JEJAK-PENEMUAN--41

Menelusuri Jejak Penemuan Manusia Purba

Untitled-39

Memburu Letusan Sinabung

11/09/2013 Comments (0) Langlang Bumi

Bercermin ke Jeju

jeju1

jeju1

Jeju. Akhirnya kami berhasil juga menginjakkan kaki di pulau vulkanik di selatan Republik Korea atau Korea Selatan. Perjalanan panjang di angkasa dari Jakarta di pagi hari, singgah di Hongkong sore hari, dan mendarat di Bandara Internasional Jeju saat matahari tenggelam. Suhu 22 – 24o C cukup sejuk di akhir musim panas Jeju yang berada di 33,37° Lintang Utara dan 126,53° Bujur Timur itu.

Kamis malam, 5 September 2013 itu, setelah urusan imigrasi selesai, sedikit masalah justru muncul di luar bandara. Kami bertujuh kebingungan ketika mendapati hampir semua tulisan pada papan pengumuman bandara beraksara Korea. Igan Sutawijaya, anggota rombongan kami, langsung bercanda, “Wah, tulisan Arab semua. Gimana ini?” Untunglah, seorang petugas bandara yang bisa berbahasa Inggris menjadi penyelamat dengan menunjukkan pangkalan taksi.

Tiga unit taksi siap mengantar kami ke pusat Kota Jeju. Saat seorang rekan kami hendak duduk di kursi depan, ia memilih kursi kiri yang ternyata ada supirnya. Barulah kami sadar bahwa lalu-lintas Korea bergerak di kanan jalan, dan sopir tentu saja berada di sisi kiri kendaraan! Kami yang terbiasa berlalulintas di kiri, sedikit terkaget-kaget menghadapi lalu lintas kanan di Korea, seakan-akan mau bertabrakan saat taksi berbelok mengambil sisi jalan yang “salah”.

jeju2Simposium APGN 2013
Demi Taman Bumi (Geopark) Indonesia, kami melanglangi Jeju. Delegasi Indonesia secara resmi diwakili oleh Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Direktur Jenderal Destinasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk rapat advisory board. Namun, banyak peserta Indonesia lain datang untuk mempresentasikan calon-calon taman bumi global di Simposium Asia Pacific Geopark Network (APGN) 2013 yang merupakan konferensi ketiga APGN di Geopark Jeju, Korea Selatan tersebut.

Penyaji makalah dari Indonesia adalah Heryadi Rahmat dan Akbar Cita dengan topik pengembangan geowisata di Rinjani Lombok yang tengah dicalonkan untuk menjadi geopark, serta Heryadi Rachmat dan Igan Supriatman Sutawidjaja dengan topik peluang pengembangan taman bumi. Keduanya mendapat jadwal presentasi pada hari pertama simposium, 9 September 2013. Ada jeda seminar sehari yang digunakan untuk ekskursi tengah konferensi, 10 September 2013. Pada hari kedua simposium, 11 September 2013, pemakalah dari Indonesia adalah I Wayan Kastawan, Akhyaruddin, I Made Gianyar dan Hanang Samodra yang membahas pengembangan komunitas di Geopark Global Batur, Bali, lalu Fauzie Hasibuan, Mohammad Sapari Dwi Hadian, dan Sofyan Suwardi yang membawakan tema tentang Flora Jambi di Geopark Merangin, Budi Brahmantyo dan Oman Abdurahman yang memperkenalkan calon taman bumi di Jawa Barat, serta Rosyadi Sayuti, Abdul Basit, dan Iwan Mulia Septeriansyah yang berupaya menggolkan Rinjani sebagai geopark global. Para penyaji poster adalah Munasri dan Haryadi Permana yang menyajikan keunikan zona subduksi Zaman Kapur di Karangsambung, serta Mohammad Sapari Dwi Hadian, dan Sofyan Suwardi yang membahas segi geologi lingkungan di calon Taman Bumi Merangin Jambi.

jeju3

Lapisan-lapisan pyroclastic surge di Pantai Suweolbong yang menjadi geosite unggulan Geopark Jeju. Foto: Budi Brahmantyo.

