Talaga-1

Talaga Bodas Danau Kawah Putih Susu

Garut-62

Garut Pangirutan yang Kini Kakarut

17/09/2013 Comments (0) Esai Foto

Daulat Rakyat di Ladang Minyak

rakyat-1
Daulat Rakyat

Api menyala di dalam tungku penyulingan minyak. Sumber apinya dari kayu dan gas alam. Foto: Deni Sugandi.

Suasana itu sangat berbeda dengan suasana di tambang yang dikelola oleh Pertamina, perusahaan minyak negara. Di area tambang pelat merah, pompa bekerja sendiri seperti robot yang kesepian. Minyak yang tersedot dari perut bumi langsung disalurkan ke dalam pipa-pipa panjang yang rupanya tersambung ke pusat kendali, jauh dari tempat pengeboran. Papan peringatan selalu terpasang di tiap-tiap titik pengeboran: dilarang merokok, menyalakan api, dan sebagainya. Begitulah di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Jawa Timur, daulat rakyat terwujud dalam pengelolaan sumber daya alam. Di luar area tambang minyak bumi negara, ada sumur-sumur minyak yang dikelola oleh penduduk setempat. Sebut saja, tambang minyak rakyat. Tambang minyak rakyat memanfaatkan sumur-sumur bekas peninggalan Belanda, juga sumur-sumur baru hasil pengeboran rakyat.

Kini tambang minyak rakyat memanfaatkan mesin dan roda truk rongsokan. Pipa penimba lantung bisa naik dan turun sumur dengan tali kawat yang disambungkan ke roda truk.

Pak Her, 45 tahun, adalah salah seorang “pengemudi” yang bertugas menarik dan mengulur tali itu dengan bantuan persneling. Caranya persis seperti pengemudi memajukan dan memundurkan kendaraan. Hanya, di tempat penambangan, kendaraannya tidak bergerak, melainkan terpaku pada pijakan di atas tanah. Sekitar 19 langkah dari mesin truk, berdiri tiang-tiang pengeboran yang terbuat dari batang-batang kayu yang diikat dengan kawat. Di samping sumur sedalam 300 m, terdapat semacam saung kecil tempat pekerja lain bertugas mengatur ketepatan keluar-masuknya pipa.

Daulat Rakyat

Ladang tambang minyak rakyat di Wonocolo. Foto: Deni Sugandi.

Entah sejak kapan rakyat di sana terampil menambang dan memasak minyak bumi. Istilah lantung sendiri dikenal dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti “minyak” (bumi). Menurut ahli migas Awang Satyana (2013), lapisan batuan yang mengandung minyak atau hidrokarbon (reservoir rocks) di kawasan ini adalah batupasir kwarsa, batupasir mikritik (micritic sandstone), batugamping koral (reefal limestone), dan batupasir tufan dari Formasi Kujung, Formasi Ngrayong, dan Formasi Mundu. Sedangkan sumber hidrokarbon itu berasal dari batuan induk serpih dari Formasi Ngrayong, Formasi Kujung, Formasi Ngimbang, dan Formasi Tuban. Adapun perangkap (trap) hidrokarbon – yang menyebabkan minyak terjebak, terkumpul, dan bertahan pada reservoir – di kawasan Cepu pada umumnya adalah jebakan struktur (structural trap) berupa antiklin dan sesar naik (thrust fault). Hidrokarbon dari batuan induk bermigrasi, kemudian terjebak, lalu terakumulasi dalam reservoir pada puncak antiklin yang terbentuk pada Plio-Plistosen.

Daulat Rakyat

Ilustrasi proses suling minyak lantung, Wonocolo, Jawa Timur. 1. Lantung dipanaskan dengan menggunakan gas alam dan kayu bakar, 2. Uap lantung dilakikan melalui pipa besi yang direndam air, 3. Uap lantung menyublim, lalu ditampung di drum menjadi minyak tanah dan solar. Ilustrator: Ajat Sutarya.

Cara rakyat memasak lantung tampak sederhana. Mula-mula, lantung dituang ke dalam drum. Drum itu dipanaskan dalam semacam tungku di permukaan tanah yang apinya berasal dari gas alam yang disambungkan dengan selang ke mulut tungku. Drum berisi lantung itu ditutup dan pada bagian tutupnya terdapat lubang yang dapat disambung dengan pipa, dan dikubur dengan tanah. Uap hasil pemanasan lantung disalurkan ke dalam dua batang pipa panjang yang terendam dalam air. Dari ujung pipa, keluarlah cairan jernih berupa minyak tanah diakhiri solar.

