Dwikorita Karnawati-1

Dwikorita Karnawati, Memadukan Sosioteknika dalam Mitigasi Bencana

Subroto-18

Subroto Dedikasi untuk Energi

13/04/2015 Comments (0) Profil

Dokter Gua dr. Robby K.T. Ko

dr.-Robby-K.T.-Ko-21
dr.-Robby-K.T.-Ko-21

Berfoto bersama Kalpataru. Foto: Deni Sugandi.

“Keberadaan kulit bagi dr. Ko sangat berarti. Di bidang kedokteran, ia ahli di bidang penyakit kulit dan kelamin. Begitu juga saat mengembangkan ilmu kebumian, kulit pula yang menjadi keahliannya. Ia menjadi pionir speleologi di Indonesia, ikut mengembangkan karstologi, dan menjadi konsultan ekowisata serta konservasi alam. Kulit manusia dan kulit bumi itulah yang menjadi bidang keahlian dr. R.K.T. Ko.”

Dia mempelajari hal sama. Keduanya kulit. Kulit yang pertama milik manusia dan yang kedua milik bumi. Keduanya menjadi perbendaharaan bagi dr. Robby R.K.T. Ko – dokter spesialis kulit dan kelamin, pionir dan ahli speleologi, pemerhati kars, konsultan ekowisata dan konservasi alam.

Sejak masuk pintu samping itu, semua pandangan agaknya tertuju kepada deretan buku yang tertata rapi di rak. Bisa dikatakan kami dikepung buku sebenarnya, saat diajak tuan rumah berbincang di ruang makan itu. Duatiga langkah di depan, ada rak berisi buku-buku ekologi, biologi, sejarah, dan kajian lisan Indonesia dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Indonesia, dan bahasa daerah Sunda dan Jawa.

dr.-Robby-K.T.-Ko-22

Berwisata bersama keluarga. Foto: Koleksi keluarga

Ke kanan, memasuki ruang baca, kian terlonjak. Betapa tidak. Di situ, berderet rak-rak yang dipenuhi buku, seolah berkeliling membatasi meja persegi panjang. Ada koleksi buku-buku kedokteran, ilmu alam, dan rak khusus mengenai Hindia Belanda yang ada di pojok. Di antara deretan itu, ada satu rak yang nampak menonjol, karena didominasi jejeran bundel putih. Setelah dilihat lekat-lekat, itu merupakan kumpulan karya tulis tuan rumah, berupa makalah mengenai karsologi, speleologi, wisata alam, dan lain-lain. Jelaslah tuan rumah sangat erat bertaut dengan hal-ihwal itu. Tuan rumah itu adalah dr. Robby K.T. Ko, dokter kulit dan kelamin, ahli speleologi, pemerhati kars, dan penggiat wisata alam.

Kami beruntung bisa mengenal lebih jauh dengan sosok serba bisa itu di rumahnya di Jalan Babakan Bunga No. 11, RT 3 RW 3, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dari perbincangan dalam dua kesempatan disertai tinjauan pustaka itu, kami dapat mengetahui dan memahami sepak terjang dr. Ko, termasuk latar belakang kehidupannya.

dr.-Robby-K.T.-Ko-23

Di Zalsburg Austria. Foto: Koleksi Pribadi

Mempelajari Kulit Manusia
Nama lengkapnya dr. Robby Ko King Tjoen. Pria yang dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, pada 4 Januari 1936, ini merupakan putra kedua pasangan Ko Khoen Gwan dan Tjie Soey Lian. Ayahnya bekerja sebagai pedagang tembakau dan direktur produksi serta pemilik Saham Pabrik Serutu “Ko Kwat Ie”, yang diambil dari nama kakeknya sebagai pemilik pabrik cerutu pertama di Indonesia.

Mengenai ayahnya, dr. Ko mengatakan, “Ayah saya dulu seorang pengusaha cerutu. Pabriknya sangat besar. Pabrik itu milik kakek saya, kemudian ayah saya yang meneruskan. Ayah saya sering dipanggil oleh teman dan kerabatnya, Bapak Sugondo, setelah ayah saya melepas kewarganegaraan Republik Rakyat Cinanya sebagai generasi kelima yang berada di Nusantara.” (Peranan dr. Ko dalam Mengembangkan Speleologi di Indonesia, 1980- 2003, 2011: 10).

