Kawah Gunung Papandayan yang terbuka ke arah timur laut. Foto: Deni Sugandi

Papandayan Harmoni antara Sains dan Mitos

Pembentukan busur magmagtik hasil dari penujaman lempeng
samudera di bawah lempeng benua.

Petrogenesa Magma Busur di Indonesia dan Aplikasinya

06/04/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer, Uncategorized

Bingkai Gunung Api

Kaldera Bromo Tengger jelang pagi hari dari puncak B29.
Foto: Deni Sugandi.
Kaldera Bromo Tengger jelang pagi hari dari puncak B29. Foto: Deni Sugandi.

Kaldera Bromo Tengger jelang pagi hari dari puncak B29.
Foto: Deni Sugandi.

Fotografi dan panorama gunung adalah jodoh yang tidak bisa berpisah, masing-masing saling melengkapi. Bentang alam gunung api menawarkan daya magis dan  misteri, sedangkan tugas fotografi adalah membingkainya menjadi wujud citraan abadi.

Dalam perjalanan kelahiran fotografi abad ke- 19, foto pemandangan alam adalah tema umum, bahkan di akhir 28 tahun penjelajahannya, Junghuhn menggunakan kamera kayu format besar, sebagai pelengkap laporan penjelajahan gunung-gunung api di Jawa. Kamera format besar tersebut didatangkan khusus dari Prancis, menggunakan teknik rekam cetak basah (wet plate), di atas plat kaca dilapisi perak gelatin dengan media kaca ukuran 8×10 sentimeter.

Pada masa itu penggunaan kamera sangatlah mewah dan mahal, bahkan dibutuhkan dua orang kuli untuk mengangkut perlengkapan kamera, dan proses kama gelap. Untuk perjalanan panjang dibutuhkan pedati yang ditarik oleh sapi, sebagai sarana transportasi ekspedisi khusus berhari-hari. Konon katanya, Junghuhn sendiri yang memanggul kamera hingga ke beberapa puncak gunung. Bisa dibayangkan kesulitan dan kendala yang dihadapinya dalam upaya memotret untuk kartografi Pulau Jawa itu.

Di masa berikutnya, 1917, seorang keturunan Jerman- Belanda yang lahir dan besar di perkebunan kopi di Kediri, Jawa Timur. Ia adalah Thilly Weissenborn, seorang pemotret komersial wanita yang pertama di masa kolonial, yang memproduksi kartu pos (carte de visit) dengan tema gunung-gunung dan gunung api di Garut. Secara berkala selama 20 tahun lebih, ia berkelana untuk mendokumentasikan kompleks kawah Gunung Papandayan, kawah Gunung Talagabodas, Gunung Guntur hingga bentang alam Garut bagian selatan.

Kerucut Gunung Merapi dari pos Balerante. Foto: Deni Sugandi

Kerucut Gunung Merapi dari pos Balerante. Foto: Deni Sugandi

Weissenborn mendirikan Foto Atelier Lux atau foto studio di kota Garut. Seluruh koleksi karyanya menggunakan media plat kaca dengan teknik cetak kering (dry plate) yang lebih modern pada masa itu. Namun pada saat masuknya pendudukan Jepang 1942, studio foto tersebut dihancurkan oleh tentara kerajaan Jepang karena dianggap kolaborator Belanda. Sebagian besar karya fotonya rusak serta hilang, namun kini sebagian karyanya tersimpan baik menjadi koleksi Tropen Museum di Belanda.

Para pioner telah membuktikan bahwa gunung api dan fotografi adalah perpaduan yang serasi. Foto digunakan sebagai penunjang laporan survei kebumian, media informasi atau perekam keindahan dan bencana sekaligus. Beberapa publikasi kebumian pernah diterbitkan dalam bentuk album foto, bagian dari tradisi karya fotografi yang diserahkan kepada penguasa kolonial pada masa itu, sebagai arsip keberhasilan di negara jajahan.

