Untitled-100

Gambut Indonesia Luas Tersebar dan Mudah Terbakar

Untitled-105

Merayap Perlahan di Bajawa

17/10/2016 Comments (0) Resensi Buku, Resensi Buku, Uncategorized

Bapak Biogeografi di Nusantara

Untitled-104
Untitled-104

Where Worlds Collide: The Wallace Line

Pada tahun 1997, Penny van Oosterzee menerbitkan buku mengenai perjalanan Alfred Russel Wallace di Nusantara pada abad ke-19. Buku bertajuk Where Worlds Collide: The Wallace Line yang diterbitkan Reed Books, Australia, ini memaparkan lakon perjalanan Wallace di sepanjang kepulauan Asia Tenggara, menjelaskan teori-teori Wallace dan bagaimana teori tersebut diinterpretasi oleh para ahli biologi selanjutnya.

Penny, penulis buku ini, selama ini dikenal sebagai pengarang buku ilmiah populer. Ia telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan teori evolusi dan tema biogeografi, dari penjelajahannya ke Australia Tengah hingga Garis Wallace, dan penemuan Hobbit (Homo floresiensis). Jelasnya, setelah buku tentang Wallace di 1997, Penny menulis Dragon Bones: The Story of Peking Man – A story of the search for the roots of humanity set against the Chinese civil war (1999), bersama dengan Mike Morwood menulis The Discovery of the Hobbit: The Scientific Breakthrough that Changed the Face of Human History (2007). Dan pada 2014, bersama kawan-kawannya, ia menerbitkan buku A Natural History and Field Guide to Australia’s Top End.

Adapun maksud menyusun buku Where Worlds Collide, Penny menerangkannya dalam “Preface”. Katanya, “Buku ini mengenai orang terkemuka bernama Alfred Russel Wallace, Bapak biogeografi. Buku ini mengenai kajian biogeografi dan perkembangan kajian-kajian yang terkait dengan biogeografi, seperti evolusi, genetika dan lempeng tektonik. Benang yang mempertalikan semua topic tersebut adalah penemuan Garis Wallace, pembatas satwa yang memisahkan satwa Oriental dari yang Australian: monyet dari kanguru, dan kuau dari nuri” (1997: xiii).

GEOMAGZ_V6N3_SPREAD_047Dalam praktiknya, buku Penny ini disusun berdasarkan catatan Wallace sendiri. Penny sendiri mengakuinya sebagai berikut: “Catatan saya ini didasarkan pada catatan perjalanan mengenai sejarah alam yang ditulis Wallace sendiri, yakni The Malay Archipelago, buku yang ditulisnya setelah antara 1854 hingga 1862, ia hidup di Malaysia, Indonesia, dan Papua, seringnya ke tempat yang belum disinggahi oleh orang-orang Eropa” (1997: xiii).

Ada sebelas bab yang menyusun buku Where Worlds Collide. Secara berturut-turut bisa disebutkan sebagai berikut: “Blind to the Rising Sun”, “Wallace’s Line”, “Where Worlds Collide”, “Fire-spitting Mountain”, “Stegoland”, “Islands in the Sea”, “Islands in the Sky”, “The Ultimate Island”, “The Butterfly Effect”, “The Red Ape of Asia”, dan “Wallace in Wonderland”.

Dalam bab “Blind to the Rising Sun”, antara lain dinyatakan bahwa setelah menjelajahi Amazon antara 1848 hingga 1852 dan menjadi orang Eropa pertama yang menjelajahi bagian hulu Rio Negro, Wallace “tahu bahwa kunjungan naturalis pertama ke Kepulauan Nusantara hanya terjadi pada 1776 dan sejak itu bisa dikatakan tidak ada eksplorasi lagi. Itu yang menyebabkan Wallace di 1854, pada usia 31 tahun, pergi untuk menyingkap dunia baru ini dengan ilmu pengetahuan” (1997: 3).

