Kondisi Trench 32 di Mata Menge. Foto. R. Setiawan.

Umur Manusia Purba Cekungan So’a

Gambaran kehidupan ekosistem fauna di Mata Menge yang didalamnya dapat ditemukan gajah Stegodon florensis, komodo Varanus
komodoensis, tikus Hooijeromys nusatenggara, buaya Crocodillus dan berbagai species burung. Sumber: PaleoArt.

Merekonstruksi Lingkungan Purba Cekungan So’a

11/10/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Fauna dan Lingkungan Cekungan So’a

Rekonstruksi fosil gajah purba dari Mata Menge koleksi Museum Geologi. Foto: Deni Sugandi
Rekonstruksi fosil gajah purba dari Mata Menge koleksi Museum Geologi. Foto: Deni Sugandi

Rekonstruksi fosil gajah purba dari Mata Menge koleksi Museum Geologi. Foto: Deni Sugandi

Penemuan fosil manusia purba dan fosil-fosil mamalia serta fauna lainnya di Mata Menge, Cekungan So’a, Flores, menarik kita untuk mengkaji fauna di cekungan tersebut dan lingkungannya. Kondisi paleogeografi, tatanan pulau-pulau yang menghiasi nusantara yang termasuk daerah Kepulauan Sunda Kecil (The Lesser Sunda Islands) – tempat Flores berada – merupakan jajaran kepulauan yang eksotik di wilayah gugusan kepulauan wilayah Indonesia Tengah (Wallacea). Keunikan sumber daya alam yang membedakan dengan pola yang berada di daerah bagian barat (Paparan Sunda) maupun timur (Paparan Sahul). Masing-masing pulau di dalam kawasan Wallacea memiliki ciri yang khas.

Salah satu dari pulau itu adalah Flores (kata “flores” secara bahasa berarti bunga). Memang, Flores merupakan salah satu dari rangkaian gugus kepulauan Wallacea yang terletak di seberang timur garis Wallace (Wallace’s line), garis pemisah klasik antara fauna asal Asia (Indo-Malayan region), dan fauna asal Australia (Austro-Malayan region). Namun, kondisi faunanya banyak yang memiliki keunikan khas dari ciri fauna di kepulauan Indonesia Tengah.

Atas: Lokasi penelitian: Peta indeks Pulau Flores dan Cekungan So’a (So’a Basin), Flores. Bawah: Peta elevasi digital (DEM) Cekungan So’a dan lokasi temuan fosil vertebrata. Sumber: Brumm, et al, 2010.

Atas: Lokasi penelitian: Peta indeks Pulau Flores dan Cekungan So’a (So’a Basin), Flores. Bawah: Peta elevasi digital (DEM) Cekungan So’a dan
lokasi temuan fosil vertebrata. Sumber: Brumm, et al, 2010.

Pada Zaman Plistosen, Flores telah terisolasi dan tidak pernah terhubung dengan Benua Asia, meskipun pada saat air laut berada pada titik yang paling rendah. Oleh sebab itu, jumlah spesies fauna di Flores, baik yang masih ada saat ini hingga yang telah punah (menjadi fosil), sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan pulau-pulau di Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Meskipun demikian, sebagian elemen fauna asal daratan Asia seperti gajah (Stegodon) dapat ditemukan di Flores.

Fauna Cekungan So’a
Bagaimana binatang Asia dapat sampai dan berkembang di Pulau Flores? Tentunya hal itu tidak serta-merta mereka berpindah dari Asia dan sampai di sana. Hanya binatang yang mampu menyeberangi hambatan lautan dengan ombak yang besar serta laut yang dalam dapat sampai ke Pulau Flores. Hal itu dapat dibuktikan dengan keberadaan fosil vertebrata dari jenis tertentu. Kehadiran vertebrata tersebut membuktikan keberhasilan mereka untuk sukses mencapai dan memenuhi insting hidupnya
untuk berkembang biak. Gajah adalah salah satu dari binatang yang dapat berenang, sedangkan kura-kura darat memiliki kemampuan mengapung dan terbawa arus. Kedua fauna tersebut dijumpai di Flores di masa lalu.

Berdasarkan hipotesis, jalur migrasi fauna vertebrata Flores dari arah utara yakni Asia – Filipina – Sulawesi – Kepulauan Sunda Kecil (Flores, Timor, Sumba dll). Hal ini didasarkan kemiripan fosil yang ditemukan di pulau-pulau tersebut dengan yang ada di Flores. Selanjutnya, gelombang penyebaran binatang dariAsia dapat dibuktikan dengan adanya data keberadaan binatang yang pernah hidup di Cekungan Flores yang dapat dikategorikan menjadi satuan fauna (fauna unit atau unit fauna).

Pola arus dari Pasifik menuju Samudera Indonesia yang mempengaruhi arah terdamparnya binatang hingga sampai ke pulau-pulau. Sumber: Kuhnt, et al., 2004.

Pola arus dari Pasifik menuju Samudera Indonesia yang
mempengaruhi arah terdamparnya binatang hingga sampai ke
pulau-pulau. Sumber: Kuhnt, et al., 2004.

Dari penelitian yang telah dilakukan, unit fauna yang ditemukan di Cekungan So’a dapat dibagi menjadi dua: tertua adalah Fauna Tangi Talo yang berumur Plestosen Awal (900.000 tahun), dan yang muda adalah Fauna Mata Menge, memiliki kisaran umur antara 880.000 tahun hingga 510.000 tahun. Selain di Mata Menge, elemen unit fauna Mata Menge juga ditemukan diantaranya di daerah Kobatuwa, Dozo Dhalu, Boa Leza dan Ola Bula yang terletak di sekitar Mata Menge, Cekungan So’a.

