rakyat-1

Daulat Rakyat di Ladang Minyak

kelud-menyeru-77

Waktu Kelud Menyeru

28/01/2014 Comments (0) Esai Foto

Garut Pangirutan yang Kini Kakarut

Garut-62
Garut-62

Garut itu memang intan. Salah satu permata di Jawa Barat. Keindahan alamnya berkilap, mulai dari pesisirnya di Samudra Indonesia di selatan hingga dataran tinggi dan gunung-gunung di jantung Parahyangan. Pantas kiranya semboyannya “Garut Kota Intan” dan “Garut Pangirutan”.

Garut juga berjuluk Swiss van Java, konon berasal dari Charlie Chaplin (1889- 1977) aktor film bisu termasyhur yang mengunjungi Garut pada 1927. Garut juga disebut Mooi Garoet, Garut yang Elok. Kesemuanya menunjukkan kemolekan alam Garut, sehingga, tak heran, julukan lainnya adalah Pangirutan, yaitu tempat yang memikat atau menggoda untuk dikunjungi.

Ya betapa tidak, susur saja, misalnya, mulai dari pesisirnya. Ada pantai Sancang di Cibalong; Cijeruk, Karangparanje, dan Sayangheulang di Pameungpeuk; Santolo dan Taman Manalusu di Cikelet, Cijayana di Bungbulang, dan Rancabuaya di Caringin. Agak ke pedalaman, terdapat air terjun (curug) Neglasari di Cisompet, Curug Orok di Cikajang, Curug Sanghyang Taraje di Pamulihan, serta Curug Cihanyawar di Cilawu. Di dataran tinggi, selatan hingga tengah, ada Gunung Papandayan yang terkenal letusannya pada 1982, Kawah Darajat penghasil panas bumi, dan Gunung Guntur yang anggun. Di kaki Guntur terletak Taman Wisata Cipanas. Tak jauh dari mata air dan kolam pemandian air panas ini, ke arah utara, terdapat Curug Citiis.

Di arah utara-timur dijumpai Curug Cimandiracun di Kadungora dan Situ Cangkuang di Leles. Tak lupa, Gunung Haruman, Gunung Kaledong, dan Leuweungtiis menghiasi panorama disana. Ke arah selatan sedikit akan dijumpai Situ Bagendit di Banyuresmi yang terkenal dengan legendanya dan selalu ramai dikunjungi wisatawan

Ke arah timur dari Bagendit setelah melalui Wanaraja, dijumpai Gunung Sadahurip menjulang megah. Dari simpang tiga jalan Karaha-Talagabodas- Wanaraja, gunung yang hingga saat ini ramai jadi bahan pembicaraan masyarakat ini nampak begitu nyata, mengesankan, dan indah. Mendaki sedikit lagi ke arah kanan dari pertigaan itu, akan dijumpai Talaga Bodas, sebuah kawah yang tepiannya dapat dihampiri dengan kendaraan roda empat.

Garut-63

Gunung Papandayan. Foto: T. Bachtiar.

Garut-65

Talaga Bodas. Foto: T. Bachtiar.

Garut-64

Pantai Sancang. Foto: Oman Abdurahman.

Garut-66

Berpapasan menyebrangi sungai Ci Damar, Garut Selatan. Foto: Ronald Agusta.

 Di timur bertengger Gunung Karacak yang memiliki morfologi berundak dan gunung yang paling tinggi di wilayah Garut, Cikuray. Puncak Cikuray dapat dilihat dari kawasan kawah Tangkubanparahu jika hari sedang cerah. Nama Cikuray agaknya berasal dari nama sejenis pohon, yaitu Kuray di Sunda, atau Anggerung di Jawa, atau Lenggung di Bali (Trema orientalis atau Celtis orientalis). Boleh jadi dahulu Kuray banyak dijumpai di kawasan gunung ini. Di kaki selatan Cikuray inilah terletak “kabuyutan” Cikuray, tempat ditemukannya sebanyak 27 naskah Sunda kuna, dua diantaranya – setelah ditransliterasi – berjudul “Amanah Galunggung” dan “Sanghiyang Siksa Kandang Karesian”.

Seluruh perhiasan alam cekungan Garut berupa deretan gunung yang mengitarinya itu seakan direnda di bagian tengahnya oleh aliran Ci Manuk yang mengular melewati tigabelas kecamatan. Tapi sayang, di kawasan Sukaregang, Garut kota, Ci Manuk menerima limbah penyamakan kulit yang dibuang ke dalam tubuhnya melalui sejumlah anak sungainya. Selain itu, penambangan batu-khususnya di kawasan Bayongbong-memicu terjadinya pelumpuran di Ci Manuk. Sungai besar yang menjadi sumber air kawasan Pantura ini tak lagi mengkilat sejernih salah satu sumber mata airnya, Situ Cibeureum, yang tergelar di dalam hutan Legok Pulus, Samarang, di Lereng Gunung Guntur.