Sementara ayah dan ibunya sibuk mengurusi bisnis keluarga di Magelang, dr. Ko dan kakaknya, Ko King Gie, menghabiskan masa kecil dan remajanya di Semarang. Langkah ini diambil oleh orang tuanya mengingat di Magelang belum ada sekolah yang memadai untuk mendidik kedua anaknya itu. Alhasil dia dan kakaknya dititipkan kepada kakak ibunya, seorang perempuan.

Tahun 1949, ia masuk ke sekolah menengah pertama Dominico Savio di Semarang. Dengan mengantongi ijazah dari bagian ilmu pasti, pada 1952 ia memutuskan pindah ke Bandung, ikut tinggal bersama kakak ayahnya yang berprofesi sebagai dokter. Ia masuk SMA Santo Aloysius. Di sekolah inilah timbul minatnya untuk berorganisasi, ikut kelas sandiwara, klub debat, dan menggagas kegiatan kunjungan ilmiah.

dr.-Robby-K.T.-Ko-24

Ruang meditasi di Bogor. Foto: Deni Sugandi

Dari SMA Santo Aloysius lulus pada 1955. Seperti pamannya, ia memilih kedokteran sebagai kariernya. Oleh karena itu, ia mendaftar untuk mengikuti ujian masuk Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Karena diterima, akhirnya ia pindah ke Jakarta. Selama kuliah, ia terlibat dalam kegiatan senat FKUI dan kegiatan student camp FKUI ke Bandung (1956). Memasuki tahun kelima, ia diminta menjadi asisten dosen spesialis kulit dan kelamin oleh tiga konsulen yang mengujinya atas nama Pimpinan Departemen Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI . “Permintaan itu memantapkan saya pada pilihan saya untuk melanjutkan ilmu kedokteran ini dengan mengambil gelar spesialis kulit dan kelamin,” katanya mengenang tiga konsulen yang memintanya jadi asisten
itu.

Dengan predikat cum laude pada 1962, ia melanjutkan studi ke bidang spesialis kulit dan kelamin. Sejak 1966 resmilah dr. Ko menyandang gelar dokter spesialis kulit dan kelamin. Selain sebagai dokter, antara 1966-1973, ia juga mengajar di bagian penyakit kulit dan kelamin FKUI dan bekerja sebagai pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selama berkecimpung di dunia kedokteran, ia pernah menulis buku pedoman pengobatan penyakit kulit (1969), menemukan obat antiscabies bernama Scabex yang pernah dijadikan obat standar pengobatan penyakit scabies di seluruh Puskesmas Indonesia (1969), dan menjadi salah seorang pendiri dan anggota dewan redaksi media Dermato-Venereologi Indonesia.

Namun, karena tertarik ihwal penelusuran gua dan umumnya kegiatan alam, ia mengundurkan diri sebagai tenaga pengajar di UI dan sebagai pegawai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 1973. “Karena tujuan saya waktu itu adalah untuk menjelajah alam, melakukan penelitian, dan lain-lain. Kalau saya masih terikat dengan kontrak kerja, waktu saya tidak akan cukup,” katanya. Tetapi bukan artinya dr. Ko melepaskan diri dari dunia kedokteran. Karena ia sendiri tetap buka praktik di Bogor. Antara 1969-1974 ia terlibat aktif dalam bidang obat-obatan tradisional dengan menjadi sekretaris Badan Koordinasi Penelitian Obat Asli Indonesia (BKPOI). Kemudian antara 1973-1986, tercatat sebagai anggota Komisi Pendaftaran Kosmetika dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan.