Tahun ini Global Geopark Network (GGN) telah menetapkan 10 geopark baru yang diumumkan saat APGN 2013 di Jeju. Hingga saat ini akhirnya telah terbentuk 100 geopark di dunia yang tersebar di 29 negara. Indonesia dipastikan akan mengajukan dua usulan baru geopark global di akhir tahun 2013, yaitu Merangin, Jambi dan Gunungsewu, Jawa.

Bergeotrek di Taman Bumi Jeju
Pulau Jeju meraih anggota resmi GGN sebagai geopark global pada tahun 2010. Penghargaan ini melengkapi penghargaan sebelumnya sebagai Biosphere Reserve 2002 dan UNESCO World Heritage Site 2007. Akhir-akhir ini penghargaan baru diraih pula sebagai satu dari 7 Keajaiban Baru Dunia (The New World 7 Wonders of Nature).

Pulau vulkanik yang didominasi oleh leleran lava basal ini terbentuk selama Kuarter dengan kejadian mirip seperti Kepulauan Hawaii. Bedanya, jika Hawaii dibentuk akibat adanya hotspot di dalam astenosfer yang menerobos Kerak Samudera Pasifik, di Jeju hotspot tersebut menerobos sisi Timur Sejauh kaki melangkah, batu-batu basal berwarna hitam atau abu-abu gelap berlubang Kerak Benua Eurasia -lubang (tekstur vesikuler) selalu menjadi pijakan kita. Batu basal ini selalu menjadi bagian dari rumah, kuil, jalan, pagar, atau patung khas Jeju yang dikenal sebagai dolhareubang. Di bagian timur pulau terbentuk gua lava (lava tube) yang diklaim sebagai terpanjang sedunia, yaitu Gua Manjang (Manjanggul). Di ujung timur terbentuk pula kerucut sinder Seongsan Ilchulbong yang mempunyai morfologi menarik seperti bentuk kopiah jika dilihat dari udara. Dua tempat ini adalah dua dari sembilan situs yang memang pantas diganjar penghargaan UNESCO baik sebagai pusaka dunia World Heritage maupun geosites GGN.

jeju4

Hallasan dilihat dari tempat observasi Hansedongsan. Foto: Oki Oktariadi

Di sisi barat, selain lava basal, kerucut-kerucut sinder banyak menyembul dari permukaan Bumi. Lapisan piroklastik akibat letusan surge menghiasi tebing-tebing pantai barat dan barat daya. Ketika gelombang laut dan proses erosi bekerja, endapan piroklastik ini dikikis sedemikian rupa menghasilkan bentuk-bentuk ceruk yang mengagumkan, seperti di Suweolbong atau di Pantai Yongmeori. Sisi selatannya, di Jungmun, tersingkap tebing pantai yang seluruhnya dihiasi kolom-kolom basal yang
berjajar rapi.

Di bagian tengah pulau, titik tertinggi Pulau Jeju – juga titik tertinggi di Korea Selatan – adalah Hallasan + 1.950 m dpl. Hallasan – selanjutnya kita sebut Gunung Halla – juga menjadi satu geosite dengan Penghargaan UNESCO. Setiap Sabtu dan Minggu, para pendaki ramai menelusuri jalur-jalur (trails) menuju puncaknya yang mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

Bagi wisatawan yang melancong ke Jeju, tersedia bus wisata yang dibagi ke dalam dua jalur, yaitu barat dan timur. Bus itu mengunjungi hampir semua geosite yang luar biasa tersebut ditambah beberapa lokasi yang berkaitan dengan museum dan budaya. Untuk seorang pelancong, baik jalur barat maupun jalur timur, bus wisata itu mematok harga 79.000 Won. Dalam kurs rupiah saat ini, harga itu kira-kira Rp 950.000,-. Jadi kalau ingin lengkap menjelajah Jeju, siapkan dana kira-kira Rp 2 juta hanya untuk bus saja selama dua hari.

