Gua Tapparang, gua dengan stalagmit dan stalaktit yang berbentuk
seperti ribuan parang. Foto: Visky AP.

Keunikan Kars Kolaka Utara

Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan. Foto: Gunawan

Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan

06/06/2016 Comments (0) Resensi Buku, Resensi Buku, Uncategorized

Geliat Bumi Dieng

Gejolak Dieng
Gejolak Dieng

Gejolak Dieng

Buku Gejolak Dieng sebagian besar diangkat dari hasil penelitian penulisnya, Priatna, selama mengikuti studi pascasarjana di Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran Bandung (2014). Secara umum dalam buku ini merupakan bagian dari kajian Priatna yang berupaya memahami perilaku aktivitas vulkanik dengan fokus penelitian pada gas vulkanik di kawasan wisata Dieng. Pada penelitian ini juga disampaikan gagasan untuk menemukan strategi dalam meningkatkan pemahaman   masyarakat terhadap bencana gas di kawasan wisata Dieng yang merupakan bagian dari mitigasi bencana gunung api.

Keadaan kegeologian dibahas untuk membentangkan latar belakang aktivitas kegunungapian Dieng. Di situ dijelaskan, misalnya, mengapa letusan yang dominan di Dieng adalah hidrotermal, tidak eksplosif? Mengapa justru semburan gas beracun menjadi penanda kegunungapian yang khas Dieng? Keadaan tersebut menyebabkan wilayah ini memiliki beragam keberkahan, berupa kelimpahan vegetasi, panas bumi, dan budaya, sehingga menjadi modal untuk berkembangnya wisata alam di bumi Dieng. Di situ, antara lain, dijelaskan bahwa semburan gas racun menjadi penanda kegunungapian yang khas Dataran Tinggi Dieng atau Pegunungan Dieng. Dan selama kurun waktu 200 tahun terakhir, di Dataran Tinggi Dieng telah terjadi paling tidak 15 kali letusan. Letusannya merupakan letusan hidrotermal (Zen dan Muzil, 1980).

Geomagz Vol 6 No 2  Mei 2016 new_088Fenomena kebumian yang begitu istimewa di Dieng menyebabkan wilayah ini dianugerahi aneka keberkahan. Dieng diperkaya energi yang terbarukan 87 berupa panas bumi yang melimpah. Dari sisi keragaman hayati, Dieng menurut Andriana (2007) menjadi rumah bagi hewan-hewan dan tetumbuhan endemik Jawa. Beberapa di antaranya ada yang menjadi produk pertanian yang menjadi unggulan dari daerah Dieng, seperti kentang dan carica.

Sedangkan dari sisi keragaman budaya, Dieng pun sangat kaya dengan tradisi dan tinggalan budaya. Di sini, kita dapat menyaksikannya melalui ritual, tarian, kompleks percandian dan lain-lain.

Selanjutnya, potensi wisata yang ada di Dataran Tinggi Dieng dapat dibagi menjadi tiga jenis objek wisata. Pertama, objek wisata alam, yaitu perpaduan antara kehidupan alam pegunungan dan kejadian alam yang mengagumkan. Dalam kelompok ini termasuk wisata pendakian gunung, kawah, dan telaga. Dalam kelompok ini pula fokus penelitian tesis Priatna ditujukan kepada jejak-jejak gunung api yang berada di Dieng. Ketiga kawah yang menjadi lokus penelitian adalah Kawah Sikidang, Kawah Sikendang, dan Kawah Sileri.

Bahasan selanjutnya mengenai gas beracun dan kaitannya dengan mitigasi bencana gunung api. Di dalamnya dibahas cara pengambilan percontoh gas gunung api dalam kerangka untuk mengkaji karakteristik gas vulkanik Dieng. Bahasan ini pun mencakup analisis hasil penelitian, berupa kecenderungan gas vulkanik yang keluar dari rekahan bumi di sekitar Dieng. Sebagai implikasi penelitian ini, Priatna mengajukan beberapa saran terkait penataan kawasan wisata Dieng, terutama Kawah Sikidang, Kawah Sikendang, dan Kawah Sileri.

Bahasan selanjutnya mengenai gas beracun dan kaitannya dengan mitigasi bencana gunung api. Di dalamnya dibahas cara pengambilan percontoh gas gunung api dalam kerangka untuk mengkaji karakteristik gas vulkanik Dieng. Bahasan ini pun mencakup analisis hasil penelitian, berupa kecenderungan gas vulkanik yang keluar dari rekahan bumi di sekitar Dieng. Sebagai implikasi penelitian ini, Priatna mengajukan beberapa saran terkait penataan kawasan wisata Dieng, terutama Kawah Sikidang, Kawah Sikendang, dan Kawah Sileri.

Khusus pada Kawah Sikidang dilakukan beberapa kali analisis. Analisis hubungan CO2 dengan H2S, menghasilkan nilai korelasi 0,95 yang berarti bila  konsentrasi CO2 meningkat maka konsentrasi H2S akan meningkat. Kemudian, analisis hubungan H2S dengan H2, dengan nilai korelasi sebesar 0,86, yang menunjukkan bahwa terbentuknya H2S dipengaruhi oleh meningkatnya konsentrasi H2 dalam magma. Selanjutnya, analisis hubungan H2O terhadap H2S, dengan nilai korelasi 0,95, yang berarti penurunan konsentrasi H2S menyebabkan penurunan konsentrasi H2O.

Selanjutnya, berdasarkan hasil pengukuran karbondioksida di atas, Priatna menyimpulkan bahwa Kawah Sikidang relatif aman untuk dikembangkan terus menjadi kawasan wisata, sementara penanganan khusus diperlukan untuk Kawah Sikendang danKawah Sileri jika akan dikembangkan untuk daerah wisata.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap bencana gunung api di Dieng perlu dibuatkan materi sosialisasi melalui kerja sama yang melibatkan berbagai komponen yang terkait, yakni para ahli gunung api, pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat, terutama penduduk daerahtersebut. Kegiatan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kawasan Dieng menjadi selaras dengan kehendak alam. Dieng yang dianugerahi berbagai pesona itu tetap dapat memberikan manfaat, terutama bagi masyarakat yang tinggal di situ.

Pada bagian akhir dari buku ini Priatna memuat kembali kumpulan cerita dan pengalaman para kontributor mengenai Dieng. Cerita yang pernah dimuat dalam buku Pesona Bumi Dieng itu dikemas dalam penuturan menjadi bukti dan pengakuan keberadaan Dataran Tinggi Dieng. Meski ada ancaman yang mengintai di sana tetapi pesonanya bisa menghadirkan siapa saja yang mencari keberkahan. (Atep Kurnia)

Peresensi adalah peminat literasi, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>