Pesona-Bumi-Dieng9

Pesona Bumi Dieng

Geomorfologi Terapan

Geomorfologi untuk Kemanusiaan

13/08/2015 Comments (0) Resensi Buku, Resensi Buku

Batu Mulia dari Purbalingga

Misteri-Batu-Klawing-67
Misteri-Batu-Klawing-67

Buku Misteri Batu Klawing

Demam batu mulia meruyak. Kegemaran masyarakat untuk mengumpulkan dan menggosok batu ini mewabah ke pelosok negeri. Di imana-mana, orang membicarakan batu mulia. Mulai dari trotoar hingga mal. Penggemarnya dari presiden, politisi, artis, hingga masyarakat umum. Laki-laki, perempuan, tua-muda, turut meramaikan demam ini.

Batuan yang hangat diperbincangkan itu, antara lain batu bacan (risocola jet), idocrase Sumatra Barat, idocrase Aceh, krisopras (ohen) Garut, pancawarna Garut, dan krisopras Cisangkal Garut. Tentu saja meliputi unsur mistik, keindahan, serta berbagai tawaran yang murah hingga melejit selangit.

Nun di wilayah Purbalingga, Jawa Tengah, jenis batuan mulia juga ditemukan dan terkenal dengan nama Batu Klawing. Bagaimana mula batu mulia itu ditemukan? Pada tahun 2014, terbit bunga rampai mengenai batu mulia berikut jejak peradaban sebagai konteks kehidupan manusia masa lalu di daerah Purbalingga.

Buku tersebut bertajuk Misteri Batu Klawing, Jejakjejak Peradaban di Purbalingga, terbitan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Buku yang disunting Sujatmiko dan Antonius Tjipto Rahardjo ini memuat kliping media mengenai perkembangan penemuan dan penelitian Batu Klawing. Disusul 19 tulisan para ahli yang 99 memandang Batu Klawing sesuai kompetensinya

Menurut penyuntingnya, buku ini dipicu oleh temuan batu artefak di sepanjang Kali Klawing ketika ekskursi kuliah Geologi Batu Mulia oleh Sujatmiko saat membimbing mahasiswa Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Setelah ekskursi beberapa anggota KRCB, mengadakan seminar “Menggali Potensi Geologi dan Arkeologi Kabupaten Purbalingga untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” pada 11 Agustus 2009, dan audiensi kepada Bupati Purbalingga Triyono. Akhirnya atas bantuan Pemkab Purbalingga, Misteri Klawing edisi pertama terbit pada akhir 2009. Tahun 2014, terbit kedua kalinya berkat bantuan Total Indonesia.

Katanya, “Bermula dari ekskursi, berakhir menjadi buku. Begitulah bagaimana buku ini tersusun ketika ekskursi mata kuliah yang tercantum pada Kurikulum Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Geologi Batu Mulia, dilaksanakan di sepanjang Kali Klawing. Keberadaan Kali Klawing sebenarnya sudah lama menjadi perbendaharaan lokasi sumber batu mulia jasper hijau. Itulah mengapa ekskursi ini ditujukan ke sana.” (hal. Vi).

Misteri Batu Klawing 100Dalam kata pengantar itu, penyunting juga mengharap bahwa, “buku ini mudah-mudahan bisa menjadi jembatan untuk sebuah informasi akan pusaka geologisarkeologis Purbalingga. Meskipun demikian, batu jasper hijau Klawing bagaimanapun tetap menjadi misteri. Penelitian geologi belum sampai pada tahap mengungkap kejadian terbentuknya jasper hijau yang masih satu keluarga dengan rijang sebagai batuan jenis silika. Begitu pula penelitian arkeologi belum mengungkap semua tinggalannya. Itulah tantangan yang mudah-mudahan akan menggugah kita semua melalui buku ini.” (hal vii).

