Sumber: Situs BMKG, diunduh pada 30 April 2016.

BMKG Menetapkan Skala Intensitas Gempa yang Baru

Gempa Flores 1992. Foto: Heryadi Rachmat.

Memantau Gempa Flores Tahun 1992

31/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Gempa Merusak di Indonesia 2015

Ilustrasi gempa. Sumber: Internet.
Ilustrasi gempa. Sumber: Internet.

Ilustrasi gempa. Sumber: Internet.

Berdasarkan data BMKG pada 2015 terjadi paling tidak 4.300 gempa bumi (gempa) di wilayah Indonesia dengan besaran (magnitudo) lebih besar dari 3 SR (Skala Richter).Sepuluh kejadian di antaranya merupakan gempa merusak (destructively earthquake), yakni gempa yang mengakibatkan korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan bangunan dan lingkungan, serta kerugian harta benda. Gempa merusak sering membuat masyarakat cemas karena kerap diiringi dengan beredarnya isu-isu yang menyesatkan seputar gempa dan tsunami.

Sepuluh kejadian gempa merusak di tahun 2015 itu melanda daerah Manggarai, Banggai, Madiun, Membramo Raya, Sorong, Alor, Bantul, Halmahera Barat, Tarakan, dan Ambon. Total korban yang diakibatkannya adalah satu orang meninggal, 69 orang luka-luka, dan ribuan bangunan mengalami kerusakan. Dari sepuluh kejadian gempa merusak tersebut tidak ada satu pun gempa yang menimbulkan tsunami.

Beberapa di antara kejadian gempa merusak selama 2015 itu banyak yang belum diketahui sumbernya. Hal ini merupakan tantangan bagi institusi Pemerintah terkait untuk mengidentifikasi karakteristik sumber gempa yang ada di Indonesia. Sementara itu, catatan gempa yang meliputi lokasi pusat sumber, kekuatan, dan intensitas kerusakan akibat gempa sangat diperlukan dalam mitigasi bencana gempa ke depan.

Indonesia Kawasan Rawan Gempa
Menurut Minster dan Jordan, 1978, Indonesia merupakan tempat pertemuan empat lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah tenggara dengan kecepatan ± 0,4 cm/tahun, Lempeng Indo – Australia yang bergerak ke arah utara ± 7 cm/ tahun, Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat ± 11 cm/ tahun, dan Lempeng Laut Filipina yang bergerak ke arah barat laut, sekitar 8 cm/ tahun. Inilah penyebab utama sumber gempa yang terletak di darat dan di laut, serta sumber pembangkit tsunami di laut Indonesia.

Peta tektonik dan sebaran pusat gempabumi merusak di Indonesia tahun 2015.

Peta tektonik dan sebaran pusat gempabumi merusak di Indonesia tahun 2015.

Di kawasan Indonesia bagian barat, kondisi tektonik dan sumber gempa sangat dipengaruhi oleh tumbukanlempeng yang bersifat menunjam atau subduksi (subduction) yang membentang dari sebelah barat Pulau Sumatra menerus ke selatan Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, dan membelok di sekitar Kepulauan Maluku. Sebaliknya di kawasan Indonesia bagian timur, interaksi yang terjadi melibatkan tidak hanya Lempeng Indo – Australia, Pasifik dan Laut Filipina, tetapi juga beberapa mikrokontinen dan busur kepulauan (island arc). Tumbukan disini tidak hanya bersifat subduksi, tetapi juga kolisi (collision). Akibatnya, sumber gempa juga tsunami di kawasan Indonesia Timur lebih bervariasi jenisnya.

Sumber gempa yang terbentuk oleh aktivitas tektonik menurut kedalamannya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu dangkal (0 – 40 km), menengah (40 – 150 km) dan dalam (lebih dari 150 km). Faktor utama yang mengakibatkan terjadinya bencana gempa adalah jarak dari sumber gempa, magnitudo dan kedalaman. Gempa dangkal dan sumbernya dekat, berpotensi mengakibatkan bencana meskipun magnitudonya kecil. Ini adalah karakteristik gempa yang bersumber dari sesar aktif di darat yang biasanya dekat permukiman dan aktivitas penduduk. Sementara itu, sumber gempa dengan magnitudo besar dan dangkal, juga berpotensi menimbulkan bencana karena adanya efek penguatan gelombang gempa di permukaan tanah, contoh: gempa 27 Februari 2015 di Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan magnitudo 7,1 SR, dan kedalaman 572 km. Gempa seperti ini pada umumnya terjadi pada daerah yang tersusun oleh endapan Kuarter dengan sedimen lunak yang cukup
tebal.

