letusan 1

Letusan Gunung Awu 2004 Letusan Yang di Nanti

energi 1

Saatnya Beralih Ke Energi Panas Bumi

15/03/2011 Comments (0) Artikel Geologi Populer

Danau Bandung Purba Kedahsyatan Cinta Sangkuriang dan Letusan Gunung Sunda

sunda-1

 

Aku berjalan ke arah barat, sampai ke Bukit Patenggeng, situs purbakala Sang Kuriang, tatkala akan membendung Ci Tarum, gagal karena kesiangan….

(J. Noorduyn dan A. Teeuw, Tiga Pesona Sunda Kuna, Pustaka Jaya, 2009).

sunda2

Gunung Tangkubanparahu, Anak Gunung Sunda. Foto: T. Bachtiar

Legenda itu menjadi luar biasa, karena kronologinya sesuai dengan kronologi letusan Gunung Sunda, pembentukan Danau Bandung Purba, dan lahirnya Gunung Tangkubanparahu. Dalam legenda itu diuraikan: Tahap pertama, Sang Kuriang menebang pohon lametang yang roboh ke barat. Tunggulnya menjadi Bukittunggul, dan rangrangan, sisa dahan, ranting, dan daunnya membentuk Gunung Burangrang. Batang pohonnya menjadi bakalan perahu yang akan dibuatnya. Tahap kedua, setelah pohon ditebang, Sang Kuriang membendung sungai, agar tergenang menjadi danau yang kelak akan dijadikan tempatnya berlayar memadu kasih dengan Dayang Sumbi. Pada tahap ini Gunung Sunda meletus, materialnya membendung Ci Tarum di utara Padalarang. Maka tergenanglah menjadi Danau Bandung Purba. Tahap ketiga, setelah sungai dibendung, Sang Kuriang melanjutkan membuat perahu. Danau sudah terbendung, airnya mulai tergenang, dan betapa girangnya Sang Kuriang. Fantasinya berlayar bersama Dayang Sumbi memberinya semangat untuk terus membuat perahu. Namun sebaliknya bagi Dayang Sumbi. Memberi tantangan untuk membuat danau dan perahu, sebenarnya hanyalah siasat agar pernikahan itu tidak terjadi, sebab Dayang Sumbi tahu, Sang Kuriang adalah putranya sendiri.

Segeralah Dayang Sumbi mengambil daun kingkilaban tujuh lembar, dibungkusnya dengan kain putih hasil tenunannya, lalu diiris halus. Potongan itu ditaburkan ke arah timur sambil memanjatkan permohonan agar mendapatkan perlindungan-Nya.

sunda3Yang Maha Kuasa mengabulkan permohonannya, seketika itu fajar menyingsing di ufuk timur. Cahaya membersit, pertanda matahari akan segera terbit. Betapa leganya Dayang Sumbi. Namun tidak bagi Sang Kuriang yang sedang bekerja habis-habisan menyelesaikan perahunya. Begitu melihat fajar menyingsing, Sang Kuriang marah dan kesal tiada bandingannya. Karena gagal meminang pujaan hati, Sang Kuriang menendang perahu yang hampir rampung itu dengan perasaan gagal yang mendalam. Terbaliklah perahu itu, jadilah Gunung Tangkubanparahu.

Pada tahap ketiga ini, ketika danau sudah tergenang, dari dalam kaldera Gunung Sunda terjadi gejolak aktivitas gunung api. Terjadi letusanletusan dari beberapa lubang kawah. Karena kawahkawahnya berjajar barat-timur, maka rona gunung ini terlihat seperti perahu yang terbalik bila dilihat dari selatan.

Tahap keempat, ketika melihat gelagat itu, segeralah Dayang Sumbi berlari ke arah timur, dan secepat kilat Sang Kuriang mengejarnya. Di sebuah bukit kecil, hampir saja Dayang Sumbi tertangkap. Bukit tempat menghilangnya Dayang Sumbi disebut Gunung Putri.

