Kaldera Tondano-1

Kaldera Tondano Hidup untuk Menghidupkan

Baluran Tempat Tinggi-24

Baluran Tempat Tinggi di Ujung Timur Pulau Jawa

13/04/2015 Comments (0) Langlang Bumi

Danau Tempe Tappareng Karaja yang Kian Mendangkal

Danau-Tempe-31
Danau-Tempe-31

Danau Tempe Tappareng Karaja yang Kian Mendangkal

Sore di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Masih sekitar 7 km lagi untuk sampai di Danau Tempe yang terletak di Kecamatan Tempe. Tiga puluh menit berperahu di Salo Walanae, terlihat eceng gondok yang hanyut dari Danau Tempe. Pemandu sekaligus pengemudi perahu mengingatkan, jangan mencelupkan tangan ke air sungai, karena air sungainya sudah tercemar limbah rumah tangga. Di pinggir sungai sudah didirikan rumah, pom bensin, warung, dan dermaga kecil untuk bongkarmuat barang dan menaikkan penumpang. Setelah melaju di lajur sempit yang dibatasi tumbuhan air dan eceng gondok, akhirnya sampai di perkampungan terapung. Burung belibis dan aneka jenis burung migran lainnya melayang-layang di udara Danau Tempe.

Danau-Tempe-32

Masjid Taqwa di tepian sungai Walanae.

Tempe untuk nama danau alami ini, ternyata bukan diambil dari tempe, jenis makanan yang terbuat dari kacang kedele yang difermentasi, tapi berasal dari kata timpai, yang berarti tempat untuk mengambil air. Kata yang mencerminkan adanya hubungan manusia dengan air, seperti timpai di Danau Tempe, juga ada nama geografi Muaratimpeh di Palembang, dan di Jawa Barat ada kosa kata tampian, tempat untuk mandi dan mencuci di pinggir sungai atau kolam.

Setelah lorong hijau itu terlewati, perahu menembus eceng gondok yang mengelilingi salah satu rumah terapung (kalampang), rumah tanpa tiang, bagian bawahnya disangga rakit bambu, sehingga rumah-rumah itu dapat mengapung, turun naik sesuai paras air danau. Penghuninya sudah beradaptasi dengan lingkungan air dan iklim selama puluhan tahun, sehingga tercipta hunian yang fungsional.

Di perkampungan terapung itu terdapat beberapa rumah. Kegiatan sehari-hari penghuninya dilakukan di atas air. Di rumah terapung itu mereka memperbaiki jaring, bubu, dan alat tangkap ikan lainnya, memasak, mandi, semuanya dilakukan di atas rumah terapung. Rumahnya berdinding bambu dan kayu. Kamar kecilnya terletak di bagian belakang rumah atau di ujung rakit. Ke danau inilah semua limb

Danau-Tempe-33

Memasuki kawasan danau.

ah rumah tangga dibuang, sekaligus danau itu menjadi sumber air untuk kebutuhan mencuci dan mandi. Di rumah terapung itu pula, penghuninya ada yang memelihara ayam dan kucing.

Kalampang ini dibangun dengan upacara ritual yang dilakukan secara turun temurun. Upacara ritual ini dimulai dengan mencari hari baik untuk mendirikan rumah, mendirikan tiang utama rumah (possi bola) sebagai pusat rumah, sampai ritual selamatan memasuki

rumah baru. Pembangunan rumahnya dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat nelayan di pemukiman terapung. Tentangga dan kerabatnya secara sukarela saling membantu. Selain bergotong royong dalam membangun rumah, juga kebersamaan itu terjadi saatmemindahkan kalampang, dengan cara mendorongnya menggunakan beberapa perahu bermotor, terutama jika air mulai surut atau saat banjir besar, dan membuat jalan perahu dengan membersihkan rimbunan vegetasi di atas danau, semua dikerjakan bersama-sama.

Selain kalampang, bentuk adaptasi masyarakat Danau Tempe adalah dalam membuat rumah panggung. Rumah panggung dibangun dengan mengikuti aturan adat, terdiri dari tiga tingkatan struktur rumah, yaitu bagian kaki, badan, dan kepala rumah. Bagian kaki (bawah) terdiri dari tiang-tiang rumah dengan tinggi sekitar 2-3 meter dari permukaan tanah, dimaksudkan untuk menghindari genangan banjir pada saat musim penghujan dan untuk menghindari binatang buas, baik binatang air maupun binatang darat. Bagian badan (tengah) berupa ruang keluarga untuk beraktivitas, ruang istirahat, dan tempat menjamu tamu. Bagian ini dikelilingi oleh dinding dari kayu dan bambu, tingginya sekitar 2,5-3,5 meter. Dan bagian kepala (atas), disebu

Danau-Tempe-34

Rumah apung diantara eceng gondok.

t juga rakkeang, digunakan untuk penyimpanan barang-barang atau
gudang. Rakkeang dirancang agar mampu menahan beban berupa barang-barang rumah tangga yang tidak ditempatkan di badan rumah. Rakkeang pun dijadikan tempat untuk berlindung jika terjadi banjir. Di bagian atas itulah anggota keluarga akan bertahan hidup sampai banjir turun. Bagian atas yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan, di sana sudah tersedia bekal makanan agar mampu bertahan hidup, yaitu garam dan bale rakko (ikan yang sudah dikeringkan).

