Sujatmiko-30

Sujatmiko Berkah di Balik Batu Mulia

dr.-Robby-K.T.-Ko-21

Dokter Gua dr. Robby K.T. Ko

31/12/2014 Comments (0) Profil

Dwikorita Karnawati, Memadukan Sosioteknika dalam Mitigasi Bencana

Dwikorita Karnawati-1
Dwikorita Karnawati-1

Dwikorita Karnawati. Foto: Ronald Agusta

Untuk mewujudkan visi geologi yang melindungi keselamatan jiwa, sekaligus menyejahterakan kehidupan, ilmu kebumian ini tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karena itu, ahli geologi harus bahumembahu dengan disiplin lain dan masyarakat ataupun Pemerintah dan Industri. Keberhasilan mitigasi bencana ditentukan oleh seberapa baik memadukan antara pendekatan teknik dengan sosial, selain upaya yang sifatnya rohani. Itulah keyakinan teguh ahli geologi, ahli gerakan tanah, guru besar Fakultas Teknik Geologi dan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati.

Desember 2014, genap sebulan, Dwikorita memimpin Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas ternama di Indonesia. Inilah satu karier penting, rektor universitas yang bercita-cita menjadi universitas perjuangan, universitas nasional, dan universitas riset itu.

Kini, Dwikorita memikul tanggung jawab untuk mengelola UGM pada periode 2014-2017. Ia menggantikan Pratikno, rektor UGM periode 2012- 2017, yang diangkat menjadi Menteri Sekretaris Negara. Jauh sebelum diangkat menjadi rektor, Dewan Redaksi Geomagz berencana untuk menampilkan Dwikorita pada rubrik profil Geomagz edisi Desember 2014, sekaligus bertepatan dengan bulannya Hari ibu. Awal ketertarikan untuk menampilkan sosok Dwikorita muncul, saat ia menjadi perempuan satusatunya yang memandu debat calon presiden dan wakil presiden, Juni 2014.

Untuk mengetahui sosok ahli kebencanaan geologi itu, 9 September lalu tim Geomagz berangkat ke Yogyakarta menemui Dwikorita. Di sela-sela acara seminar internasional kegunungapian Cities on Volcanoes, yang diselenggarakan Badan Geologi dengan UGM itu, Dwikorita menuturkan awal perjalanan ketertarikan memasuki dunia yang kini digelutinya. Dan untuk mengetahui lebih dalam rektor pertama perempuan di lingkungan UGM itu, Tim Geomagz kembali menuju kota pelajar itu. Wawancara yang dilakukan di ruang kerjanya yang tertata rapi itu, Dwikorita menyampaikan berbagai gagasan untuk mewujudkan setumpuk harapan dan cita-citanya.

Dari studi pustaka dan dua kali wawancara, kami mendapatkan gambaran masa kecil Dwikorita serta awal ketertarikannya ke dunia geologi. Demikian pula, kami peroleh gambaran pendalaman beliau pada ihwal gerakan tanah yang mengantarkannya menjadi guru besar di lingkungan Fakultas Teknik Geologi UGM. Di bawah ini penelusuran lengkapnya.

Dari Pramuka dan Bacaan
Dwikorita Karnawati lahir di Yogyakarta, pada 6 Juni 1964. Ayahnya, Mulyadi Nojotjandono, sarjana pertanian, dan ibunya Titi Sumaryati. Rita, begitu sapaan akrabnya, lulus Sekolah Dasar Teladan Ungaran II Yogyakarta (1976) dan Sekolah Menengah Pertama Negeri V Yogyakarta (1980). Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia suka mengikuti kegiatan pramuka. Di dalam kegiatan ekstrakurikuler itu selalu terekspos alam, dengan gunung, sungai, dan lain-lain.

“Dari situ, lama-lama kita berpikir, kok alam bisa seperti itu? Ternyata itu ada ilmunya. Kebetulan dulu ibu saya suka membelikan buku Seri Pustaka Alam Life. Bukunya sangat bagus, banyak gambarnya.
Ada magma, gunung api, pokoknya warna-warni. Nah semua itu membuat saya mencocokkan informasi tersebut dengan keadaan di lapangan saat mengikuti kegiatan pramuka,” ujar Dwikorita, mulai mendedahkan awal ketertarikannya pada dunia geologi.

Selain itu, hal yang kian menambah rasa penasarannya pada dunia kebumian itu adalah banyak di antara keluarganya yang belajar geologi. Katanya, “Kebetulan saya juga punya kakak Herutama Trikoranto, kakak misan Sigit Triyono dan oom Andi Sungkowo, yang belajar geologi. Kalau oom saya pulang dari lapangan itu suka membawa banyak batuan. Saya sering bertanya, untuk apa itu? Katanya untuk diteliti, bisa menentukan potensi minyak bumi. Waktu itu, tahun 1970-an, minyak bumi ‘kan masih booming. Terus saya melihat, kayaknya yang bekerja di bidang minyak itu enak, ya. Saya gabungkan pengalaman di lapangan, melihat buku, dan cerita dari saudara yang belajar tentang minyak. Terus saya tanya-tanya. Ternyata, untuk tahu semua itu kuliahnya di geologi.”

Dwikorita Karnawati-2

Menjelaskan akibat gerakan tanah di Sidosari, Salaman, Magelang, 26 Januari 2014. Foto: Koleksi Pribadi.