Tahap keempat ini bila dimaknai saat ini, adalah upaya penyelamatan, upaya mitigasi. Ketika ada gejolak gunung api, janganlah berada di lembah yang akan dialiri lahar dengan pergerakannya yang sangat cepat. Carilah tempat yang berada di punggungan yang aman, yang tidak akan tersapu aliran lahar, terjangan awan panas, dan hujan abu.

sunda4

Ignimbrit Gunung Sunda di Kampung Manglayang, Cimahi Utara, Jawa Barat. Foto: T. Bachtiar

GUNUNG JAYAGIRI, GUNUNG SUNDA, DAN GUNUNG TANGKUBANPARAHU

Di utara Bandung, di tempat Gunung Tangkubanparahu sekarang, di sana terdapat gunung api raksasa, sebut saja Gunung Jayagiri. Gunung ini kemudian meledak dahsyat hingga mengambrukkan tubuhnya membentuk kaldera, kawah yang sangat luas. Dari sisi kaldera Jayagiri ini tumbuh gunung baru, yaitu Gunung Sunda. Letusan maha dahsyat Gunung Sunda telah mengambrukkan tubuhnya membentuk kaldera. Dari kaldera Gunung Sunda inilah Gunung Tangkubanparahu terbentuk. Sampai sekarang, cucu Gunung Jayagiri ini terus memperlihatkan aktivitasnya, membentuk dirinya mengikuti jejak alam leluhurnya.

Kompleks Gunung Sunda dan Gunung Tangkubanparahu menyimpan sejarah bumi yang sangat panjang. Gunung ini mempunyai daya pikat dan pesona yang luar biasa, sehingga terus mendapat perhatian dari waktu ke waktu. Kawasan ini bukan hanya memiliki keragaman bumi, melainkan juga keragaman hayati. Di sana masih terdapat macan tutul (Panthera pardus sondaicus) yang menjadi simbol fauna Jawa Barat. Mochamad Nugraha Kartadinata (MNK, 2005) telah melakukan kajian secara mendalam tentang Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Sunda. Data hasil kajiannya dijadikan dasar dalam tulisan ini.

Gunung Sunda (1.854 m. dpl.) yang terdapat dalam peta, itu hanyalah kerucut kecil dalam rangkaian panjang kaldera Gunung Sunda. Gunung Sunda yang sebenarnya dibangun dengan dasar gunung selebar lebih dari 20 km lebih, dengan ketinggian ± 4.000 m dpl. Sangat mungkin tinggi sesungguhnya lebih dari taksiran itu, sebab, pada umumnya sebuah gunung yang meletus hingga membentuk kaldera, menghancurkan dua per tiga tubuh gunungnya. Kalau saat ini titik tertinggi dari kaldera Gunung Sunda adalah 2.080 m dpl., artinya, tinggi gunung tersebut hanyalah satu per tiga bagian dari Gunung Sunda.

sunda5

Cukangrahong, Tempat Bobolnya Danau Purba Barat. Foto: T. Bachtiar

Sebelum Gunung Sunda terbangun, di sana terdapat Gunung Jayagiri. Letusan-letusan pertamanya mengalirkan lava yang terjadi dalam rentang waktu antara 560.000-500.000 tahun yang lalu. Kemudian letusan-letusan besar mengambrukkan badan gunung ini hingga membentuk kaldera.

Tiga ribu abad kemudian, dari dalam kaldera itu terjadi aktivitas yang membangun gunung baru, yaitu Gunung Sunda. Letusan dahsyat Gunung Sunda oleh MNK dibagi menjadi tiga episode letusan utama.

Episode pertama berupa letusan-letusan yang mengalirkan lava, terjadi antara 210.000-128.000 tahun yang lalu. Episode kedua, terjadi 13 unit letusan, dalam satu unit letusan dapat terjadi lebih dari satu kali letusan besar. Episode ketiga berupa letusan-letusan yang mengambrukkan badan gunung ini hingga membentuk kaldera, yang terjadi ±105.000 tahun yang lalu.

Episode ketiga letusan Gunung Sunda dibagi lagi menjadi tiga fase letusan. Pertama fase plinian, letusan dengan tekanan gas yang sangat tinggi, melontarkan material sebanyak 1,96 km kubik ke angkasa, membentuk tiang letusan setinggi 20 km dengan payung letusan sepanjang 17,5 km dan lebarnya 7 km.

Kompleks Gunung Sunda dan Gunung Tangkubanparahu menyimpan sejarah bumi yang sangat panjang. Gunung ini mempunyai daya pikat dan pesona yang luar biasa, sehingga terus mendapat perhatian dari waktu ke waktu.