Sebaran Episenter Kumpulan Gempabumi Jailolo tanggal 1-25 November 2015. Sumber: BMKG.

Sebaran Episenter Kumpulan
Gempabumi Jailolo tanggal 1-25
November 2015. Sumber: BMKG.

Berdasarkan data statistik kejadian gempa di Indonesia yang dihimpun dari beberapa sumber terkait, dari 2000 hingga 2015, tercatat antara 4 hingga 12 gempa merusak terjadi per tahun. Rinciannya adalah 5 kejadian pada 2000-2001, 5 kejadian pada 2002, 10 kejadian pada 2003, 9 kejadian pada 2004, 11 kejadian pada 2005, 12 kejadian pada 2006, 8 kejadian pada 2008, 2009, 2010, dan 2011; 6 kejadian pada 2012, 9 kejadian pada 2013, 4 kejadian pada 2014, dan 10 kejadian pada 2015. Gempa-gempa tersebut telah mengakibatkan bencana yaitu ratusan ribu korban jiwa, serta kerusakan bangunan dan lingkungan, kerugian harta benda yang besar, termasuk akibat gempa Aceh 2004 dan gempa Yogya 2006.

Pada 2015, terjadi beberapa gempa yang merusak, meskipun korban meninggal hanya satu orang. Berikut ini uraian ringkas tentang gempa merusak yang terjadi sepanjang 2015 yang dikelompokkan berdasarkan wilayah Indonesia, yaitu wilayah barat dan wilayah timur.

Gempa Merusak di Wilayah Barat
Pada 2015, di wilayah barat, terjadi gempa di Madiun dan Bantul (Pulau Jawa), dan Tarakan, Kalimantan. Ketiganya berkekuatan antara 4,2 – 6,1 SR. Rinciannya sebagaimana di bawah ini.

Gempa Madiun terjadi pada hari Kamis, 25 Juni 2015, pukul 10.35.29 WIB. Menurut BMKG, gempa ini berpusat di darat pada koordinat 111,69°BT dan 7,73°LS, dengan kekuatan 4,2 SR dan kedalaman 10 km. Lokasi pusat gempa berjarak ± 20,8 km sebelah tenggara Kota Madiun. Sementara itu USGS tidak mencatat gempa ini. Berdasarkan data BMKG, gempa diakibatkan oleh sesar mendatar berkedudukan N 245,8°E, dip 74,3° dan slip -2.2°. Gempa diikuti oleh serangkaian gempa susulan. Masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pusat gempa sangat kaget, karena selama ini mereka tidak pernah mengalami gempa dengan goncangan kuat. Gempa menyebabkan 58 rumah di Pohulung, Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun mengalami kerusakan. Teramati juga retakan tanah berarah N 30° E – N 50° E atau barat daya – timur laut di utara Dusun Pohulung. Intensitas gempa di sini mencapai skala VI MMI (Modified Mercally Intensity). Lokasi sekitar pusat gempa tersusun oleh batuan rombakan gunung api muda yang sebagian besar telah mengalami pelapukan. Penduduk setempat sempat resah karena beredar isu adanya gempa susulan.

