Rumah Bambu Tahan
Gempa ( Rumbutampa)
yang diaplikasikan pada
bangunan Kantor Kepala
Desa Jayapura.Foto:
Supardiyono Sobirin/
DPKLTS, 2016

Rumbutampa Upaya Mitigasi Gempa

Gua Tapparang, gua dengan stalagmit dan stalaktit yang berbentuk
seperti ribuan parang. Foto: Visky AP.

Keunikan Kars Kolaka Utara

02/06/2016 Comments (0) Artikel Geologi Populer, Artikel Geologi Populer

Benua Maritim Indonesia dan Wawasan Kebangsaan

Ilustrasi kepulauan Indonesia. Sumber: Internet.
Ilustrasi kepulauan Indonesia. Sumber: Internet.

Ilustrasi kepulauan Indonesia. Sumber: Internet.

Wujud wilayah kedaulatan dan yurisdiksi Indonesia membentang luas di cakrawala khatulistiwa, dari 92° BT hingga 141° BT; dan 7°20’ LU hingga 14° LS. Inilah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.508 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai 81.000 km, serta luas lautan 5,8 juta km2 yang terdiri dari zona pantai, landas benua, lereng benua, cekungan samudra di bawahnya dan dirgantara di atasnya.

Berdasarkan bangun wilayah laut yang sangat luas, adanya kesatuan alamiah antara bumi, laut, dan dirgantara di atasnya, dan kedudukan global sebagai pinggiran benua (continental margin), wilayah nasional Indonesia mempunyai ciri-ciri benua, sehingga sangatlah tepat bila disebut Benua Maritim Indonesia (BMI).

Dengan demikian, BMI adalah bagian dari sistem planet bumi yang merupakan satu kesatuan alamiah antara darat, laut. dan udara di atasnya, yang tertatasecara unik. la menampilkan ciri-ciri benua dengan karakteristik yang khas dari sudut pandang iklim dan cuaca (klimatologi dan meteorologi), keadaan airnya (oseanografi), tatanan kerak bumi (geologi dan geofisika), keragaman biota (biologi) serta tatanan sosial-budayanya (antropologi), yang menjadi wilayah jurisdiksi negara kesatuan Republik Indonesia.

BMI itu lahir dari pertemuan tiga lempeng besar bumi, yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Samudra Hindia-Australia. Karena itu, kepulauan Indonesia menjadi salah satu tempat yang kaya akan berbagai gejala kebumian.

Di dasarnya terdapat daerah Paparan Sunda dengan laut dangkal di sebelah barat, daerah dengan palung laut dalam di bagian tengah, dan Paparan Sahul
dengan laut dangkal di ujung timur. Dari ujung barat hingga ujung timur terbentang jalur magmatik, seismik, dan anomali gravitasi negatif terpanjang di dunia; serta lautan yang seakan-akan dipeluk oleh kepulauan Indonesia secara keseluruhan. Tidak ada negara lain di dunia ini yang mempunyai daerah laut dangkal dan dalam seluas Indonesia dengan manifestasi geologik yang begitu menakjubkan. Inilah yang oleh Zen disebut The Garden of Allah.

Secara struktur, Indonesia bagian barat dicirikan oleh tektonik dengan gaya subduksi, sedangkan bagian timur oleh gaya tektonik subduksi, obduksidi (Sumba?), dan tumbukan (collision tectonics), akibat gerakan Australia ke utara yang menghimpit dan memotong sebagian dari gejala subduksi tersebut. Hal itu pula yang membuat Busur Banda itu melengkung bagaikan tapal kuda yang membuka ke barat (Taib dkk., 1997).

Melalui celah-celah kepulauan Indonesia, massa air laut bergerak dari utara Pasifik masuk ke Samudra Hindia, terus ke Samudra Atlantik, dan bergerak kembali lagi ke titik awalnya bagaikan ban konveyer raksasa. Perjalanan itu memakan waktu sekitar 3.000 tahun. Konfigurasi kepulauan Indonesia dan
percampuran massa air laut melalui celah-celah kepulauan ini menjadikan lautan Indonesia begitu kaya akan biota laut

BMI itu mempengaruhi iklim. Benua Maritim yang besar itu merupakan tempat kelahiran El Nino, La Nina, dan variasi iklim lain. Selain itu, BMI mempunyai struktur pinggiran benua yang berpotensi mengandung sumber daya alam: mineral, air, uap alam, minyak, gas. Karena letaknya di alam tropika, BMI mempunyai hutan tropik yang kaya dengan kehidupan flora dan fauna penuh variasi, serta lahan pertanian yang subur. Garis pantai yang panjang dengan iklim tropika merupakan surga bagi budidaya laut. BMI secara langsung maupun tidak langsung akan menggugah emosi, perilaku, dan sikap mental manusia Indonesia dalam menentukan orientasi pemanfaatan unsur-unsur kemaritiman di semua aspek kehidupan.