Karena itu, selulus SMA Negeri 1 Yogyakarta, pada 1983, Dwikorita memutuskan masuk ke Fakultas Teknik, Jurusan Geologi, UGM. “Ibu saya memang menganjurkan ke ekonomi, tapi saya mendaftar dengan pilihan pertama geologi, dan pilihan kedua ekonomi. Saya diterima di geologi, ya sudah itu saya ambil,” ungkapnya.

Saat mula-mula kuliah di geologi, ia kaget. Ia sering diolok-olok mahasiswa laki-laki, sehingga agak takut. “Namun, karena tertarik dan senang mempelajarinya yang mengolok-olok itu kita baikin. Waktu saya kuliah itu satu kelas 60 orang. Putrinya ada dua, saya dan Ratna Widyawati. Ketika kegiatan ke lapangan tidak ada masalah, meskipun kawan saya yang laki-laki sering mengolok-olok, tetapi di lapangan mereka sangat baik,” katanya.

Karena terpikat oleh keluarganya yang bekerja di perminyakan, mulanya Dwikorita juga ingin bekerja di dunia itu. Namun, setelah dirinya diajak ke daerahdaerah bencana pada tahun 1986 oleh dosen pembimbingnya, ia berkeyakinan bahwa, “Geologi itu ternyata dibutuhkan untuk menolong masyarakat agar bisa menghindari bencana. Saat itulah saya mulai memahami pentingnya geologi lingkungan, yang di antaranya bisa menangani kerusakan lingkungan di daerah pertambangan kalau sudah diketahui jenis batuan, tanahnya, dan lain-lain”.

Untuk skripsinya, Dwikorita mengkaji pedologi untuk kepentingan pertanian, belum ke gerakan tanah. Kuliah yang dimulai Agustus 1983 itu, diselesaikannya pada Agustus 1988. Kemudian, mulai tahun 1990, ia tercatat sebagai tenaga pengajar di Fakultas Teknik Geologi UGM. Sebelumnya, pada tahun 1989 Dwikorita menikah dengan Sigit Priyanto. Dari hasil pernikahan tersebut, Dwikorita dikaruniai seorang putra yang bernama Amiluhur, dan seorang anak perempuan, Umayra Priyanto. Kini Amiluhur Priyanto tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kehutanan UGM dan memberi Dwikorita seorang cucu. Sementara Umayra baru masuk di fakultas liberal arts, Whatcom College, Seattle, Amerika Serikat.

Mendalami Gerakan Tanah
Ihwal ketertarikannya kepada gerakan tanah, Dwikorita mengaku karena terpengaruh dosen pembimbingnya, yaitu ahli geologi teknik Suharto Tjojudo. Bahkan dosen ini pula yang membuatnya banting setir ke geologi lingkungan.

Dwikorita Karnawati-3

Saat diangkat sebagai guru besar. Foto: Koleksi Pribadi.

Kata Dwikorita, “Beliau sering melakukan penyelidikan Geologi Teknik untuk pembangunan waduk-waduk, termasuk Waduk Gajah Mungkur, Waduk Wadas Lintang, serta waduk-waduk besar lainnya di Jawa dan Sumatra. Beliau pun terlibat membantu Departemen Pekerjaan Umum dalam Studi Gerakan Tanah di Saluran Induk Kalibawang, bKulon Progo, Yogyakarta. Nah, saya menjadi asisten beliau. Terus beliau juga menangani masalah gerakan tanah.”

Pada tahun 1986 pula, Dwikorita sebagai asisten Suharto diajak ke Banjarnegara untuk meneliti longsor yang mengubur desa dan menyebabkan banyak korban jatuh. Di sana ia ikut meneliti penyebab
longsor dan cara memitigasinya, menetukan zona aman, serta cara menyampaikan kepada masyarakat di sana dengan bahasa yang mudah dipahami agar terhindar dari longsor berikutnya. “Itu pengalaman saya diajak blusukan menangani gerakan tanah. Saya tidur di tengah-tengah masyarakat, dan selama beberapa hari harus menjelaskan kepada masyarakat di sana,” ungkap penyuka kegiatan alam bebas ini.

Lebih lanjut ia menyatakan, “Saya terus terang terinspirasi oleh beliau. Karena beliau saya tertarik untuk menjadi dosen. Padahal tadinya, saya ingin seperti saudara-saudara saya. Tetapi setelah bertemu dengan beliau saya berubah pikiran. Dia kok bisa mendidik, melatih, dan bekerja bersama masyarakat. Ya, sebelum ada cerita Jokowi blusukan, ahli geologi sudah terlebih dahulu melakukannya. Kerja orang geologi ya memang blusukan, termasuk Pak Suharto Tjojudo yang super blusukan. Itulah sebabnya saya banting setir dari dunia minyak menjadi yang berkaitan dengan masyarakat, membangun bendungan dan terowongan yang aman dan menyelamatkan warga desa dari bencana gerakan tanah, serta banjir bandang.”

Karena gemblengan Dr. Suharto Tjojudo yang sempat menjadi Ketua Jurusan Teknik Geologi antara tahun 1980-1982 itu pula Dwikorita ingin melanjutkan studinya di bidang gerakan tanah. “Saya juga ingin belajar seperti beliau. Tetapi karena suami saya mendapat beasiswa di Leeds University, maka saya pun belajar di sana. Jadi biar belajar bersama,” kata warga Desa Krikilan, Ngaglik, Sleman itu.