Hingga kini ia tercatat sebagai anggota pada beberapa organsasi kedokteran, antara lain Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sejak 1963. Ia pun menjadi Sekretaris IDI Bogor, 1963-1969. Sejak 1966, ia aktif di Perkumpulan Ahli Dermato Venereologi Indonesia (PADVI) yang berubah namanya menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski).

dr.-Robby-K.T.-Ko-25

Taman bunga Belanda. Foto: Koleksi keluarga

Menjelajahi Gua
Kecintaan dr. Ko terhadap kegiatan alam tidak tiba-tiba lahir. Ia mengaku sejak remaja suka bertualang. Di masa itu, ia pernah berjalan dari kampungnya di Juritan Kidul (Magelang) ke Kopeng sejauh 27 kilometer, atau dari Tawangmangu ke Sarangan sejauh 35 kilometer, dan kembali ke Tawangmangu dengan jalan kaki dari Palur (Karanganyar). Ia juga suka mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa, serta melakukan penelitian ilmiah mengenai lingkungan hidup. Itu sebabnya sosok yang dikaguminya adalah naturalis berkebangsaan Jerman, FW Junghuhn. Karena katanya, “Dia itu dokter bedah tetapi sangat mendalami ihwal ilmu alam dan biologi.”

Namun, secara khusus, minatnya terhadap gua baru muncul pada 1972. Saat itu ia melakukan penelusuran gua untuk pertama kalinya di Gua Sripit, Trenggalek, Jawa Timur. Dr. Ko mengaku terpukau melihat ornamenornamen dalam gua tersebut. Katanya, “Saat itu saya bertanya-tanya mengapa keindahan bisa mewujud di tempat yang sangat gelap seperti itu?”

Pada tahun itu pula, ia mendirikan home stay di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penginapan yang diberi nama Buena Vista itu sering menjadi tempat berkumpulnya kawan-kawannya yang hendak rapat atau melakukan pelatihan caving (teknik penelusuran gua). Biasanya terdiri dari mahasiswa, ilmuwan, peneliti, dan tamu mancanegara.

Penelusuran gua pertama itu memicu dr. Ko untuk mendalami ilmu mengenai gua (speleologi). Oleh karena itu, ia mulai mencari buku-buku yang berhubungan dengan gua. Sayang, pustaka mengenai hal tersebut tidak ada di Indonesia. Untungnya saat mengikuti jelajahalam di negara-negara lain ia berkesempatan untuk mendapatkan buku-buku speleologi. Hal tersebut dapat dimengerti, sebab sejak 1974, secara periodik, dr. Ko mulai meneliti gua-gua di Jawa, Eropa, dan Amerika Serikat sambil menghubungi beberapa klub penelusur gua dan mengundang mereka berwisata mengeksplorasi gua belantara Indonesia, serta menambah khazanah ilmu speleologi.

dr.-Robby-K.T.-Ko-26

Museum Theo Jans Belanda. Foto: Koleksi keluarga.

Bidang baru ini secara konsisten diperkenalkan oleh dr. Ko ke tengah masyarakat Indonesia. Caranya dengan menuliskan kisah penelusuran gua. Tulisan pertamanya mengenai hal tersebut adalah “Gua-gua dalam Negeri” yang dimuat dalam majalah Intisari edisi No 206 (1980). Ia kian rajin mengirimkan tulisan-tulisannya yang berkisar di seputar ilmu gua itu.

Untuk menampung keinginan dan minat para pecinta alam dan masyarakat lainnya terhadap gua dan speleologi, dr. Ko menggagas klub penelusuran gua pertama di Indonesia pada 1979. Hal ini bermula saat dr. Ko, bersama dengan ahli antropologi dr. Budihartono, dan 17 pecinta alam dari Jakarta dan Bandung melakukan penelusuran Gua Lawa di Purbalingga, Gua Petruk, Gua Gombong dan Gua Mistik di Cilacap.

Setelah kembali ke tempat mereka menginap di Cilacap, terbetik ide untuk mendirikan klub penelusuran gua. Itulah yang disebut Caving-Speleologi Indonesia (Caspelina) yang kemudian berubah menjadi Speleologi Caving Indonesia (Specavina), karena mendahulukan ilmu pengetahuannya. Saat itu ia dipilih menjadi instruktur dan pembina klub. Sementara ketuanya adalah mahasiswa UI dan wartawan, Norman Edwin. Specavina tidak bertahan lama, karena adanya perbedaan fokus kegiatan antara dr. Ko dan Norman Edwin.