Konsep Benua Maritim
Konsep BMI tidak lain adalah aktualisasi Wawasan Nusantara yakni pembangunan Bangsa Indonesia. Tujuannya, mewujudkan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak Bangsa Indonesia dalam satu sistem untuk menyelenggarakan pembangunan yang lebih meningkatkan peranan maritim dan kekayaannya, kepulauan dan dirgantaraya melalui sains dan teknologi modern. Dengan itu, diharapkan Bangsa Indonesia yang mendiami BMI ini mempunyai wawasan hidup yang berbeda dari bangsa-bangsa nonmaritim.

Konsep BMI sebagai aktualisasi Wawasan Nusantara dideklarasikan oleh Presiden Republik Indonesia dalam Konvensi Nasional Benua Maritim Indonesia pada 18-19 Desember 1996 di kota Makassar, Sulawesi Selatan, atas kerja sama Dewan Pertahanan Nasional dan BPP-Teknologi. Deklarasi tersebut ditandatangani oleh Menko Polkam (Jenderal Susilo Sudarman), Sekretaris Jenderal Dewan Pertahanan Nasional (Letjen Sukarton), Ketua Dewan Pertahanan Nasional yaitu Presiden Republik Indonesia sendiri, MenRistek/ Ka. BPPT/Ketua Harian Dewan Kawasan Timur Indonesia (Prof. Dr. B.J. Habibie), dan Deputi Ketua BPP-Teknologi dan Ketua Sub Panitia Dewan Kawasan Timur Indonesia untuk Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup.

Istilah Benua Maritim (BM) sudah dipakai oleh para pakar dalam bidang-bidang klimatologi, meteorologi, dan oseanologi setelah mengetahui adanya keterkaitan langsung antara lautan dan atmosfera menjelang akhir tahun 70-an, sedangkan gerak-gerik massa air dipengaruhi konfigurasi benua dan pulau-pulau (Philander, 1990). Daerah yang disebut BM itu mencakupi kepulauan Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini dan gugusan kepulauan di sebelah timur dan bagian Indonesianya disebut BMI dan merupakan bagian terbesar di bawah satu pemerintahan.

Daerah kepulauan Indonesia itu sangat luas, lebih luas dari daratan Amerika Serikat dan daratan Eropa sebagai keseluruhan, termasuk Inggris. Tabrani (1999; 2000) berdasarkan penelitiannya menyebutkan bahwa Bangsa Indonesia sudah menguasai lautan dan teknologi perkapalan, dari cadik bergeladak tunggal hingga ke cadik bergeladak banyak. Disamping itu, menurut Tabrani (1999; 2000) pelaut-pelaut Indonesiasudah menjelajahi lautan sejauh Madagaskar, dan lautan Austronesia.

Oleh satu dan lain hal, dalam perkembangan sejarah yang sangat kompleks, Bangsa Indonesia kehilangan semangat baharinya dan mundur ke darat menjadi bangsa agraris. Kewajiban Bangsa Indonesia kini ialah mengembalikan arus sejarah tersebut dari manusia agraris menjadi manusia bahari karena +70% dari wilayah kekuasaan Republik Indonesia terdiri dari lautan, melalui program yang sistematik disertai pendidikan mendasar yang mengubah “mindset” Bangsa Indonesia menjadi bangsa bahari.

Mengelola dan Membangun BMI
Doktrin yang harus dikedepankan dalam kerangka mengelola dan membangun konsep berbasiskan kelautan adalah BMI merupakan lebensraum bangsa Indonesia, dalam artian lautan Indonesia bukan hanya tempat ikan dan terumbu karang saja, atau sesuatu yang enak dipandang, melainkan ruang hidup, ruang gerak, dan ruang untuk bernapas.