Bagi mereka yang jauh-jauh hari terdaftar sebagai peserta simposium, kesempatan bergeotrek ke tempat-tempat itu telah terakomodasi dalam
3 kali ekskursi yang diselenggarakan panitia, yaitu sehari di tengah-tengah konferensi (mid-conference excursion) dan dua hari di pasca konferensi (postconference
excursion). Empat buah bus berkapasitas 60 tempat duduk yang masing-masing dengan bahasa pengantar yang berbeda (Inggris, China, Jepang, dan Korea), mengantar kami ke lokasi-lokasi Geopark Jeju.

jeju5

Profesor Kyung Sik Woo menjelaskan tentang berbagai fenomena gua lava di Manjanggul. Foto: Budi Brahmantyo.

Gua Lava Manjanggul
Lokasi pertama pada ekskursi tengah-konferensi adalah Manjanggul, alias Gua Manjang yang ternyata memang memanjang hingga 16 km. Pantas jika diklaim sebagai gua lava terpanjang di dunia. Lebarnya rata-rata 5 m dengan tinggi langit-langit gua antara 5 – 10 m. Tetapi yang dibuka untuk wisata hanya sepanjang kira-kira 2 km saja.

Profesor Kyung Sik Woo, ketua panitia APGN 2013, rupanya juga peneliti utama gua-gua ini.

Ia menjelaskan berbagai fenomena gua lava di Manjanggul ini, di antaranya terbentuknya danau di dalam gua serta adanya stalaktit dari endapan pantai yang merembes. Aliran lava berasal dari kompleks Gunung Halla, tepatnya dari kerucut kecil yang dalam dialek Jeju disebut “oerum”, yaitu Geomunoerum. Bayangkan di satu waktu, 300.000 hingga 200.000 tahun yang lalu, suatu aliran lava pijar dengan volume setinggi gedung mengalir menuruni lereng dari Kerucut Geomun. Ketika bagian permukaan lava pijar mendingin dan mengeras, bagian dalamnya masih panas pijar dan terus mengalir sampai seluruhnya keluar dan membeku di ujung lidah lava. Karena bagian permukaan telah membeku lebih dulu dan bagian dalam mengalir keluar, terbentuklah ruang memanjang yang membentuk gua lava tersebut.

jeju6

Gua Lava Manjanggul. Foto: Oki Oktariadi.

Di Indonesia, fenomena itu tentu terjadi juga seperti di Gunung Batur, Bali, atau Gua Lawa di lereng Gunung Slamet, Purbalingga. Namun, fenomena yang luar biasa di Manjanggul harus diakui merupakan pusaka Bumi yang tiada duanya. Kekaguman itu terus berlanjut saat kita tersuruk-suruk dalam kegelapan Manjanggul pada suhu cukup dingin, 15o C. Diapit pola-pola bergaris bekas aliran lava di dinding, dasar gua dengan lava yang berpola poligonal, dan langitlangit tinggi yang remang-remang, kepenasaranan menjelajah lorong 2 km harus terbentur alokasi waktu yang sangat ketat diterapkan panitia. Akhirnya sesudah kira-kira hanya setengah jalan, kami harus
kembali setelah mencoba mengarahkan kamera yang harus selalu dengan lampu kilat pada objekobjek yang jarang kita lihat. Hasilnya? Buram, banyak gelapnya, dan kurang memuaskan.

jeju7

Diorama di Museum Haenyeo, museum yang memamerkan sejarah perempuan penyelam Jeju. Foto: Budi Brahmantyo.

Kerucut Sinder Seongsan Ilchulbong
Lokasi geosite kedua yang terpromosikan di semua buku dan selebaran wisata Jeju adalah sebuah bukit sinder berketinggian hanya 180 m dpl: Seongsan Ilchulbong, puncak matahari terbit. Sama seperti dari Kota Jeju, dari Manjanggul menuju Seongsan juga melalui jalan-jalan lebar yang mulus. Namun sebelum sampai ke tujuan, ekskursi singgah terlebih dahulu di Museum Haenyeo, yaitu museum yang memamerkan sejarah kebudayaan Jeju, terutama peran para wanita yang bermata pencaharian penyelam untuk mendapatkan kerang, teripang atau abalon. Mereka membantu para suaminya sebagai nelayan untuk bertahan hidup di Jeju zaman baheula. Di museum itu tergambarkan kerasnya kehidupan para wanita penyelam Jeju yang diwakili oleh ungkapan “lebih baik dilahirkan sebagai sapi ternak daripada seorang wanita”.

jeju8

Endapan piroklastik tuf pasir dan kerikil yang berlapis-lapis di pesisir Yongmeori yang eksotik. Abrasi gelombang mengukirnya menjadi penanda bumi (landmark) yang sangat menarik. Foto: Budi Brahmantyo.