Gempa Bantul pada 2015 terjadi dua kali. Pertama, pada 25 September 2015, pukul 20.28.52 WIB dengan intensitas di daerah sekitar pusat gempa mencapai IV – V MMI. Gempa yang mengagetkan masyarakat Yogyakarta ini menurut BMKG, berpusat di darat pada koordinat 110,527o BT dan 7,983o LS, sekitar 5 km barat Kota Wonosari dan 22 km timur Kota Bantul, kedalaman 15 km, dan berkekuatan 4,5 SR. Gempa ini diakibatkan oleh sesar mendatar. Kedua, gempa yang terjadi pada Rabu, 11 Nopember 2015, pukul 18.45.25 WIB. Menurut BMKG, gempa berpusat di Laut Jawa pada koordinat 110, 19o BT dan 8,97o LS, kedalaman 93 km, dan berkekuatan 5,6 SR. Sementara itu, USGS tidak mencatat kejadian gempa ini. Penyebab gempa adalah aktivitas zona subduksi yang terletak sekitar 260 km selatan pantai Bantul. Gempa dengan skala intensitas yang mencapai IV–V MMI menyebakan sebuah bangunan rusak. Sebelum2015, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, daerah Bantul pernah mengalami dua kali kejadian gempa merusak, yaitu pada 2006 dan 2010.

Struktur geologi Pulau Kalimantan, dikompilasi dari beberapa sumber (Hamilton, 1979; Moss ?; Simons dkk., 2007; Hutchison, 2007), dan pusat gempa bumi tanggal 21 Desember 2015 (tanda bintang).

Struktur geologi Pulau Kalimantan,
dikompilasi dari beberapa sumber
(Hamilton, 1979; Moss ?; Simons dkk.,
2007; Hutchison, 2007), dan pusat
gempa bumi tanggal 21 Desember 2015
(tanda bintang).

Gempa Tarakan terjadi pada hari Senin, 21 Desember 2015, pukul 01.47.37 WIB. Menurut BMKG pusat gempa terletak di darat pada koordinat 3,61o LU dan 117,67o BT, berjarak ± 35,6 km utara Kota Tarakan dan kl. 59,8 km selatan Kota Nunukan, magnitudo 6,1 SR dan kedalaman 10 km. Menurut USGS, gempa ini berpusat di darat pada 3,6384o LU dan 117,631o BT, magnitudo 6,1 Mw, dan kedalaman 6 km. USGS juga menyebutkan bahwa penyebab gempa ini adalah sesar mendatar. Hal ini bersesuaian dengan peta struktur geologi Pulau Kalimantan. Kejadian gempa sangat mengejutkan masyarakat, karena selama ini mereka mengira bahwa Pulau Kalimantan relatif aman dari ancaman gempa. Faktanya, Provinsi Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur cukup rawan akan gempa, sebagaimana gempa pernah terjadi di Kalimantan Utara pada 1923, 1925, 1936; dan Kalimantan Timur pada 1921, 1924, 1957, dan 2009. Gempa 21 Desember 2015 telah mengakibatkan 7 bangunan rusak di Kecamatan Tarakan Tengah, Kota Tarakan. Masyarakat di daerah pantai di dekat pusat gempa sempat panik dan berhamburan keluar rumah karena takut terjadi tsunami. Goncangan gempa di daerah sekitar pusat gempa ini mencapai skala V – VI MMI.

Gempa Merusak di Wilayah Timur
Pada 2015 lebih banyak terjadi gempa di wilayah Indonesia bagian timur. Ada tujuh kejadian yang tercatat, yaitu Gempa Manggarai, Gempa Banggai, Gempa Membramo Raya, Gempa Sorong, Gempa Alor, Gempa Halmahera Barat, dan Gempa Ambon.

Gempa Manggarai terjadi pada Jumat, 27 Februari 2015 pukul 20.05.43 WIB, ketika sebagian warga Pulau Flores bersiap – siap hendak istirahat, bahkan sebagian telah istirahat setelah seharian beraktivitas. Menurut BMKG, gempa berpusat diLaut Flores pada koordinat 7,55o LS dan 122,6o BT; dengan magnitudo 7,1 SR pada kedalaman 572 km, berjarak ± 96,4 km barat laut Kota Larantuka, ± 125,2 km barat daya Kota Maumere, ± 271,5 km timur laut Kota Ruteng. Menurut USGS, gempa berpusat di Laut Flores pada koordinat 7,288o LS dan 122,532o BT pada kedalaman 552 km; dan berkekuatan 7 Mw. Gempa ini terjadi dua kali, yaitu pada pukul 20.05.43 WIB dan 21.45 WIB. Menurut USGS, gempa ini diakibatkan oleh mekanisme sesar normal dengan komponen mendatar berarah barat laut – tenggara. Serangkaian gempa susulan terjadi dan masih dapat dirasakan oleh masyarakat di Pulau Flores hingga 2-3 hari setelah gempa utama. Kerusakan yang diakibatkannya antara lain ratusan bangunan di daerah Manggarai,dengan intensitas  mencapai skala VI MMI. Kerusakan umumnya berupa retakan dinding dan lepasnya plesteran bangunan. Kerusakan terparah terjadi di desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur; Kota Kecamatan Reo dan Desa Ojan di Manggarai Barat; Pulau Mesa, Boleng serta Papa Garang. Kejadian gempa ini juga mengakibatkan semburan lumpur di Pulau Semau yang terletak di utara Pulau Timor. Terjadi keresahan dan kepanikan di masyarakat yang berada di pantai Utara Flores. Mereka khawatir akan terjadi tsunami akibat gempa.