Sejak 1980, dr. Ko ikut mendanai pendataan dan penelitian gua di Pulau Jawa. Masing-masing pendataan dan penelitian tersebut diharuskan untuk menghasilkan laporan. Antara lain, dr. Ko mendanai penelitian Gua Cidolog, Sukabumi (1980), Gua Toyo Ngrembes, Gua Kedung Biru, Gua Sripit, Gua Semar, Gua Codot, Gua Nglirip, Gua Sriti, Gua Gabar, Gua Walet, Gua Ngerong (Jawa Timur), Gua Kiskendo, Gua Cermin, Gua Baron, Gua Grengseng, Gua Lawa, Gua Ngeleng, dan Gua Macan (Jawa Tengah). Dr. Ko juga memimpin ekspedisi ke Gua Ngerong (1980), dan penelitian ke Gua Seplawan (1981).

dr.-Robby-K.T.-Ko-27

Berbincang di taman. Foto: Deni Sugandi

Salah satu yang menarik dari perjalanan penelusuran gua itu adalah ditemukannya lukisan di dinding gua di Pulau Jawa. “Pada tahun 1982, disponsori oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah, telah meneliti potensi wisata gua di Pulau Nusakambangan. Ketika mengeksplorasi Gua Misigit, yang pernah dikunjungi rombongan Sunan Solo sebelum tahun 1940, kebetulan menemukan lukisan purba dinding gua, yang direkam dengan bantuan Saudara Toto Kartono, pemilik Hotel Saraswati, Cilacap. Suatu bukti bahwa gambar cadas juga ditemukam di dalam gua Pulau Jawa,” kata dr. Ko.

Pada tahun itu pula, ia berkesempatan menghadiri International Congress of Speleology di Bowling Green, Kentucky, AS. Dalam acara rutin International Union of Speleology (IUS) itu dr. Ko mensponsori Budi Hartono Purnomo (Universitas Parahyangan) dan Norman Edwin (UI) untuk bisa menghadirinya. Dalam kongres itu, dr. Ko mengundang delegasi mancanegara untuk menelusuri gua-gua di Indonesia.

Gayung bersambut. Sejak ada undangan itu, para wisatawan minat khusus dari Belgia, Inggris, Austria, dan Prancis mulai berdatangan ke Jawa dan daerah lainnya. Kehadiran para wisatawan tersebut dapat dilihat dari publikasi mereka, antara lain The Caves of Kalimantan (Chasier, et al., 1982), Expedition Speleo Francaise Indonesie-Kalimantan (ESFIK), The Java Kars Joint Expedition by the Flemish and Indonesia Speleological Society (Denis Wellens, et al., 1982), De Kleppers-Java Kars (1982), dan Gunung Sewu Cave Survey (Waltham, et al., 1982).

Momentum untuk ikut melestarikan kawasan kars juga terbetik pada diri dr. Ko tahun 1982. Ia mengaku, “Pemicu saya untuk melindungi kars adalah pesan Dr. John McKinnon, Ketua WWF, kepada saya tahun 1982. Katanya, ‘dr. Ko, if you do not take steps, Indonesian kars, which is so important for water resources, scenic, unique, and valuable for science will soon disappear’. Saya menyatakan, saya akan bertindak sebaik mungkin.”

Pada 1983, dr. Ko mengunjungi gua-gua wisata Eropa untuk studi manajemen, antara lain ke Gua Hahn (Belgia) dan Gua Choranche (Prancis). Di sana, ia mengundang ahli wisata gua Gilbert Mantovani ke Indonesia. Kegiatan internasional tersebut disusul kemudian dengan kedatangan tim dari Prancis, Inggris, Austria, Belgia, Australia, Inggris, Belanda, Italia untuk mengeksplorasi gua-gua di Karawang, Sukabumi, Gombong, Gunung Kidul, Pacitan (1983), Maros (1984, 1996), Gunung Sewu (1984), Kalimantan Timur (1985, 1996), Irian Jaya (1989), dan lain-lain.

dr.-Robby-K.T.-Ko-28

Ekspresi saat wawancara. Foto: Deni Sugandi.