Memasuki era digital, di mesin pencari populer google, terdapat tak kurang dari 476.000 tautan yang memuat entri foto “bromo” Jawa Timur dalam kategori wisata. Bila memasukkan kata kunci “toba”, didapati 879.000 laman web yang rata-rata disertai foto. Jumlah pengunggah di jejaring sosial tersebut terus bertambah, seiring dengan semakin murahnya teknologi kamera digital. Wisatawan kini dengan mudah mengabadikan kisah perjalanannya melalui laman web yang disebut jurnal visual, yaitu pandangan mata melalui rangkaian foto yang diunggah di blog. Budaya visual tersebut adalah fenomena baru yang didorong oleh media yang semakin mudah didistribusikan.

Kepulan solftara Kawah Baru di kompleks kawah Gunung Papandayan. Foto: Deni Sugandi

Kepulan solftara Kawah Baru di kompleks kawah Gunung Papandayan. Foto: Deni Sugandi

Memotret bentang alam untuk pegunungan dan gunung api di Indonesia, memiliki tantangan dan cara perlakuan berbeda dibandingkan dengan tema lainya. Fotografi ini termasuk dalam genre “foto alam bebas”, dengan kaidah dan teknis khas, yang hanya mengandalkan sumber cahaya alami. Selain keterampilan teknis, si pemotret harus mengunjungi lokasi langsung, baik pengambilan dari bagian lereng, tubir kawah, hingga mendaki ke puncak gunung. Dengan demikian pemotret dituntut untuk memiliki kemampuan mendaki gunung, stamina, dan dibekali pengetahuan tentang keselamatan dan keamanan pada saat proses pemotretan.

Namun ada juga beberapa gunung api aktif di Indonesia, yang dapat dicapai hingga tubir kawah dengan menggunakan kendaraan roda empat. Misalnya, Gunung Tangkubanparahu di Jawa Barat, atau Kaldera Toba Sumatra Utara dan Bromo-Tengger di Jawa Timur. Karena mudah dicapai, maka entri foto tujuan wisata tersebut merupakan yang paling sering diunggah.

Kemudahan memotret menjadi cara cepat penyebaran informasi visual, karena wisatawan tidak lagi dituntut untuk mengerti teknis pemotretan, namun mereka cukup menggunakan kamera di selular pintar. Dalam perkembangannya, beberapa produsen kamera digital menawarkan jenis kamera yang sangat mudah digunakan, dengan hasil yang baik, terutama untuk kebutuhan di lapangan. Jenis kamera ini dilengkapi juga dengan penanda lokasi GPS (Global Positioning System), kemudahan pengoperasian kamera dan anti benturan.

Menurut Wikipedia, 2012, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, yang dikelompokkan kedalam enam wilayah geografis. Empat diantaranya memiliki gunung berapi dalam barisan Busur Sunda, antara lain Gunung Merapi di Jawa Tengah. Gunung api aktif ini termasuk paling populer yang menjadi sasaran bidik kamera setelah letusannya pada 2006 dan 2010.

Dinding kaldera di Ngadisari

Dinding kaldera di Ngadisari Foto: Deni Sugandi

Kemegahan kerucut gunung api di utara Yogyakarta ini bisa disaksikan dari sisi sebelah selatan Kabupaten Sleman, sebelah barat dari Magelang, dan utara-timur dari Boyolali. Untuk bisa memotret kubah lava letusan 2006, maka harus diambil di puncak gunung, dengan melakukan pendakian kurang lebih tujuh jam dari awal pendakian dari Lereng Selo ke punggungan Pasar Bubrah. Perjalanan dilanjutkan mendaki dengan cara merayap diantara material gunung api yang dilontarkan dalam bentuk kerikil hingga bongkah besar. Dinding hampir tegak tersebut berakhir di puncak kawah bagian selatan. Bila berdiri dari titik tubir puncak kawah bagian utara, bisa memotret kubah lava letusan 2006 di sisi sebelah barat dan kawah letusan 2010 di timur, dengan bukaan ke arah Kaliurang.