Untuk kajian tingkat magisternya yang diselesaikannya pada tahun 1991, Dwikorita mengkaji kestabilan tanah lempung untuk fondasi dan badan jalan. Waktu itu dia membandingkan lempung (clay) di Kenya dan di Padalarang, Jawa Barat. Untuk itu ia bekerja bersama British Geological Survey. Di situ, Dwikorita mengkaji kapasitas teknisnya dan implikasinya terhadap kerusakan jalan, dan bagaimana solusinya. Judul tesisnya adalah Shrinkage and Swelling Characteristics of Red Coffee Clay from Kenya and Andosol from Indonesia (1992).

Dwikorita kemudian melanjutkan kuliah doktoralnya di universitas yang sama. Kali ini, ia mengkaji gerakan tanah di Margoyoso, Magelang, dan di Ciloto, Jawa Barat. Untuk yang di Magelang, ia dibantu oleh Departemen Pekerjaan Umum, dan di Ciloto itu dibantu oleh Badan Geologi. Tahun 1996, ia lulus S3 dari Departement of Earth Sciences, Leeds University, dengan disertasi berjudul Mechanism of Rain-induced Landsliding in Allovanic and Halloysitic Soils in Java.

Inspirasi di balik kajiannya untuk disertasi doktornya itu adalah keterlibatan Suharto Tjojudo yang membantu Departemen PU untuk menangani saluran induk Kalibawang, Kulonprogo, awal tahun 1990. Katanya, “Saluran tersebut sangat vital untuk mengairi sawah-sawah di sekitar Kulonprogo. Namun, saluran tersebut terputus, sehingga kering semua. Nah, Pak Suharto Tjojudo bertugas menangani terputusnya saluran tersebut. Untuk itu perlu penelitian, dan saya dilibatkan sebagai asistennya. Penyebabnya ternyata longsor. Sehingga yang terputus itu harus dibangun lagi di tempat yang aman. Dari situ saya berpikir bahwa longsor itu penting untuk diteliti.”

Sementara itu, dari kajian S3-nya, Dwikorita belajar bahwa secara alam kodrat tanah yang ada di dua tempat itu meskipun tidak diapa-apakan juga akan menyebabkan rawan gerakan tanah. “Apalagi dibuatkan jalan, kena hujan, dan sebagainya. Artinya, ke depan, kondisi tata ruang seperti itu tidak boleh dijadikan jalan dan harus mencari zona yang aman apabila hendak membuat jalan,” ujar Dwikorita.

Pada tahun 1998, ia mendapatkan pengalaman menarik. Ceritanya ia harus melakukan riset di Pulau Kambing (1998), yang berada di perairan selatan Pulau Madura, sehingga harus naik kapal kecil seperti sampan untuk mencapai pulau tersebut. Saat itu ia harus melakukan pengukuran tanah. Namun, pada suatu malam menjelang selesainya pengukuran itu, ia merasa merasa di telinganya ada sesuatu yang
mengalir. Ia tidak bisa tidur dan saat azan subuh, yang mengalir di telinganya barulah hilang. Oleh karena itu, ia meminta pulang lebih dulu.

Dwikorita Karnawati-4

Sosialisasi mitigasi bencana geologi di tengah masyarakat. Foto: Koleksi Pribadi.

“Di daerah itu, meskipun saya belum berkerudung, tapi saya khusus memakai kerudung selama penelitian berlangsung. Namun, saya lupa saya memakai sandal sehingga kelihatan tumit. Mungkin saya waktu itu disangka sebagai orang etnik lain dan dicurigai sebagai makelar tanah, karena di waktu itu saya melakukan pengukuran tanah. Mereka ‘kan tidak mau tanahnya diambil. Nah, ini ‘kan artinya ada gap persepsi antara kami para peneliti dan masyarakat. Saya mengukur tanah ‘kan sedang untuk melakukan riset, tapi penduduk setempat tahunya yang bertumit seperti itu dan mengukur-ukur itu mau mengambil tanah mereka. Ini ‘kan problem sosial. Dari situ saya belajar, bahwa ilmu itu tidak bisa tunggal. Saya harus bekerja dengan orang-orang (ahli imu-red) sosial. Sejak itu, saya selalu mengajak orang sosial (ahli imu sosial-red),” kenang penyuka kegiatan bersepeda itu.

Mengembangkan Teknologi Early Warning System
Setelah melakukan Program Post Doctoral di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang pada tahun 1998, Dwikorita mendapat beberapa hibah penelitian dengan World Bank di tahun 1999- 2002. Kemudian memasuki tahun 2003 Dwikorita mendapat penghargaan Leverhulme Professorship Award dari Institute for Advanced Study Bristol University, Inggris, sehingga harus melakukan riset “professorship” selama 3 bulan di Universitas Bristol, Inggris. Dalam riset tersebut dimulailah perhatiannya untuk mengembangkan sistem pemantauan dan peringatan dini bencana gerakat anah. perhatiannya tertuju pada pengembangan alat peringatan dini atau early warning system. Pengembangan riset ini terus dilanjutkan dengan bekerja sama dengan para profesor dari Kyoto Uniersity Jepang. Saat itu, ASEAN University Network (AUN) menunjuk Dwikorita bersama Profesor Kenji Aoki dari Kyoto University untuk membimbing empat mahasiswa program master dan doktor yang dibiayai JICA, untuk meneliti longsor di Indonesia. Oleh JICA, mereka dikirimi lima set alat deteksi longsor buatan Jepang dan dipasang di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, daerah rawan longsor. Namun, cara kerja alat itu rumit dan saat rusak harus dikirim lagi ke Jepang.