Memasyarakatkan Speleologi
Maret 1983, beberapa peminat penelusuran gua dari Yogyakarta, Malang, dan Bogor berniat membentuk organisasi pelestari gua di Indonesia. Mereka memohon kesediaan dr. Ko untuk menyusun program pelatihan teknik serta keilmuan mengenai gua. Dr. Ko dipercaya sebagai instruktur tunggal, mengingat baru pulang dari observasi Pusat Pendidikan Teknik Caving di Vercors (Prancis) dan mengajar di Sekolah Pendidikan Caving di Whernside Manor (Inggris). Kursus itu terlaksana antara 1-10 April 1983, dengan praktek lapangan ke Gua Pawon (Bandung). Kursus yang disebut Klinik Speleologi ini diikuti sebelas peserta.

Pada 21 Mei 1983, dr. Ko diundang meninjau potensi wisata Cilacap, terutama wisata gua. Ia ditemani tim lulusan kursus speleologi ditambah dua pegawai Dirjen Pariwisata. Pada 23 Mei 1983, atas rembukan malam sebelumnya yang tidak dihadiri dr. Ko, berdirilah Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi) atau Federation of Speleological Activities (Finspac) di Hotel Delyma Cilacap. Dr. Ko diminta menjadi ketua organisasi itu.

Untuk mengembangkan organisasinya, ia meminta nasihat antara lain kepada dua ahli geologi senior Indonesia, yaitu Prof. Sartono dan M.M. Purbo- Hadiwidjoyo. “Saya pertama kali menghubungi almarhum Prof. Sartono untuk minta beliau jadi penasehat Hikespi. Komentar beliau (Prof. Sartono-red) pada waktu itu, ‘Apa dr. Ko gak salah untuk mengembangkan speleologi di Indonesia? Ada sekitar 10 ilmu yang terkait … bukan ilmu geologi saja!’ Jawaban spontan saya ‘Kalau tidak berani dimulai sekarang, kapan lagi Prof? Di negara maju kan sudah berkembang jauh.’” ujar dr. Ko.

Sementara mengenai M.M. Purbo-Hadiwidjoyo, ia berkomentar: “Beliau adalah geologiwan kedua penasihat saya, yang meminta kemudian mendampingi saya, mempresentasikan Hidrologi Kars di Puslitbang Geologi. Saya menghubungi Dr. Denny Juanda dari ITB yang menempuh S3-nya di Prancis dalam bidang hidrologi kars. Beliau minta saya mempresentasikan topik itu pada seminar nasional mengenai air di ITB. Saya ikuti pengarahan dari guru Dr. Denny Juanda di CNRS Underground Laboratory Moulis selatan, Prancis.”

dr.-Robby-K.T.-Ko-29

Saat menerima Kalpataru. Foto: Koleksi keluarga.

Hikespi di bawah dr. Ko dibawa ke dunia luas serta membuka peluang untuk mempelajari speleologi. Pada 1984, Hikespi secara resmi menjadi anggota ke-45 Union Internationale de Speleologie (UIS). Selain itu, lembaga ini banyak bekerja sama dengan peneliti dari UI, IPB, ITB, Puslit Arkenas, Puslitbang Geologi, dan lembaga lainnya. Bermunculan pula klub-klub penelusur gua, seperti Bogor Speleoclub, BPLP SC (Bandung), ASC Speleoclub (Yogyakarta), Salatiga Speleoclub, Espeel (Malang), Salamander (Surabaya), dan Bali Speleoclub.

Di bawah kepemimpinannya pula, Hikespi menorehkan banyak pencapaian. Pada 1983, Hikespi menemukan tiga sungai bawah tanah di Gua Jatijajar (Kebumen) dan gua baru di sebelah barat Gua Jatijajar sehingga dinamakan Gua Barat. Di situ tim menemukan sebuah air terjun, setinggi 35 meter atau setinggi gedung sepuluh lantai. Kemudian pada ekspedisi di Luweng Jaran (Pacitan) tahun 1985, tim Hikespi menemukan gua sedalam lebih dari 50 meter dengan panjang lebih dari 25 kilometer. Capaian-capaian itu tentu masih banyak lagi.

Untuk meluaskan pengetahuannya ihwal gua dan kawasan kars umumnya, pada 1986, dr. Ko mendapat bimbingan kuliah lapangan dan kolokium mengenai hidrologi dan geomorfologi kars di Austria. Saat itu, dia belajar di bawah bimbingan H. Trimmel, Pfeffer, A. Bogli, dan K. Mais.