Kiri: Retakan tanah di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun akibat gempa bumi 25 Juni 2015. Foto: Pandu Adiwinarno. Kanan Atas: Kerusakan ruko di Jalan Sangaji Gonof, Kota Sorong, akibat gempa bumi 24 September 2015. Foto: Supartoyo. Kanan Bawah: Kerusakan bangunan di Kota Tarakan akibat kejadian gempa bumi Tanggal 21 Desember 2015. Sumber: klikbontang.com.

Kiri: Retakan tanah di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun akibat gempa bumi 25 Juni 2015. Foto: Pandu Adiwinarno.
Kanan Atas: Kerusakan ruko di Jalan Sangaji Gonof, Kota Sorong, akibat gempa bumi 24 September 2015. Foto: Supartoyo. Kanan Bawah:
Kerusakan bangunan di Kota Tarakan akibat kejadian gempa bumi Tanggal 21 Desember 2015. Sumber: klikbontang.com.

Gempa Banggai terjadi pada Senin, 16 Maret 2015 pukul 06.17.15 WIB. Kekuatannya tercatat 6 SR. Menurut BMKG, pusat gempa berada di Teluk Tomini pada koordinat 0,52oLS dan 122,36oBT, berjarak ± 67,7 km barat laut Kota Luwuk dan ± 203 km timur laut Kota Poso, dengan kedalaman 20 km. Sedangkan menurut data USGS, pusat gempa terletak di Teluk Tomini pada koordinat 0,5461oLS dan 122,3066oBT, dan kedalaman 31 km. Wilayah yang terkena dampak goncangan gempa adalah Kepulauan Togean dan pantai utara Banggai. Batuan penyusun wilayah ini berumur PraTersier hingga Kuarter yang sebagian telah mengalami pelapukan. Kerusakan akibat gempa menimpa dua sekolah, gedung pelelangan ikan, dan dermaga di daerah Pagimana, Kabupaten Banggai. Intensitas gempa mencapai skala V MMI. Gempa juga sempat menimbulkan kepanikan dan keresahan pada masyarakat yang bermukim di daerah pantai sekitar pusat gempa, karena khawatir gempa akan disusul oleh tsunami.

Gempa Membramo Raya terjadi pada hari Selasa, 28 Juli 2015, pukul 04.41.23 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa terletak di darat pada koordinat 2,87o LS dan 138,53o BT, berjarak ± 116 km selatan Kota Sarmi dan ± 232 km barat Kota Jayapura, berkekuatan 7,2 SR, dan kedalaman 49 km. Menurut USGS, gempa berpusat pada koordinat 2,682o LS dan 138,508o BT dan kedalaman 48 km, bekekuatan 7 Mw, dan mekansme akibat aktivitas sesar naik berarah barat laut – tenggara. Sesar naik ini terbentuk akibat aktivitas tektonik berupa tumbukan antara lempeng Australia dan Pasifik. Dampak gempa adalah satu orang meninggal karena hanyut di sungai, satu rumah ambruk; dua rumah, satu gudang dan satu rumah sakit mengalami kerusakan, dan terjadi retakan tanah di daerah Membramo Raya. Intensitas gempa di daerah sekitar pusat gempa mencapai skala VI MMI.