Saat itu Dwikorita berpikir bahwa kebuntuan akibat ketergantungan kepada negara pembuat alat harus ditiadakan. Dwikorita pun menyampaikan hal tersebut kepada koleganya, Teuku Faisal Fathani, dari Teknik Sipil UGM. Ia mengajak Teuku Faisal untuk membuat alat yang berfungsi sama, tetapi cara kerjanya lebih mudah dipahami.

“Untuk mengembangkan teknologi early warning system gerakan tanah atau longsor, kita bekerja sama dengan Kyoto University. Di situ saya tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja dengan tim dari berbagai disiplin ilmu, misalnya dari teknik sipil, psikologi, dan sosiologi. Dari riset itu menghasilkan alat. Dari yang tadinya belajar dari Jepang, yang alat-alatnya sangat rumit dan beragam, kita kembangkan sendiri menjadi alat sederhana; dari yang tadinya tiga alat menjadi satu alat. Dan yang lebih penting, alat itu mudah digunakan oleh masyarakat,” aku Dwikorita.

Dwikorita Karnawati-5

Kunjungan ke lapangan. Foto: Koleksi Pribadi.

Kemudian dengan bantuan dana dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (tahun 2007) dan juga dari British Council di tahun 2007- 2010 alat generasi pertama yang dibuat masih terbilang sederhana karena hasil deteksi pergeseran dan pergerakan tanah harus dicatat secara manual dengan mendatangkan petugas ke lokasi. Alatnya sendiri diberi nama ektensometer, yang dipasang dengan membentangkan kawat melintasi retakan tanah yang dapat meluncur lanjut sebagai gerakan tanah atau longsor. Cara kerjanya adalah dengan memantau/mengukur secara otomatis perkembangan retakan tanah yang dapat terjadi akibat air hujan yang meresap ke dalam tanah. Apabila retakan tanah ini makin melebar hingga mencapai 10 cm, diperkirakan longsoran akan segera terjadi. Maka alat ekstensometer ini diset untuk membunyikan sirene peringatan dini pada saat lebar retakan tanah mencapai 5 cm, sebelum longsoran tanah terjadi. Dengan berbunyinya sirene ini maka warga mendapatkan peringatan untuk segera menyingkir dari lokasi yang akan segera longsor ini. Dari kejadian empirik pada bulan September 2007, tercatat tanah baru mengalami longsor setelah 4 jam sirene berbunyi pada lokasi rentan longsor di Desa Kalitelaga, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Selain itu diciptakan pula alat pemantau banjir bandang, juga dengan kawat yang dipasang melintasi lembah sungai. “Cara kerjanya menggunakan wire atau kawat. Kawatnya dibuat berjenjang, yaitu ada level 1, level 2, dan level 3. Kalau semakin tinggi, maka level 1 putus. Begitu putus, sirine berbunyi.

Tapi putusnya kan masih jauh, katakan saja misalnya jaraknya 2 km dari hunian, sehingga di sela-sela waktu itu penduduk masih bisa menyingkir. Nah, kalau level 1 dan 2 terlewati, maka 2 sirine akan berbunyi. Itu artinya debris semakin banyak,” terang

Dwikorita Karnawati-6

Menerima anugerah internasional atas kerja keras di bidang mitigasi bencana gerakan tanah dari The International Programme on Landslides (IPL), UNESCO. Foto: Koleksi Pribadi.

Dwikorita.

Ternyata alat yang dihasilkan oleh tim menuai keberhasilan, yakni bisa bekerja dan menyelamatkan warga. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan bagi Dwikorita. Ia menyatakan, “Tahun 2007 ‘kan alat early warning system kami baru beres. Ini buatan kami yang pertama sekali, generasi pertama yang sederhana. Alat itu diujicobakan di Banjarnegara, di lokasi rawan longsor. Alat itu kita sandingkan dengan alat yang sama dari di Jepang, tetapi lebih mahal, dan memakai kamera.”

Lebih jauh Dwikorita menyebutkan bahwa alat yang dibuat timnya berupa kotak. Energinya mengandalkan aki (accu). Sementara alat dari Jepang akan bekerja bila terhubung dengan listrik dari PLN. Harga pembuatan alat tim Dwikorita bisa jadi setara dengan harga becak, sementara yang dari Jepang harganya ratusan juta.

“Nah, kalau akan longsor, itu selalu diawali hujan deras. Bisanya di daerah, kalau ada hujan lebat, listrik mati. Dan alat dari Jepang itu, tidak bekerja karena tidak mendapatkan aliran listrik. Sementara alat
kita masih bisa bekerja, karena mengandalkan aki. Kemudian tanah bergerak, sekitar 5 cm, sehingga menyebabkan sirine berbunyi, dan warga yang menghuni 30 rumah di daerah itu mendengarnya dan kemudian menyingkir. Karena mereka sebelumnya kita latih. Dan ternyata 4 jam kemudian alat tersebut terkubur oleh longsor yang terjadi di daerah tersebut,” ungkap Dwikorita.