Sejak 1983 pula, dr. Ko sering didaulat sebagai narasumber permasalahan kawasan kars dan lingkungan bawah tanah di LIPI (Puslitbang Biologi), Departemen Kehutanan, Departemen Budaya dan Pariwisata, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri, Perum Perhutani, dan Dewan Pertimbangan Presiden.

Yang membanggakan, pada 1993, yaitu saat mengikuti International Congress of Speleology, dr. Ko mengajukan proposal untuk menentukan kars Gunung Sewu, Maros dan Pegunungan Irian Jaya sebagai Warisan Dunia. Dalam rangka mewujudkan harapan itu, terjadi korespondensi dari presiden IUS kepada pemerintah Indonesia. Implikasinya, speleologi, kars berikut Hikespi mulai dikenal masyarakat, sehingga daerah-daerah yang memiliki kawasan kars, mulai menaruh perhatian pada kelestarian kawasan kars. Bahkan ada yang sengaja meminta Hikespi untuk menyelenggarakan pelatihan speleoturisme.

Untuk lebih menyebarkan lagi ihwal speleologi, dr. Ko terjun ke dunia pendidikan. Antara lain ia pernah menjadi dosen tamu di Balai Penelitian, Latihan dan Pengembangan Pariwisata (BPLP) Bandung, IPB, dan Puslit Kehutanan dan Vokasi Pariwisata, UI. Di lembaga-lembaga tersebut, ia mengajar manajemen objek wisata kars dan gua, manajemen objek wisata alam dan ekowisata, dan manajemen ekowisata. Dan sejak 1984 hingga kini, ia sering menjadi pembimbing atau narasumber penulisan skripsi, tesis, dan disertasi mengenai lingkungan kars dan pariwisata di BPLP Bandung, UGM, ITB, IPB, dan UI.

Di lingkungan Hikespi sendiri, antara tahun 1983-2006, dr. Ko terlibat aktif menyusun bahan-bahan kuliah perihal teknik menelusuri gua untuk kursus dasar dan lanjutan serta menjadi sebagai tenaga pengajar mengenai Cave and Kars Science and Conservation, Teknik Eksplorasi Gua, Introduksi Pengelolaan Gua Alam sebagai Objek Wisata. Semuanya dilakukan dalam 42 kali kursus. Setelah digantikan Cahyo Alkantana pada 2005, dr. Ko ikut bergabung dengan Lembaga Kars Indonesia (LKI), bahkan menjadi ketuanya.

Dalam lingkungan organisasi speleologi, ia tergabung sebagai Wakil Resmi Union Internationale de Speleologi (UIS) untuk Indonesia (sejak 1984), Anggota Delegasi Indonesia pada setiap pertemuan UIS, dan pernah menjadi Adjoining Secretary of the UIS untuk kawasan Asia-Australia (1998-2003).

dr.-Robby-K.T.-Ko-30

Lukisan pribadi tentang kars Indonesia. Foto: Repro.

Jalan Menulis, Terjun ke Lapangan
Jalan menulis dan menyampaikannya secara lisan dipilih dr. Ko untuk tetap menyalakan perhatian dan gairah orang terhadap gua dan kars umumnya. Tulisannya berkisar di sekitar biospeleologi, konservasi, speleogenesis, manajemen wisata gua, hidrologi kars, arkeo-paleontologi, sedimentologi, pendidikan speleologi, teknik penelusuran gua, manajemen kawasan kars, vegetasi kars, dan ekosistem kars.

Antara 1980-1986, dokter ahli penyakit kulit dan ahli gua itu sering menulis untuk majalah populer Intisari. Selain pada edisi No 206, September 1980, ia juga menulis mengenai “Menuruni Gua Vertikal di Citeureup” (Intisari No 208, Nopember 1980), “Mengunjungi Gua-Gua Laut di Teluk Pelabuhan Ratu” (Intisari No 219, Oktober 1981), “Kakak Superman di Karangbolong” (Intisari Juni 1984), dan lain-lain.