Bangsa Indonesia harus “hidup dari dan dengan Laut”.Inilah doktrin kelautan Indonesia. Secara konkrit, ini berarti bahwa lautan itu merupakan: (i) sumber nafkah (sumber protein dan sumber energi); (ii) sumber kesempatan kerja; (iii) sumber pengembangan kekuatan ekonomi; (iv) sumber pengembangan sains dan teknologi; (v) sumber atau lahan untuk mengatur siasat dan seni pertahanan; (vi) unsur pemersatu; dan (vii) sumber inspirasi bagi seniman, ilmuwan, negarawan, dan pemikir (Zen, 2000).

Doktrin Kelautan tadi harus dilengkapi dengan Politik Kelautan Indonesia yang berbunyi (Zen, 2000): (1) Kepulauan, lautan, dan udara di atasnya merupakan satu kesatuan politik, ekonomi, sosial-budaya, serta pertahanan dan keamanan; (2) Lautan Indonesia merupakan “lebensraum” bagi bangsa Indonesia; dan (3) BMI hanya untuk bangsa Indonesia saja.

Membangun dan mengelola BMI harus melaluipemerintahan yang desentralistik dan sistemik untuk menjamin (Zen, 2000): suatu inisiatif yang desentralistik dengan sintesa yang sentralistik; kehidupan lebih bermakna bagi setiap individu dan golongan di setiap wilayah/provinsi; dan pemerintahan yang bermartabat dan beradab. Di sini, harus dikedepankan pendekatan tiga kutub, yakni: kutub pemerintahan/administrasi/law enforcement; kutubmindustri jasa dan industri barang untuk perkembangan  perekonomian; dan kutub sains teknologi dan pengembangan sumber daya manusia.

Oleh karena itu, pemerintah seyogyanya meluncurkan politik ethika dengan pendekatan kesejahteraan dan kemajuan di samping pendekatan keamanan, Di masa lalu pendekatan hanya dari segi keamanan saja. Politik Etika itu ialah memfasilitasi pengembangan sosial budaya, ekonomi, dan budaya teknologi seluas-luasnya bagi setiap wilayah di Indonesia melalui pemberdayaan anggota masyarakatnya.

Bangsa Indonesia harus bangga dengan tanah airnya. Buatlah agar semua warga Indonesia bergetar hatinya dan bergelora darahnya apabila mendengar kata Indonesia dan BMI. Karena, apa yang disebut bangsa itu tidak lain dari sekelompok manusia yang seberuntungan ataupun senasib, yang terikat oleh prinsip geo-ekologik dan keragaman, bertekad dan sepakat membangun suatu nasion yang diikat oleh lautan, iklim, kondisi alam dan ke-anekaan budayanya, melalui konsep BMI yang ditunjang oleh sains, teknologi dan sumber daya manusia yang relevan. Karena tanpa sains dan teknologi tidak
mungkin bangsa Indonesia dapat mempersatukan masyarakatnya yang tersebar di sebanyak 17.508 pulau dengan wilayah seluas lebih dari 7,5 juta km2.

Adapun teknologi yang sangat mutlak dibutuhkan untuk mengelelola dan membangun BMI adalah: (i) sistem pengawasan wilayah luas (wide area surveillance system) untuk law enforcement melalui satelit, kapalkapal udara-laut, dan stasiun-stasiun di darat dengan informasi real time; (ii) Telematika (administrasi pemerintahan, sosial-ekonomi, pendidikan/teleeducation), dll; dan (iii) Teknologi angkutan dan perhubungan darat- laut – udara. Kesemuanya itu ditujukan untuk memperkecil birokrasi dan memperpendek jarak dalam rangka usaha mencapai kesejahteraan dan kehidupan yang lebih bermakna dan untuk mewujudkan Kesatuan dan Persatuan (Zen, 2000).

Selain itu, untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam di BMI, diperlukan puluhan disiplin sains dan teknologi. Hanya dengan penguasaan sains dan teknologi yang ditujukan kepada usaha meningkatkan kesejahteraan dan hankamnas dalam rangka mencapai kejayaan, konsep BMI dan nasionalisme baru akan bermakna.

Nasionalisme Baru
Mengingat badai globalitas yang menciptakan “dunia tanpa perbatasan”, dan mungkin akan mengakibatkan “kematian negara bangsa”; mengingat lagi bahwa tanah air bangsa Indonesia berupa satu benua maritim dengan segala kekhasan dan ciri, perlu, maka mutlak kita perlu mengumandangkan nasionalisme baru.