Namun, masalah sosial kemudian timbul. Alat berupa kawat itu sering terputus karena dicuri orang, terlewati sapi atau truk yang lewat, atau tercangkul. “Dengan demikian,” kata Dwikorita, “Alat seperti itu secara sosial menjadi tidak tepat. Teknologi kawat itu ‘kan kita belajar dari Jepang, di sana tidak ada sapi yang lewat. Artinya teknologi yang kita pelajari dari luar itu tidak serta-merta dapat kita terapkan di negeri kita. Karena sosial-ekonomi dan budaya kita berbeda dengan mereka.”

“Maka kita mengembangkan teknologi ultrasonik, yang disimpan di pinggir sungai. Jadi dengan gelombang ultrasonik itu kita bisa memperkirakan berapa ketinggiannya. Itulah yang disebut hybrid socio-technical approach atau lebih dikenal dengan pendekatan sosial-keteknikan (social-engineering approach). Itu artinya tidak sekadar teknis, mentransfer teknologi dari luar, tetapi teknologi yang kita transfer harus juga disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat setempat,” lanjut Dwikorita.

Alat yang kini dinamakan ‘GAMA-EWS’ itu sudah menginjak generasi kelima, yang dikembangkan dengan dukungan lanjut dari BNPB dan beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia dan Myanmar, serta Pertamina Geothermal. Data yang muncul langsung direkam dalam data memori dan dikirim langsung dengan teknologi telemetri sehingga bisa terpantau secara online melalui internet. Alat tersebut sudah mendapatkan 5 hak paten. Hingga kini, lebih 100 unit alat ini telah dipasang di 12 provinsi bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BN

Dwikorita Karnawati-7

Sebagai narasumber dari UGM saat konferensi pers Cities on Volcanoes, 9 September 2014. Foto: Priatna.

PB), Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT), International Consortium on Landslides (ICLUNESCO), pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta perusahaan pertambangan dan perminyakan.

Untuk tren mitigasi bencana ke depan, Dwikorita tetap menggarisbawahi pentingnya menengarai tanda-tanda bencana melalui pemantauan. Demikian pula memberikan peringatan dini harus tetap
dicanangkan. “Masalahnya,” menurut Dwikorita, “karena di negara berkembang seperti kita ini permasalahannya tata guna lahan kebanyakannya tidak berdasarkan pada upaya mengurangi risiko bencana. Jadi penggunaan lahan tidak memperhatikan zona bahaya. Tetapi, itu sudah terlanjur, sehingga daerah bahaya sudah terlanjur banyak dihuni. Sehingga saat terjadi bencana, korban yang jatuh itu banyak. Apa yang sudah terlanjur itu kalau mau diungsikan atau dipindahkan tentu membutuhkan lahan baru, perlu biaya besar, dan tak mudah. Karena itu, harus dilakukan sistem
pemantauan dan peringatan dini.”

Menerapkan Hybrid Sociotechnical Approach
Dari pemikiran Dwikorita dan timnya lahir pula konsep penanganan kebencanaan yang mengawinkan antara ilmu rekayasa dengan ilmu sosial. Konsep tersebut disebut hybrid sociotechnical approach (pendekatan terpadu sosioteknika) atau social engineering approach (pendekatan rekayasa sosial). Menurut Dwikorita, konsep ini sebenarnya baru di dunia. Dwikorita dan timnya mulai mengenalkan dan mengembangkannya pada tahun 2005-2006, melalui presentasi di berbagai tempat dan daerah.

“Lahirnya konsep itu dilatar-belakangi dengan banyaknya kegagalan saat tim dalam mengembangkan teknologi early warning system (peringatan dini-red) di daerah bencana. Waktu itu ada bantuan alat dari Jepang. Alat-alatnya canggih dan dipasang di desa di Kalibawang, Kulonprogo. Saya tidak bisa setiap hari ada di situ. Itu artinya saya harus melatih warga desa untuk mengoperasikan alat itu. Tetapi sulit sekali. Hanya ada satu orang yang bisa memantau dan mencatat di dalam kertas. Tetapi istrinya yang tidak tahu, saat beres-beres, ia dengan tidak sengaja membakar kertas rekaman data tersebut. Hasil pemantauan selama waktu itu hangus terbakar. Dari situ, saya sadar bahwa ada gap yang sangat jauh. Artinya, teknologi itu tidak sukses di masyarakat. Oleh karena itu, kita harus mengembangkan teknologi yang ramah masyarakat, secara sosial,” kata Dwikorita.

Selain itu, ada juga pengalaman paling mengesankan saat Dwikorita dan tim harus melakukan pemasangan alat di Situbondo, Jawa Timur, pada 2008. Pengalaman tersebut menekankan ihwal pentingnya social engineering.

“Waktu itu kita, tim yang terdiri dari ahli geologi, teknik sipil, instrumentasi, dan ahli sosial, akan memasang alat. Setiap kita akan masuk ke lokasi biasanya menerjunkan ahli sosial lebih dulu. Lalu dia akan membikin laporan lokasi di sana, misalnya mengenai gerakan sosial yang ada, dan taraf keagamaannya. Alasannya, meskipun kita meneliti gerakan tanah, tapi gerakan sosial juga harus kita rekam. Setelah tahu kondisi sosialnya, kita turun ke lapangan. Setelah survei, kita menemukan tempat yang tepat untuk memasang alat. Tetapi, sering secara sosial ada salah persepsi. Masyarakat belum bisa menerima adanya alat tersebut. Mereka pun tidak mau lahan mereka ditempati alat itu dengan alasan takut lahan itu nantinya tidak bisa ditanami lagi. Padahal alatnya kecil, tidak akan mengganggu. Lahannya masih bisa digunakan,” kisah Dwikorita.