Di depan setiap rumah terapung itu ada sebatang bambu yang ditancapkan ke dasar danau. Bambu ini berfungsi sebagai jangkar, tempat mengikatkan rumah dengan tambang yang kuat, agar rumah terapung tidak hanyut terbawa air. Di perkampungan terapung ini, arah hadap rumah dapat berputar sesuai arah angin, sehingga posisi rumah dengan rumah-rumah tetangga dapat berubah. Ketika angin datang dari selatan, misalnya, maka rumah yang semula menghadap ke utara, akan berputar menjadi menghadap ke selatan. Demikian juga dengan tetangga di kiri kanan rumah kita akan menjadi berbeda. Yang semula paling depan saat menghadap utara, akan menjadi paling belakang ketika menghadap ke selatan.

Dalam buku pelajaran di sekolah, Danau Tempe yang terletak di tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidenreng Rappang, dan Kabupaten Soppeng itu sangat terkenal karena sebagai danau yang menghasilkan ikan. Danau Tempe dikelilingi oleh tujuh kecamatan yang tersebar di tiga kabupaten itu, di antaranya: Kecamatan Tempe, Belawa, Tanasitolo, dan Sabbangparu di Kabupaten Wajo; Kecamatan Donridonri dan Mario

Danau-Tempe-35

Memasuki kawasan danau.

riawa di Kabupaten Soppeng, dan Kecamatan Pancalautan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Hingga akhir 1960-an, Danau Tempe masih dikenal sebagai sentra terpenting produksi perikanan air tawar di Indonesia. Selama kurun waktu 1948 – 1969 produksi ikan danau terluas di Sulawesi Selatan ini tiap tahun mencapai 37.000 – 40.000 ton berbagai jenis ikan. Bahkan tahun 1957-1959 sempat mencapai produksi 50.000 ton/ tahun. Pada saat itu danau ini dijuluki sebagai mangkuk ikan Indonesia. Akan tetapi, produksi ikan air tawar dari Danau Tempe terus mengalami penurunan sampai 400%, bahkan lebih dalam 15 tahun terakhir, produksi ikan air danau hanya mencapai kurang lebih 10.000 ton per tahun.

Sambil berbincang di kalampang, teh panas dan goreng pisang yang disajikan tuan rumah, sebagai bagian dari layanan wisata Danau Tempe, terasa nikmat sekali.

Kilat mulai menyambar-nyambar, dan guruh terdengar keras sekali. Saat menikmati sajian itu, teringat saat mengunjungi museum Saoraja Mallangga di Kota Sengkang. Di depan museum itu dipajang jangkar kapal yang tingginya sekitar dua meter. Menurut keterangan petugas, jangkar itu berasal dari kapal besar yang mungkin karam di tengah Danau Tempe. Dengan ditemukannya jangkar ini dapat memberikan gambaran keadaan Danau Tempe pada masa lalu. Kawasan antara Teluk Bone dan Selat Makassar itu merupakan kawasan yang cukup dalam, sekitar 7-9 m, mungkin lebih dalam lagi, s

Danau-Tempe-36

Lambaian keluarga di tepi Sungai Walanae.

ehingga memungkinkan dilaluinya kapal-kapal.

Bila kedalaman danau itu dihubungkan dengan tinggi muka laut saat itu, seperti yang tertuang dalam Kurva Klerk, pada abad ke 4 – ke 5 M, tinggi muka laut berada pada garis ketinggian 2 m sekarang.

Danauu Tempe masa lalu digambarkan oleh Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006) sebagai jalur pelayaran. Pada saat itu, Danau Tempe menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae. Jalur pelayaran dari Selat Makassar melalui Parepare, Danau
Sidenreng, Danau Tempe, melalui Salo Cenranae akan sampai di Teluk Bone. Sedangkan jalur kedua yaitu dari Teluk Bone melalui Salo Cenranae akan sampai hulu Salo Walanae yang berada di daerah pegunungan Soppeng,
Bone, dan Maros.