Demikian pula mengingat pentingnya media publikasi, dr. Ko menginisiasi terbitnya majalah Berita Grotto dari Specavina dan Warta Speleo dari Hikespi. Keduanya menampung kabar dan tulisan seputar kegiatan penelusuran gua, konservasi gua, dan lingkungan hidup secara umum. Dan tentu, di dalamnya memuat tulisan karya dr. Ko.Yang berbentuk buku, ia menjadi penulis Pedoman Pengelolaan Objek Wisata Alam (2002).

Sementara makalah yang ditulisnya untuk berbagai kesempatan sudah mencapai 186 tulisan, sebagaimana terbaca dalam “Daftar Makalah yang telah Diseleksi dan Dijilid: Kumpulan Makalah R.K.T. Ko”. Semuanya bisa dikatakan berkaitan dengan gua dan kawasan kars. Antara lain, pada 1987, ia menulis “Pola Pengelolaan Goa Berdasarkan Laporan Hasil Identifikasi Fungsi Goa di Provinsi Jawa Tengah”. Ada juga tulisannya mengenai pengelolaan wisata gua (speleo tourism) untuk meningkatkan kepariwisataan di Indonesia (1996). Pada lokakarya Kawasan Kars mengenai Pengelolaan Sumber Daya Kawasan Kars Berwawasan Lingkungan pada 1999, ia juga didaulat sebagai salah seorang narasumbernya.

Pada 2001, ia menulis “Pengelolaan Kawasan Kars yang Berkesinambungan”. Ia juga membuat pedoman eksploitasi kawasan kars untuk industri pertambangan, serta pandangan mengenai Amdal untuk kursus pengenalan pengelolaan kawasan kars, 16 Oktober 2003. Pada workshop Nasional Pengelolaan Kawasan Kars di Wonogiri, Agustus 2004, ia menulis dan menyampaikan tulisan mengenai pembangunan berkelanjutan di kawasan kars Gunung Sewu.

Selain menulis, dr. Ko terjun juga langsung ke lapangan. Dia melakukan pemberdayaan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan kars. Misalnya, ia pernah ikut memberdayakan masyarakat Desa Redusari dan Desa Kalisari, Gombong, agar mereka menyadari arti penting potensi dan pelestarian kawasan kars. Demikian pula yang dilakukannya pada masyarakat sekitar Gua Petruk. Juga gerakan mendirikan perpustakaan, menyelenggarakan pelatihan membuat tungku serbuk gergaji yang efisien dan tidak mencemari udara, membudi dayakan jamur, dan lain-lain.

Ia juga menjadi konsultan pengembangan gua alam Indonesia sebagai objek wisata. Antara 1987-1988, ia menjadi konsultan pemanfaatan Gua Sripit/Gua Lawa di Kabupaten Trenggalek sebagai gua percontohan bagi pengembangan kepariwisataan dan pemanfaatan aur kars di Jawa Timur. Pada 1988-1989 menjadi konsultan bagi proyek pengembangan Gua Petruk di kawasan hutan Perhutani KPH Gombong Selatan untuk pengetahuan dan pariwisata. Demikian pula pada 1996, ia menjadi pengarah pengembangan Gua Maharani, Lamongan, untuk menurunkan suhu interior, memperbaiki sirkulasi udara dan pola iluminasi gua. Antara 1996- 1998, dipercaya untuk memberi konsultasi pada kegiatan identifikasi speleoturisme, dalam kegiatan pola pengembangan Gua Akohi, Desa Tumilouw, Kabupaten Masohi, Pulau Seram, untuk wisata gua.

Selain itu, melalui Yayasan Buena Vista yang didirikan tahun 1989, dr. Ko mengembangkan kegiatan ekowisata untuk wisatawan mancanegara dan murid-murid sekolah internasional dan ekspatriat di Jakarta. Rekam jejaknya bisa kita baca, antara lain, sebagai berikut: Sejak 1994-1998 mengadakan kunjungan ke Gunung Anak Krakatau-Baduy- Gunung Gede-Gunung Pangrango- Gunung Merapi-Gunung Bromo-Gunung Tengger-Gunung Semeru-Taman Wisata Alam Baluran-Kawah Ijen.

