Geomagz_V5N3_011015_single_low_001-216x300

Geomagz Vol. 5 No. 3

Foto: Rita Susilawati.

52 Hari di Samudra Pasifik

26/09/2015 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Geowisata Krakatau Sejak Lampau

Letusan G. Anakkrakatau 2 September 2012. Foto: Budi Brahmantyo.
Letusan G. Anakkrakatau 2 September 2012. Foto: Budi Brahmantyo.

Letusan G. Anakkrakatau 2 September 2012. Foto: Budi Brahmantyo.

Jika orang menduga bahwa baru dalam kisaran belasan tahun terakhir saja Anakkrakatau diminati sebagai salah satu destinasi wisata, maka dugaan itu tidaklah tepat. Lebih dari seabad lalu, tak terpaut lebih dari seminggu sejak letusan pertamanya di Mei 1883, ibu dari Anakkrakatau sendiri bahkan telah menerima kunjungan dari sekelompok orang. Sebanyak 86 orang dengan
sukahati membayar sebesar 25 Guilder (Gulden, mata uang Belanda sejak 1602 hingga 2002) kepada Netherland-Indies Steamship Company untuk mendapatkan pengalaman berpesiar mendekati gunung api yang tengah bergolak itu menggunakan kapal uap bertajuk Governor General (GG) Loudon.

Tak tanggung-tanggung, TH Linderman, sang kapten kapal, bahkan menyediakan sebuah perahu kecil agar para penumpang dapat menjejakkan kaki di Krakatau. Perjalanan wisata perdana tersebut kemudian diikuti perjalanan-perjalanan rutin GG Loudon berikutnya dengan tujuan yang tak berubah dan tak pernah kekurangan peminat karena pemandangan yang diberikan Krakatau dinilai fantastis, terlebih dengan kepulan asap dan hutan tropisnya yang beralih hilang hingga pulau tersebut kerontang. Ketika letusan hebat di 27 Agustus 1883 terjadi diiringi tsunami, GG Loudon tengah berada di perairan Selat Sunda besama 111 penumpangnya. Mujur, kapal uap tersebut selamat.

Kalau orang menyangka bahwa wisata gunung api dalam berbagai wajah (petualangan, ekowisata, geowisata, wisata religi) adalah hal yang masih terus dikembangkan, maka itu pun tak tepat. Sesungguhnya perjalanan ke kawasan gunung api – apalagi gunung api yang memiliki catatan sejarah di masa lampau dan memberikan pengaruh bagi peradaban khususnya – sebagai destinasi, bukanlah fenomena baru dan asing di belahan lain dunia. Entah itu hanya sekadar berjalan melintasi dan menikmati bentangnya yang cantik dari kejauhan atau memanfaatkan balon udara sebagaimana yang diberlakukan di Cappadocia (Turki), atau mendekati lerengnya dan berinteraksi dengan kehidupan-kehidupan di sekitarnya, bahkan mendaki menghampiri kaldera dan puncak yang tak jarang dilakukan ketika gunung api tersebut sedang galak-galaknya. Jika di kisaran abad ke-17 dan 18, Vesuvius dan Etna yang berada di Italia telah lebih dulu dijadikan tujuan eksklusif kaum aristokrat Eropa, maka di masa kini tak sedikit orang rela menghabiskan ratusan hingga ribuan Euro untuk kedua gunung api tersebut. Hal yang sama juga di Aso di Jepang, Pegunungan Andes di Ekuador, Thrihnukagigur dan Eyjafjallajokull di Islandia, St. Helen dan Pegunungan Hawaii di Amerika Serikat, Pico di Portugal, Santorini di Yunani, dan masih banyak lagi tanpa terkecuali beberapa gunung api bersejarah di Nusantara, seperti Anakkrakatau, Banda Api Tua, atau Tambora.

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Peta digambar oleh: Roni Permadi

Gerbang Akses Anakkrakatau
Cagar Alam Krakatau dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung dan untuk dapat memasuki kawasan tersebut harus terlebih dahulu mengurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) minimal tujuh hari sebelum waktu kunjungan. Meski demikian, lazimnya terdapat dua gerbang masuk yang sering digunakan untuk mengakses Anakkrakatau, yaitu: pertama melalui Pantai Carita atau Pantai Anyer yang berada di Pesisir Barat Banten, dan kedua melalui Dermaga Canti yang merupakan bagian dari Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.

Gerbang kedua lebih banyak diminati oleh kaum muda khususnya. Anggaran perjalanan terbatas membuat mereka lazim bersegera menyepakati paket-paket perjalanan yang terbilang murah atau menerima ajakan mendadak dari serombongan kawannya (tanpa memanfaatkan jasa agen sama sekali), karena semakin banyak peserta perjalanan mengakibatkan semakin murahnya biaya yang harus ditanggung per orang. Tak lebih dari 500 ribu rupiah (untuk paket 2 hari 1 malam; biasanya mencakup tiket penyeberangan Merak- Bakauheni PP, transportasi selama kegiatan, penginapan di Pulau Sebesi, dan 4 kali makan), seseorang sudah dapat merasakan ayun gelombang Selat Sunda dan menginjakkan kaki di Anakkrakatau.

Sementara itu, jika memilih berangkat dari gerbang pertama bukan hanya disuguhi pilihan yang sama, malah justru lebih banyak. Moda transportasi yang tersedia bukan hanya kapal kayu, tetapi juga fiber speed boat hingga yacht. Bahkan apabila memilih menggunakan speed boat misalnya, sangat memungkinkan untuk perjalanan 1 hari tanpa perlu menginap. Hanya saja, segala kemudahan tersebut berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk menyewa kapal kayu, tarif yang diberlakukan mulai dari 2,5 juta rupiah untuk 4 jam perjalanan, namun bila menyewa speed boat yang memungkinkan 1,5 jam perjalanan sampai ke Anakkrakatau, akan dikenai tarif mulai dari 3-4 juta rupiah, dan apabila memilih yacht, 8-10 juta rupiah. Itu pun baru untuk biaya sewanya saja.

Dari mana pun akses yang dipilih, Gunung Anakkrakatau sebagai tujuan utama adalah destinasi yang luar biasa. Selain sejarah letusannya di tahun 1883 yang terkenal ke seluruh dunia, saat ini aktivitas dan lingkungan di sekitarnya pun menjadi daya tarik yang menggoda wisatawan untuk mengunjunginya. Krakatau sejak masa lampau, kini, dan kemudian, akan terus menarik orang
untuk selalu datang menjejakkan kakinya di pasirnya yang hangat. (Ayu Wulandari)

Penulis adalah peminat perjalanan dan fotografi. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>