Beberapa spesies yang ditemukan di Tangi Talo (sekitar 2 km dari Mata Menge ke arah barat) di antaranya adalah: gajah kerdil (Stegodon sondaari), kura-kura darat raksasa (Megalochelys sp. semula disebut sebagai Geochelone sp.), kura-kura air tawar (Famili Geoemydidae), komodo (Varanus komodoensis), buaya (Crocodilus sp.), dan tikus raksasa (Muridae). Sedangkan elemen Fauna Mata Menge terdiri atas: gajah berukuran besar (Stegodon florensis), tikus raksasa (Hooijeromys nusatenggara), buaya (Crocodilus sp.), komodo (Varanus komodoensis), katak, serta beberapa spesies burung (Leptotilos robustus, Cygnus sp., Bubo sp., Anas cf. gibberifrons, cf. Gallinula/Fulica, Vanellus sp., dan cf. Hieraaetus) dan moluska air tawar (Brotia testudinaria dan Tarebia granifera).

Lingkungan Cekungan So’a
Pada awalnya, Flores terbentuk oleh aktivitas volkanisme bawah laut. Kemudian pada Miosen Tengah, kl. 20 – 5 juta tahun yang lalu (tyl), terendapkan batupasir dan batugamping di sekitar gunung api tersebut yang menunjukkan telah terjadi perubahan lingkungan dari laut dalam menjadi laut dangkal. Pada 2,5 juta – 1,8 juta tyl, terdapat aktivitas gunung api di barat laut dari Cekungan So’a sekarang. Gunung api ini diperkirakan merupakan gunung yang ada di Kaldera Welas saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan saat itu berada pada daerah pinggiran gunung api. Aktivitas gunung api ini menghasilkan batuan breksi andesit dengan sisipan batupasir tufaan dan batulanau tufaan yang menjadi batuan dasar pada Cekungan So’a.

Suksesi Fauna Vertebrata di Cekungan So’a. Sumber: Puspaningrum et al., 2015.

Suksesi Fauna Vertebrata di Cekungan So’a. Sumber: Puspaningrum et al., 2015.

Kemudian pada 1,1 juta – 1 juta tyl (Plistosen Awal) terjadi pengangkatan tektonik yang membuat Cekungan So’a menjadi lingkungan darat. Lingkungan ini masih dipengaruhi oleh adanya gunung api dan sungai-sungai besar yang mengalir di sekitarnya. Sungai-sungai ini sudah berada di daerah hilir yang dapat dilihat dari hasil endapan batuan pada daerah Tangi Talo yang masih didominasi oleh tuf batu apung dan endapan sungai. Dengan berubahnya lingkungan menjadi daratan, maka banyak fauna yang bermigrasi ke daratan baru ini.

Lingkungan pada masa kehidupan Fauna Tangi Talo merupakan kondisi pulau terisolir yang dibuktikan oleh keberadaan fauna yang datang merupakan jenis unbalance fauna. Jenis fauna ini ditandai oleh kehadiran binatang yang hanya dapat mencapai
pulau dengan kondisi kemampuan binatang tersebut berenang atau mengapung dari dataran Asia. Fauna tersebut dapat diketahui dari fosil yang terdapat di daerah Tangi Talo yakni gajah kerdil, kura-kura darat raksasa, komodo, buaya kecil serta tikus raksasa. Hingga kemudian pada 1 juta tyl terjadi letusan gunung api yang menghasilkan endapan ignimbrit yang kemungkinan membuat beberapa hewan seperti gajah kerdil dan kura-kura darat raksasa menjadi punah.

Cekungan So’a kini dilihat dari udara dengan drone. Foto: Ronald Agusta.

Cekungan So’a kini dilihat dari udara dengan drone.
Foto: Ronald Agusta.

Pada 1 juta – 0,6 juta tyl, lingkungan mulai berubah yang ditandai dengan beberapa sungai-sungai yang mengalir mulai memasuki danau, sehingga lingkungan fluvial lebih dominan. Hal ini terlihat dari endapan batuan yang ada di Cekungan So’a yang berupa batupasir dan diatasnya terdapat lumpur lakustrin flood-flow tufan dengan ukuran sangat halus seperti terlihat di daerah Mata Menge. Dengan luas area daratan yang semakin bertambah luas, maka semakin banyak fauna yang hadir, seperti fauna baru gajah, beberapa jenis biawak lain selain komodo, buaya besar dan buaya kecil, serta beberapa jenis tikus, katak danburung.

Pada sekitar 0,5 juta tyl, beberapa tempat seperti danau-danau kecil yang ada mulai meluas membentuk sistem lakustrin yang dominan. Hal ini dapat dilihat dari adanya lapisan endapan danau dengan sisipan endapan gunung api. Adanya beberapa lapisan endapan gunung api menunjukkan bahwa Cekungan So’a saat itu berada pada lingkungan vulkanik aktif. (Erick Setiyabudi dan Ifan Yoga Pratama Suharyogi)

Penulis, Erick Setiyabudi adalah peneliti pada Museum Geologi; Ifan Yoga Pratama Suharyogi adalah staf Seksi Dokumentasi dan Konservasi Museum Geologi; Badan Geologi, KESDM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>