Dwikorita melanjutkan kisahnya, “Akhirnya, kita mendekati orang kunci, yaitu seorang haji, yang disegani masyarakat di sana dan mengajak berembuk. Akhirnya tempat pemasangan alat ditentukan oleh masyarakat. Tapi kemudian, ada satu orang warga yang diam saja dan ke mana-mana membuntuti serta membawa celurit. Kemudian, saya meminta orang sosial untuk mencari tahu. Ternyata, tempat yang sudah diputuskan warga tersebut berada di desa tetangga masyarakat yang berembuk itu. Dan orang yang membuntuti itu adalah warga desa tetangga, yang tidak diajak berembuk. Ini ‘kan masalah sosial. Kalau tidak tahu, keselamatan kita tidak terjamin dan tujuan pemasangan tentu tidak akan tercapai.”

Saat pengukuhannya sebagai guru besar pada 2008, Dwikorita menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Peran Geologi Teknik dan Lingkungan dalam Pengurangan Risiko Bencana Gerakan Tanah”. Dalam orasi itu, ia pun kembali mengenalkan konsep hybrid socio-technical approach. Pengembangan teknologi untuk melindungi masyarakat tanpa pendekatan ilmu sosial, saat alat itu dipasang akan dicuri, dirusak, dibuat mainan, bahkan dibuat jemuran.

“Kalau hanya engineering saja itu tidak akan ada gunany

Dwikorita Karnawati-8

Memandu debat calon wakil presiden, Juni 2014. Sumber: metropolitnonline.co.

a. Banyak alat yang mahal tidak berbunyi, karena misalnya dicuri. Artinya, saat merancang dan memasang alat itu kita mengabaikan ilmu sosial. Itu salah. Kita buat lagi dan melibatkan aspek sosial. Jadi, alatnya kita buat mudah, tidak mahal, dan orang yang melihatnya tidak hendak mengganggu alat tersebut,” katanya.

Untuk menyampaikan pendekatan tersebut, ia tidak pernah menulis sendiri, karena ia berkeyakinan sesuatu yang dilakukannya sendiri itu akan sia-sia. Oleh karena itu, ia menyatakan, “Saya bisa ngomong begini karena saya bekerja dengan banyak orang. Saya mendengarkan banyak orang, dari ahli psikologi, dan lain-lain. Sehingga kalau saya menulis apapun, tidak pernah sendiri, minimal berdua. Karena yang dibutuhkan adalah penyelesaian masalah secara interdisipliner, untuk berbagai kepentingan, yaitu kepentingan kebijakan, kepentingan masyarakat, dan kepentingan industri. Makanya, kalau dipikir oleh satu orang, itu tidak akan mempan. Semuanya harus collective knowledge.”

Ia pun menegaskan, “Untuk mengatasi masalah, sekarang ini tidak mungkin hanya ahli geologi saja. Sehingga kalau prospek ke depan, mitigasi bencana itu sangat dibutuhkan karena seiring dengan tumbuhnya pembangunan, jumlah penduduk menjadi banyak, sehingga harus menentukan zona yang berisiko dan rentan terhadap bencana geologi.”

Namun, katanya, sistem pemantauan dan peringatan dini tidaklah cukup, sehingga muncul pertanyaan, apa jaminannya kedua sistem tersebut bisa berjalan baik? Untuk menjawab hal tersebut, Dwikorita menyatakan bahwa harus ada pendekatan terhadap masyarakat. Kemudian membangkitkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana geologi yang mengancamnya.

Dalam hal tersebut, hal yang harus dikedepankan adalah melakukan geo-education terlebih dahulu. “Namun,” katanya, “Itupun tidak mudah. Artinya begini, semua orang tahu bahwa gejala alam tertentu di daerahnya, misalnya, akan menyebabkan banjir bandang atau longsor. Meski tahu, tapi ‘kan tidak bisa dijamin mereka akan menyingkir. Yang sulit itu, menyebabkan orang menjadi tahu dan mau melakukan. Dan ilmu geologi tidak mampu melakukan hal tersebut. Ahli psikologi, sosiologi, dan antropologi harus dilibatkan untuk membangkitkankesadaran dan kemauan masyarakat untuk benarbenar melakukan tindakan yang tepat.”

Untuk menyebarluaskan pentingnya sistem pemantauan dan peringatan dini, membangun desa tangguh, dalam kerangka mitigasi bencana, sejak 2007, Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan KKN bertema mitigasi bencana geologi. Ia mengajak mahasiwa yang bukan hanya dari jurusan geologi dan teknik saja, tetapi filsafat, psikologi, dan lain-lain. Mereka dibekali dan dilatih mengenai pengetahuan praktis untuk menyadari daerah bahaya, tanda-tanda bencana, kapan harus menyingkir, dsb. Mahasiswa tersebut bekerja sama dengan guru-guru dan ibu-ibu PKK.