Keindahan Garut juga tersayat oleh tambang liar pasir dan batu (sirtu) di “Taman Lava Gunung Guntur”. Taman itu adalah sebuah potensi dari area yang melampar mulai dari lereng Gunung Guntur di dekat

Garut-67

Hamparan sawah berteras yang menghijau dengan latar belakang gunung Ci Manuk. Foto: Deni Sugandi. membiru di Malangbong, Garut Utara. Foto: Ronald Agusta.

Curug Citiis hingga batas utara kompleks Taman Wisata Cipanas yang dihiasi bongkah lava dan lahar yang berserakan hasil letusan Gunung Guntur. Para penggali sirtu selalu membongkar bongkahan lava itu untuk mencari sirtu yang banyak dijumpai di bawahnya.

Taman lava ini sesungguhnya merupakan situs keragaman geologi yang berpotensi menjadi warisan geologi. Sebaran lava di sini menyeruak di antara tanaman kaso yang menguning. Selain indah, juga mengagumkan, karena disana kita bisa melihat jelas bukti-bukti gelegar letusan Guntur di tahun 1843. Di sini, dapat dibayangkan aliran lava yang menggelontor dari puncak Guntur hingga beberapa ratus meter ke bawah.

Garut-68
Garut-69

Taman ini layak menjadi tujuan wisata pendidikan tentang gunung api masa kini. Layak pula disebut surga bagi penghobi fotografi untuk berburu foto eksotis. Pagi hari, jalurnya nyaman untuk bersepeda gunung. Lokasi ini ideal pula untuk dijelajahi beragam peminat dan komunitas. Bila dilatih, aparat Pemda, pemangku kepentingan dan warga lokal pun dapat menjadi pengelola dan pemandu wisata di sana. Kesemuanya berpotensi menumbuhkan ekonomi yang berkelanjutan bagi warganya.

Pencemaran di Ci Manuk, penambangan bebatuan di Bayongbong, dan penggalian sirtu di Taman Lava Guntur Guntur menjadikan keindahan Garut seolah ‘kakarut’ atau tergores. Ini mengingatkan kembali akan toponimi “Garut” yang konon berasal dari kata ‘gagarut’, sebuah pengucapan kata yang salah oleh lidah Eropa terhadap kata ‘kakarut’, yang muncul saat seorang anggota panitia pembalakan bakal ibu kota Kabupaten Limbangan tergores oleh duri dari semak belukar yang sedang dibersihkannya. Dari peristiwa itulah lahirnya nama Kabupaten Garut menggantikan nama Kabupaten Limbangan.

Kini, jangan sampai pesona keindahan Pangirutan itu kakarut oleh dampak kerusakan lingkungan. Kita tak ingin daerah yang berpotensi tinggi untuk pendidikan dan pengembangan ekonomi masyarakat setempat melalui geowisata ini tercoreng. Kita tak berharap potensi geopark permata Jawa Barat ini rusak akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Agar Garut tetap menjadi pangirutan, lestari dan memberikan keuntungan bagi masyarakat banyak, kiranya konsep pembangunan yang berbasiskan konservasi seperti geopark lebih layak menjadi pilihan untuk diterapkan. Bila ini mewujud, maka intan parahyangan itu akan lebih bersinar ke seantero Nusantara, bahkan dunia.

Oman Abdurahman adalah Pemimpin Redaksi Geomagz, Kepala Bagian Rencana dan Laporan, Sekretariat Badan Geologi. Anak sungai Ci Manuk. Foto: Ronald Agusta. Ronald Agusta adalah fotografer dan trainer jurnalistik.

Garut-70

Penggalian material vulkanik di lereng timur Gunung Guntur. Foto: Deni Sugandi.

Garut-72

Kontak lava lama (bawah) dan lava baru (atas). Foto: Deni Sugandi.

Garut-74

Situ Cibeureum yang asri di kawasan Kamojang. Foto: Ronald Agusta.

Garut-76

Perkebunan rakyat di Kamojang (atas, foto: Deni Sugandi, bawah, foto: Ronald Agusta.)

Garut-71

Anak sungai Ci Manuk. Foto: Ronald Agusta.

Garut-73

Perkebunan rakyat di Kamojang (atas, foto: Deni Sugandi, bawah, foto: Ronald Agusta.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>