Selain itu, di masa itu orang belum bisa menerangkan mengenai modifikasi tiada henti pada struktur, ukuran, dan warna spesies, demikian pula adapatasinya terhadap lingkungan. Orang masih menyakini mitos sebagai fakta. Mitos Kapal Nabi Nuh sebagai kebenaran. Pengenalan terhadap satwa pun sangat terbatas. Pada akhir abad ke-17 saja, orang hanya mengenal 500 spesies burung, 150 hewan berkaki empat, dan 10.000 serangga (1997: 5). Meski hanya bersekolah hingga usia 14 tahun, karena ayahnya bangkrut, tetapi Wallace adalah seorang pembaca buku yang rakus. Beragam topik yang disukainya termasuk ide-ide bebas, seperti sosialisme dan evolusi. Saat dia pergi ke Nusantara, Wallace sesungguhnya seorang gembel terpelajar tanpa peluang mendapatkan pekerjaan (1997: 11).

Pada mulanya, Wallace yakin bahwa satwa diciptakan sepenuhnya demi kebutuhan manusia, yang diberkati dengan rasa keberterimaan dan estetis. Namun, penemuan spesies baru, yang dimulai dari Amazon dan berlanjut dalam bentuk yang sangat berlimpah di Nusantara, menggantikan persepsi Wallace tentang kemanusiaan dan tempatnya di semesta. Dia memikirkan yang tak terpikirkan: “Manusia bukanlah berada pusat dunia, melainkan bumi yang berada pada pusat semesta” (1997: 12).

Karena tersengat bacaannya pada makalah Edward Forbes (1815-1854), akhirnya Wallace menulis makalah bertajuk “On the Law which has Regulated the Introduction of New Species”, yang dikemudian dikenal sebagai Sarawak Law (Hukum Sarawak). Hukum ini menyaran kepada waktu dan tempat evolusi: bahwa evolusi, yang secara geografi berdekatan dan spesies yang mirip, terjadi secara konstan.

Selain itu, hukum ini didasarkan kepada karya Sir Charles Lyell (1797-1875), Principles of Geology, yang menyatakan bahwa masa kini adalah kunci ke
masa lalu. Dalam pengertian, keadaan benda-benda mati sekarang ini adalah akibat dari perubahan yang konstan yang terjadi di masa awal waktu dan
berlangsung hingga kini. Dan hukum inilah yang memaksa Charles Darwin mempercepat publikasi Origin of Species tahun 1859. Karena pada Juni 1858, Darwin menerima tulisan Wallace yang berkaitan dengan asal-usul spesies yang dikirimkan dari Ternate dan berjudul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” (1997: 13-19).

Mengenai Garis Wallace sendiri, Wallace menemukannya secara tidak sengaja. Pada Mei 1856, dari Singapura, Wallace hendak ke Makassar. Sayang tidak ada kapal yang langsung mengantarkannya ke pulau di timur Indonesia itu. Untunglah, ada kapal Rose of Japan milik saudagar Tionghoa yang dapat
membawanya ke Bali, dan dari sana bisa mencari tumpangan ke Sulawesi. Akhirnya, pada 25 Mei Wallace pergi dan tiba di utara Bali pada 13 Juni 1856.

Nah, yang menyebabkan dia menemukan perbedaan satwa Oriental dan Australia itu ya di Pulau Lombok, karena setelah beberapa hari di Bali, Wallace meneruskan perjalananya ke Pulau Lombok sambil mencari tumpangan ke Sulawesi. Di Lombok, Wallace menemukan burung gosong (megapode) yang merupakan satwa Australia, karena di Bali, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan tidak ditemukan burung seperti itu. Padahal antara Bali dan Lombok hanya berjarak 25 km (15 mil).

Setelah kembali ke Inggris, pada 1863, Wallace membacakan makalah di hadapan Royal Geographical Society mengenai geografi kepulauan Nusantara. Dalam makalah tersebut, ia membuat garis merah yang melewati Selat Makassar. Ke arah baratnya ia namai “Indo-Malayan Region” dan ke timur disebutnya sebagai “Australo-Malayan Region”. Inilah yang menjadi asal-usul penemuan Garis Wallace yang terkenal itu (1997: 34). (Atep Kurnia)

Penulis adalah penulis lepas, peminat kebumian, anggota Dewan Redaksi Geomagz, tinggal di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>