Dari museum, matahari sudah tepat di atas ubunubun, panasnya sudah seperti di Indonesia. Pemandu bus dengan semangat mengatakan bahwa program berikutnya adalah makan siang di restoran dengan menu babi hitam yang terkenal sangat enak di Jeju! Peserta dari Indonesia dan Malaysia yang umumnya muslim hanya tersenyum kecut sambil menelan ludah, sampai akhirnya si pemandu mengatakan bahwa untuk peserta yang vegetarian akan disediakan menu lain: bibimbap. Nasi campur sayuran plus telor mata sapi itu, lumayan juga. Perut kenyang, hati tenang.

Setengah jam kemudian morfologi kerucut terpancung bak kopiah Seongsan mulai tampak di tepi pantai. Saat tiba di tempat parkir, bentuk morfologi Seongsan sekilas mirip Gunung Batu di Lembang, Bandung Utara. Para peserta terpencar, sebagian segera memburu teluk di bawah bukit yang menyajikan atraksi para wanita penyelam Haenyeo. Ya, zaman sekarang, ketika Jeju sejahtera secara ekonomi dari pariwisata, para wanita penyelam itu hanya menyelam sebagai atraksi wisata saja, bukan lagi sebagai mata pencaharian. Walaupun tetap kagum, tetapi tentu saja nuansa kerasnya kehidupan wanita Jeju sudah tidak tergambarkan lagi.

Sebagian peserta lain lebih memilih segera mendaki 500 anak tangga menuju puncak cincin tuf kerucut sinder tersebut. Dalam waktu 15 hingga 20 menit, kita akan mendapati puncaknya yang cekung membentuk kawah yang tidak aktif lagi dan seluruhnya tertutup tanaman yang menghijau. Panggung-panggung kayu amfiteater dibangun di sisi barat laut kawah. Saat tiba di puncak, tampak satu komunitas sedang aktif mendengarkan penjelasan seorang interpreter yang dilengkapi poster-poster gulung tentang kejadian terbentuknya Bukit Seongsan tersebut. Saat itu kami teringat aktivitas jelajah geotrek yang biasa dilakukan di Cekungan Bandung. Menurut buku panduan, Seongsan terbentuk akibat aktivitas magmatik yang ketika menerobos naik melewati lapisan akifer lava basal yang sangat jenuh air. Letusan bertipe hidrovulkanik strombolian menghasilkan piroklastik berupa tuf yang kemudian memunculkan kerucut sinder Seongsan tersebut. Bukti lapisan-lapisan tuf pasir kasar kerikilan tersingkap mulai dari dasar bukit di teluk tempat atraksi wanita penyelam, di dinding tangga naik, hingga pada dinding kawah di puncak bukit. Keseluruhannya kemudian ditata dan disajikan dengan baik. Papan-papan penjelasan tersebar di titik-titik penting sehingga bergeowisata di sini selain menikmati kesenangannya dengan panorama yang mengagumkan, juga langsung mendapatkan ilmunya.

Endapan Piroklastik yang Eksotis di Suweolbong dan Pantai Yongmeori

Ekskursi pasca-konferensi sebenarnya dijadwalkan dua hari. Namun jadwal penerbangan pulang pada malam terakhir ekskursi membuat sebagian dari kami hanya ikut ekskursi hari pertama saja yang mengambil rute Gunung Halla, Suweolbong dan Pantai Yongmeori. Cerita perjalanan ke Halla dikisahkan sendiri pada kotak di artikel ini.

