Mengabadikan-1

Mengabadikan Riwayat Bumi

Tiga-Menguak-69

Kuasa Alam atas Sistem Iklim Global

01/09/2014 Comments (0) Resensi Buku

Bumi yang Hidup

Bumi yang Hidup-86
Bumi yang Hidup-86

Geofoto Nusantara seri Air Geofoto Nusantara seri Batu

Maka ketika Badan Geologi menerbitkan buku mewah tentang air dan batu dari sudut pandang wisata geologi, jelas saya berharap banyak. Pertemuan lempeng bumi yang melahirkan barisan gunung berapi jelas menjanjikan eksplorasi wisata alam yang menakjubkan. Kekayaan Ibu Pertiwi yang luar biasa akan terdokumentasi dengan baik oleh ahlinya. Kebersamaan seperti inilah yang ditunggu masyarakat.

Namun, nyatanya buku ini tidak bertutur seperti kisah eksotis Sri dan Sadana. Bahkan seperti terjebak menjadi kumpulan foto geowisata yang indah. Dan ada yang sangat mengganggu atau mungkin hanya karena saya yang sok tahu. Saya tidak mempersoalkan fotonya yang memang sudah jempolan. Coba simak liputan Taman Purbakala Cipari. Sebagaimana tertulis pada deskripsinya, awal ditemukannya memang situs kubur batu, gerabah dan lain sebagainya yang ada di daerah tersebut. Tapi mengapa justru foto menhir atau batu tegak yang terpampang? Mengapa bukan foto kubur batu untuk mempertegas bahwa Cipari adalah tempat asli ditemukan? Meski menhir itupun asli, tapi konon tidak selokasi dengan kubur batu. Karena Cipari kini menjadi museum “Taman Purbakala Cipari” yang direka. Dan yang paling mencolok pada buku air adalah tidak terlihatnya foto bawah air (underwater photography), baik air laut maupun air tawar. Apalagi foto keajaiban air sungai tawar di dalam laut milik kita. Atau memang garapan geowisata hanya mengkhususkan diri di daratan saja?

Terus terang, untuk sebuah awal bBumi yang Hidup 047uku air dan batu ini cukup baik bahkan mewah. Namun untuk menjadi sebuah buku tontonan sekaligus tuntunan yang dikeluarkan oleh ahlinya, sebaiknya usahakan perkecil terjadinya distorsi dan salah pengertian, terutama bagi pembaca awam. Jika tidak melihat judul bukunya, saya pun hampir tidak bisa membedakan secara khusus antara angle foto buku yang membahas air atau yang membahas batu.

Semoga awal yang baik dengan mengajak para fotografer di luar Badan Geologi ini untuk selanjutnya bisa ditingkatkan dan ditindaklanjuti lebih teliti dan terbuka lagi, karena hanya untuk mendokumentasi kekayaan alam dan budaya yang kita punya ini saja pastilah dibutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang bukan sedikit. (Ray Bachtiar Dradjat)

Peresensi adalah seorang fotografer profesional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>