surga yang hilang

Lombok, Surga yang Hilang Berikutnya

ijen-1

Ijen, Penghasil Belerang Nomor Satu

06/11/2012 Comments (0) Esai Foto

Flores dari Gunung ke Gunung di Pulau Bunga

flores-1
flores-1

Kekar kolom pada lava basalt melengkung bagaikan tangkai-tangkai bunga yang sedang mekar. Salah satu singkapan batuan yang segar dan sangat baik produk aktivitas gunung api purba di Pantai Paga, Flores Selatan. Foto: Setiyani

Pulau Bunga. Sekalipun kurang nampak citra pulau ini penuh dengan bunga, tetapi gununggunung api yang menghiasi pulau ini justru bagaikan kembang-kembang yang sedang mekar. Dari Maumere ke arah Larantuka di timur, Gunung Egon +1.703 m dpl menjadi bunga Bumi yang mencolok. Lereng-lereng kawahnya yang tampak gersang dengan kepulan asap dari lubang kawahnya, seolah-olah kuncup bunga yang menebarkan serbuk sarinya. Ke arah barat daya menuju Ende, kembangkembang gunung api itu men

Flores

Sketsa Tiga Danau Keli Mutu oleh Budi Brahmantyo

unjukkan keunikannya: Keli Mutu +1.640 m dpl dengan tiga kawahnya yang berwarna berbeda-beda, telah terkenal dan harum hingga ke mancanegara.

Di Ende sendiri, Gunung Meja dan Gunung Iya +637 m dpl menjadi penanda Bumi yang lekat dengan kota tempat pengasingan Bung Karno pada 1938. Di bawah pohon sukun di lapangan sepakbola dekat Pelabuhan Ende, Bung Karno sering merenungkan perjalanan bangsa Indonesia ke depan, dan konon mencetuskan ide awal tentang Pancasila.

Flores

Ili Egon +1.703 m dpl muncul menampakkan kemegahannya ketika awan sedikit tersibak. Gunung api sangat aktif ini terlihat jelas dari Desa Waigete lebih kurang 25 km sebelah timur Maumere. Foto: SR. Wittiri

Flores

Lanskap teluk Laut Sawu di pesisir selatan Flores berbatasan dengan kerucut-kerucut gunung api purba di desa Mauloo, perbatasan Kabupaten Sikka dengan Ende. Foto: Budi Brahmantyo

Membarat ke arah Bajawa, kerucut-kerucut berlereng curam menampakkan Flores sebagai jalur magmatik di Kepulauan Nusa Tenggara, yang dulu dikenal pula sebagai Kepulauan Sunda Kecil itu. Ebulobo +2.100 m dan Inerie +2.230 m dpl menjadi kerucutkerucut raksasa yang menghiasi jalur ini. Di lereng timur Gunung Inerie dengan puncaknya yang lancip, sebuah kampung megalitik Bena menjadi bukti pulau ini telah dihuni sejak berribu-ribu tahun lalu dengan tinggalan kebudayaan yang maju untuk zamannya. Dan Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, kota kecil pada ketinggian sekitar 1.159 m dpl adalah kota dengan banyak tinggalan megaltik lain, di sekelilingi gunung api baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif.

Flores

Para wisatawan, baik asing maupun pribumi, duduk dengan sabar kedinginan di Tugu Keli Mutu berketinggian +1.633 m dpl., menunggu Matahari terbit guna menyaksikan keajaiban alam tiga danau kawah dengan warna air yang berbeda-beda: biasanya warna air Tiwu Koofai Nuwamuri adalah biru atau hijau toska, Tiwu Ata Polo merah, dan Tiwu Ata Bupu putih atau biru. Foto: Budi Brahmantyo

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Penjelajahan sabuk volkanik Flores masih berlanjut ke arah Ruteng. Sejarah bagaimana gunung api baru muncul pada tahun 1987 tergambar di Gunung Anak Ranakah +2.247 m dpl pada Rangkaian Pegunungan Mandasawu. Sedikit di utara, pada perbukitan kars, sebuah gua bernama Liang Bua sedang mengubah sejarah kemanusiaan. Fosil manusia purba berukuran mini, tergali di dasar gua pada tahun 2003, dan sejarah Flores masih akan terentang sangat panjang.

