan itu juga dapat diketahui faktor-faktor penyebab gerakan tanah itu. Pertama, curah hujan yang deras dan berlangsung lama. Kedua, bagian atas area yang longsor yang disusun oleh batuan vulkanik berupa breksi tufan dengan tanah pelapukan yang bersifat gembur. Ketiga, bagian bawahnya disusun oleh tuff yang bersifat kedap air sehingga pada kondisi tanah yang jenuh air dan kemiringan lereng yang terjal, maka tanah diatasnya akan cenderung bergerak. Batuan tuff dan batuan vulkanik yang berwarna hitam bersifat kedap air tersebut adalah bidang lemah yang menjadi bidang gelincir gerakan tanah.

Selain ketiga faktor tersebut, air yang meresap dari lereng atas yang masuk ke dalam retakan yang sudah terbentuk sehingga meningkatkan bobot massa tanah. Juga adanya perubahan tata guna lahan yaitu dari pepohonan yang berakar kuat dan dalam menjadi tanaman rumput gajah. Penyebab lainnya adalah adanya erosi pada daerah kaki lereng bawah serta pemotongan lereng untuk penempatan pipa, sehingga lereng kehilangan tahanan.

Selama ini, di daerah bencana telah terjadi perubahan alih fungsi lahan, yaitu tata lahan pada lereng bagian atas yang semula berupa hutan, lereng tengah dan bawah berupa ARTIKEL 86 GEOMAGZ | JUNI 2015 hutan pinus kini sudah banyak berubah menjadi tanaman rumput gajah. Sementara dari sisi tata air, menurut informasi dari masyarakat setempat, pada lereng atas Gunung Bedil terdapat telaga dengan luas sekitar 1 Ha. Setelah terjadinya retakan dan nendatan tanah, muncul air dari dalam retakan yang diperkirakan akibat dari muka air tanah yang terpotong oleh gerakan tanah.

Mekanisme dan Dampaknya

Setelah hujan deras antara 2 – 4 Mei 2015 yang berlangsung lama di daerah gerakan tanah dan sekitarnya, maka air banyak meresap ke dalam tanah. Akibatnya bobot massa tanah meningkat. Hal tersebut diperburuk dengan adanya longsoran lama yang pernah terjadi pada tahun 2012, tata guna lahan yang didominasi oleh rumput gajah, erosi pada daerah kaki lereng, dan pemotongan pada lereng bagian bawah.

Sementara itu, adanya zona lemah di daerah tersebut yang disebabkan oleh batuan dasar berupa breksi tuffan dan tuff yang bersifat kedap air dengan tanah pelapukan yang tebal dan gembur, maka kontak antara tanah pelapukan dengan batuan dasarnya dapat menjadi bidang gelincir gerakan tanah. Pada kejadian gerakan tanah 5 Mei 2015, gerakan tanah berkembang menjadi longsoran bahan rombakan.

Adapun dampak kejadian gerakan tanah hasil pemeriksaan pada tanggal 2 Mei 2015 adalah kerusakan pada penyangga beton pipa retak–retak dan pipa penyaluran panas bumi melengkung di wilayah kerja PT. Star Energy. Jika gerakan tanah ini terus berkembang, diperkirakan pipa tersebut putus dan mengalami kebocoran sehingga dampak uap panas bumi dari pipa yang bocor dapat mengancam pemukiman yang dihuni oleh 52 KK atau 200 jiwa (1 kampung).

Dampak kejadian gerakan tanah pada 5 Mei 2015 adalah kerusakan pada pipa penyaluran uap panas bumi di wilayah kerja PT. Star Energy yang terpotong sekitar 300 m dan menimbulkan ledakan (informasi dari BPBD Kabupaten Bandung). Selain itu, kejadian tersebut menyebabkan 6 orang meninggal dunia, 8 orang terkubur, 2 orang luka berat, dan 8 rumah tertimbun material longsoran (informasi dari BPBD Kabupaten Bandung hingga pukul 21.30 WIB).

5 Mei 2015-53

Gerakan tanah di Pangalengan. Foto: Kristianto.

Pembelajaran dari Bencana Gerakan Tanah Pangalengan

Kejadian bencana gerakan tanah Pangalengan tanggal 5 Mei 2015 telah memberikan pelajaran kepada kita terutama berkaitan dengan perlunya meningkatkan upaya mitigasi bencana gerakan tanah. Upaya mitigasi tersebut dilakukan melalui mitigasi struktural atau fisik dan mitigasi non struktural. Mitigasi struktural gerakan tanah dapat dilakukan dengan membuat atau menguatkan penahan lereng (retaining wall, shortcreate, bronjong, tiang pemancang, penguatan bagian bawah lereng atau counter weight), menghindari membuat sawah atau kolam pada bagian atas lereng, tidak membangun di bawah lereng dan muara sungai, membangun sistem peringatan dini, membuat tempat dan jalur evakuasi, memasang rambu-rambu atau papan peringatan daerah rawan gerakan tanah, melakukan relokasi apabila berdasarkan hasil penyelidikan daerah tersebut sudah tidak layak untuk ditempati, serta melakukan pemantauan gerakan tanah pada daerah vital dan strategis (misalnya pada jalur jalan strategis, permukiman padat, bendungan PLTA, pipa panas bumi, dan lain–lain). Disamping itu juga dilakukan upaya mitigasi non struktural gerakan tanah yang bertujuan untuk lebih meningkatkan pengetahuan, kewaspadaan, kesiapsiagaan, kapasitas masyarakat dan aparat dalam menghadapi bencana gerakan tanah.

Badan Geologi telah mengeluarkan atlas peta zona gerakan tanah untuk seluruh wilayah Indonesia, juga peta prakiraan gerakan tanah. Data tersebut sebaiknya dioptimalkan penggunaannya oleh masyarakat dan Pemerintah Daerah, terutama apabila memasuki musim hujan. Adanya retakan tanah sebaiknya menjadi perhatian akan terjadinya gerakan tanah, terutama yang membentuk pola retakan tanah tapal kuda pada mahkota gerakan tanah. Dewasa ini telah dikembangkan sistim peringatan dini gerakan tanah. Disamping itu sebaiknya jalur pipa panas bumi lokasinya jauh dari permukiman. Upaya menjaga kelestarian lingkungan juga tidak kalah pentingnya, terutama yang mengakibatkan perubahan tata guna lahan dari hutan dengan tanaman berakar kuat menjadi peruntukan lahan lainnya. Hanya dengan upaya mitigasi secara struktural dan non struktural, dampak dari bencana gerakan tanah akan dapat diminimalkan, syukur–syukur dihilangkan. Semoga! Dengan demikian, mitigasi gerakan tanah ini selain mengurangi risiko korban jiwa, juga meminimalkan risiko berhentinya pasokan energi. (Supartoyo, Kristianto, Suranta, dan Gede Suantika)

Penulis, Supartoyo adalah Surveyor Pemetaan Madya. Kristianto adalah Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah. Suranta adalah Penyelidik Bumi Madya. Gede Suantika adalah Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Gerakan Tanah. Keempatnya bekerja di PVMBG, Badan Geolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>