Kemudian sejak 1989-1998, mengadakan kunjungan ke Gua Cipining, Cipicung, Waduk Cirata, Gunung Puntang, Kebun Teh Malabar, Teluk Citirem, Gua Lalay. Sejak 1989 bekerja sama dengan American Boyscouts membantu Geoff Bennet, dan British Boyscouts membantu Fred Norton dalam penyelenggaraan kegiatan berkemah di Cisarua, trekking di pegunungan sekitarnya, dan mengarungi anak Sungai Ciliwung. Sejak 1990, bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam III Jawa Barat mengembangkan pantai Citirem (Cikepuh) untuk observasi burung dan penyu. Antara 1996-1997, dr. Ko dengan beberapa pihak mengadakan tiga kali West Java Bike Hash yang banyak diikuti oleh penggemar olahraga bersepeda gunung dari mancanegara, Jakarta, Bogor, dan Bandung.

Berbuah Anugerah
Atas dedikasinya untuk memuliakan bumi ini, dr. Ko dianugerahi beberapa penghargaan. Ia mendapatkan penghargaan dari Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya atas prestasi Kepeloporan Pengembangan Ekokarsologi/Wisata Gua, pada 1999. Kemudian pada tahun 2001, ia dianugerahi Penghargaan Lingkungan Hidup “Kalpataru” sebagai Pembina Lingkungan Hidup dari Presiden RI dan Kementerian Lingkungan Hidup. Pada tahun yang sama, ia dianugerahi penghargaan dari Walikota Bogor atas prestasinya meraih Kalpataru. Pada 2006, ia juga mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai Pelopor Pengembangan Daya Tarik Pariwisata Jawa Barat.

Pada 2014, dr. Ko menjadi salah seorang yang dianugerahi Penghargaan Satya Lencana Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup Tahun 2014 oleh Presiden Jokowi. Ia dinilai sebagai dokter peneliti gua dan kars, Penerima Kalpataru tahun 2001 yang menyelamatkan Kars Gombong, mengembangkan ekowisata dan pendidikan di Goa Petruk.

Di masa senjanya sekarang, dr. Ko tetap memperlihatkan nyala semangat yang berkobar demi mengenal dan melestarikan keragaman bumi yang ada di Indonesia ini. Gairahnya tetap menggebu seperti dulu waktu ia mempelajari dasar-dasar geologi dan menemukan kenyataan bahwa semua itu dirumuskan dan dikembangkan oleh dua dokter, yaitu Nicolas Steno (1638-1687) dari Denmark, dan James Hutton (1726- 1797) dari Inggris.

Yang membuatnya juga bersemangat adalah koleganya, spesialis penyakit dalam dari AS, dr. Bill Haliday. Ia adalah orang yang pertama kali mengembangkan Vulkano-Speleologi. Katanya, “Spesialis penyakit dalam AS juga baru mengembangkan Ilmu Vulkano-Speleologi, cabang terbaru Speleologi yang mempelajari gua-gua yang terbentuk dalam lava basal tipe Pahoehoe di Pulau Hawaii.”

Hingga sekarang, dr. Ko masih membuka praktik di Kota Bogor. Sebagian besar pasiennya tentu saja berkonsultasi ihwal penyakit kulit dan kelamin, termasuk penggunaan kosmetika. Di luar kerja praktiknya, ia terbiasa menghabiskan waktunya untuk membaca dan menulis. Apalagi ia dianugerahi kemampuan untuk menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jawa, dan Sunda. Untuk urusan bahasa ini memang sangat ditekankannya. Menurutnya, “Satu bahasa itu membuka satu perpustakaan. Karena bahasa itu mengandung kekayaan realitas yang diacu di dalamnya.”

Pasti itulah sebabnya, koleksi bukunya sangat banyak dan beragam subjek. Terngiang pernyataannya bahwa “Saya berusaha untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, karena sesungguhnya semuanya saling kait-mengait satu sama lainnya.” Itulah sebabnya bidang ilmu bumi yang dipikirkan, dituliskan, dan diamalkannya sangat luas dan beragam.

Penulis: Atep Kurnia | Editor: Oman Abdurahman | Pewawancara: Oman Abdurahman, T. Bachtiar, Ronald Agusta, Atep Kurnia | Fotografer: Deni Sugandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>