Tempat-tempat yang kini sudah berubah menjadi danau, rawa, pesawahan, perkampungan, atau sudah berubah menjadi perkotaan, semula kawasan sepanjang 120 km itu merupakan jalur pelayaran. Bila diurut dari arah tenggara sampai barat laut di Selat Makassar, dimulai dari Teluk Bone, Bone, Tokaseng, Cenrana, Uleo, Watangtimurung, Barrere, Sailong, Tella, Paria, pompana, Maroangin, Taparang Penru, Taparang latamperu, Taparang Palisu, Taparang Alicopenge, Taparang Selako Taparang Lasepang, Sengkang, Danau Tempe, Tancung, Sabangparu, Batubatu, Belawa, Wajo, Danau Sidenreng, Wattangpalu, Amparita, Sidenreng, Billoka, Baranti, Piurang, Teluk Parepare, Soreang, Mattirosompe, Langgo, Selat Makassar. Melalui kawa

Danau-Tempe-37

Pemandangan Danau Tempe.

san inilah Kerajaan-kerajaan yang berada di Teluk Bone dapat berhubungan dengan Kerajaan-kerajaan yang berada di pantai-pantai barat Sulawesi Selatan dan dengan kerajaan-kerajaan di pantaipantai Kalimantan Timur.

Karena proses tektonik, terjadi pengangkatan kulit bumi secara evolutif, ditambah pendangkalan yang berjalan cepat mulai abad ke 14, kawasan yang sangat luas itu mulai menyempit. Pada abad ke-17 sampai abad ke-18, menyisakan empat subdanau, yaitu: Danau Alitta, Danau Sidenreng, Danau Tempe, dan Danau Lapongpakka. Pada tahap ini juga terbentuk beberapa danau kecil lainnya, salah satunya adalah Danau Lampulung. Dua, tiga abad kemudian, Danau Alitta telah menghilang. Danau yang tersisa adalah: Danau Tempe, Danau Sidenreng, Danau Lapongpakka, dan Danau Lampulung.

Pelras (2006) menulis, pendangkalan Danau Besar (Tappareng Karaja) itu terjadi mulai abad ke-14. Sejak sekitar abad ke-14 Masehi, penebangan hutan secara luas, pembukaan lahan pertanian secara terus-menerus di dataran rendah dan lembah, ditambah pembukaan atau perluasan lahan perkebunan dan penanaman palawija dengan sistem ‘tebang bakar’ atau ‘babad-bakar’ yang sangat intensif di perbukitan dan di pegunungan, telah menyebabkan lahan-lahan itu menjadi gundul, lembah tandus, serta musnahnya berbagai jenis tumbuhan. Hal itu pada merupakan penyebab terjadinya erosi yang parah dan pendangkalan danau serta muara sungai.”

Pada bagian lain, Pelras menulis: “Selama berabad-abad aliran lu

Danau-Tempe-38

Perangkap ikan yang digunakan.

mpur dalam jumlah besar yang terbawa arus sungai Saddang, Walanae, dan Bila, mengubah Tappareng Karaja di abad ke-16 itu menjadi tiga danau lebih kecil dan lebih dangkal”.

Bentangan air tak bertepi di Danau Tempe seluas 4.587 km2, yang termasuk kedalam Wilayah Sungai Walannae – Cenranae yang luasnya 47.800 ha. Kedalaman danau saat ini hanya 3 m pada musim penghujan, dan tinggal 1 m bahkan kurang pada musim kemarau. Luas permukaan danau pada musim penghujan adalah 48.000 ha dan menggenangi areal persawahan, perkebunan, rumah penduduk, prasarana jalan dan jembatan serta prasarana sosial lainnya. Pada musim kemarau, luas danau hanya Kilat mulai menyambar-nyambar, dan guruh terdengar keras sekali. Saat menikmati sajian itu, teringat saat mengunjungi museum Saoraja Mallangga di Kota Sengkang. Di depan museum itu dipajang jangkar kapal yang tingginya sekitar dua meter. Menurut keterangan petugas, jangkar itu berasal dari kapal besar yang mungkin karam di tengah Danau Tempe. Dengan ditemukannya jangkar ini dapat memberikan gambaran keadaan Danau Tempe pada masa lalu. Kawasan antara Teluk Bone dan Selat Makassar itu merupakan kawasan yang cukup dalam, sekitar 7-9 m, mungkin lebih dalam lagi, sehingga memungkinkan dilaluinya kapal-kapal.

Bila kedalaman danau itu dihubungkan dengan tinggi muka laut saat itu, seperti yang tertuang dalam Kurva Klerk, pada abad ke 4 – ke 5 M, tinggi muka laut berada pada garis ketinggian 2 m sekarang.

Danau Tempe-39

Rumah apung di Danau Tempe.