Kedua fase freatomagmatik, letusan yang melontarkan awan debu dengan butiran-butiran kerikil gunung api, volumenya 1,71 km kubik.

sunda6

Curug Jompong, Tempat Bobolnya Bandung Purba Timur. Foto: T. Bachtiar

Ketiga fase ignimbrit, yang terjadi ±105.000 tahun yang lalu, yang menurut penelitian Rudy Dalimin Hadisantono (1988), volume yang dilontarkannya sebanyak 66 km kubik, yang mengarah ke baratlaut, selatan, dan timurlaut dari pusat letusan, menutupi kawasan seluas 200 km persegi dengan rata-rata ketebalan 40 meter, seperti dapat dilihat di Ciseupan, Campaka, Cisarua, Kampung Manglayang, Cipeusing, dan Taman hutan raya Ir. H. Djuanda. Belum terhitung 40% dari total material gunung api yang melayang-layang di angkasa dan jatuh di belahan bumi yang sangat jauh. Akibat banyaknya material yang dikeluarkan, sebagian besar dari tubuh Gunung
Sunda ambruk dan membentuk kaldera seluas 6,5 x 7,5 km2.

Pada letusan dahsyat fase ketiga inilah material letusan Gunung Sunda dengan seketika mengubur apa saja yang ditimpanya. Hutan belantara terkubur bersamaan dengan makhluk hidup yang ada di dalamnya seperti badak, rusa, dan kijang yang sedang berada di lembah Ci Tarum, berjarak ± 35 km dari pusat letusan (Umbgrove dan Stehn: 1929, R.W. van Bemmelen: 1936, Th. H.F. Klompe: 1956). Arang kayu seukuran drum yang melintang searah datangnya awan panas ditemukan di penggalian pasir Ciseupan, Cibeber, Kota Cimahi.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan, letusan Gunung Sunda fase ketiga itulah yang telah mengurug Ci Tarum Purba di utara Padalarang, kemudian membentuk danau raksasa, Danau Bandung Purba. Bagian sungai ke arah hilir yang tidak tertimbun kini dinamai Ci Meta, sungai kecil dalam lembah besar Ci Tarum Purba.

sunda7

Sanghyangtikoro, semula disangka tempat bobolnya Bandung Purba. Padahal pembobolan danau Bandung Purba terjadi di Cukangrahong. Foto: T. Bachtiar

Jadi, anggapan selama ini yang menyatakan bahwa letusan Gunung Tangkubanparahu telah membendung Ci Tarum itu terbantahkan, karena sebelum gunung ini meletus, ada gunung lain yang meletus sangat dahsyat, yaitu letusan Gunung Sunda.

Dari kaldera Gunung Sunda itu kemudian lahir Gunung Tangkubanparahu. Letusan-letusannya dibagi ke dalam dua kategori letusan seperti ditulis MNK, yaitu letusan Gunung Tangkubanparahu tua, antara 90.000-10.000 tahun yang lalu, yang pernah meletus sebanyak 30 unit letusan, dan letusan Gunung Tangkubanparahu muda, antara 10.000 – 50 tahun yang lalu, yang meletus 12 unit letusan.

H. Tsuya, seperti dikutip K. Kusumadinata (1979), menggolongkan derajat kehebatan letusan gunung api ke dalam 9 tingkatan, mulai dari derajat satu, yang hanya menghembuskan fumarola hingga derajat IX yang melontarkan material gunung api lebih dari 100 km kubik. Bila gunung api itu mampu melontarkan material dari tubuhnya antara 10 – 100 km kubik, dapat digolongkan mempunyai derajat kehebatan VIII. Gunung Sunda termasuk kategori ini karena pada letusan fase ketiga melontarkan material vulkanik sebanyak 66 km kubik. Jumlah ini sebenarnya hanya 60%-nya saja, sebab yang dihitung hanya yang mengendap di permukaan. Sedangkan yang diterbangkan ke berbagai penjuru bumi tidak dihitung, jumlahnya mencapai 40%. Bila seluruhnya dijumlahkan, kedahsyatan Gunung Sunda mendekati kategori IX.

Sebagai bandingan, letusan dahsyat Gunung Krakatau 1883 hanya melontarkan material sebanyak 18 km kubik, dan letusan Gunung Tambora tahun 1815 menghamburkan 150 km kubik, dengan derajat kehebatan IX.

