Gejolak Dieng

Geliat Bumi Dieng

Untitled-80

Gunung Masigit dari Taman Batu Pasir Pawon

06/06/2016 Comments (0) Esai Foto, Esai Foto, Uncategorized

Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan

Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan. Foto: Gunawan
Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan. Foto: Gunawan

Dieng Calon Geopark yang Menjanjikan. Foto: Gunawan

Masyarakat di dunia kini berlomba menata kawasan wisata geologi yang dimilikinya untuk dapat diakui menjadi geopark (taman bumi) dunia di negaranya. Geopark yang memadukan keragaman geologi, hayati, dan budaya itu resmi menjadi program UNESCO. Selanjutnya, berbagai upaya ditempuh agar geopark yang sudah mendapat pengesahan sebagai geopark nasional di negaranya mendapatkan pengakuan dan menjadi anggota UNESCO Global Geoparks (UGG). Begitu juga di Indonesia, setelah Geopark Kaldera Batur (2012) dan Gunung Sewu (2014) dikukuhkan menjadi anggota UGG, kini beberapa kawasan wisata yang sudah resmi menjadi Geopark Nasional seperti Rinjani, Toba, Merangin, dan Ciletuh terus melakukan penataan. Selain itu beberapa kawasan lainnya yang memiliki keragaman geologi, hayati, dan budaya kini mulai diusulkan untuk menjadi geopark.

Dieng, sebuah dataran tinggi (2.000 m dpl.) yang sering dijuluki negeri di atas awan, tak pelak lagi merupakan sebuah kawasan yang layak dijadikan
geopark. Di kawasan yang sebagian besar wilayahnya termasuk Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo ini segala prasyarat untuk pengembangan kawasan berbasis konservasi itu dari sisi kekayaan alam dan budaya telah tersedia. Namun, potensi gas beracun yang sesekali muncul, perlu diwaspadai dengan suatu penataan yang terintegrasi antara konservasi, pendidikan, pariwisata, dan mitigasi bencana.

Telaga Cebong dalam bayang separuh mentari. Foto: M. Nizar Firmansyah

Telaga Cebong dalam bayang separuh mentari. Foto: M. Nizar Firmansyah

Calon-calon geosite yang sudah teridentifikasi di Kawasan Dieng antara lain Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, Batu Ratapan Angin, Telaga Warna, dan Telaga Pengilon. Semua fenomena alam ini berkaitan dengan aktivitas gunung api dalam tiga episode berdasarkan umur relatif, sisa morfologi, tingkat erosi, hubungan stratigrafi dan tingkat pelapukan. Selain itu, terdapat juga potensi panas bumi.

Di Dataran Tinggi Dieng, Kawah Sikidang termasuk objek wisata yang paling banyak dikunjungi. Kandungan karbon dioksidanya yang relatif lebih rendah, menjadikannya layak untuk terus dikembangkan sebagai kawasan wisata. Namun, lingkungan di sekitarnya harus ditata. Misalnya, harus ada pagar pembatas dan papan peringatan tentang bahaya gas beracun.

Kanan Atas: Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Foto: Ronald Agusta. Kanan Bawah: Telaga Merdada. Foto: Atep Kurnia.

Atas: Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Foto: Ronald Agusta. Bawah: Telaga Merdada. Foto: Atep Kurnia.

Kawah Sileri, seluas 4 Ha berbentuk kepundan datar sehingga air kawah mengalir ke dataran yang lebih rendah. Aliran ini dimanfaatkan untuk mengairi perkebunan yang berada di sekelilingnya. Air panas Sileri juga dimanfaatkan untuk sarana rekreasi waterpark pada jarak sekitar 100 meter dari kawah tersebut.

Selain kawah, keragaman geologi di sana berupa telaga. Setelah ditemukan Batu Ratapan Angin, sebuah tempat untuk menikmati indahnya Telaga Warna dan Telaga Pengilon, jumlah wisatawan tercatat meningkat. Telaga lainnya yang indah antara lain Telaga Cebong, Telaga Merdada, Telaga Dringo, dan Telaga Menjer.

Energi panas bumi Dieng telah menghasilkan listrik sebesar 60 Mwe dari delapan sumur produksi. Namun, panas bumi yang kini dikelola oleh PT. Geodipa itu, kini menghadapi masalah endapan silika yang menghambat kinerja pembangkit listriknya. Masalah ini kini sedang diupayakan untuk diatasi.

Dari sisi keragaman-hayati di Dieng ada beberapa produk pertanian yang menjadi unggulan, yaitu kentang dan carica. Di sini petani juga menanam wortel, kobis, jamur kancing, pepaya, dan purwaceng. Kekayaan flora lainnya antara lain kantong semar, edelweis, daisy, randa tapak, dan tompok.

Kiri Atas: Kawah Sikidang. Foto. Priatna, Kiri Bawah: Kawah Pakuwaja. Foto: Oki Oktariadi.

Atas: Kawah Sikidang. Foto. Priatna, Bawah: Kawah Pakuwaja. Foto: Oki Oktariadi.