Penelitian dan Karya Tulis
Sejak tahun 1997, Dwikorita banyak melakukan banyak penelitian terkait gerakan tanah, pengembangan sistem peringatan dini, dan hybrid socio-technical approach pada penanganan bencana
geologi. Antara tahun 1997-1998 dengan dibiayai berasal dari Dirjen Dikti dan World Bank, ia melakukan penelitian Prediction on Rain-induced Landslide by Incorporating Slope Hydrodynamics Simulation.
Pada tahun 1998, Dwikorita melakukan penelitian Application of Seep/w (Slope Hydrodynamic Numerical Modeling related to Rain–Induced Landslide Prediction and Prevention yang didanai oleh Yayasan Hitachi. Antara 1999-2001, Dwikorita ikut terlibat sebagai koordinator peneliti pada proyek Towards Sustainable Coastal Development in the South of Yogyakarta; A Geological Assessment for Coastal Management. Kegiatan ini didanai oleh Dikti dan World Bank.

Memasuki tahun 2001, Dwikorita terlibat penelitian Landslide Hazard Mapping in East Java, Magelang, Kulon Progo, Purworejo and Banten yang selesai pada 2003. Pada tahun itu pula, ia ikut penelitian Development of Community Early Warning System and Slope Protection against Rain-induced Landslides in Java. Riset ini merupakan proyek kerja sama dengan Institute for Advanced Studies and Department of Geography at Bristol University, Inggris.

Selanjutnya, antara 2003-2008, ia mengikuti riset Development of Sustainable Slope Protection in Tropical Residual Soils. Penelitian bersama Kyoto University (Jepang), Yangoon University (Myanmar) dan Institute of Technology Cambodia (Kamboja) ini selesai pada 2008. Antara 2006-2007, mengikuti Earthquake Induced Landslide Investigation and Mapping at Yogyakarta Special Province, Indonesia, yang didukung oleh JICA-AUN/SEED NET serta Jurusan Teknik Geologi, UGM.

Kemudian Development of Community-based Landslide Early Warning System, hasil kerjasama antara UGM dengan Disaster Research Prevention Institute (Kyoto University, 2009-2012), dan dengan Kementerian Daerah Tertinggal serta BNPB (2007- 2008). Ikut terlibat antara 2007-2009, dalam Landslide mitigation in ASEAN, berupa kerja sam

Dwikorita Karnawati-9

Di kantor Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni. Foto: Ronald Agusta.

a AUN/ SEED NET dengan Urban and Environmental Engineering (Kyoto University) dan Fakultas Teknik Geologi dan Minyak, Ho Chi Minh City University of Technology (Vietnam). Pada waktu hampir bersamaan, antara 2007-2010, ia mengikuti Seismic and Landslide Hazard Mapping for Public Empowerment in Yogyakarta Province, yang merupakan riset kerjasama dengan University of East Anglia (Inggris) dan didukung The British Council.

Tahun 2008-2010, Dwikorita mengikuti Real-time Landslide Early Warning System in Asia, bekerjasama dengan International Consortium on Landslide and Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University. Selanjutnya antara 2010-2012, ia terlibat dalam proyek Initiation mechanism of rainstorminduced landslides and their early warning system under extreme weather conditions for developing countries, bersama dengan Disaster Research Prevention Institute, Kyoto University.

Proyek Development of Rock Mass Classification in Volcanic Tropical Region with Active Tectonic Setting, antara 2010-2013, ia ikuti pula. Proyek ini merupakan kerja sama dengan Department of Civil and Earth Resources Engineering (Kyoto University) dan ASEAN University Network/Seed Net. Selanjutnya, dari 2011 hingga kini, Dwikorita terlibat dalam Development of Smart Grid for Landslide Hazard Monitoring, Communication and Early Warning. Kegiatan ini merupakan proyek riset bersama antara UGM dengan San Diego State University dan Pacific Disaster Center, Amerika Serikat.

 Untuk menunjang kepenelitiannya sekaligus sebagai pertanggungjawaban ilmiahnya, Dwikorita banyak menulis makalah yang disampaikan baik dalam forum ilmiah dalam negeri maupun luar negeri, juga dimuat dalam jurnal atau media dalam serta luar negeri. Sejak tahun 1996, tulisannya antara lain dimuat dalam Media Teknik, Forum Teknik (1997), Proc. of the 4th Int. Conf. on Case Histories in Geotechnical Engineering (1997), dan Year Book Mitigasi Bencana 2000 (2000).

Tulisan Dwikorita juga dimuat di Proceeding of the Int. Sym. On Advanced Science and Engineering, HCMC Univ. Of Technology and Pukyong National, Univ. Ho Chi Minh City, Vietnam (2004), Proc. of 10th International Assoc. of Engineering Geology (IAEG) International Congress, Nottingham United Kingdom (2006), Proceeding of the 7th Regional Conference of Int. Assoc. of Engineering Geology, 9–11 September 2009, Chengdu, China (2009), dan Journal of Mountain Science (2011).

Tulisan terbarunya berjudul “Student Community Service Program for Landslide Disaster Risk Reduction in Indonesia”. Tulisan ini ditulis bersama-sama dengan Wahyu Wilopo, Agung Setianto, Suharman Suharman, dan Teuku Faisal Fathani serta dimuat dalam Landslide Science and Practice, Volume 7: Social and Economic Impact and Policies (2014).