Masih di kelompok Busur Sunda, kompleks Kaldera Bromo-Tengger termasuk lokasi terbaik untuk memotret kreasi alam yang berumur Kuarter. Garis tengahnya kurang lebih 8 hingga 10 kilometer, sementara dinding terjalnya antara 200-700 meter. Pemotret tidak perlu bersusah payah mendaki gunung, tetapi cukup menyewa mobil penggerak 4 roda untuk mencapai puncak Bukit Pananjakan. Dari posisi ini kita bisa menyaksikan dasar kaldera berupa lautan pasir yang melampar.

Pendakian menjelang puncak Gunung Merapi

Pendakian menjelang puncak Gunung Merapi Foto: Deni Sugandi

Waktu yang terbaik adalah menjelang matahari terbit, biasanya dini hari. Pada saat matahari pertama muncul, dari Panjakan kita bisa menyaksikan cahaya keemasan berpendar dari balik lereng gunung tertinggi di Jawa, Gunung Semeru. Di bagian tengah dasar kaldera, muncul beberapa kerucut gunung api muda, diantaranya Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Widodaren. Menurut Oki Oktariadi (2015) ketiga gunung tersebut terbentuk setelah letusan dahsyat gunung purba Tengger dengan pusat letusan daerah Ngadisari, sekitar 265.00 tahun yang lalu.

Bukit Pananjakan adalah titik pengamatan kaldera Bromo-Tengger yang paling populer, sehingga panorama dari sini bisa juga disebut sebagai “pemandangan sejuta umat”. Demikian populernya titik ini mendorong beberapa pemandu lokal mencari lokasi lain dengan sudut pandang berbeda. Muncullah titik pandang dari Bukit 29, atau dikenal B29 yang mengacu kepada ketinggian 2.900 meter di daerah Lumajang. Dari titik ini kita bisa memandang kelompok kerucut gunung api muda Bromo dalam satu kelurusan dengan Gunung Arjuna di arah barat laut. Selain puncak gunung, di sini hamparan laut pasir dapat dibidik oleh kamera kita. Pemotret dapat pula menelusuri endapan letusan freatomagmatik yang – sebagaimana menurut Zaennudin (2011) – berupa debu dan pasir halus di dasar kaldera yang menjadi ciri khas Gunung Bromo.

Kerucut Gunung Cikuray dengan latar lapangan solfatara kawah Gunung Papandayan. Foto: Deni Sugandi

Kerucut Gunung Cikuray dengan
latar lapangan solfatara kawah Gunung Papandayan. Foto: Deni Sugandi

Di Jawa Barat, sebagaimana menurut Abdurrachman (2016) letusan dahsyat gunung api Papandayan pada 1772 melontarkan sebanyak 23 km3 material pijar, menghancurkan puluhan pemukiman warga di bagian lereng, dan letusan tersebut membentuk kolom letusan mencapai tinggi sekitar 3 km hingga terlihat di Cirebon.

Setelah 1923, terjadi setidaknya 7 kali letusan dan membentuk kawah baru di dinding selatan Gunung Papandayan. Hasil kekuatan tenaga dari dalam bumi ini kini bisa disaksikan berupa lapangan kawah solfatara yang berbentuk tapal kuda terbuka ke arah timur laut. Bila berdiri di daerah Lawang Angin, kita bisa menyaksikan hamparan kawah yang dipagari tebing dinding Gunung Papandayan dan Gunung Walirang, yang berkesan magis dibalut keindahan.

Masih banyak lokasi titik pengabadian gunung api di Indonesia. Apalagi Indonesia yang memiliki gunung api terbanyak di dunia. Kekuatan alam ini telah membentuk roman muka bumi, tidak saja menyajikan keindahan yang memanjakan mata, tetapi mengandung bahaya yang tidak tampak. Kamera tidak hanya digunakan untuk merekam keindahan alam saja, tetapi menjadi alat bantu untuk memahami proses kerja dan fenomena gunung api. (Teks & Foto: Deni Sugandi)

Penulis adalah editor fotografi Geomagz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>