Daerah ini juga menjadi rumah bagi hewan-hewan endemik Jawa seperti oa, macan kumbang, sigung, rusa, dan elang. Selain itu, penduduk setempat memelihara domba yang dikenal sebagai “Domdi” atau Domba Dieng. Bulunya yang lebih tebal menjadi penanda khas Domdi. Tentu, bulu itu berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap dingin Dieng.

Dieng juga sangat kaya akan tinggalan dan tradisi budaya. Di sini terdapat kompleks Candi Dieng yang memanjang arah utara-selatan sekitar 1.900 m dan lebar 800 m. Ada pula prasasti tertua di bertarikh 808 M, bertuliskan huruf Jawa kuno; arca Syiwa yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta; dan Museum Dieng Kailasa, di kaki Bukit Pangonan. Untuk upacara adat ada ritual ruwatan rambut gimbal, tradisi merdi desa atau pesta desa, upacara baritan, tari topeng lengger, tari rampak yakso, dan kuda lumping. Masyarakat Dieng pun punya mitos mata air Tuk Bimalukar, yaitu hulu Sungai Serayu yang dipercaya bisa menyebabkan awet muda.

Dari sisi wisata alam, Dieng menawarkan wisata Kemilau Mentari Bumi, yaitu menikmati kemilau mentari pagi. Istilah ini pertama diperkenalkan oleh Badan Geologi tahun 2014 bersamaan terbitnya sebuah buku album. Munculnya istilah itu terinspirasi oleh ketakjuban melihat bentang alam kala mentari terbit, khususnya dari beberapa titik pandang, yaitu Sikunir, Gunung Prau, dan Pakuwaja. Wisata Kemilau Mentari Bumi dapat menjadi salah satu agenda geowisata unggulan di kawasan Geopark Dieng.

Sikidang Metropolitan Kawah Dataran Tinggi Dieng. Foto: T. Bachtiar.

Sikidang Metropolitan Kawah Dataran Tinggi Dieng. Foto: T. Bachtiar.

Sikunir adalah bukit di Desa Sembungan, sekitar 8 kilometer dari pertigaan utama Dieng. Dari puncaknya, kemilau mentari pagi sangat indah dengan panorama diselingi Gunung Sundoro, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, serta Telaga Cebong. Di Gunung Prau, dengan ketinggian 2.565 m dpl., merupakan puncak tertinggi di kawasan Dieng dan memiliki area puncak terluas di Jawa Tengah. Sementara di puncak Gunung Pakuwaja, 2.413 m dpl., pengunjung mendapati jejak lava dari letusan gunung api tempo dulu berupa batu besar tegak yang diapit dua telaga yang mengering.

Namun, keberadaan kawah yang tersebar di Dieng, setiap saat dapat mengancam keselamatan penduduk setempat dan pengunjung, karena mengeluarkan ancaman gas beracun yang menjadi penanda geologi yang khas Dieng. Sebagai kompleks gunung api, Dieng tercatat pertama kali meletus pada 1786, sudah lebih dari 15 kali mengeluarkan material dari dalam perutnya.

Peristiwa 20 Februari 1979, Kawah Sinila meletus disusul semburan gas Kawah Timbang menyebabkan 149 warga Desa Kepucukan, Kabupaten Banjarnegara, meninggal karena menghirup gas beracun. Oleh karena itu, penting dilakukan penelitian yang terfokus kepada pencarian model pengelolaan kawasan Dieng yang mengintegrasikan keragaman geologi, keragaman hayati, keragaman budaya berikut membangkitkan kesadaran masyarakat Dieng pada bahaya gas beracun dan mitigasinya.

Dari kiri - kanan (searah jarum jam): 1. Upacara Ruwatan, Foto: Agus Yuwono, 2. Buah Carica, tanaman khas Dieng. Foto: Priatna, 3. Belanja oleh-oleh Dieng. Foto: Priatna, 4. Kemping di Gunung Prau. Foto: Priatna, 5. Kemilau Mentari dari Pakuwaja Foto: Gunawan, 6. Awan Berarak di Bukit Sikunir. Foto: Priatna.

Dari kiri – kanan (searah jarum jam):
1. Upacara Ruwatan, Foto: Agus Yuwono,
2. Buah Carica, tanaman khas Dieng. Foto: Priatna,
3. Belanja oleh-oleh Dieng. Foto: Priatna,
4. Kemping di Gunung Prau. Foto: Priatna,
5. Kemilau Mentari dari Pakuwaja Foto: Gunawan,
6. Awan Berarak di Bukit Sikunir. Foto: Priatna.

Semoga sederet ragam pesona geologi, hayati, dan budaya yang tersuguhkan di Dataran Tinggi Dieng beserta sejumlah upaya masyarakat dapat mewujudkan Kawasan di dataran tinggi itu menjadi sebuah Geopark. Keberadaan Dataran Tinggi Dieng, negeri di atas awan dapat memenuhi janjinya membagikeberkahan kepada siapa saja sesuai tujuan mulia lahirnya geopark. (Priatna)

Penulis adalah Kepala Seksi Edukasi dan Informasi di Museum Geologi Bandung, Wakil Pemimpin Redaksi Geomagz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>