Itulah yang dikerjakan oleh Gino, 35 tahun, yang berasal dari Banyuurip, juga oleh Yasin, 25 tahun. Mereka memasak lantung menjadi minyak tanah dan solar. Dalam sehari dihasilkan minyak tidak kurang dari 5 drum. Harga lantung yang kualitasnya bagus berkisar di sekitar angka 600-700 ribu per drum.

Dari satu drum dihasilkan 5 gebés (jerigen) minyak tanah dan 1 gebés solar. Harga jual minyak tanah Rp 200.000 per gebés. Harga jual solar Rp 100.000 per gebés. Yasin mengolah sendiri lantung sejak tiga tahun lalu. Dia membeli lantung dari pengebor, yang diantar ke tempat pengolahan dengan biaya antaran Rp 50 ribu.

Daulat Rakyat

Berdiri, mengamati aliran minyak ke dalam drum. Foto: Deni Sugandi.

Tidak semua pekerja di tambang rakyat berasal dari wilayah setempat. Ada pula pekerja dari luar kota, seperti Pigil Trauna, 29 tahun, yang berasal dari Dago, Bandung. Dia bertugas sebagai asisten juru bor.

Dalam pengelolaan sumber daya alam setempat, kegiatan penduduk Wonocolo antara lain mendorong peran koperasi unit desa. Peran KUD antara lain berkaitan dengan kelancaran jual beli hasil tambang dari penambag ke pihak lain, seperti yang terlihat antara lain dari mobil-mobil tangki yang mengangkut hasil penambangan rakyat ke luar desa.

Dalam jumlah yang lebih kecil, hasil pertambangan rakyat diangkut dengan sepeda-sepeda motor yang dilengkapi dengan réngkék, wadah yang terbuat dari anyaman bambu tempat menaruh gebés dan dipasang di atas jok belakang sepeda motor.

Sebagian hasil produksi tambang minyak rakyat dapat memenuhi kebutuhan masayarakat setempat. Sebagian lainnya dijual ke luar. Penampung minyak mentah selalu ada di tempat penambangan.

Sutopo, 24 tahun, pengepul minyak lantung dari penambang mengatakan bahwa rata-rata perhari dia menampung lantung 25 drum untuk dijual lagi ke pihak lain di Cepu. Dia membeli 1 drum lantung dengan harga Rp 650 ribu, dan menjual per “bul” Rp 15.500.000. 1 tangki sama dengan 5 bul. 1 bul sama dengan 5 drum.

Investor dari luar daerah pada gilirannya masuk juga. Pertambangan terbukti berjalan, dan hasilnya jelas terlihat. Para penanam modal niscaya terpikat.

Betapapun, peluang untuk melibatkan penduduk setempat dalam pengelolaan sumber daya alam kelihatannya perlu ditopang dengan upaya-upayasungguh-sungguh, supaya mereka lebih mandiri dan lebih berkembang. Ladang minyak menjanjikan kesejahteraan, terutama bagi penduduk di sekitar tempat penambangan. Dalam konstitusi jelas diamanatkan bahwa bumi dan kandungan kekayaan alamnya dikuasai negara buat kemakmuran rakyat.

Teks: Hawe Setiawan, T. Bachtiar, Atep Kurnia.
Fotografi: Deni Sugandi.


Daulat Rakyat

Tali kawat dan kerekan yang turun naik ke dalam sumur minyak. Foto: Deni Sugandi.

Daulat Rakyat

Mesin truk yang dipakai untuk menarik ulur pipa pengangkut minyak dari dalam sumur. Foto: Deni Sugandi.

 


 

Daulat Rakyat

Mengaduk-aduk lantung dalam drum penyulingan. Foto: Deni Sugandi.

Daulat Rakyat

Minyak tanah kemudian solar mengalir dari dalam penyulingan drum. Foto: Deni Sugandi.


 

Daulat Rakyat

Mengangkut hasil penyulingan. Foto: Deni Sugandi.

Daulat Rakyat

Bertransaksi hasil penyulingan minyak. Foto: Deni Sugandi


Daulat Rakyat

Tungku penyulingan yang masih membara. Foto: Deni Sugandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>