Nasionalisme baru itu merupakan aspirasi atau citacita suatu bangsa untuk mencapai/mempertahankan kelangsungan hidupnya, dan cita-cita serta aspirasi untuk mencapai kejayaan. Kejayaan tersebut didefinisikan dan diukur dengan seberapa besar, sumbangannya kepada: (1) perdamaian dunia; (2)
kesejahteraan umat manusia; (3) kemajuan sains, teknologi, dan kebudayaan; (4) usaha pelestarian lingkungan hidup. Dalam kaitan itu, definisi seorang
nasionalis adalah seseorang yang committed untuk menyumbangkan sesuatu bagi perkembangan dan pembangunan bangsanya sesuai kemampuan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi (Zen, 1999).

Sifat dan ciri khas BMI itu adalah kebinekannya yang disebut “variasi bio-geo- ethnik-dan sosio-kultural.” Oleh karena itu nasionalisme baru Indonesia dengan dasar geo-ekologik itu mau tidak mau merupakan bagian integral dari BMI dan bangsa Indonesia. Ia merupakan sintesa antara konsep negara bangsa klasik dan konsep “region-state” demi untuk memberdayakan setiap komponen bangsa. Ketahuilah, abad ke-21 ini merupakan abad lingkungan hidup, abad globalitas, dan abad revolusi pengetahuan.

Di sisi lain, dengan runtuhnya rezim Orde Baru, masyarakat Indonesia yang selama ini tidak pernah mendapatkan pendidikan politik, harus merabaraba dalam kegelapan; berusaha mencari dan membayangkan masyarakat bagaimana yang harus didirikan sesuai dengan tatanan BMI dan sesuai dengan keragaman alam maupun susunan sosialbudaya bangsa dalam konstelasi dunia kini dan kehidupan masyarakat di abad ke-21. Pendekatan yang diambil di sini ialah; berorientasi ke masa depan tetapi berpijak pada kenyataan kita berada di mana, dan ciri khas bangsa Indonesia itu sendiri.

Indonesia paling cocok mengembangkan masyarakat terbuka, yakni suatu masyarakat yang membuka diri terhadap kemajuan dan perbaikan secara terusmenerus dengan memberdayakan semua daya kreativitas komponen bangsa dan suatu pemerintahan yang bersifat desentralistik, tetapi adil, jujur, berakhlak dan bermartabat. Masyarakat Terbuka sedemikian ditegakkan oleh tujuh buah pilar (Zen, 1998), yakni: pilar ethika dan moral;
pilar keterbukaan dan kebebasan; pilar demokrasi dengan dewan perwakilan rakyat yang dipilih secara bebas; pilar supremasi hukum dan berlakunya prinsip trias politica; pilar hak azasi manusia; pilar keadilan sosial/keadilan kesempatan; dan pilar pelestarian lingkungan hidup.

Ketujuh pilar-pilar tersebut berdiri di atas tiga azas, yakni: azas paradigma sains dan teknologi; azas pemerintahan yang desentralistik, berakhlak dan bermartabat; dan azas pemberdayaan seluruh lapisan masyarakat dan daerah. Suatu masyarakat terbuka di BMI dengan nasionalisme baru seperti diterangkan sebelumnya, diperlukan untuk menangkal badai globalitas yang kini melanda masyarakat dunia dan mengancam eksistensi negara bangsa dan cenderung menciptakan “countries without borders”, yang akan menghancurkan identitas bangsa (Ohmae, 1995).

Nasionalisme masih diperlukan. Negara bangsa masih valid. Pemerintah masih perlu memegang peran sebagai fasilitator dan pemberdaya. Justru bangsa yang mendiami Benua Maritim seperti Indonesia harus mengembangkan nasionalisme gaya baru tersebut dan mendirikan suatu Masyarakat Terbuka agar dapat “survive”.

Jika ditelaah lebih mendalam prinsip BMI, prinsip nasionalisme baru, dan prinsip masyarakat terbuka pada dasarnya menghimpun semua unsur aliran sosial demokrasi. Karena terdapat nasionalisme baru, maka gerakan atau aliran ini tidak lain dari gerakan sosionasional demokrasi dengan semangat pemberdayaan seluruh lapisan masyarakat dan segenap suku, kelompok etnik yang ada dengan berbagai agama yang dianutnya. (M.T. Zen)

*Tulisan ini diangkat dari makalah penulis, Prof. M.T. Zen, yang disampaikan dalam berbagai kesempatan antara tahun 1990an hingga awal 2000an, dengan editing seperlunya dari redaksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>