Sisa-sisa kedahsyatan letusan Gunung Jayagiri, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkubanparahu, merupakan keragaman bumi yang luar biasa dan sangat baik bila dijadikan laboratorium alam untuk pembelajaran.

sunda8

Pada mulanya Ci Tarum mengalir dari Cisanti di Gunung Wayang ke A, ke B, ke C, ke D, ke E, dan seterusnya hingga di Laut Jawa. Material letusan Gunung Sunda membendung Ci Tarum di utara Padalarang (C-D), membentuk danau Bandung Purba yang sangat luas, antara Cicalengka hingga Rajamandala, yang dipisahkan oleh pematang tengah, dan antara jalan Martadinata hingga Soreang, Baleendah dan Majalaya. Perubahan itu menyebabkan muara Ci Tarum di Cekungan Bandung menjadi di pinggir danau di sekitar Ciparay-Majalaya (A). Sejak 16.000 tahun yang lalu, danau Bandung Purba barat bobol di antara Puncaklarang dan Pasir Kiara (G), dan membobol batuan keras di Cukangrahong. selah pematang tengah terkikis, maka danau Bandung Purba timur bobol di Curug Jompong (B). Air danau Bandung Purba akhirnya masuk sebagian ke Sanghyangtikoro (G), dan sebagian lagi mengalir bagian sungai yang terbuka, maka susutlah danau ini, menyisakan rawa-rawa yang luas.

PERUBAHAN GEOMORFOLOGI CI TARUM

Ci Tarum yang pernah dijadikan batas kerajaan wilayah di Tatar Sunda itu namanya diambil dari nama tanaman tarum (nila). Daerah hulunya di Cisanti – Gunung Wayang. Ci Tarum mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan manusia dan kebudayaan masyarakatnya. Secara alami, Bandung berada di kuali raksasa Cekungan Bandung. Ke dalam cekungan ini mengalir sungai-sungai yang bersumber dari gunung-gunung yang berada di pinggiran kuali raksasa itu, lalu berbelok mengalir ke arah baratlaut, sesuai arah kemiringan wilayah ini.

Material letusan dahsyat Gunung Sunda itu membendung Ci Tarum di sekitar Ngamprah di utara Padalarang. Oleh karenanya ada bagian Ci Tarum yang hilang karena tertimbun, dan induk Ci Tarum dari daerah yang terbendung ke hilir menjadi anak Ci Tarum. Lambat laun, air Ci Tarum yang terbendung itu membentuk danau raksasa, yang kini kita sebut Danau Bandung Purba.

Pada saat Bandung menjadi danau raksasa, dan ketika air genangannya mulai bersentuhan dengan dinding perbukitan di sisi barat danau, sejak itulah air merembes di dinding danau dan membentuk mata air di bawahnya, yang kemudian menjadi salah satu anak Ci Tarum Purba.

Ketika Danau sudah tergenang, Gunung Tangkubanparahu terbentuk dan meletus sekitar 90.000 tahun yang lalu dari sisi timur kaldera Gunung Sunda. Material letusannya sebagian mengisi sisi utara Patahan Lembang, dan sebagian lagi mengalir ke arah baratdaya Bandung.

Aktivitas patahan, gerakan tanah dan kekuatan lain, seperti kuatnya erosi mudik yang mengikis hulu anak Ci Tarum, akhirnya kehalusan air itu dapat membobol breksi, bagian benteng alam paling kuat di antara Puncaklarang dan Pasir Kiara. Kini daerah itu dinamai Cukangrahong. Bobollah Danau Bandung Purba Barat.

Gua atau sungai bawah tanah Sanghyangtikoro, ternyata bukan tempat bobolnya Danau Bandung Purba yang selama ini diyakini dan ditulis dalam berbagai terbitan. Terdapat perbedaan ketinggian sekitar 400 meter antara Sanghyangtikoro dengan Puncaklarang dan Pasir Kiara sebagai bibir Danau Bandung Purba yang mencapai ketinggian 725 m dpl.

Derasnya aliran ai r Danau Bandung Purba Barat telah mengikis ke arah hulu, menggerus dan menjebol celah Danau Bandung Purba Timur di Curug Jompong, kemudian aliran Ci Tarum memotong Pematang Tengah yang terdiri dari bebatuan terobosan menuju arah barat.

Pada akhir abad ke 20, aliran Ci Tarum di bagian tersempit di Selatan Rajamandala sengaja dibendung menjadi Danau Saguling untuk memenuhi kebutuhan energi listrik Jawa dan Bali, sehingga ada bagian Ci Tarum yang tergenang danau, dan sungai di bagian hilir bendungan menjadi sungai kecil, karena aliran air dari danau dialirkan melalui dua pipa pesat untuk memutarkan turbin pembangkit listrik di sekitar Sanghyangtikoro.

Penulis adalah anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>