Danauu Tempe masa lalu digambarkan oleh Christian Pelras dalam bukunya Manusia Bugis (2006) sebagai jalur pelayaran. Pada saat itu, Danau Tempe menjadi poros dua jalur pelayaran strategis di Sulawesi Selatan, yaitu jalur yang menghubungkan Selat Makassar dengan Teluk Bone serta jalur Teluk Bone hingga hulu Sungai Walanae. Jalur pelayaran dari Selat Makassar melalui Parepare, Danau Sidenreng, Danau Tempe, melalui Salo Cenranae akan sampai di Teluk Bone. Sedangkan jalur kedua yaitu dari Teluk Bone melalui Salo Cenranae akan sampai hulu Salo Walanae yang berada di daerah pegunungan Soppeng, Bone, dan Maros.

Tempat-tempat yang kini sudah berubah menjadi danau, rawa, pesawahan, perkampungan, atau sudah berubah mencapai 1.000 ha, dan pada kondisi normal, luasnya 15.000-20.000 ha. Sungai yang masuk ke dalam danau ini terdiri dari 23 sungai yang termasuk dalamnya dua DAS, yaitu DAS Bila dan DAS Walanae, sedangkan aliran sungai dari danau (outlet) hanya satu, yaitu DAS Salo Cenranae yang memiliki panjang sungai 70 km.

Aktivitas utama masyarakat Danau Tempe adalah menangkap ikan di danau. Keanekaragaman hayati Danau Tempe terlihat dari banyaknya jenis ikan yaitu antara lain: ikan mas (cyprinus corpio), ikan tawes (osteochillus hassellti), ikan gabus (ophiocephalus striatus), ikan sepatsiam (tricogaster pectoralis), ikan bungo (glosogobius guiris), ikan tambakang (helostoma temmicki), dan ikan nila (oreochromis niloticus).

Danau-Tempe-40

Pemandangan jelang malam di Danau Tempe.

Namun sayang, kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA), kerusakan daerah hulu Danau Tempe karena kehancuran ekologis, terjadi penebangan hutan yang tak terkendali, perambahan hutan, perladangan berpindah, sehingga menjadikan jumlah kawasan kritis yang terus bertambah luas, sehingga keadaan ini akan mengancam kelestarian danau.

Dengan laju sedimentasi sebesar 1-3 cm per tahun, mengkibatkan Danau Tempe mengalami pendangkalan, yang menyebabkan banjir di musim penghujan dan kekeringan saat musim kemarau. Apabila laju sedimentasi per tahun seperti saat ini, maka ke depan, Danau Tempe akan hilang pada musim kemarau. Pendangkalan yang terjadi di Danau Tempe secara alami diakibatkan oleh sedimentasi yang dibawa oleh sungai yang bermuara di danau ini, seperti Salo Lawo, Salo Batubatu, Salo Belokka, Salo Nila, dan Salo Walannae.

Total lumpur yang masuk ke Danau Tempe adalah 1.069.099 juta m3, sementara yang dikeluarkan melalui Salo Cenranae adalah 550.490 juta m3. Dengan demikian sisa sedimen yang mengendap di dasar danau sebesar 518.609 juta m3. Jika setiap tahunnya sedimen tidak keluar dan terus mengendap maka akan terjadi proses pendangkalan danau setinggi 1 – 3 cm per tahunnya. Di musim kemarau, danau hampir kering dengan rata-rata kedalaman air hanya 50 cm sampai 1 m.

Danau-Tempe-43

Digambar oleh: Hadianto.

Selain pendangkalan, masalah berat lainnya adalah pencemaran yang terjadi di Danau Tempe, disebabkan oleh buangan limbah domestik, pertanian, dan sisa pakan ikan. Zat pencemar ini merupakan penyebab terjadinya eutrofikasi air danau. Aktivitas pertanian dan perkebunan yang menggunakan pestisida menjadi sumber pencemar dan meningkatkan gulma air, seperti eceng gondok.

Kemudian pada badan air danau terdapat banyak tanaman air, baik yang tumbuh dari dasar danau maupun yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bungka toddo. Tanaman air ini menjadi perangkap sedimen dan mengendapkan sedimen ke dasar danau. Sepanjang musim hujan 80-90 persen permukaan danau ditutupi oleh tanaman air.

Menurunnya kualitas lingkungan perairan Danau Tempe mempengaruhi daya dukung organisme di dalamnya, sehingga keberadaan satwa liar dan biota air semakin terancam. Dan terdapat indikasi menurunnya populasi beberapa satwa liar dan biota air, khususnya yang jenis endemik, seperti burung cawiwi, burung lawase dan ikan bungo, belanak, sidat/masafi, saat ini sudah jarang didapat di danau.

Hujan masih deras mengguyur perkampungan terapung. Namun kami harus segera kembali ke Sengkang. Kilat dan halilintar menjadi irama yang menambah ketegangan berperahu di kegelapan. Cahaya lampu di perkampungan sepanjang sungai itu sudah menyala.  (Deni Sugandi )

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung. Teks: T. Bachtiar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>