Kawah Tiwu Koofai Nuwamuri (Danau Roh Anak Muda) dan Tiwu Ata Polo (Danau Roh Tukang Tenung/Orang Jahat) di latar depan, tampak mempunyai air yang berwarna sama hijau toska pada Mei 2012. Warna air danau sering berubah-ubah. Masyarakat setempat mempercayai perubahan warna air danau dipengangaruhi kondisi dan situasi negara. Ibu-ibu Kampung Moni menyarungkan tenun tradisional Flores di udara yang dingin. Wisatawan biasanya menginap di Moni, kaki Keli Mutu, untuk menikmati terbitnya Matahari dari puncak Keli Mutu esok paginya. Dari Moni untuk naik ke Keli Mutu

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

hingga tahun 1980-an, hanya bisa dengan menggunakan truk yang disebut sebagai “bus kayu”.

Ende, kota tempat pengasingan Bung Karno pada tahun 1938. Di tempat inilah, di bawah pohon sukun, sambil memandang G. Meja (kiri), Gunung Roja (tengah) dan Gunung Iya (kanan), Sang Proklamator konon sering merenung untuk negara yang dicita-citakannya, Indonesia. Saat ini tempat tersebut dinamakan sebagai Taman Renungan Bung Karno, tempat anak-anak dengan bangga bermain di bawah patungnya. Pohon sukun yang tumbuh sekarang adalah pohon pengganti pohon lama yang telah mati.

Flores

Lapisan-lapisan batupasir dan breksi gunung api tua yang membentuk relief kasar pada jalan menyusuri lembah berjurang Zowo Ndutumowo dari Keli Mutu ke Ende. Sebuah prasasti Belanda menuliskan pembukaan jalan diresmikan tahun 1925. Foto: Setiyani

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Lapisan-lapisan batupasir dan breksi gunung api tua yang membentuk relief kasar pada jalan menyusuri lembah berjurang Zowo Ndutumowo dari Keli Mutu ke Ende. Sebuah prasasti Belanda menuliskan pembukaan jalan diresmikan tahun 1925

Bena, kampung tradisional Flores jelas sekali merupakan kampung sisa-sisa budaya Zaman Megalitik. Penggunaan batu-batu besar andesit sebagai menhir menghiasi sudut-sudut kampung. Pelataran dan kuburan batu dari lembar-lembar andesit pun semakin menegaskan kesan megalitiknya. Kampung terletak pada lereng Gunung Inerie +2.230 m dpl yang tampak megah dengan kerucut raksasanya. Posisi kampung yang dibangun di atas puncak punggungan dengan tiga sisi sangat terjal dan menyisakan hanya sisi timur yang landai sebagai gerbang kampung, merupakan strategi pertahanan yang umum pada masyarakat megalitik .

Flores

Bena,Kampung Tradisional Flores. Foto: Setiyani

Di Kabupaten Ngada, beberapa kilometer dari ibukotanya Bajawa, aktivitas Kompleks Gunung Inelika +1.559 m dpl di antaranya berupa mata air panas Mengeruda yang mengalir membentuk sungai, serta air terjun Ogi yang dimanfaatkan untuk mikrohidro, terjun pada endapan piroklastik yang membentuk lereng vertikal.

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Liang Bua, inilah situs gua di utara Ruteng yang menggemparkan dunia setelah ditemukannya fosil utuh kerangka manusia berukuran mini. Fosil Homo floresiensis ini kemudian terkenal sebagai Manusia Hobbit, mengacu kepada manusia kerdil pada novel karya J.R.R. Tolkien yang kemudian difilmkan, “The Lord of the Rings”. Kawasan kars utara Ruteng sekalipun tidak begitu luas, namun lingkungannya sangat layak sebagai habitat kehidupan purbakala, misalnya keberadaan gua yang dekat dengan sungai, serta lingkungan gunungapi di sekitarnya.

Gunung Anak Ranakah, gunung api yang dapat diperingati dengan pasti hari jadinya. Gunung api baru ini erupsi pertama kali pada 27 Desember 1987 dari Jajaran Pegunungan Mandasawu di selatan Ruteng. Kemunculan dengan letusan magmatik yang membuat Ruteng gelap diguyur abu volkanik, menjadikan gunung api aktif tipe A yang ke-129 atau yang termuda di Indonesia. Penamaan Gunung Anak Ranakah diusulkan oleh Prof. J.A. Katili yang saat itu menjabat sebagai Dirjen Pertambangan Umum karena kemunculan gunung api baru ini menempel pada Pocok (Gunung) Ranakah. Akan tetapi pada awalnya masyarakat setempat menamainya Gunung Namparnos, yang artinya “batu terbakar”.

Penulis adalah Dosen Teknik Geologi
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB


Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Flores

Foto: Fandy Tri Admajaya


Flores

Foto: Budi Brahmantyo

Flores

Liang Bua. Foto: Budi Brahmantyo


Flores

Foto: Isya N. Dana

Flores

Foto: Budi Brahmantyo

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>