Edukasi gempa sejak usia dini.
Foto: Munasri

MMI dan Kesiapsiagaan

Ilustrasi gempa. Sumber: Internet.

Gempa Merusak di Indonesia 2015

30/05/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

BMKG Menetapkan Skala Intensitas Gempa yang Baru

Sumber: Situs BMKG, diunduh pada 30 April 2016.
Sumber: Situs BMKG, diunduh pada 30 April 2016.

Sumber: Situs BMKG, diunduh pada 30 April 2016.

Untuk memudahkan masyarakat memahami intensitas gempa bumi, sejak bulan Mei, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menetapkan satuan skala intensitas gempa yang khas untuk Indonesia, disebut Skala Intensitas Gempa (SIGBMKG). Skala ini menggantikan skala intensitas MMI yang sebelumnya diterapkan di Indonesia. Berikut ini petikan wawancara Munasri dengan Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Munasri (M): Apakah SIG-BMKG sudah resmi dan bisa disebarluaskan?
Daryono (D): SIG-BMKG sebenarnya belum resmi, saat ini (Mei 2016) masih uji coba hingga 6 bulan ke depan. Skala kini sengaja disosialisasikan ke publik dengan tujuan untuk mencari masukan dari berbagai pihak untuk menyempurkan skala intensitas baru ini.

M: Apa tujuan perubahan dari MMI ke SIG BMKG?
D: Tujuannya adalah agar masyarakat dan stakeholder lebih mudah memahami dampak gempa (makroseismik) yang terjadi di suatu tempat dengan kondisi lingkungan di Indonesia. SIG BMKG ketika sudah menjadi peta merupakan peta estimasi dampak guncangan gempa di suatu daerah. Peta ini dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan respons cepat terkait tanggap darurat saat terjadi bencana gempa kuat. Hingga saat ini Indonesia menggunakan skala intensitas MMI untuk menyatakan dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya gempa. Skala ini adalah parameter dampak gempa berdasarkan tipikal bangunan di Amerika dan Eropa. Skala MMI relatif kompleks dengan memiliki 12 tingkatan sehingga berpotensi memiliki subjektivitas tinggi. Indonesia yang sangat rentan terhadap gempa signifikan dan merusak sudah seharusnya memiliki skala intensitas yang baik dan sesuai dengan budaya lokal dan lingkungan di wilayah Indonesia. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam Tabel SIG-BMKG digagas dan disusun oleh BMKG dengan mengakomodir keterangan dampak gempa berdasarkan tipikal bangunan dan lingkungan di Indonesia tetapi tetap mengacu pada nilai parameter ilmiah.

M: Bagaimana SIG BMKG ditentukan?
D: SIG-BMKG disusun untuk menyederhanakan skala intensitas MMI yang terdiri atas skala I-XII. Dengan penyederhanaan maka penerapannya menjadi lebih mudah dipahami karena hanya memiliki lima tingkatan yaitu I-V, yang berturutturut dengan keterangan singkat: tidak dirasakan, dirasakan, kerusakan ringan, sedang dan berat. Keterangan warna untuk masing-masing tingkatan adalah putih, hijau, kuning, jingga dan merah. Pengelompokan nilai PGA (Peak Ground Acceleration) terhadap tingkatan intensitas didasarkan pada referensi Wald et al. (1999b) dan Worden et al. (2012). SIG-BMKG diharapkan bermanfaat untuk digunakan dalam penyampaian informasi terkait mitigasi gempa dan atau respons cepat khususnya pada kejadian gempa merusak. Skala ini dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk dapat memahami tingkatan dampak yang terjadi akibat gempa dengan lebih baik dan akurat.

M: Ada berapa akselerograf yg dioperasikan di Indonesia untuk mengukur intensitas dan sejak kapan?
D: Akselerograf total terpasang yang dioperasikan dan mendukung shakemap dan SIG-BMKG sebanyak 272 stasiun sejak 2014. (Munasri)

Penulis bekerja di Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>