Suweolbong dan Pantai Yongmeori sebenarnya terpisah jauh puluhan kilometer, namun batuan keduanya hampir sama, yaitu endapan piroklastik. Suweolbong terbentuk dari letusan besar yang merambat lereng gunung api mengikuti proses yang disebut pyroclastic surge sekitar 18.000 tahun yang lalu, sedangkan kejadian Yongmeori lebih

menyerupai terbentuknya cincin tuf Seongsan akibat pengaruh air tanah saat terjadinya letusan magmatik yang menerobos kerak benua. Di buku panduan, kejadian letusan hidrovulkanik Yongmeori adalah salah satu yang tertua di Jeju. Singkapan di kedua tempat ini terpampang di dinding tebing pantai. Jalur geotre

jeju9

Pantai sepanjang hampir 2 km menyingkap endapan pyroclastic surge di Suweolbong dan papan penjelasan tentang bagaimana endapan tersebut terbentuk. Foto: Budi Brahmantyo.

knya pun menelusuri garis pantai yang relatif lurus di Suweolbong, tetapi berkelok-kelok sempit di Yongmeori. Di Yongmeori yang berlekuk-lekuk akibat abrasi melalui retakan pada batuan, menghasilkan celahcelah batu yang eksotik. Tidak salah jika tempat ini dipilih sebagai salah satu lokasi film drama Korea ‘Danjeokbiyeonsu’ atau ‘Chuno’ yang mengharu biru penggemarnya di seluruh Asia Timur. Satu tempat lagi, Songaksan yang berada di selatan Yongmeori tetapi tidak sempat dikunjungi, merupakan tempat lokasi drama ‘Daejanggeum’ yang meledak dahsyat di televisi Indonesia, mengaduk-aduk perasaan penonton yang umumnya ibu-ibu. Wajar karena drama itu menceritakan tentang seorang wanita ahli obat istana yang terzalimi akibat intrik di istana hingga terbuang ke Pulau Jeju.

Kolom Basal di Tebing Pantai Jungmun Daepo

Kunjungan ke kolom-kolom basal di Jungmun Daepo, pantai selatan Jeju, tidak terjadwal pada ekskursi APGN 2013, padahal kalau melihat fotofotonya, tempat itu sangat mempesona. Itulah sebabnya sebagian peserta Indonesia yang kebetulan tidak terdaftar di ekskursi pasca konferensi, memilih berangkat sendiri ke Jungmun Daepo. Pilihan yang tidak mengecewakan. Bagaimana tidak, fenomena kekar kolom pada lava basal itu begitu rapi tersingkap sepanjang hampir 2 km mulai dari Pantai Jungmundong hingga Daepodong di Seogwipo, kota yang stadion sepakbolanya sempat terpilih sebagai salah satu tuan rumah untuk World Cup 2002 Japan- Korea.

Lava yang meleler keluar dari satu kerucut yang disebut Nokhajiakoerum itu terhampar luas memenuhi pantai selatan Seogwipo. Ketika lava yang bersuhu 900o C itu mendingin, kekar kolom mengontrol strukturnya sehingga menghasilkan kolom-kolom yang seragam dengan bentuk hexagonal (segi-enam). Kolom tertinggi terukur 25 m sementara sebagian terbentuk menjadi dasar pantai berbatu menjadikannya seperti tangga-tangga yang serupa dengan the Giant Causeway di Irlandia.Begitu rapinya kolom-kolom itu sehingga menyerupai struktur yang dibangun manusia. Seorang pejabat tinggi di Menparekraf (Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif) yang sempat berkunjung sebelumnya ke Jungmun berkomentar bahwa ia baru percaya kalau kolom-kolom itu bentukan alamiah dan bukan buatan manusia setelah menyaksikan sendiri fenomena itu di Jungmun. Ia tadinya mempercayai kalau kolom-kolom batu seperti itu dibentuk oleh manusia mengacu pada kolom-kolom batu di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

jeju10

Kekar kolom pada basal yang teratur rapi di sepanjang pantai antara Jungmun – Daepo. Foto: Oman Abdurahman