Selanjutnya dalam “Misteri dan Jejak Buku ke-9 KRCB: Beyond Bandung Basin”, penyunting menyatakan bahwa kepedulian organisasi yang dibentuk di Bandung, 12 Desember 2000 itu menembus batas-batas geografis dan administratif. Buku ini pun menjadi buku ketiga gaya KRCB yang menghimpun banyak penulis dan menjadi buku ke-9 yang diterbitkan serta melibatkan anggota KRCB.

Setelah disuguhi foto-foto kegiatan ekskursi, audiensi, dan diskusi, pembaca diberi bonus berupa “Klawing dalam Berita” yang menghimpun 13 tulisan liputan mengenai jasper hijau. Ke-13 berita tersebut dimuat dalam HU. Kompas, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Suara Merdeka, Tempo Interaktif, Republika, Koran Tempo, dan Kedaulatan Rakyat, antara Juni hingga Oktober 2009.

Bagian utama buku ini diisi kumpulan tulisan ahli. Yang pertama tulisan ahli geologi Sampurno, “Memahami Geologi dan Lingkungan Purbalingga”. Salah satu yang disimpulkannya adalah, “Kondisi geologi wilayah ini yang telah mendukung berkembangnya budaya secara luas baik dari segi kesuburan tanah dari sebagian wilayahnya ataupun melimpahnya air, merupakan kekuatan wilayah ini. Bencana alam ditambah ketidaksuburan tanahnya dari sebagian wilayah ini, baik akibat letusan Gunung api Slamet dan aliran laharnya, bahaya longsor yang dapat mengancam wilayah pegunungan lipatan, dan banjir/ banjir bandang yang mengancam di dataran aluvial dapat menjadi akar dari berkembangnya akal budi manusia untuk menghadapinya.” (hal. 13).

Setelah Sampurno, sepuluh tulisan selanjutnya memandang keberadaan jasper hijau itu dari sisi geologi dan paleontologi. Ada tulisan yang memfokuskan kepada Formasi Sikumbang, membahas genesa batu Klawing, jejak megalitik, fosil gigi stegodon, dan yang lainnya. Pada tulisan ke-11 dimuat tulisan novelis kondang Ahmad Tohari, “Celoteh di Tepi Klawing”. Ia menelusuri perkembangan kebudayaan di sekitar Kali Klawing, termasuk sejarah dialek Banyumasan.

Penulis kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini antara lain menyatakan “Terkadang sebagai peminat bahasa, khususnya dialek Banyumasan, saya suka berfikir logat bagaimana yang dipergunakan oleh nenek moyang kita di Purbalingga ketika mereka membangun batu-batu pemujaan itu? Jelas ini masalah dialek yang hidup ribuan tahun silam. Bila benar perkiraan bahwa menhir-menhir itu dibuat setelah agama Budha masuk, maka dialek di sekitar Kali Klawing adalah dialek yang dibawa dari daratan Asia Tenggara sekitar 2500 tahun yang lalu …” (hal. 145-146).

Tujuh tulisan berikutnya berisi tentang potensi agrowisata, harapan untuk mendirikan ekomuseum dan museum prasejarah, pengembangan geowisata, refleksi, serta pendataan dan pengelolaan situs-situs prasejarah di sekitar Kali Klawing.

Betapapun, buku setebal 246 halaman ini menegaskan ihwal sangat bertautnya manusia berikut budaya dengan bumi yang dihuninya. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tulisan para ahli dalam buku ini, pengabaian terhadap kebumian ini akan menciptakan kesenjangan dalam berbagai hal, pada sisi perlindungan terhadap keselamatan manusianya, pemenuhan hajat hidupnya, maupun pada sisi raihan kesejahteraan hidupnya. Barangkali tidak bisa lain, kecuali kita bersama-sama mencintai bumi ini dengan segenap cara, bergantung kompetensi masing-masing kita. (Atep Kurnia)

Penulis, peminat literasi, tinggal di Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>