Gempabumi Sorong terjadi pada Kamis, 24 September 2015 pukul 22.53.28 WIB saat warga Sorong dan Papua Barat sedang istirahat. Menurut BMKG, pusat gempa terletak di Selat Dampir yang memisahkan antara daratan Papua dan Pulau Wigeo, pada koordinat 0,59o LS dan 131,27o BT, berjarak 31 km utara Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Gempa berkekuatan 6,8 SR pada kedalaman 10 km. Menurut USGS, gempa berpusat pada koordinat 0,629°LS dan 131,255°BT, berkekuatan 6,6 Mw pada kedalaman 24,1 km; dan penyebabnya adalah sesar naik Manokwari pada kedudukan N 126o E dan dip 36o. Gempa ini meskipun bersumber di laut dan mekanismenya sesar naik, namun tidak mengakibatkan tsunami. Hal ini diduga karena energi gempa tidak mengakibatkan terjadinya dislokasi morfologi bawah laut yang signifikan. Terjadi gempa susulan yang masih terasa hingga sepuluh hari setelah gempa utama. Dampak gempa adalah sebanyak 1.245 bangunan mengalami kerusakan di Sorong dan Raja Ampat. Terjadi pula beberapa retakan tanah di Sorong, seperti di Kompleks Perumahan Moyo Permai, berarah N 145o E, sekitar 10 m; di Kelurahan Makbon, Distrik Makbon, berarah N 141o E, sekitar 2-10 m; dan Kelurahan Warmon, berarah N 110o E. Intensitas gempa maksimum terjadi di Sorong yang mencapai VI MMI. Kejadian gempa membuat masyarakat Sorong panik dan resah karena adanya peringatan dini tsunami. Mereka segera berbondong-bondong menuju ke tempat evakuasi untuk menyelamatkan diri.

Gempa Alor terjadi pada hari Rabu, 4 Nopember 2015 pukul 10.44.19 WIB. Menurut BMKG, gempa berpusat di darat pada koordinat 124,95o BT dan 8,32o LS, berjarak 48,9 km timur Kota Kalabahi, Pulau Alor; kedalaman 10 km, dan berkekuatan 6,4 SR. Menurut USGS, gempa berpusat pada koordinat 124,8991o BT dan 8,3531o LS, kedalaman 14 km, dan berkekuatan 6,3 Mw. Penyebab gempa adalah sesar aktif yang terletak di bagian timur Pulau Alor. Gempa ini mengakibatkan satu orang luka berat, satu orang luka ringan, dan 884 bangunan rusak, dan retakan tanah di Alor. Intensitas gempa di daerah sekitar pusat gempa mencapai skala VI MMI. Pulau Alor merupakan wilayah rawan gempa dan tsunami. Sedikitnya tercatat telah terjadi empat bencana gempa di Pulau Alor sebelumnya, yaitu tahun 1818 (diikuti tsunami), 1989, 1991, dan 2004.

Kiri Atas: Retakan tanah di daerah Alor Timur akibat kejadian gempabumi 4 Nopember 2015. Sumber: www.idntimes.com. Kanan: Retakan tanah di Desa Galala, Kecamatan Jailolo, Halmahera akibat kejadian gempa bumi swarm. Foto: Sri Hidayati. Kiri Bawah: Kerusakan rumah penduduk di Desa Bobanehena, Kecamatan Jailolo, Halmahera akibat kejadian gempa bumi swarm. Foto: Sri Hidayati.

Kiri Atas: Retakan tanah di daerah Alor Timur akibat kejadian gempabumi 4 Nopember 2015. Sumber: www.idntimes.com. Kanan: Retakan
tanah di Desa Galala, Kecamatan Jailolo, Halmahera akibat kejadian gempa bumi swarm. Foto: Sri Hidayati. Kiri Bawah: Kerusakan rumah
penduduk di Desa Bobanehena, Kecamatan Jailolo, Halmahera akibat kejadian gempa bumi swarm. Foto: Sri Hidayati.