Pembelajaran Berharga untuk Taman Bumi Indonesia

Pulau Jeju (tadinya dikenal sebagai Cheju) yang pada masa sejarah kuno Korea merupakan tempat pembuangan, seperti dialami tabib wanita Janggeum, dulunya merupakan pulau yang tidak senyaman sekarang. Pulau yang seluruhnya berpermukaan kasar dari batu basal ini pada awalnya merupakan pulau yang kering. Hujan yang sebenarnya cukup intensif turun di Jeju dibandingkan Korea daratan, meresap langsung ke dalam batu basal yang sangat berporipori. Air hujan itu meresap jauh ke dalam tubuh batuan Pulau Jeju. Sungai-sungai yang berdasar batu basal, sama sekali tidak berair. Kehidupan keras yang digambarkan oleh wanita-wanita Haenyeo merupakan gambaran Jeju di masa silam yang suram. Pulau yang sempat diserbu pasukan Jengis Khan dan memperkenalkan kuda hingga sekarang itu, tidak layak juga untuk pertanian karena permukaannya yang berbatu-batu.

Namun, Bumi memang terus berputar, terus berubah. Tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri. Seperti halnya Australia atau Bandung yang awalnya tidak disukai dan dijadikan tempat pembuangan, juga Jeju yang kemudian menjelma di zaman modern jadi Taman Bumi yang tertata luar biasa. Alamnya yang lestari terjaga dan mendapat ganjaran pusaka dan cagar biosfer dunia, tidak mencerminkan sebagai tempat pembuangan seperti terjadi di zaman dulu. Pulau Jeju yang mempunyai luas 1.849 km2 (sepertiga luas Pulau Bali yang ternyata sister province-nya, atau setengah luas Cekungan Bandung) dengan penduduk 583.284 jiwa (2011) dan kerapatan 287/km2 merupakan destinasi wisata utama Korea dan Asia Timur. Hingga Desember 2011 data statistik Jeju (english.jeju. go.kr) menunjukkan kunjungan tahunan wisatawan (mungkin termasuk kunjungan domestik dari Daratan Korea) mencapai 8.740.000 melebihi kunjungan wisatawan manca negara ke Indonesia tahun 2012 (8.044.462 wisatawan) dengan menghasilkan pemasukan sebesar 4.505.200.000.000 won (4 trilyun 505,2 miliar won, kira-kira 4 miliar dollar AS; ke rupiah silakan dikali 12 dari kurs won!).

Kunci kesuksesan itu secara sekilas adalah manajemen pulau yang tercerminkan dari kesejahteraan yang didapat dari masyarakatnya. Kota, permukiman, infra-struktur dan jalan-jalannya rapi dan mulus. Fasilitas kota terpenuhi, baik energi, air bersih maupun pengeloaan air limbah dan sampah. Dengan harga BBM sekitar Rp 20.000/liter, mobil-mobil buatan Korea sendiri (tidak dijumpai merek-merek Jepang) berseliweran, tetapi tidak ditemui kemacetan sama sekali. Fasilitas transportasi umum berupa bus dan taksi tersedia dengan baik. Wisata alamnya terurus baik, beberapa bahkan tidak dipungut karcis. Jalur geotrail dengan tangga kayu atau batu tertata rapi, dan … tidak ada sampah berserakan seperti di lokasi-lokasi wisata Indonesia termasuk di kotanya bahkan di pasar tradisionalnya sekalipun! Herannya, pengelola jarang menyediakan tempat sampah. Rupanya terdapat kesadaran masyarakat Jeju sendiri untuk membawa kembali sampah ke rumahnya. Luar biasa!

Fakta itu seharusnya menjadi tantangan bagi pengelolaan taman bumi di Indonesia. Jangan tanyakan potensi keragaman bumi, hayati, atau budaya Indonesia sebagai pendukung taman bumi, semuanya tidak kalah dengan Jeju. Namun, tanyakan bagaimana hal yang kelihatan sepele tetapi susah sekali diselesaikan: sampah. Kami yakin jika perubahan mental masyarakat kita dalam hal membuang sampah tersadarkan, urusan lain dalam pengelolaan taman bumi, atau destinasi wisata lain, atau di perkotaan sekalipun niscaya akan terselesaikan dengan baik. Itulah tantangan yang mestinya dapat terjawab secara optimis. Kita pun pasti bisa seperti Jeju!

Penulis adalah staf pengajar di Prodi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>