Selain menulis, Dwikorita juga terlibat sebagai reviewer dan editor pada beberapa jurnal ilmiah, antara lain UNESCO’s peer review on landslide hazard study for Global Risk Update, the ISDR Global Assessment Report (GAR) on Disaster Reduction (2008), Editor The ASEAN Journal of Applied Geology (2010-sekarang), dan Pemimpin Redaksi ASEAN Journal of Engineering (2011-sekarang).

Dwikorita Karnawati-10

Sekeluarga di Venesia. Foto: Koleksi Pribadi.

Prestasi
Atas dedikasinya untuk mengedepankan geologi untuk perlindungan masyarakat, Dwikorita memperoleh beberapa gelar bergengsi dari dalam dan luar negeri. Ia meraih The Young Academic Award (1997-1998); Hitachi Scholarship Foundation for Post Doctoral Research (1998); Graduate Research Team Grant-World Bank (1999-2001); dan Leverhulme Professorship Award (2002-2003). Prestasi lainnya, makalah dan penyajian terbaik dalam Joint Convention on Indonesian Association of Geologist-Ind. Assoc. of Geophysicists-Ind. Assoc. of Petroleum Engineers (2005); dan makalah dan penyajian terbaik dalam The International Association of Engineering Geology conference, Nottingham, UK (2006).

Kemudian secara berturut-turut antara 2011-2014, ia dan rekan-rekannya memperoleh penghargaan International Program on Landslides Award, pada The 2nd World Landslide Forum in FAO-Roma (2011) dan International Program on Landslide Award, pada The 3rd World Landslide Forum di Beijing, Cina (2014). Kedua penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dunia atas sistem peringatan dini bahaya gerakan tanah yang diciptakan Dwikorita dan timnya.

Antara 2003-2011 dipercaya menjabat sebagai Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM. Di masa jabatannya, Jurusan Teknik Geologi difokuskan pada program internasionalisasi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, pengelolaan sumber daya geologi secara berkelanjutan dan mitigasi bahaya geologi berbasis pada keunikan lokal. Hal ini terlihat, misalnya, mulai tahun 2007, Jurusan Teknik Geologi menggagas program “Pemetaan Bahaya Gerakan Tanah berbasis PartisipasiMasyarakat”, yang didukung The British Council, dan program Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran dan Pengabdian Masyarakat (KKN PPM) UGM.

Berkat kerja keras dan prestasi serta dukungan dari civitas akademika Teknik Geologi UGM, ia dinobatkan sebagai Ketua Program Studi (Kaprodi) Berprestasi II dalam Seleksi Nasional Akademisi Berprestasi tahun 2010. Pada tahun 2010 pula, Dwikorita diangkat menjadi guru besar dalam Ilmu Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada. Di hadapan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada 5 Mei 2010, Dwikorita menyampaikan Pidato Pengukuhan bertajuk “Peran Geologi Teknik dan Lingkungan dalam Pengurangan Risiko Bencana Gerakan Tanah”. Pada waktu bersamaan, suaminya, Sigit Priyanto, dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik (FT) UGM yang menyampaikan pidato berjudul “Peran Manajemen Lalu-lintas dalam Mengurangi Kemacetan.”

Selain mengajar di Fakultas Teknik Geologi UGM, Dwikorita pernah menjadi dosen tamu di beberapa universitas di luar negeri, antara lain di LUND University, Sweden (June 2000 and March), Asian University Network/SEED-Net (2004-sekarang), University of California (2012), Arizona State University (2012), dan San Diego State University (2011-2012).

Kemudian pada 25 Juni 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) memilih Dwikorita sebagai moderator debat calon wakil presiden yang diselenggarkan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada 29 Juni 2014. Ia terpilih dari tujuh nomine yang sudah ditetapkan sebelumnya. Namanya disetujui sebagai moderator oleh masing-masing tim pasangan calon presiden dan wakil presiden yang rapat bersama KPU.

Setelah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, pada 22 November 2014, Majelis Wali Amanat (MWA), UGM, memilih Dwikorita sebagai rektor menggantikan Pratikno yang menjabat Menteri Sekretaris Negara. Dua hari kemudian, 24 November 2014, di Balai Senat UGM, Dwikorita secara resmi dilantik menjadi rektor UGM masa bakti 2014-2017. Ia menjadi akademisi perempuan pertama yang menjadi rektor UGM.

Akhirnya memang benar seperti yang dikatakan Dwikorita di ujung pidato guru besarnya, sudah saatnya kita menghidupkan konsep “The present is the key to the future”. Proses dan fenomena geologi saat ini merupakan kunci untuk memprediksi dan mengantisipasi fenomena geologi di masa mendatang, demi menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan keselamatan serta kesejahteraan umat manusia. Oleh karenanya, para ahli geologi jangan melewatkan berbagai fenomena geologi yang kini kian sering terjadi. Namun, hanya ahli geologi saja pasti tidak akan memadai untuk membangkitkan kesadaran pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Para ahli geologi tentu harus bahu-membahu dengan para ahli dari disiplin lainnya untuk senantiasa mendorong agar masyarakat selalu melek pada fenomena geologi yang melingkupi hidup mereka.

Penulis: Atep Kurnia.
Pewawancara: T. Bachtiar, Priatna, Atep Kurnia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>