Gempa Halmahera Barat merupakan rentetan gempa yang terjadi dari 1 hingga 25 November 2015. Menurut BMKG, gempa tercatat sebanyak 92 kejadian dengan magnitudo berkisar antara 2,5 SR hingga 4,8 SR. Para ahli gempa menyebut angkaian gempa tersebut sebagai gempa swarm (swarm earthquake). Menurut USGS, gempa swarm adalah serangkaian kejadian gempa yang bersifat lokal yang terjadi pada suatu periode atau kurun waktu tertentu. Batasan waktunya bervariasi dari hari, minggu atau bulan.

Menurut Eder (2012), gempa swarm dapat berasosiasi dengan aktivitas gunung api, geothermal atau panas bumi, migrasi fluida, dan tektonik (aktivitas pada batas lempeng dan zona sesar). Serangkaian kejadian gempa ini tidak diakhiri oleh gempa besar. Dengan kata lain, gempa swarm bukan merupakan prekursoruntuk gempa yang lebh besar. Berdasarkan peta geologi lembar Morotai, Maluku Utara (Supriatna, 1980), daerah yang terdampak gempa didominasi oleh endapan Kuarter berupa endapan sungai, pantai, dan rombakan gunung api Kuarter. Pada bagian barat daerah Jailolo terdapat sisa tubuh Gunung api tua Jailolo, juga mata air panas. Skala intensitas gempa di Kecamatan Jailolo, Halmahera itu mencapai III – IV MMI. Akibat gempa swarm ini adalah kerusakan bangunan dan retakan tanah. BNPB mencatat sebanyak 934 rumah penduduk rusak dan sekitar 9.610 warga mengungsi.

Gempa Ambon terjadi pada Senin, 28 Desember 2015, pukul 23.26.03 WIB. Menurut BMKG, gempa ini berpusat di darat pada koordinat 3,68o LS dan 128,39o BT, berjarak ± 25,4 km timur Kota Ambon, dengan magnitudo 5,2 SR dan kedalaman 10 km. MenurutUSGS, gempa berpusat di laut pada koordinat 3,7503o LS dan 128,3448o BT, dengan magnitudo 5,2 Mw dan kedalaman 51 km. Sumber gempa diperkirakan dari sesar aktif berarah barat daya – timur laut yang terletak di laut sebelah tenggara Kota Ambon. Goncangan gempa di Kota Ambon mencapai skala V MMI, dengan salah satu kerusakannya adalah gedung IAIN di Kota Ambon. Sebelumnya, daerah Ambon paling tidak telah mengalami 10 kejadian gempa bumi merusak, yaitu tahun 1612, 1671, 1830, 1835, 1841 (diikuti tsunami), 1858, 1898, 1920, 1980, 1983.

Penutup
Selama tahun 2015 terjadi sebanyak 10 kejadian gempa merusak dengan korban jiwa 1 orang meninggal, 69 orang luka-luka dan ribuan bangunan mengalami kerusakan. Gempa merusak ini pada umumnya terjadi pada kedalaman dangkal (kurang dari 30 km) dan terletak dekat dengan permukiman dan aktivitas penduduk.

Kerusakan bangunan yang disebabkan oleh gempa Manggarai pada 27 Februari 2015 (magnitudo 7,1 SR, kedalaman 572 km), terjadi karena adanya faktor penguatan gelombang gempa (amplifikasi) terutama pada endapan Kuarter. Kerusakan bangunan oleh gempa swarm di daerah Halmahera Barat akibat serangkaian gempa yang terjadi dari 1 hingga 25 November 2015. Gempa merusak pada umumnya diikuti oleh kepanikan penduduk di wilayah terdampak karena adanya isu yang tak jelas sumbernya seputar gempa dan tsunami.

Hingga kini belum ditemukan dengan tepat dan akurat teknologi yang mampu untuk meramalkan kapan, dimana, berapa besar kekuatan yang bakal terjadi pada kejadian gempa maupun tsunami. Oleh karena itu, upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah mitigasi yang dilakukan melalui mitigasi struktural atau fisik dan mitigasi nonstruktural atau nonfisik, seperti sosialisasi, yang harus dilakukan secara reguler dan menerus. Melalui upaya mitigasi, diharapkan risiko dari gempa juga tsunami di kemudian hari dapat diminimalkan. (Supartoyo)

Penulis adalah Surveyor Pemetaan Madya di PVMBG, Badan Geologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>